Defisit Transaksi Berjalan Melebar akibat Faktor Musiman dan Lonjakan Impor

Faktor musiman dan lonjakan impor barang nonmigas mendorong pelebaran defisit transaksi berjalan pada triwulan II-2025.

29 Agt 2025 09:51 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Neraca transaksi berjalan kembali mencatatkan defisit yang kian melebar pada triwulan II-2025. Kondisi tersebut antara lain disebabkan oleh lonjakan impor barang nonmigas yang ditengarai sebagai tanda meningkatnya permintaan domestik.

Bank Indonesia melaporkan, defisit transaksi berjalan pada triwulan II-2025 mencapai 3 miliar dollar AS atau 0,8 persen dari produk domestik bruto (PDB). Defisit ini lebih dalam ketimbang triwulan I-2025 senilai 0,2 miliar dollar AS atau 0,1 persen dari PDB.

Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, mengatakan, faktor utama penyebab pelebaran defisit transaksi berjalan ialah lonjakan impor barang nonmigas.

”Setelah kemarin Ramadhan itu, ada peningkatan aktivitas produksi. Nah, ini juga yang kemudian dampaknya ke pelebaran defisit transaksi berjalan,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (29/8/2025).

Indikator Sustainabilitas Eksternal

Pelebaran defisit transaksi berjalan berisiko memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah di tengah sentimen penerapan tarif resiprokal oleh Pemerintah Amerika Serikat. Namun, tekanan itu relatif terbatas lantaran lonjakan impor barang nonmigas berasal dari barang modal dan bahan baku.

Dalam laporannya, BI turut mencatat peningkatan impor barang nonmigas sebesar 14,7 persen secara tahunan. Secara komposisi penggunaannya, impor barang modal melonjak 31,9 persen secara tahunan, diikuti oleh impor bahan baku sebesar 8 persen, dan impor barang konsumsi sebesar 6,6 persen.

Quote

Ini (lonjakan impor) sejalan dengan aktivitas produksi dalam negeri. Ke depannya, saya merasa transaksi berjalan akan membaik karena memang faktor musiman sudah lewat.

Peningkatan impor barang juga terefleksi dalam defisit jasa transportasi barang (freight). Pada triwulan II-2025, defisit jasa angkut barang tercatat sebesar 1,8 miliar dollar AS atau meningkat 4,25 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

”Ini (lonjakan impor) sejalan dengan aktivitas produksi dalam negeri. Ke depannya, saya merasa transaksi berjalan akan membaik, karena memang faktor musiman sudah lewat,” ujar Riefky.

Potret mesin giling di Pabrik Gula Tersana Baru di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Selasa (19/11/2024). Pada musim giling 2024, pabrik yang dioperasikan sejak 1937 itu menggiling 3,4 juta kuintal tebu dan menghasilkan sekitar 26.000 ton gula.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menambahkan, peningkatan impor barang nonmigas dibandingkan ekspor telah mengakibatkan pelebaran defisit transaksi berjalan. Kondisi ini pun berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II-2025.

Badan Pusat Statistik mencatat, pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II-2025 tercatat sebesar 5,12 persen secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2025 yang sebesar 4,87 persen.

”Surplus neraca barang turun, dari 12,99 miliar dollar AS pada triwulan I-2025 menjadi 10,58 miliar dollar AS pada triwulan II-2025, karena impor nonmigas meningkat lebih cepat dibandingkan ekspor. Ini terjadi seiring aktivitas domestik yang menguat pada triwulan II-2025,” ujar Josua.

Menurut dia, pola tersebut lazim ketika terjadi percepatan investasi dan produksi. Selain itu, faktor musiman pembayaran dividen atau kupon kepada investor asing turut menjadi kombinasi mekanis yang kian memperdalam defisit transaksi berjalan.

Alhasil, defisit neraca pendapatan primer melebar, dari 9,3 miliar dollar AS pada triwulan I-2025 menjadi 9,8 miliar dollar AS pada triwulan II-2025. Meski demikian, pelebaran ini dinilai bukan sebagai sinyal atas pelemahan fundamental permintaan.

Suasana bongkar muat peti kemas di Terminal 2 Dermaga 1A Makassar New Port, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (5/5/2025). Makassar New Port melayani 743.321 TEUs peti kemas pada 2024. Jumlah ini naik dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 717.883 TEUs peti kemas.

Defisit melebar

Josua memperkirakan, defisit transaksi berjalan pada 2025 akan melebar menjadi 0,8 persen dari PDB, dari 2024 sebesar 0,62 persen. Kondisi ini seiring normalisasi ekspor setelah strategi penerbitan awal (front loading) pada semester I-2025, tetap kuatnya impor, serta komitmen pembelian tertentu dari AS.

Kendati demikian, pelebaran defisit transaksi berjalan masih terkelola dengan baik. Hal itu dipengaruhi oleh harga minyak yang cenderung terkendali, pemulihan pariwisata yang mendorong sektor jasa, dan surplus barang nonmigas yang masih terjaga.

”Secara triwulanan, defisit transaksi berjalan selama triwulan III hingga triwulan IV kami perkirakan masih dalam rentang 4 miliar-4,5 miliar dollar AS. Lalu, pada 2026, defisit cenderung akan melebar secara bertahap seiring siklus investasi meski tetap di zona aman,” ujar Josua.

Sebelumnya, pelebaran defisit transaksi berjalan juga telah diperkirakan oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Dalam laporannya bertajuk ”World Economic Outlook” edisi April 2025, IMF memproyeksikan defisit transaksi berjalan RI sebesar 1,5 persen dari PDB pada 2025 dan akan melebar menjadi 1,6 persen pada 2026.

Infografik Neraca Transaksi Berjalan Sejumlah Negara

Dalam dua tahun terakhir, transaksi berjalan pun melebar, dari 0,1 persen pada 2023 menjadi 0,62 persen pada 2024 atau secara nominal melebar hingga empat kali lipat. Defisit transaksi berjalan pada triwulan II-2025 pun menandai defisit selama sembilan triwulan beruntun.

Selama defisit transaksi berjalan bisa dijaga di bawah 1 persen dari PDB, Josua melanjutkan, indikator ketahanan eksternal domestik pun akan stabil, antara lain tecermin dari kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan cadangan devisa.

Quote

Dalam dua tahun terakhir, transaksi berjalan pun melebar, dari 0,1 persen pada 2023 menjadi 0,62 persen pada 2024 atau secara nominal melebar hingga empat kali lipat.

Adapun NPI pada triwulan II-2025 mencatatkan defisit sebesar 6,7 miliar dollar AS atau melebar dibandingkan dengan triwulan I-2025 yang mencapai 0,8 miliar dollar AS. Perkembangan ini dipengaruhi oleh defisit transaksi berjalan, serta neraca transaksi modal dan finansial.

Pada periode yang sama, transaksi modal dan finansial berbalik menjadi defisit akibat arus modal keluar (outflow) investasi portofolio di pasar Surat Berharga Negara (SBN), pasar saham, serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Ini terjadi akibat perilaku investor yang menghindari risiko (risk-off), sejalan dengan ketidakpastian global.

Quote

Inilah yang mendorong defisit NPI 6,74 miliar dollar AS dan menurunkan cadangan devisa menjadi 152,6 miliar dollar AS sekalipun cadangan devisa masih mencukupi 6,1 bulan impor dan jauh di atas standar 3 bulan.

”Inilah yang mendorong defisit NPI 6,74 miliar dollar AS dan menurunkan cadangan devisa menjadi 152,6 miliar dollar AS sekalipun cadangan devisa masih mencukupi 6,1 bulan impor dan jauh di atas standar 3 bulan,” katanya.

Josua melanjutkan, ketika transaksi berjalan defisit dan NPI melemah, nilai tukar dan imbal hasil SBN akan tertekan. Namun, besar-kecilnya tekanan itu akan bergantung pada seberapa cepat aliran modal kembali masuk ke pasar keuangan domestik.

NPI Triwulan II 2025

Masuknya aliran modal tersebut ditentukan oleh kejelasan arah kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), serta konsistensi BI dalam mempertahankan selisih imbal hasil yang menarik. Artinya, pemburukan defisit transaksi berjalan dan NPI pada triwulan II-2025 merupakan kejutan sentimen, alih-alih perubahan fundamental yang bersifat permanen.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Junanto Herdiawan mengatakan, BI senantiasa mencermati dinamika perekonomian global ke depan yang dapat memengaruhi prospek NPI. BI juga akan terus memperkuat respons bauran kebijakan didukung sinergi kebijakan yang erat dengan pemerintah dan otoritas terkait guna memperkuat ketahanan sektor eksternal.

Neraca ”Kinerja NPI 2025 diprakirakan tetap sehat ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial serta defisit transaksi berjalan yang rendah dalam kisaran defisit 0,5 persen sampai dengan 1,3 persen dari PDB,” ujarnya dalam siaran pers, Kamis (21/8/2025).

Surplus transaksi modal dan finansial, mengutip siaran pers yang sama, diperkirakan tetap terjaga. Ini didukung oleh aliran masuk modal asing. Kondisi tersebut sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian domestik yang tetap baik dan imbal hasil investasi yang menarik.

Kepala Grup Departemen Komunikasi Bank Indonesia Junanto Herdiawan memberikan keterangan di Museum Bank Indonesia, Jakarta Barat, Senin (14/7/2025).

Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan