Fakta Unik dari Wimbledon (II)

Wimbledon adalah turnamen tenis tertua di dunia yang terkenal akan berbagai tradisi. Dalam perkembangannya, beberapa tradisi diubah sesuai kebutuhan.

05 Jul 2025 07:00 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Grand Slam Wimbledon adalah salah satu ajang olahraga terkenal di dunia bukan hanya karena menjadi turnamen tenis tertua. Wimbledon adalah turnamen unik dan klasik karena mempertahankan berbagai tradisi.

Meski demikian, All England Lawn Tennis Club (AELTC) atau yang dikenal dengan All England Club sebagai penyelenggara, tetap mendengar suara atlet dan melihat perkembangan zaman. Mereka beradaptasi dengan kebutuhan tersebut.

Lapangan rumput, adanya si elang bernama Rufus yang menjadi bagian dari ”panitia”, dan peraturan pakaian serba putih menjadi bagian dari hal unik di Wimbledon. Ada pula ”royal box” yang selalu diisi tamu-tamu penting serta stroberi sebagai makanan ikon sejak Wimbledon pertama digelar.

Atmosfer berbeda yang didapat petenis dan penonton di Wimbledon, tetapi tak ada di Grand Slam lain, adalah nuansa teduh. Kompleks All England Club di London bagaikan menjadi tempat pesta taman setiap musim panas pada Juni-Juli.

Hijaunya rumput lapangan dan dedaunan berpadu dengan warna-warni bunga di setiap sudut, terutama bunga ivy ungu, hingga Wimbledon memiliki warna hijau-ungu sebagai ciri khasnya.

Madison Keys berlatih di All England Club menjelang Wimbledon 2025. Saat Wimbledon, kompleks lapangan tenis di London, Inggris, itu bagaikan taman.
Seorang pekerja melewati logo Wimbledon di All England Club, Jumat (27/6/2025). Sebanyak 5.000-an orang terlibat untuk menyiapkan Wimbledon.
Petugas lapangan merapikan bunga ivy yang berada di dinding luar Lapangan Utama All England Club menjelang berlangsungnya Wimbledon 2025.
Petugas menanam dan merapikan bunga di All England Club menjelang berlangsungnya wimbledon.

Berikut ini hal-hal unik lain di Wimbledon, baik yang tetap dipertahankan, diubah sesuai kebutuhan, maupun yang telah hilang.

Trofi

Pertama kali diselenggarakan pada 1877, Wimbledon hanya menarik perhatian 22 petenis Inggris yang harus membayar 1 guinea (setara 1 pounds atau Rp 22.000 saat ini). Juara tunggal putra, Spencer Gore, berhak atas hadiah uang setara Rp 264.000 berdasarkan kurs saat ini dan Piala Field yang merupakan sumbangan dari surat kabar The Field. Piala ini tidak lagi diberikan pada petenis dan tersimpan di Museum Tenis Wimbledon.

Spain's Carlos Alcaraz poses with the winner's trophy after beating Serbia's Novak Djokovic during their men's singles final tennis match on the fourteenth day of the 2024 Wimbledon Championships at The All England Lawn Tennis and Croquet Club in Wimbledon, southwest London, on July 14, 2024. Defending champion Alcaraz beat seven-time winner Novak Djokovic in a blockbuster final, with Alcaraz winning 6-2, 6-2, 7-6. (Photo by HENRY NICHOLLS / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE

Terdapat persetujuan bahwa petenis yang tiga kali menjadi juara secara beruntun berhak menyimpan piala tersebut dan petenis pertama yang mendapatkannya adalah William Renshaw (juara 1881-1883).

Pada 1884, Piala Field diganti Piala Challenge dan kembali dibawa pulang Renshaw setelah juara pada 1884-1886. Sejak 1887 akhirnya dibuat lagi Piala Challenge seperti yang kita kenal saat ini. Piala ini bebentuk seperti cangkir berkuping dua dengan tutup, terbuat dari perak setinggi 44,5 cm dan berat 3,5 kg (tanpa alas).

Di bagian paling atas tutup terdapat ukiran berbentuk nanas. Seperti disebutkan dalam laman resmi Wimbledon, tak ada yang tahu mengapa terdapat nanas di piala tersebut. Penjelasan yang paling bisa diterima adalah ketika Wimbledon digelar pada abad ke-19, nanas adalah makanan eksklusif dengan harga sangat mahal.

Di badan piala terdapat ukiran nama juara sejak 1877. Akan tetapi, karena tak ada lagi ruang, juara sejak 2009 diukir di bagian alas piala.

Sang juara hanya bisa memegang piala ukuran asli pada acara pemberian penghargaan dan sesi foto, saat final dan sehari setelah itu. Trofi yang dibawa pulang adalah replika setinggi 34 cm karena piala asli disimpan di museum.

Barbora Krejcikova of the Czech Republic kisses her trophy after defeating Jasmine Paolini of Italy in the women's singles final at the Wimbledon tennis championships in London, Saturday, July 13, 2024. (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Juara tunggal putri juga membawa pulang replika trofi Venus Rosewater Dish berbentuk piring dengan diameter 34 cm, lebih kecil dari ukuran asli berdiameter 47,5 cm dan berat 2,3 kg (tanpa alas). Pada 1949 hingga 2006, trofi yang berhak disimpan petenis bahkan lebih kecil, dengan diameter 20 cm.

Venus Rosewater Dish pertama kali diberikan pada juara tunggal putri dalam kejuaraan 1886, tetapi, daftar juara sudah diukir pada piala sejak 1884. Juara 1884-1957 diukir pada bagian depan piring. Pada bagian belakang terdapat daftar juara 1958-2015. Oleh karena tak ada ruang lagi, juara sejak 2016 diukir di bagian alas.

”Royal Box”

Royal Box adalah tempat istimewa di All England Club. Hanya undangan penting yang bisa duduk di sini.

Posisinya berada di tribune bagian selatan Lapangan Utama. Dengan duduk di salah satu dari 74 kursi berwarna hijau tua, Anda berada di posisi terbaik. Anda pun akan terlihat dari segala arah, baik dari tribune lain maupun dari tempat media. Tak pelak, tamu-tamu kehormatan di tempat ini selalu menjadi sorotan media.

Tamu untuk Royal Box, dikatakan Kepala Komunikasi All England Club Alexandra Willis, dipilih berdasarkan masukan dari penyelenggara dan sumber lain. Undangan dikirim dua hingga tiga bulan sebelum turnamen berlangsung.

Kalimat ”Ketua dan Komite Manajemen Wimbledon dengan senang hati mengundang (nama) di Royal Box pada (tanggal)” tertulis pada undangan tersebut. Dengan ditentukannya tanggal kedatangan, tamu akan duduk di kursi dengan nama masing-masing.

Britain Wimbledon Tennis

Selain mendapat undangan, ada juga syarat yang harus dipenuhi tamu Royal Box, yaitu mengikuti peraturan dress code. Mereka harus mengenakan pakaian jas/jaket dengan dasi untuk laki-laki dan tamu perempuan tak boleh memakai rok atau gaun di atas lutut. Mereka pun dilarang memakai topi karena bisa menghalangi pandangan penonton di belakangnya.

Juara Formula 1 2016, Nico Rosberg, pernah ditolak masuk Royal Box karena kesalahannya. Dia datang tanpa mengenakan kaus kaki. Pebalap Jerman itu baru bisa masuk setelah panitia memberinya kaus kaki.

Selain bisa menonton pertandingan sepanjang hari yang ditentukan, tamu Royal Box juga bisa makan siang di Clubhouse sebelum pertandingan pertama di Lapangan Utama yang dimulai pukul 13.00. Sorenya, mereka dijamu minum teh dan makanan ringan, termasuk stroberi dan krim, camilan khas Wimbledon.

Saat udara dingin, selimut disediakan. Tamu Royak Box juga mendapat cendera mata, seperti tas dengan logo Wimbledon dan tulisan ”Royal Box”, pin dari perak, serta foto pertandingan yang berlangsung hari itu di lapangan utama.

Di Wimbledon 2025, kursi royal box telah menjadi tempat menonton aktor, atlet/mantan atlet, keluarga Kerajaan Inggris, dan tokoh penting di berbagai bidang. Mereka diantaranya mantan pesepak bola David Beckham, aktor Cate Blanchett dan Eddie Redmayne, serta mantan atlet loncat indah Tom Daley.

Keluarga Kerajaan Inggris 

Keberadaan Royal Box terkait dengan Kerajaan Inggris. Kedatangan Prince of Wales dan Putri Mary (yang kemudian menjadi Raja George V dan Ratu Mary) ke Wimbledon pada 1907 menjadi awal dari koneksi keluarga kerajaan dengan turnamen klasik itu.

Diceritakan dalam Time, mengutip buku George Hillyard: The Man Who Moved Wimbledon, Prince of Wales diminta menjadi Presiden All England Club dan menyerahkan trofi pada juara di Wimbledon 1907.

Carlos Alcaraz of Spain meets Princess Charlotte with Kate, Princess of Wales following his win in the men's singles final over Novak Djokovic at the Wimbledon tennis championships in London, Sunday, July 14, 2024. (Andrew Parsons/AELTC/Pool Photo via AP)

Tiga tahun kemudian, setelah Prince of Wales menjadi Raja George V, dia mendapat peran baru sebagai Patron of The All England Club (pelindung All England Club). Sejak saat itu, dipertahankanlah peran anggota kerajaan dalam posisi tersebut.

The Wimbledon Compendium 2019, ensiklopedia yang dikeluarkan All England Club, menyebut, Ratu Elizabeth II  (cucu dari Raja George V) menjadi patron sejak 1952 hingga mundur pada 2016 dalam ulang tahun ke-90.

Perannya digantikan Duchess of Cambridge Kate Middleton (sekarang Princess of Wales) sejak 2017. Tugasnya tidak hanya memberi dukungan saat turnamen berlangsung, Kate juga harus mengunjungi acara-acara amal dan program olahraga yang didukung Wimbledon.

Anggota kerajaan lain yang memiliki peran dalam Wimbledon adalah Prince Edward, Duke of Kent (sepupu Ratu Elizabeth II) yang menjadi Presiden All England Club sejak 1969. Ayah Prince Edward, yaitu Prince George, Duke of Kent, juga menjadi Presiden All England Club pada 1929-1942.

Tidak hanya menjadi bagian dari kepengurusan All England Club, ada pula keluarga kerajaan yang bertanding di Wimbledon 1926, yaitu Duke of York. Dia adalah ayah Ratu Elizabeth II yang kemudian menjadi Raja George VI.

Duke of York bermain pada nomor ganda putra, berpasangan dengan Louis Greig. Mereka kalah pada babak pertama dari sesama pasangan Inggris, Herbert Roper Barrett/Arthur Gore, 1-6, 3-6, 2-6. Setelah itu, Duke of York tidak pernah bermain lagi di Wimbledon.

Britain Wimbledon Tennis

Hubungan keluarga kerajaan dengan Wimbledon juga ditandai dengan adanya Royal Box. Semula, terdapat kewajiban memberi hormat pada anggota kerjaan yang datang. Petenis putra harus melakukannya dengan cara menunduk, adapun petenis putri dengan berlutut. Namun, Duke of Kent menghapus tradisi itu sejak 2003 kecuali jika Ratu Elizabeth II (saat itu) atau Prince of Wales hadir.

Kebetulan, Ratu Elizabeth II bukan penggemar tenis hingga tak terlalu sering menonton langsung Wimbledon. Terakhir kali dia menonton di Royal Box adalah pada 2010 setelah 1977, 1962, dan 1957. Pada 2019, Ratu datang untuk makan siang dan menonton Andy Murray, lalu pergi lagi.

Ini berbeda dengan Pangeran William dan Kate yang beberapa kali menonton di Royal Box.

Stroberi dan krim

Stroberi dan krim menjadi makanan populer di Wimbledon. Tulisan dalam New York Times menyebut, Raja George V adalah orang yang memperkenalkan stroberi dan krim kepada penonton Wimbledon.

Munculnya tradisi stroberi di Grand Slam lapangan rumput itu, seperti dikatakan pustakawan Museum Tenis Wimbledon Audrey Snell, adalah karena keduanya terkait dengan musim panas.

”Stroberi selalu tersedia pada awal-awal Wimbledon karena hanya bisa dipanen pada musim panas. Setelah itu, stroberi menjadi ciri khas Wimbledon,” kata Snell.

Stroberi segar dari perkebunan keluarga di Hugh Lowe di Kent, Inggris, disiapkan untuk Wimbledon. Sebagai buah yang identik dengan musim panas, stroberi identik pula dengan Wimbledon.
Kotak yang dipakai untuk mengemas stroberi yang dijual pada penonton saat Wimbledon.
Menu stroberi dan krim menjadi ciri khas Wimbledon sejak digelar pada abad ke-19.
Penonton Wimbledon mengenakan topi berbentuk stroberi saat menonton pertandingan di All England Club, Senin (30/6/2025). Strober adalah buah yang identik dengan Wimbledon.

Stroberi yang disajikan untuk atlet dan dijual kepada penonton adalah buah berkualitas tertinggi, Grade 1, yang ditanam di perkebunan Hugh Lowe di Kent, bagian tenggara Inggris, bejarak sekitar 50 kilometer dari All England Club. Sekitar 100.000 stroberi ditanam pada akhir Maret agar bisa dipanen dalam kualitas terbaik saat Wimbledon.

Perkebunan keluarga yang dikelola sejak 1893 itu itu telah menyediakan stroberi untuk Wimbledon selama lebih dari 30 tahun.

Untuk menjaga kesegarannya, stroberi dipetik dengan tangan pukul 04.00 setiap hari oleh 20-an orang. Pukul 09.00 adalah jadwal untuk mengantar agar dua jam kemudian tiba di All England Club.

Selama 2024, seperti disebutkan dalam The Independent, Wimbledon menyediakan 55 ton stroberi atau sekitar 2,5 juta butir stroberi. Untuk melengkapinya disediakan 13.241 liter krim. Maka, jadilah 251.405 porsi menu stroberi dan krim yang dijual pada penonton dengan harga 2,50 pounds (Rp 55.000) dan naik menjadi 2,70 pounds (Rp 59.000) pada 2025. Ini menjadi kenaikan harga untuk pertama kalinya dalam 15 tahun terakhir.

Agar tidak membuang makanan, stroberi yang tak terjual akan dibekukan lalu dibuat menjadi selai, setelah turnamen. Selai itu dijual di kafe di All England Club yang buka sepanjang tahun.

Adaptasi tradisi

Selain stroberi dan krim, baju putih, dan keberadaan Royal Box di Lapangan Utama, Wimbledon pernah memiliki ciri khas lain yang kemudian berubah seiring kebutuhan. Awalnya, Wimbledon menjadi satu-satunya Grand Slam yang memiliki hari libur dengan sebutan ”Middle Sunday”, yaitu hari Minggu pada pertengahan turnamen yang digunakan sebagai hari istirahat.

Satu hari tanpa pertandingan itu digunakan pekerja lapangan untuk memperbaiki dan mempercantik kembali tempat pertandingan, terutama rumput lapangan yang rusak. Adapun bagi atlet, satu hari tanpa pertandingan dan penonton biasanya digunakan untuk menikmati suasana santai di All England Club.

Petugas lapangan menarik terpal penutup lapangan saat hujan berhenti di area All England Club, Kamis (3/7/2025). Sering turun hujan saat Wimbledon menjadi salah satu pertimbangan dihilangkannya "Middle Sunday" sejak 2022.

Oleh karena hanya digelar 13 hari, babak keempat Wimbledon pun selalu berlangsung dalam satu hari, pada Senin pekan kedua, dan ini bisa dikatakan sebagai jadwal terpadat selama turnamen. Akibatnya, hari tersebut punya julukan ”Manic Monday”.

Namun, karena hujan—yang menjadi ciri khas London—sering menghentikan pertandingan, Wimbledon empat kali menggelar laga pada ”Middle Sunday” untuk mengurangi kepadatan jadwal pada pekan kedua. Hal itu terjadi pada 1991, 1997, 2004, dan 2016.

Dengan perkembangan situasi, Wimbledon akhirnya menghapus ”Middle Sunday” mulai 2022. Apalagi, perkembangan teknologi bisa membuat rumput bertahan lebih lama tanpa harus ada hari istirahat.

”Kami harus menyesuaikan dengan zaman dan menghormati masukan pemain. Tradisi lain, yaitu digelar di lapangan rumput serta pakaian serba putih, tetap dipertahankan. Itu kekuatan terbesar kami,” ujar Kepala Komunikasi, Konten, dan Digital All England Club Alexandra Willis dikutip The New York Times saat Wimbledon 2022.

Wimbledon juga melakukan perubahan dalam menentukan unggulan untuk tunggal putra. Pada 2002-2019, penentuan unggulan tak didasarkan pada ranking ATP. Ini berbeda dengan unggulan tunggal putri yang mengikuti urutan ranking WTA.

Wimbledon memiliki formula tersendiri untuk membuat daftar 32 unggulan tunggal putra, yaitu poin ranking saat unggulan ditentukan + semua poin ranking dari turnamen lapangan rumput pada 12 bulan terakhir + 75 persen dari poin terbaik di turnamen lapangan rumput pada 12 bulan sebelumnya.

Jannik Sinner melakukan servis pada babak kedua Wimbledon di Lapangan Utama All England Club, Kamis (3/7/2025). Sinner, yang merupakan petenis  nomor satu dunia, menjadi unggulan teratas tunggal putra.

Salah satu dampak dari formula tersebut terlihat pada daftar unggulan tunggal putra Wimbledon 2019. Empat unggulan teratas ditempati Novak Djokovic, Roger Federer, Rafael Nadal, dan Kevin Anderson. Federer berada di atas Nadal meski berdasarkan ranking ATP, dia justru berada di bawah rivalnya itu. Ini karena pencapaian Federer di lapangan rumput sejak 2017 lebih baik dibandingkan Nadal.

Posisi Anderson juga mendapat sorotan karena saat itu, dia hanya menempati ranking kedelapan dunia. Namun, hasil final Wimbledon 2018 (kalah dari Djokovic) menaikkan posisinya dalam daftar unggulan.

Oleh karena memunculkan banyak kritik, formula khusus untuk tunggal putra di Wimbledon itu akhirnya dihapus. Sejak 2021, setelah Wimbledon 2020 tak digelar karena pandemi Covid-19, daftar unggulan tunggal putra mengikuti daftar ranking ATP.

Di balik berbagai tradisi yang melekat kuat hingga saat ini, perubahan tetap dilakukan terutama untuk menjangkau penonton muda dengan target mereka yang berusia 21 tahun ke bawah. Pendekatan dilakukan melalui media sosial dengan penyebaran informasi yang melibatkan partisiapsi audiens. Dalam aplikasi Wimbledon misalnya, penonton bisa menyaksikan momen ketika petenis berlatih dan berinteraksi di luar pertandingan, momen yang jarang diperlihatkan oleh media konvensional seperti televisi. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto