Faktor China dan Arab Saudi Latari UEA Keluar dari OPEC
Setelah terlibat ketegangan bertahun-tahun dengan Arab Saudi, UEA memutuskan keluar dari OPEC. Hal ini akan memperlemah pengaruh OPEC terhadap pasar minyak global.
ABU DHABI, RABU — Di tengah gejolak energi global akibat perang di Iran, Uni Emirat Arab memutuskan keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Dampaknya, pasar minyak global menjadi lebih fluktuaktif.
Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keluar dari OPEC pada Selasa (28/4/2026) malam waktu Abu Dhabi. Negara Timur Tengah ini secara efektif akan meninggalkan OPEC per 1 Mei 2026.
Menurut peneliti senior di Pusat Kebijakan Energi Global Columbia University, AS, Karen Young, keputusan UEA meninggalkan OPEC merupakan bagian dari upaya untuk menegaskan diri sebagai pemimpin dan aktor independen di Timur Tengah. Dengan keputusan itu, UEA dapat menjual minyak secara independen dalam waktu dan mekanisme yang dikendalikan sendiri.
”Keluarnya UEA dari OPEC ini sesuai dengan kebutuhan UEA akan fleksibilitas dengan konsumen energi utama, termasuk hubungan masa depan dengan China dan hubungan yang lebih kompetitif dengan Arab Saudi,” katanya.
Rumor rencana keluarnya UEA dari OPEC telah beredar selama bertahun-tahun di tengah memburuknya hubungan negara itu dengan Arab Saudi. Kedua negara terlibat ketegangan setelah UEA meminta kuota produksi minyak yang lebih besar.
Naikkan produksi
UEA pun berencana meningkatkan kapasitas produksi minyaknya. Sebab, UEA tidak lagi terikat oleh ketentuan OPEC yang mengatur produksi minyak negara anggotanya melalui penetapan kuota. ”Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan dengan cermat kebijakan saat ini dan masa depan terkait tingkat produksi (minyak),” ujar Menteri Energi UEA Suhail Mohamed al-Mazrouei.
Langkah UEA itu akan memperlemah OPEC. Sebab, kapasitas cadangan minyak OPEC menurun.
UEA adalah produsen terbesar kedua OPEC dengan kapasitas produksi 3,4 juta barel per hari. Produksi tertinggi dimiliki Arab Saudi sebesar 11,6 juta barel per hari.
Kepala analisis geopolitik di Rystad Energy, Jorge Leon, mengatakan, keluarnya UEA menghilangkan satu dari sedikit negara anggota OPEC yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan produksi minyak dengan cepat. Mekanisme ini digunakan kuntuk mengendalikan harga minyak.
”OPEC akan semakin kesulitan untuk mengatur pasokan dan menstabilkan harga. Efeknya menunjukkan lanskap pasokan yang lebih terfragmentasi dan pasar minyak yang berpotensi lebih fluktuatif dari waktu ke waktu karena kapasitas OPEC untuk mengatasi ketidakseimbangan berkurang,” ujarnya.
Keluar dari OPEC tidak akan langsung membuat UEA menggenjot kapasitas produksinya. Sebab, perang di Iran yang telah berkecamuk dalam dua bulan terakhir telah mengganggu pasokan minyak global. Selain itu, jalur pipa UEA di sekitar Selat Hormuz menuju Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman sudah beroperasi dengan kapasitas penuh.
Di sisi lain, UEA dapat meningkatkan kapasitas produksinya hingga 5 juta barel per hari setelah perang Iran berakhir. Pasokan minyak yang lebih besar juga berpotensi menekan harga minyak yang telah melonjak hingga di atas 100 dolar AS per barel selama perang.
Turunkan harga
Ahli strategi riset di perusahaan pialang Pepperstone, Michael Brown, mengatakan, langkah UEA tersebut tidak serta-merta mengubah situasi gejolak energi yang disebabkan blokade di Selat Hormuz. Namun, ia meyakini, hal itu dapat membantu mempercepat penurunan harga minyak setelah perang di Iran berakhir.
”UEA dapat mencapai target untuk meningkatkan produksi menjadi 5 juta barel per hari, yang pada gilirannya membantu patokan harga minyak mentah untuk kembali normal dalam waktu yang lebih singkat setelah konflik Timur Tengah berakhir,” ujarnya.
Situasi di Selat Hormuz sangat berpengaruh terhadap pasokan energi global. Sekitar 20 persen minyak dunia dikirim melalui tanker yang melewati selat itu. Saat pasokan terganggu karena perang, harga minyak pun melonjak.
Minyak mentah Brent diperdagangkan di atas 111 dolar AS per barel, Selasa. Harga itu meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan sebelum perang. Selain itu, perang di Iran juga memaksa sejumlah negara melepaskan cadangan minyak strategisnya.
Kepala ahli strategi ekonomi di perusahaan perencanaan keuangan Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menyebutkan, reaksi langsung keluarnya UEA dari OPEC tidak akan terlalu kuat. Sebab, situasi saat ini ditentukan oleh kondisi geopolitik terkait perang di Iran.
”Keluarnya UEA menunjukkan betapa sulitnya menjaga agar kartel tetap bersatu selama masa-masa sulit. Dalam jangka panjang, hal itu akan mengurangi pengaruh OPEC terhadap pasar,” katanya.
UEA berupaya untuk lebih mandiri dalam menjual minyaknya. Namun, hal itu bukan satu-satunya alasan keluar dari OPEC. Transisi energi yang sudah di depan mata diyakini ikut mendorong keputusan tersebut.
Para ahli memperkirakan konsumsi minyak akan mencapai puncaknya dalam beberapa tahun mendatang. Hal itu seiring transisi dunia ke sumber energi terbarukan. Harga minyak saat ini kemungkinan besar akan lebih tinggi sebelum konsumsinya menurun karena digantikan oleh sumber energi lainnya.
Kebijakan pembatasan kuota oleh OPEC berpotensi membuat UEA kehilangan keuntungan lebih besar. Sebab, negara itu mampu meningkatkan kapasitas produksi lebih tinggi daripada kuota yang ditetapkan. (AP/REUTERS)
ABU DHABI, RABU — Di tengah gejolak energi global akibat perang di Iran, Uni Emirat Arab memutuskan keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Dampaknya, pasar minyak global menjadi lebih fluktuaktif.
Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keluar dari OPEC pada Selasa (28/4/2026) malam waktu Abu Dhabi. Negara Timur Tengah ini secara efektif akan meninggalkan OPEC per 1 Mei 2026.
Serial Artikel
Bara Perang Dingin Arab Saudi-Uni Emirat Arab
Arab Saudi menuding UEA memicu instabilitas kawasan dan berkongsi dengan Israel. UEA menyangkal semua tudingan itu.
Menurut peneliti senior di Pusat Kebijakan Energi Global Columbia University, AS, Karen Young, keputusan UEA meninggalkan OPEC merupakan bagian dari upaya untuk menegaskan diri sebagai pemimpin dan aktor independen di Timur Tengah. Dengan keputusan itu, UEA dapat menjual minyak secara independen dalam waktu dan mekanisme yang dikendalikan sendiri.
”Keluarnya UEA dari OPEC ini sesuai dengan kebutuhan UEA akan fleksibilitas dengan konsumen energi utama, termasuk hubungan masa depan dengan China dan hubungan yang lebih kompetitif dengan Arab Saudi,” katanya.
Rumor rencana keluarnya UEA dari OPEC telah beredar selama bertahun-tahun di tengah memburuknya hubungan negara itu dengan Arab Saudi. Kedua negara terlibat ketegangan setelah UEA meminta kuota produksi minyak yang lebih besar.
Naikkan produksi
UEA pun berencana meningkatkan kapasitas produksi minyaknya. Sebab, UEA tidak lagi terikat oleh ketentuan OPEC yang mengatur produksi minyak negara anggotanya melalui penetapan kuota. ”Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan dengan cermat kebijakan saat ini dan masa depan terkait tingkat produksi (minyak),” ujar Menteri Energi UEA Suhail Mohamed al-Mazrouei.
Langkah UEA itu akan memperlemah OPEC. Sebab, kapasitas cadangan minyak OPEC menurun.
UEA adalah produsen terbesar kedua OPEC dengan kapasitas produksi 3,4 juta barel per hari. Produksi tertinggi dimiliki Arab Saudi sebesar 11,6 juta barel per hari.
Serial Artikel
OPEC+ Genjot Produksi, Harga Minyak Dunia Bisa Turun
OPEC menambah produksi minyak sebesar 547.000 barel per hari pada September 2025. Penambahan produksi sudah terjadi sejak April.
Kepala analisis geopolitik di Rystad Energy, Jorge Leon, mengatakan, keluarnya UEA menghilangkan satu dari sedikit negara anggota OPEC yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan produksi minyak dengan cepat. Mekanisme ini digunakan kuntuk mengendalikan harga minyak.
”OPEC akan semakin kesulitan untuk mengatur pasokan dan menstabilkan harga. Efeknya menunjukkan lanskap pasokan yang lebih terfragmentasi dan pasar minyak yang berpotensi lebih fluktuatif dari waktu ke waktu karena kapasitas OPEC untuk mengatasi ketidakseimbangan berkurang,” ujarnya.
Keluar dari OPEC tidak akan langsung membuat UEA menggenjot kapasitas produksinya. Sebab, perang di Iran yang telah berkecamuk dalam dua bulan terakhir telah mengganggu pasokan minyak global. Selain itu, jalur pipa UEA di sekitar Selat Hormuz menuju Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman sudah beroperasi dengan kapasitas penuh.
Di sisi lain, UEA dapat meningkatkan kapasitas produksinya hingga 5 juta barel per hari setelah perang Iran berakhir. Pasokan minyak yang lebih besar juga berpotensi menekan harga minyak yang telah melonjak hingga di atas 100 dolar AS per barel selama perang.
Serial Artikel
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Potensi Damai Meredup
Sebelum pembatasan Iran kembali diberlakukan, konvoi tanker minyak dan gas sempat melintasi Selat Hormuz.
Ahli strategi riset di perusahaan pialang Pepperstone, Michael Brown, mengatakan, langkah UEA tersebut tidak serta-merta mengubah situasi gejolak energi yang disebabkan blokade di Selat Hormuz. Namun, ia meyakini, hal itu dapat membantu mempercepat penurunan harga minyak setelah perang di Iran berakhir.
”UEA dapat mencapai target untuk meningkatkan produksi menjadi 5 juta barel per hari, yang pada gilirannya membantu patokan harga minyak mentah untuk kembali normal dalam waktu yang lebih singkat setelah konflik Timur Tengah berakhir,” ujarnya.
Situasi di Selat Hormuz sangat berpengaruh terhadap pasokan energi global. Sekitar 20 persen minyak dunia dikirim melalui tanker yang melewati selat itu. Saat pasokan terganggu karena perang, harga minyak pun melonjak.
Minyak mentah Brent diperdagangkan di atas 111 dolar AS per barel, Selasa. Harga itu meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan sebelum perang. Selain itu, perang di Iran juga memaksa sejumlah negara melepaskan cadangan minyak strategisnya.
Kepala ahli strategi ekonomi di perusahaan perencanaan keuangan Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menyebutkan, reaksi langsung keluarnya UEA dari OPEC tidak akan terlalu kuat. Sebab, situasi saat ini ditentukan oleh kondisi geopolitik terkait perang di Iran.
”Keluarnya UEA menunjukkan betapa sulitnya menjaga agar kartel tetap bersatu selama masa-masa sulit. Dalam jangka panjang, hal itu akan mengurangi pengaruh OPEC terhadap pasar,” katanya.
Serial Artikel
Isu Energi Jadi Fokus Perundingan COP28 Perubahan Iklim
Salah satu isu yang akan disampaikan Indonesia dalam COP28 Perubahan Iklim di Dubai adalah transisi energi, khususnya energi baru terbarukan. Indonesia juga berharap terdapat kesepakatan terkait perdagangan karbon.
UEA berupaya untuk lebih mandiri dalam menjual minyaknya. Namun, hal itu bukan satu-satunya alasan keluar dari OPEC. Transisi energi yang sudah di depan mata diyakini ikut mendorong keputusan tersebut.
Para ahli memperkirakan konsumsi minyak akan mencapai puncaknya dalam beberapa tahun mendatang. Hal itu seiring transisi dunia ke sumber energi terbarukan. Harga minyak saat ini kemungkinan besar akan lebih tinggi sebelum konsumsinya menurun karena digantikan oleh sumber energi lainnya.
Kebijakan pembatasan kuota oleh OPEC berpotensi membuat UEA kehilangan keuntungan lebih besar. Sebab, negara itu mampu meningkatkan kapasitas produksi lebih tinggi daripada kuota yang ditetapkan. (AP/REUTERS)