Tidak seperti saat tampil di perempat final SEA Games Thailand 2025, Moh Zaki Ubaidillah tidak bisa tampil lepas dan fokus ketika kembali bertemu Loh Kean Yew.
22 Jan 2026 16:52 WIB · Olahraga
Kompas/Danu Kusworo
JAKARTA, KOMPAS — Mohammad Zaki Ubaidillah tersandera rasa gugup dan pikiran tidak fokus saat berusaha mencapai target di Indonesia Masters 2026. Kegagalan mengulangi hasil manis SEA Games Thailand 2025 memberinya pelajaran berharga.
Zaki kalah dari wakil Singapura, Loh Kean Yew, pada babak pertama di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (22/1/2026). Melawan juara dunia 2021 itu, Zaki takluk dengan skor 21-19, 21-10. Skor itu identik dengan hasil ketika Zaki yang mengalahkan Loh Kean Yew di SEA Games Thailand 2025.
Indonesia Masters adalah pertemuan kedua Zaki dan Loh setelah perempat final tunggal putra SEA Games Thailand 2025, Desember. Pada pertemuan perdana itu, Zaki yang merupakan debutan di SEA Games secara mengejutkan menang atas lawan yang sudah tampil di ajang itu sejak 2015.
Menurut Zaki, sebenarnya tidak ada perbedaan atmosfer persaingan di SEA Games maupun turnamen tur BWF, seperti Indonesia Masters 2026. Yang berbeda justru ada pada internal Zaki sendiri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/22/abb9ab68-26dd-4146-921d-3182469c9ed5.jpg)
”Di SEA Games itu memang main saya agak lepas, pikirannya tuh mau fokus, masih mau ngelawan. Mungkin karena di sini agak tegang kali, ya, banyak suporter. Deg-degan, tidak bisa lepas,” ujar Zaki.
Zaki datang ke SEA Games sebagai atlet debutan sekaligus anggota termuda tim bulu tangkis Indonesia. Malah, Zaki memang berharap bisa bermain dengan lawan-lawan yang tak hanya lebih senior, tetapi juga masuk 10 besar dunia, seperti Kunlavut Vitidsarn (Thailand, peringkat ke-2 dunia).
Zaki pun bermain tanpa beban. Ketika bertemu Loh, finalis Kejuaraan Dunia Yunior 2025 ini selalu unggul dalam perolehan skor sejak awal hingga akhir meski lawan pun mencoba terus memperkecil jarak.
Kondisi mental Zaki itu ternyata bisa membuatnya menciptakan kejutan manis. Zaki sendiri tidak menduga bisa menang dua gim langsung. Atlet 18 tahun ini bahkan sebenarnya sudah menyiapkan diri untuk menghadapi laga ketat.
Namun, kondisi serupa tidak bisa diterapkan Zaki ketika kembali bertemu Loh di Istora. Zaki tidak bisa bermain lepas seperti di SEA Games. Padahal, ia juga datang dengan status sebagai debutan di Indonesia Masters.
Dari hasil diskusi dia dan pelatih tunggal putra, Indra Widjaja, Zaki memang datang ke Istora dengan target yang bisa menjadi beban lain. Target itu adalah perempat final Indonesia Masters.
Zaki mengatakan, taget itu sebenarnya tidak membebaninya. Kekalahan dari Loh murni karena rasa gugup dan pikiran tidak fokus yang tidak bisa teratasi.
Di sisi lain, menurut Zaki, Loh juga menunjukkan pengalamannya yang lebih kaya, terutama ketika situasi tidak menguntungkan. Pada gim kedua, Loh ”kalah angin”, yakni ketika angin berembus ke arahnya sehingga lawan punya keuntungan untuk menyerang melalui smes karena kok terbantu dorongan angin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/22/ac5e6cbc-8aa4-4b15-a5d8-e54ab6cd3b00.jpg)
Alih-alih kesulitan bertahan, Loh justru bisa mengatur permainan dalam kondisi tersebut. Terlepas dari itu, Zaki memilih memetik pelajaran dari kekalahannya.
”Saya bisa belajar dari dia bagaimana cara menaikkan tempo permainan dalam kondisi kalah angin, bisa mengontrol lawan, bisa mengatur buangan kok, dan mengatur kecepatan,” ujar Zaki.
”Saya harus lebih yakin lagi nantinya dari segi fokus dan pikiran. Memang kalau sudah ngadu seperti tadi, pikiran saya agak kurang bisa (fokus),” tuturnya.
Dari sektor ganda campuran, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu juga mengambil pelajaran berharga dari pertemuan dengan sesama wakil Indonesia, Dejan Ferdinansyah/Bernadine Anindya Wardana. Bukan cuma konsistensi permainan yang penting, Jafar/Felisha menyadari kesiapan dan antisipasi sejak awal laga juga diperlukan, terutama ketika lawan tidak menampilkan pola permainan atau strategi biasanya.
Jafar/Felisha menang atas Dejan/Bernadine, 10-21, 21-11, 21-10. Kemenangan Jafar/Felisha mengantarkan unggulan keenam turnamen ini meraih tiket ke babak perempat final Indonesia Masters 2026.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/22/a2217f51-a8be-486b-86cd-5b2ef62b892b.jpg)
Pertemuan dengan sesama wakil Indonesia umumnya lebih menantang. Selain karena mempertaruhkan gengsi masing-masing, para pemain sudah sering latihan bersama dan saling mengenal pola permainan masing-masing.
Hal itu diamini Felisha. Apalagi, kata Felisha, Dejan/Bernadine juga dalam posisi ingin membuktikan diri sebagai pasangan baru. Indonesia Masters 2026 merupakan ajang level Super 500 pertama Dejan/Bernadine sebagai pasangan. Mereka baru dipasangkan sejak September 2025 dan memulai langkah dari level bawah.
Di sisi lain, Jafar/Felisha juga ingin melangkah lebih jauh dari debut Indonesia Masters pada 2025. Saat itu, mereka terhenti pada babak kedua.
”Kami sering latihan bersama dan pola permainan serta kebiasaan banyak diketahui satu sama lain. Namun, mereka punya strategi berbeda dan membuat kami kaget sehingga gim pertama kami sulit keluar dari tekanan,” ujar Felisha.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/22/8b8eb252-251e-4906-9b4e-6ad7679bf039.jpg)
Jafar menyoroti ketidaksiapan mereka dengan perubahan pola permainan lawan tersebut. Ketidaksiapan itu, kata Jafar, menimbulkan masalah yang tidak bisa langsung mereka atasi. Baru pada gim kedua, Jafar/Felisha mengatasi perubahan tersebut dan membalikkan keunggulan.
”Kami akhirnya mengatasi kesulitan itu karena sudah tahu mereka mau main seperti apa. Cuma kami juga tadi fokus untuk yang penting banyak buat poin, tidak gampang mati. Tapi yang pasti start awal kami harus lebih siap lagi,” ujar Jafar yang bersama Felisha akan bertemu unggulan keempat, Thom Gicquel/Delphine Delrue (Perancis), di perempat final.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan