ASIAN GAMES 2026

Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu Keberangkatan Atlet Indonesia

Atlet basket dan anggar harus diangkut ke Surabaya agar bisa terbang ke Nagoya. Keberangkatan atlet dalam jumlah besar juga rawan mengalami kendala saat transit.

08 Sep 2026 18:23 WIB · Olahraga

KOMPAS/REBIYYAH SALASAH

Oleh Emilius Caesar Alexey

JAKARTA, KOMPAS — Keberangkatan sebagian atlet Indonesia untuk Asian Games 2026 ikut terganggu erupsi Gunung Anak Krakatau. Tim anggar dan bola basket yang seharusnya berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Senin (7/9/2026), harus diangkut ke Surabaya dengan menggunakan bus agar bisa berangkat ke Singapura dan lanjut ke Nagoya, Jepang.

”Karena bandara ditutup, kami harus mengangkut semua atlet dan ofisial ke Surabaya dengan bus selama lebih dari 10 jam. Dari sana, mereka berangkat ke Singapura, baru kemudian ke Nagoya. Semoga tidak ada hambatan lain lagi untuk pemberangkatan atlet menuju ke lokasi Asian Games di Nagoya,” kata Wijaya Noeradi, Sekretaris Jenderal Komite Olimpiade Indonesia, saat berkunjung ke Menara Kompas, di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Asian Games akan digelar pada 19 September sampai 4 Oktober 2026 di Nagoya, Jepang. Tim anggar berangkat lebih awal untuk menjalani pemusatan latihan terlebih dulu sebelum mengikuti pertandingan. Sedangkan tim basket harus mengikuti pertandingan yang digelar sebelum pembukaan Asian Games sehingga perlu aklimatisasi dan berangkat lebih awal.

”Semoga tidak ada lagi gangguan semacam ini karena secara bertahap Indonesia akan mengirim atletnya ke Jepang dalam beberapa hari ke depan,” kata Wijaya.

(Dari kananke kiri) Wakil bendahara umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Aang Sunadji, Sekretaris Jenderal KOI Wijaya Noeradi, dan Wakil Pemimpin redaksi Harian Kompas Adi Prinantyo berbincang mengenai persiapan tim Indonesia di Asian Games 2026, di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (8/9/2026)

Menurut Wijaya, pemberangkatan kontingen Indonesia bakal mengalami beberapa hambatan karena tidak ada penerbangan langsung ke Nagoya. Penerbangan harus transit lebih dulu di Singapura, Bangkok, atau Hong Kong.

Masalahnya, banyak negara lain juga akan melakukan perjalanan dengan transit yang sama dengan kontingen Indonesia. Singapura, Thailand, dan Hong Kong juga mengirim banyak atlet ke Jepang.

”Saat Indonesia mengirim 432 atlet, Singapura justru mengirim sekitar 500 atlet. Belum lagi ditambah negara-negara lain. Pada saat bersamaan, bisa ada ribuan atlet yang menuju Nagoya sehingga jadwal penerbangan menjadi sangat padat,” kata Wijaya.

Selain masalah penerbangan, Wijaya juga menyoroti masalah akomodasi dan transportasi yang bakal muncul di Nagoya. Kota itu dinilai tidak terlalu siap dalam hal akomodasi bagi semua atlet dan ofisial.

Kapal pesiar mewah Costa Serena yang akan disulap menjadi perkampungan atlet di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Tidak ada perkampungan atlet yang memadai untuk semua atlet dari negara-negara Asia yang datang. Rencana penggunaan kapal pesiar dan hotel-hotel lokal untuk menampung semua atlet dinilai masih tidak akan memadai.

”Pihak KOI akan berusaha keras menyediakan akomodasi bagi semua atlet dan ofisial Indonesia meski akan ada sejumlah keterbatasan. Jika perlu, satu kamar yang biasanya hanya diisi dua orang, akan kita isi tiga orang,” kata Wijaya.

Wakil Bendahara Umum KOI Aang Sunadji mengatakan, sebagian atlet tidak akan berangkat secara bersamaan. Beberapa di antara mereka yang memiliki jadwal lomba internasional akan berangkat dari negara tempat mereka bertanding sebelumnya.

”Pegolf Naraajie Emerald Ramadhan Putra dan Jonathan Wijono, misalnya, akan berangkat ke Jepang dari Taiwan dan Uni Emirat Arab, tempat terakhir mereka bertanding. Setelah dari Asian Games, mereka akan kembali mengikuti turnamen di negara lain lagi,” kata Aang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati