”Perang saudara” senior dan yunior akan terjadi pada perempat final ganda putra Daihatsu Indonesia Masters. Raymond/Nikolaus antusias melawan kembali Fajar/Fikri.
22 Jan 2026 19:28 WIB · Olahraga
Kompas/Danu Kusworo
JAKARTA, KOMPAS – Pertandingan ”perang saudara”, apalagi di antara atlet senior dan yunior, adalah laga adu gengsi. Atmosfer itu akan menjadi warna perempat final ganda putra turnamen bulu tangkis Daihatsu Indonesia Masters antara Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin.
Sang adik, Raymond/Nikolaus, bahkan begitu antusias ketika ditanya mengenai pertemuan yang akan berlangsung di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (23/1/2026). Mereka melangkah ke perempat final setelah menang dramatis atas pasangan Taiwan, Lee Jhe Huei/Yang Po Hsuan, dengan skor 14-21, 21-8, 24-22 setelah tertinggal 17-20 pada gim ketiga. Sementara Fajar/Fikri menang atas sesama pemain Indonesia yang lain, Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana 21-16, 18-21, 21-13.
”Saya ingin melawan mereka. Kalau di latihan, suka enggak enak psywar lawan senior, beda dengan pertandingan. Kami memang menunggu lawan senior ranking ketiga (seharusnya keempat) dunia itu,” kata Nikolaus yang berkarakter lebih terbuka saat berbicara dan ekspresif ketika berada di lapangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/22/bebc797a-2493-4fba-8398-f1c39d875b2e.jpg)
Dengan nada lebih kalem, Raymond menyatakan antusiasmenya bertemu Fajar/Fikri untuk kedua kali setelah mengalahkan mereka di final Australia Terbuka 2025. ”Kami memang pernah mengalahkan mereka, tetapi atmosfer di Istora lain. Ada situasi berbeda yang harus kami antisipasi. Itu harus kami buktikan,” ujarnya.
Berbeda dengan Raymond/Nikolaus, anak-anak muda berusia 21 dan 20 tahun, Fajar/Fikri mengutarakan persaingan sesama pemain Indonesia dengan kalimat yang lebih bijak. ”Di ganda putra, kami bersaing dengan sportif, bukan adu gengsi. Semua pemain pasti ingin menang dan ingin menjadi nomor satu,” ujar Fikri.
Persaingan di antara pemain pelatnas tak dibatasi dengan status atlet senior dan yunior atau atlet pelatnas utama dan pratama. Raymond/Nikolaus, misalnya, memberi kejutan kepada Fajar/Fikri ketika mengalahkan mereka pada final Australia Terbuka, November 2025, dengan skor 20-22, 21-10, 18-21.
Sebelum mengalahkan Fajar/Fikri, Raymond/Nikolaus menyingkirkan pasangan top dunia lainnya dari Malaysia, Man Wei Chong/Tee Kai Wun dan Goh Sze Fei/Nu Izuddin. Hasil itu dan dan lima gelar lain dari berbagai level pada 2025 menempatkan mereka ke ranking ke-23, naik dari posisi ke-191 dunia pada Maret. Selain itu, Raymond/Nikolaus pun dimasukkan ke kategori pelatnas utama, naik dari pratama, untuk berlatih bersama senior mereka, termasuk Fajar/Fikri, mulai 2026.
Persaingan tak hanya terjadi saat atlet bertemu di turnamen,tetapi juga saat latihan, biasanya saat berlangsung program latih tanding. Namun, seperti dituturkan Nikolaus/Raymond secara tersirat, pemain yunior biasanya segan melakukan psywar saat latihan.
Meskipun memiliki bekal kemenangan atas Fajar/Fikri dalam final Australia Terbuka, Raymond/Indra memiliki catatan yang harus menjadi perhatian saat bertemu di Istora di hadapan publik Indonesia.
Saat menjalani babak kedua, mereka sering kali berada dalam kondisi tertekan, termasuk pada gim penentuan. Raymond/Nikolaus berada di ambang kekalahan ketika lawan membuat match point pada skor 20-17. Mereka bisa menahan Lee/Yang dengan membuat skor menjadi 20-20, tetapi kembali tertinggal ketika lawan membuat match point keempat dan kelima, semuanya karena unforced error Raymond/Nikolaus.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/22/87dc1ade-aa64-45a9-8e9d-32f536348bc5.jpg)
Upaya untuk bertahan, ditambah dengan keberuntungan, mengantarkan Raymond/Nikolaus pada kemenangan justru ketika lawan berada dalam posisi menyerang. Dua kali kok dari serangan Lee/Yang membentur net dan jatuh di lapangan sendiri.
Nikolaus tidak menampik bahwa dia merasa tegang dalam situasi tersebut. Dia pun harus menenangkan diri sendiri dengan mengelus dada dan menarik napas dalam, selain diingatkan partner untuk tetap tenang. Demikian pula saat Raymond membuat kesalahan, Nikolaus menyemangatinya, ”Ayo, masih bisa!”
Namun, mereka tak bisa mengandalkan keberuntungan berupa kesalahan lawan dalam setiap pertandingan, apalagi ketika pertandingan melawan pasangan top dunia akan sering terjadi.
Pertemuan Raymond/Nikolaus dan Fajar/Fikri memastikan ganda putra Indonesia akan memiliki wakil pada semifinal. Kepastian menempatkan wakil di final pun bisa didapat dengan cepat jika salah satu di antara mereka bertemu Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi di semifinal. Akan tetapi, Sabar/Reza harus mengalahkan Man/Tee lebih dulu. Sabar/Reza memiliki bekal lima kemenangan beruntun dari enam pertemuan dengan ganda putra Malaysia ranking keenam dunia itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/22/19bf9eb4-f338-4205-8687-c72a41364462.jpg)
Nomor ganda putri juga memiliki tiga wakil pada perempat final, dua di antaranya pasangan baru, yaitu Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi dan Apriyani Rahayu/Lanny Tria Mayasari. Satu tiket perempat final lainnya diperebutkan Rachel Alessya Rose/Febi Setianingrum dan Siti Sarah AzZahra/Az Zahra Ditya Ramadhani.
Di ganda campuran, setelah mengalahkan rekan latihan di pelatnas, Dejan Ferdinansyah/Bernadine Anindiya Wardana, Jafar Hidayatulah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu akan berhadapan dengan Thom Gicquel/Delphine Delrue (Perancis). Pada pertandingan lain, Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil akan melawan unggulan kedua asal China, Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin. Adapun Gloria Emanuelle Widjaja, yang berpasangan dengan pemain Singapura, Hee Yong Kai Terry, akan menantang juara dunia asal Malaysia, Chen Tang Jie/Toh Ee Wei.
Sementara itu, nomor tunggal putri kehabisan wakil setelah Putri Kusuma Wardani dikalahkan Huang Yu-Hsun (Taiwan), 17-21, 21-19, 17-21. Padahal, Putri memiliki kesempatan besar untuk melangkah lebih jauh dibandingkan perempat final pada 2025, bahkan untuk melaju ke final. Ini karena tiga tunggal putri peringkat teratas dunia yang selalu mengalahkannya, yaitu An Se-young, Akane Yamaguchi, dan Wang Zhi Yi, absen di Indonesia Masters.
”Saya belum bisa menghasilkan yang terbaik. Lawan mempersiapkan strategi dan pola bermain yang sangat luar biasa karena tadi dari game pertama sampai game ketiga saya kesulitan,” kata Putri.
Penulis:
Yulia Sapthiani, rebiyyah salasahEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti