Bukan hanya tidak memenuhi kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza, Israel juga mengerahkan tank-tanknya untuk pertama kali dalam dua dekade ke Tepi Barat.
24 Feb 2025 18:57 WIB · Internasional
KAIRO, SENIN — Wilayah pendudukan teritorial Palestina, baik di Jalur Gaza maupun Tepi Barat, Senin (24/2/2025), secara bersamaan diselimuti eskalasi berbahaya. Di Jalur Gaza, masa depan gencatan senjata Hamas-Israel berada di titik kritis setelah Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dan bersiap perang kembali. Selain itu, untuk pertama kali dalam dua dekade, Israel mengerahkan tank-tanknya ke Tepi Barat.
Masa depan gencatan senjata Hamas-Israel kritis menyusul keputusan Israel menunda pembebasan 620 tahanan Palestina, yang seharusnya dilepas setelah Hamas membebaskan 6 sandera Israel, Sabtu (22/2/2025). Hamas menegaskan menolak melanjutkan negosiasi gencatan senjata tahap kedua sampai kesepakatan pertukaran tahanan dipenuhi Israel.
Gencatan senjata tahap pertama akan berakhir pada Maret 2025. Namun, belum ada kejelasan negosiasi gencatan tahap kedua.
Israel menunda pembebasan 620 tahanan Palestina meski Hamas telah membebaskan enam sandera Israel, Sabtu (22/2/2025). Israel ingin Hamas berhenti melakukan upacara pembebasan semacam ”parade” dengan menampilkan sandera-sandera di atas panggung. Cara ini telah dikritik oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Komite Internasional Palang Merah (ICRC).
Hamas menyanggah kritik terkait cara pembebasan sandera. Menurut Hamas, cara pembebasan seperti itu untuk menunjukkan solidnya perjuangan Palestina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/23/0f1f56b7d7e81ba386838a6c6903c635-APTOPIX_Israel_Palestinians_127684161.jpg)
Pada Minggu (23/2/2025), Hamas melontarkan kecaman keras terhadap keputusan Israel menunda pembebasan tahanan Palestina. Ezzat El Rashq, anggota Biro Politik Hamas, melalui keterangan tertulis menyebut ”keputusan (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu memperlihatkan upaya yang disengaja untuk menggagalkan kesepakatan, bukti pelanggaran nyata atas poin-poin kesepakatan, dan memperlihatkan kekuatan pendudukan tak bisa dipercaya memenuhi kewajibannya”.
Dalam sebuah upacara untuk perwira tempur, Minggu (23/2/2025), seperti dikutip Arab News, Netanyahu mengatakan, ”Kami siap untuk melanjutkan pertempuran sengit kapan saja. Rencana operasional kami sudah siap.”
Netanyahu mengklaim, Israel telah menghancurkan mayoritas kekuatan Hamas di Gaza. Namun, agar tidak ada keraguan, Israel ingin mewujudkan tujuan penuh baik melalui ”negosiasi atau cara lain”.
Selanjutnya, militer Israel mengumumkan perluasan operasi militer di Tepi Barat, wilayah Palestina lainnya. Pada Minggu (23/2/2025), Tel Aviv mengerahkan satu divisi tank ke Kota Jenin, Tepi Barat. Ini pengerahan pertama tank-tank Israel ke Tepi Barat dalam 20 tahun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/24/be1531122f081670668edbb9679423d3-Israel_Palestinians_127720106.jpg)
Pejabat senior Hamas, Bassem Naim, mengatakan, penundaan pembebasan tersebut akan membahayakan ”seluruh perjanjian”. Hamas meminta para mediator gencatan senjata, terutama Amerika Serikat, menekan Israel untuk menepati perjanjian.
”Setiap pembicaraan dengan musuh melalui mediator mengenai langkah selanjutnya bergantung pada pembebasan 620 tahanan Palestina yang disepakati sebagai ganti empat mayat dan enam tawanan Israel yang dibebaskan pada Sabtu. Para mediator harus memastikan musuh mematuhi ketentuan perjanjian, sebagaimana tercantum dalam teks yang disepakati,” tutur Naim.
Sejak gencatan senjata pada 19 Januari 2025, kedua belah pihak saling menuduh melakukan pelanggaran gencatan senjata. Sejauh ini, gencatan senjata berhasil dipertahankan walaupun berjalan rapuh.
Baik Hamas maupun Israel pernah menyatakan akan memulai perundingan tahap kedua. Tahapan ini, menurut para mediator, bertujuan untuk menyepakati pengembalian semua sandera yang tersisa dan penarikan penuh pasukan Israel.
Adapun mediator yang terlibat adalah AS, Qatar, dan Mesir. Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengatakan, dia akan pergi ke Timur Tengah pada pekan ini untuk mendapatkan perpanjangan gencatan senjata tahap pertama.
”Kami berharap memiliki waktu yang tepat untuk memulai tahap kedua dan menyelesaikannya serta membebaskan lebih banyak sandera,” kata Witkoff kepada CNN.
Ketika ditanya soal keinginan Netanyahu untuk memperpanjang gencatan senjata atau melanjutkan pertempuran, Witkoff meyakini pada opsi pertama. ”Saya yakin Perdana Menteri memiliki motivasi yang baik. Dia ingin melihat sandera dibebaskan, itu sudah pasti,” katanya.
Witkoff melanjutkan, Netanyahu juga ingin melindungi Israel sehingga punya garis merah. Garis merah itu adalah Israel tidak ingin Hamas terlibat dalam pemerintahan Gaza di masa depan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/23/514e6f145a8c5e475dc66af5a8fe69d0-TOPSHOT_PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_HOSTAGES_127684462.jpg)
Sejauh ini, AS mendukung keputusan Israel untuk menunda pembebasan tahanan Palestina. Gedung Putih menyebutnya sebagai langkah yang ”tepat”.
Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional AS Brian Hughes mengatakan, mengingat perlakuan Hamas terhadap para sandera, keputusan Israel untuk menunda pembebasan tahanan adalah respons yang tepat. ”Presiden siap mendukung Israel dalam tindakan apa pun yang dipilihnya terkait Hamas,” kata Hughes.
Di Tepi Barat dan Gaza, keluarga tahanan Palestina menunggu dengan ketidakpastian hingga Sabtu malam. Di Israel, sempat muncul juga kemarahan karena Hamas juga mengakui salah mengirim jenazah sandera Shiri Bibas, tertukar dengan jenazah lain. Pada Jumat (21/2/2025), jenazah Bibas telah dikirim Hamas dan sudah dikonfirmasi Israel.
Masyarakat Tahanan Palestina, kelompok lokal pendukung tahanan Palestina, mengatakan, Israel mempraktikkan ”terorisme negara terhadap para tahanan dan keluarga mereka”. Ghasan Washahi, salah satu keluarga tahanan, mengatakan, keluarganya kecewa dengan penundaan itu.
”Ibu saya bahkan mulai kehilangan harapan bahwa Islam akan dibebaskan dalam kesepakatan itu. Dan, ketika namanya akhirnya muncul, Israel menghentikan kesepakatan itu,” kata Washahi merujuk pada nama saudaranya.
Mesir dan Qatar telah mendesak Israel untuk membebaskan para tahanan. Selain itu, Mesir menolak untuk membahas tuntutan Israel sebelum itu, kata seorang pejabat Mesir yang terlibat dalam pembicaraan dan tak mau diungkap identitasnya.
Pada Minggu (23/2/2025), wartawan Associated Press melihat beberapa tank bergerak di sepanjang jalur tak beraspal menuju Jenin, Tepi Barat. Jenin telah lama menjadi benteng perlawanan bersenjata Palestina terhadap Israel. Tank terakhir kali dikerahkan di Tepi Barat pada 2002.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan, tentara telah ”mengosongkan” tiga kamp pengungsi di Tepi Barat utara. Pasukan Israel juga diperintah untuk bersiaga di area-area itu selama setahun guna mencegah warga Palestina kembali.
Katz menegaskan, puluhan ribu warga Palestina yang telah mengungsi tak boleh kembali lagi ke kampung asal mereka di Tepi Barat. ”Sejauh ini, 40.000 warga Palestina telah dievakuasi dari kamp pengungsi Jenin, Tulkarem, dan Nur Shams, yang kini kosong dari penduduk,” ujar Katz.
Kamp-kamp pengungsi itu merupakan rumah perlindungan bagi warga Palestina yang mengungsi selama perang dengan Israel beberapa dekade lalu. Tidak jelas berapa lama warga Palestina akan dicegah kembali.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/24/08f7ee1f-b8b3-49d8-a153-9247e452b58f_jpg.jpg)
Michael Horowitz, kepala intelijen untuk konsultan Le Beck, berpendapat, pengerahan tank di Tepi Barat terjadi pada waktu yang sangat sensitif untuk gencatan senjata di Gaza. Menurut dia, Netanyahu, di bawah tekanan dalam negeri, dapat menghadapi pilihan antara kembali berperang dan pemerintahan koalisi sayap kanannya berpotensi runtuh.
”Tidak ada logika militer nyata untuk menggunakan tank di Tepi Barat pada tahap ini. Kecuali jika tujuannya adalah untuk mengirim pesan dan mungkin untuk tinggal secara permanen di wilayah yang menjadi target serangan Israel,” kata Horowitz menambahkan.
Nabil Abu Rudeineh, Juru Bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas, mengecam keputusan untuk mengerahkan tank di Tepi Barat bagian utara. ”Ini adalah eskalasi berbahaya yang dilakukan Israel dan tidak akan membawa stabilitas atau ketenangan, dan kami memperingatkan tentang eskalasi berbahaya ini,” ucapnya.
Israel terus meningkatkan aktivitasnya di Tepi Barat. Sebelumnya, Tel Aviv melancarkan serangan di Tepi Barat bagian utara pada 21 Januari 2025, dua hari setelah gencatan senjata di Gaza berlaku.
Warga Palestina melihat serangan itu sebagai upaya Israel untuk memperkuat kontrol mereka atas wilayah itu, tempat 3 juta warga Palestina tinggal di bawah cengkeraman militer Israel. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra