Sandera Hamas dan tahanan Israel dibebaskan dalam kondisi memprihatinkan. Palang Merah Internasional mendesak agar sandera dan tahanan diperlakukan bermartabat.
09 Feb 2025 11:52 WIB · Internasional
DEIR Al-BALAH, MINGGU — Lancarnya proses pembebasan dan pertukaran sandera-tawanan belum menjadi jaminan proses negosiasi gencatan senjata tahap 2 bakal berlangsung mulus. Merujuk The Guardian, Minggu (9/2/2025), proses pembicaraan gencatan senjata tahap 2 diharapkan segera digelar pekan ini. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada rincian mengenai status pembicaraan tersebut.
Sebelumnya, Sabtu kemarin, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah memerintahkan tim negosiasi Israel bertolak ke Doha, Qatar. Mereka berangkat seusai pertukaran sandera-tawanan sesi kelima.
”Dengan selesainya tahap pembebasan, Perdana Menteri Netanyahu telah menginstruksikan pengiriman delegasi negosiasi ke Doha untuk membahas rincian teknis perjanjian tersebut,” kata Kantor Perdana Menteri Israel. Selain itu, disebutkan, Netanyahu akan menggelar rapat kabinet keamanan untuk membahas negosiasi gencatan senjata tahap 2 serta kesepakatan pembebasan sandera.
Namun, Hamas belum sepenuhnya yakin dengan langkah Israel. Sebagaimana diberitakan, pekan lalu, proses awal pembicaraan itu sempat tertunda lantaran tim negosiasi Israel belum hadir. Sebaliknya, tim negosiasi Hamas telah berada di Doha sejak Selasa lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/08/e357bf6983c0d244fe920ad5be3153ab-Israel_Palestinians_127331853.jpg)
Dalam wawancara dengan kantor berita Agence France-Presse (AFP), Sabtu kemarin, anggota biro politik Hamas, Basem Naim, mengatakan, Hamas sejatinya telah siap memulai dialog tahap kedua Senin lalu. Namun Israel memutuskan menundanya. Hingga saat ini, belum ada tanggal pasti kapan dialog untuk kesepakatan gencatan senjata tahap 2 dimulai.
”Apa yang kita lihat dari penundaan dan kurangnya komitmen dalam melaksanakan tahap pertama dan upaya untuk menciptakan lingkungan politik, internasional, diplomatik, dan media untuk menekan negosiator Palestina saat memasuki tahap kedua, tentu saja membahayakan perjanjian ini dan dengan demikian perjanjian ini mungkin akan terhenti dan runtuh,” kata Basem Naim, anggota biro politik Hamas dalam wawancara dengan kantor berita Agence France-Presse (AFP), Sabtu kemarin.
Naim mengatakan, kesepakatan gencatan senjata sangat rapuh. Berbeda dari sikap Netanyahu yang masih berniat melanjutkan perang, kelompok pejuang Palestina, tegas Naim tidak ingin berperang lagi.
”Namun, kembalinya perang tentu bukan keinginan atau keputusan kita. Namun, jika salah satu pihak memutuskan kembali berperang, tentu saja rakyat Palestina, kami yang telah bertahan selama 15 bulan dan memiliki semangat perlawanan di hati akan siap untuk menanggapinya dengan tepat,” kata Naim.
Sementara itu, sebagaimana telah diberitakan, PM Netanyahu telah mengeluarkan sinyal, Israel bisa sewaktu-waktu melanjutkan perang meski masih ada sandera Israel yang belum dibebaskan. ”Kita tidak akan mengabaikan apa yang terjadi. Kita akan mengambil tindakan yang diperlukan,” kata Netanyahu.
Dia menambahkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendukung penuh langkah Israel. ”Kita akan melakukan apa pun untuk membebaskan para sandera, tetapi tidak ada Hamas di sana,” kata Netanyahu seusai pembebasan sandera.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengajukan usulan kontroversial untuk memindahkan rakyat Palestina keluar dari Jalur Gaza. Usulan Trump disambut baik Israel tetapi ditolak masyarakat internasional. Berdasarkan definisi PBB tahun 1994 tentang pemusnahan etnis termasuk di antaranya pengosongan suatu wilayah dari penduduknya atas dasar ras dan agama.
Usulan Trump tentu dapat mempersulit perundingan gencatan senjata tahap 2. Agenda gencatan senjata tahap 2 adalah pembebasan sisa sandera Israel dan penarikan mundur tentara Israel serta penghentian perang.
Di tengah rapuhnya proses gencatan senjata tahap 2, tiga warga Israel yang disandera kembali dibebaskan. Dalam pertukaran sandera-tahanan tahap kelima itu, dibebaskan pula 183 warga Palestina dari tahanan-tahanan Israel, Sabtu kemarin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/09/99bff723441f9d3989daa89e2b9d292d-wires_photo_2_.jpg)
Para sandera Israel yang dibebaskan adalah Eli Sharabi (52), Ohad Ben Ami (56), dan Or Levy (34). Mereka disandera anggota Hamas saat kelompok itu menyerang Israel pada 7 Oktober 2023.
Berbeda dari sebelumnya, kondisi sandera dan sejumlah tawanan tampak memprihatinkan. Kondisi ketiga warga Israel tersebut tampak kurus kering dengan kantung mata cekung. Sementara itu, ada seorang warga Palestina yang dibebaskan dengan kondisi alat bantu pernapasan (ventilator) terpasang. Sebanyak tujuh tahanan dikabarkan dilarikan ke rumah sakit untuk dirawat.
Selain itu, sebagian dari 183 tahanan Palestina yang dibebaskan juga kurus dan tampak mengalami penyiksaan fisik. Sebagian tahanan Palestina dibawa ke Tepi Barat, Gaza, ataupun Mesir.
Hamas menuduh Israel mengadopsi kebijakan ”pembunuhan perlahan-lahan” terhadap warga Palestina yang ditahan. ”Fakta bahwa tujuh tahanan dipindahkan ke rumah sakit segera setelah mereka dibebaskan mencerminkan serangan sistematis dan penganiayaan terhadap tahanan kami oleh otoritas penjara Israel,” kata Hamas dalam sebuah pernyataan.
Palang Merah Internasional mengatakan sangat prihatin terhadap kondisi para sandera. Lembaga itu kemudian mendesak semua pihak untuk memastikan para sandera dan tahanan yang dibebaskan ada dalam keadaan bermartabat.
Perwakilan Kementerian Kesehatan Israel, Hagar Mizrahi, memberikan catatan ”gizi buruk” dan berat badan turun dari para sandera yang dibebaskan. Para keluarga sandera Israel yang dibebaskan pun khawatir akan keselamatan sandera yang tersisa.
”Jika ada yang meragukan betapa mendesaknya pembebasan sandera. Hari ini terlihat jelas kenapa kita harus segera membebaskan para sandera,” kata Moshe Or, saudara dari seorang sandera Avinatan Or dalam unjuk rasa di Kota Tel Aviv.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/08/a5829e06db26b9ab503267b0c4aa735b-TOPSHOT_ISRAEL_PALESTINIAN_CONFLICT_HOSTAGES_127330302.jpg)
Kordinator para sandera dari kantor PM Netanyahu, Gal Hirsch mengatakan tidak akan berdiam diri (terhadap kondisi memprihatinkan para sandera). ”Kami sudah menyampaikan pesan kepada para juru runding. Mereka akan bertindak sesuai arahan,” kata Hirsch.
Hamas mengatakan sudah mengupayakan semaksimal mungkin keselamatan para sandera walau dihujani bom oleh Israel siang-malam selama 15 bulan terakhir.
Israel mengatakan, dari 33 sandera, Hamas mengakui ada delapan yang tewas. Para sandera tersebut bersama dengan 2 juta warga Palestina di Jalur Gaza yang dihujani bom Israel selama 15 bulan dari utara hingga selatan Jalur Gaza.
”Saya semula mengenakan baju XXL sekarang berukuran medium,” kata Ben Ami yang baru dibebaskan saat memeluk putrinya Ella. Ella mengatakan butuh beberapa waktu untuk mengenali pria yang terlihat kurus itu adalah ayahnya.
Dalam laporan BBC, Minggu (9/2/2025), tahanan Palestina, Jamal al-Tawil, mantan Wali Kota Al-Bireh, mengatakan sempat terlibat aksi mogok makan karena ditahan tanpa tuduhan dan proses hukum apa pun.
Putri Al-Tawil mengatakan, ayahnya dipukuli pihak Israel sebelum dibebaskan. Dia harus digotong dari bus yang mengangkut tahanan untuk dipindahkan ke rumah sakit dengan alat ventilator terpasang.
Menurut Bulan Sabit Merah Palestina, tujuh orang dari 183 tahanan Palestina yang dibebaskan Israel langsung dilarikan ke rumah sakit.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/09/0738ecec772cc5fd6743b48d89ba568a-wires_photo_5_.jpg)
Para tahanan Palestina yang dibebaskan Israel, 18 orang di antaranya divonis penjara seumur hidup karena melakukan serangan mematikan terhadap warga Israel, dan 54 orang dipenjara dalam waktu lama, dan 111 orang adalah warga Gaza yang ditahan menyusul serangan 7 Oktober 2023 tetapi tidak diadili atas kejahatan apa pun. Mereka semua berusia 20-61 tahun.
Hampir semua orang Palestina memiliki teman, kerabat yang dipenjara oleh Israel.
Sebanyak tujuh tahanan dikirim ke Mesir, sebagian lainnya ke Tepi Barat yang diduduki Israel, dan selebihnya kembali ke Gaza yang sudah hancur lebur.
Salah satu tahanan yang dibebaskan adalah Iyad Abu Shakhdam (49) yang sudah dipenjara 21 tahun karena terlibat serangan Hamas terhadap kerumunan warga yang mengakibatkan belasan orang Israel tewas. Termasuk di antaranya serangan bom di dalam bus dekat Bersheba yang menewaskan 16 orang.
Para pejuang Palestina dan tahanan Palestina tersebut adalah keturunan pengungsi Palestina yang rumah dan tanahnya dirampas militer Israel dalam Perang Bulan Mei 1948. Peristiwa tersebut dalam sejarah Bangsa-bangsa Arab disebut Al-Nakba atau bencana ketika 90 persen penduduk Palestina diusir dari tanah air mereka. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Bonifasius Josie Susilo H, Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari