Ada 37 politisi dan konglomerat serta 81 birokrat dan pemimpin perusahaan terlibat skandal korupsi proyek pengendalian banjir di Filipina. Ada sepupu presiden juga.
MANILA, KAMIS — Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr mengungkap setidaknya 37 politisi dan konglomerat segera ditangkap. Bersama sejumlah birokrat, mereka bagian dari koruptor proyek pengendalian banjir yang merugikan negara miliaran dollar AS.
Marcos mengatakan, penyelidikan akan tuntas dalam beberapa pekan ke depan. Nama sejumlah politisi kuat Filipina akan tercantum dalam berkas dakwaan. ”Mereka akan dipenjara. Tidak akan ada Natal untuk mereka,” ujarnya pada Kamis (13/11/2055) di Manila.
Penyelidikan dilakukan lintas lembaga terhadap setidaknya 9.855 proyek dengan dugaan kerugian negara setara 2 miliar dollar AS. Selain kepolisian, Komisi Independen untuk Infrastruktur (ICI), Komisi Audit (COA), hingga komisi tambahan di Senat menyelidiki dugaan korupsi itu.
Manila telah membekukan aset para calon tersangka. Setidaknya 1.671 rekening, 144 bangunan, 244 kendaraan, dan aneka aset lain bernilai 107 juta dollar AS telah dibekukan. ”Kami tidak menyelidiki untuk pamer. Kami menyelidiki untuk memenjarakan orang,” kata Marcos.
Setidaknya 86 pemimpin perusahaan dan birokrat telah diperiksa. Selain korupsi, mereka dijerat dengan dakwaan penghindaran pajak senilai hingga 9 miliar peso atu 152 juta dollar AS.
Marcos telah memerintahkan pembuatan penjara khusus untuk menahan para terdakwa hingga terpidana kasus korupsi itu. Penjara berkapasitas 800 orang itu dibangun di Quezon.
Sejauh ini, salah satu politisi yang diduga terkait kasus itu adalah Martin Romualdez. Ia adalah sepupu Marcos dan pernah menjadi Ketua DPR sampai mundur beberapa waktu lalu. ”Tidak ada yang kebal hukum. Semua bukti memberatkan dia,” kata Marcos soal keponakan ibunya itu.
Bukan cuma sekutu Marcos, sekutu keluarga Duterte juga diduga menikmati hasil korupsi proyek banjir. Anggota DPR Filipina, Antonio Tinio, menyebut proyek senilai 4 miliar peso di Davao perlu diselidiki. Davao adalah markas keluarga Duterte.
Menurut Tinio, setidaknya 80 proyek banjir di Davao pada 2019-2022 patut dicurigai sarat korupsi. Ada 10 proyek bernilai 172 juta peso dikerjakan Genesis88 Construction. Perusahaan itu milik Staf Khusus Kepresidenan Filipina di era Rodrigo Duterte, yakni Glenn Escandor.
Korban tewas
Pernyataan itu disampaikan di tengah kabar 259 orang tewas dan 114 lain hilang selepas Filipina dihantam topan Kalmaegi, lalu Fung-wong. Mayoritas korban tewas akibat banjir selama topan melanda.
Cebu menjadi kawasan paling terdampak kedua topan itu. ”Anggaran 26 miliar peso (440 juta dollar AS) diberikan ke Cebu. Akan tetapi, kami tetap tenggelam,” kata Gubernur Cebu, Pam Baricuatro.
Pada 2022-2025, Filipina menganggarkan total 1,18 triliun peso atau 20 miliar dollar AS untuk proyek pengendalian banjir. Pada Juli 2025, Marcos mengklaim 5.500 proyek pengendalian banjir diselesaikan selama pemerintahannya.
Pernyataan itu mendapat kritik besar di tengah fakta berbagai penjuru Filipina kebanjiran akibat rangkaian badai. Senat serta sejumlah lembaga lain di Filipina mulai menyelidiki.
Kemarahan antara lain karena ditemukan anggaran proyek digelembungkan hingga ratusan miliar peso setiap tahun. Pada 2022, usulan awalnya hanya 139 miliar peso. Sementara di APBN tercantum menjadi 208,9 miliar peso. Pada 2025, usul awalnya 208 miliar peso dan di APBN anggarannya menjadi 346 miliar peso.
Anggota DPR Filipina, Antonio Tinio, menyebut bahwa banyak proyek ternyata ganda. bahkan tidak ada. Sebagian alokasi diberikan untuk proyek yang sama. Sebagian dana malah dikucurkan ke proyek yang tidak pernah ada.
Hal itu. antara lain. terungkap pada proyek yang dikerjakan SYMS Construction di Barangays Santo Cristo dan Taal. Perusahaan itu dibayar total 150 juta peso untuk proyek yang tidak ada wujudnya sama sekali.
Salah seorang kontraktor yang diperiksa COA dan Senat, Mark Arevalo, mengakui data perusahaannya dipakai sindikat pegawai Kementerian Pekerjaan Umum. Sindikat itu menekan kontraktor menyerahkan data perusahaan yang dipakai untuk membuat dokumen palsu.
Dengan demikian, perusahaan itu tercatat sebagai pelaksana proyek. Padahal, proyeknya dikerjakan perusahaan lain atau bahkan tidak ada sama sekali, seperti kasus SYMS Construction.
Menteri Pekerjaan Umum Filipina Vince Dizon mengatakan, setidaknya 41 pegawai dan kontraktor kementerian itu terlibat jaringan korupsi proyek pengendali banjir. Seperti Marcos, Dizon juga menyebut 41 orang itu akan ditahan sebelum Natal.
Para calon tersangka itu hanya dari proyek di Bulacan dan Mindoro. ”Ada banyak lokasi lain akan menyusul, ini gelombang pertama,” katanya.
Tersangkanya, antara lain, Pacifico Discaya dan Sarah Discaya, pemilik sejumlah perusahaan kontraktor dalam proyek-proyek itu. Keluarga Discaya disorot karena pada akhir 2024 memamerkan rumah serta puluhan mobil mewah. Mereka tidak menyanggah mendapat kontrak proyek banjir.
Tersangka lain bekas Kepala Dinas PU Bulacan Henry Alcantara dan bekas Wakil Kadis PU Bulacan Brice Hernandez. Dengan gaji resmi rata-rata setara Rp 18 juta per bulan, Hernandez diketahui memiliki mobil Lamborghini Urus berharga hampir Rp 8 miliar.
Ia juga punya sedan Toyota Supra berharga hampir Rp 3 miliar dan GMC Yukon berharga hampir Rp 3,5 miliar. Ia juga punya sepeda motor berharga masing-masing hampir Rp 1 miliar. September lalu, sebagian mobil itu telah disita ICI. (AP/AFP
MANILA, KAMIS — Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr mengungkap setidaknya 37 politisi dan konglomerat segera ditangkap. Bersama sejumlah birokrat, mereka bagian dari koruptor proyek pengendalian banjir yang merugikan negara miliaran dollar AS.
Marcos mengatakan, penyelidikan akan tuntas dalam beberapa pekan ke depan. Nama sejumlah politisi kuat Filipina akan tercantum dalam berkas dakwaan. ”Mereka akan dipenjara. Tidak akan ada Natal untuk mereka,” ujarnya pada Kamis (13/11/2055) di Manila.
Serial Artikel
Korupsi Dulu, Berkampanye Kemudian
Gerakan antikorupsi biasanya berakhir dengan penangkapan pegawai rendahan, mempermalukan segelintir pejabat, dan seruan moral baru. Namun, korupsi jalan terus.
Penyelidikan dilakukan lintas lembaga terhadap setidaknya 9.855 proyek dengan dugaan kerugian negara setara 2 miliar dollar AS. Selain kepolisian, Komisi Independen untuk Infrastruktur (ICI), Komisi Audit (COA), hingga komisi tambahan di Senat menyelidiki dugaan korupsi itu.
Manila telah membekukan aset para calon tersangka. Setidaknya 1.671 rekening, 144 bangunan, 244 kendaraan, dan aneka aset lain bernilai 107 juta dollar AS telah dibekukan. ”Kami tidak menyelidiki untuk pamer. Kami menyelidiki untuk memenjarakan orang,” kata Marcos.
Setidaknya 86 pemimpin perusahaan dan birokrat telah diperiksa. Selain korupsi, mereka dijerat dengan dakwaan penghindaran pajak senilai hingga 9 miliar peso atu 152 juta dollar AS.
Marcos telah memerintahkan pembuatan penjara khusus untuk menahan para terdakwa hingga terpidana kasus korupsi itu. Penjara berkapasitas 800 orang itu dibangun di Quezon.
Sejauh ini, salah satu politisi yang diduga terkait kasus itu adalah Martin Romualdez. Ia adalah sepupu Marcos dan pernah menjadi Ketua DPR sampai mundur beberapa waktu lalu. ”Tidak ada yang kebal hukum. Semua bukti memberatkan dia,” kata Marcos soal keponakan ibunya itu.
Bukan cuma sekutu Marcos, sekutu keluarga Duterte juga diduga menikmati hasil korupsi proyek banjir. Anggota DPR Filipina, Antonio Tinio, menyebut proyek senilai 4 miliar peso di Davao perlu diselidiki. Davao adalah markas keluarga Duterte.
Menurut Tinio, setidaknya 80 proyek banjir di Davao pada 2019-2022 patut dicurigai sarat korupsi. Ada 10 proyek bernilai 172 juta peso dikerjakan Genesis88 Construction. Perusahaan itu milik Staf Khusus Kepresidenan Filipina di era Rodrigo Duterte, yakni Glenn Escandor.
Serial Artikel
Skandal Korupsi Banjir Mengemuka, Militer Tetap Dukung Presiden Marcos
Skandal korupsi banjir memicu kemarahan rakyat Filipina. Demonstrasi menyerukan agar militer menarik dukungan dari Presiden Marcos, tetapi militer menolaknya.
Pernyataan itu disampaikan di tengah kabar 259 orang tewas dan 114 lain hilang selepas Filipina dihantam topan Kalmaegi, lalu Fung-wong. Mayoritas korban tewas akibat banjir selama topan melanda.
Cebu menjadi kawasan paling terdampak kedua topan itu. ”Anggaran 26 miliar peso (440 juta dollar AS) diberikan ke Cebu. Akan tetapi, kami tetap tenggelam,” kata Gubernur Cebu, Pam Baricuatro.
Pada 2022-2025, Filipina menganggarkan total 1,18 triliun peso atau 20 miliar dollar AS untuk proyek pengendalian banjir. Pada Juli 2025, Marcos mengklaim 5.500 proyek pengendalian banjir diselesaikan selama pemerintahannya.
Pernyataan itu mendapat kritik besar di tengah fakta berbagai penjuru Filipina kebanjiran akibat rangkaian badai. Senat serta sejumlah lembaga lain di Filipina mulai menyelidiki.
Kemarahan antara lain karena ditemukan anggaran proyek digelembungkan hingga ratusan miliar peso setiap tahun. Pada 2022, usulan awalnya hanya 139 miliar peso. Sementara di APBN tercantum menjadi 208,9 miliar peso. Pada 2025, usul awalnya 208 miliar peso dan di APBN anggarannya menjadi 346 miliar peso.
Anggota DPR Filipina, Antonio Tinio, menyebut bahwa banyak proyek ternyata ganda. bahkan tidak ada. Sebagian alokasi diberikan untuk proyek yang sama. Sebagian dana malah dikucurkan ke proyek yang tidak pernah ada.
Hal itu. antara lain. terungkap pada proyek yang dikerjakan SYMS Construction di Barangays Santo Cristo dan Taal. Perusahaan itu dibayar total 150 juta peso untuk proyek yang tidak ada wujudnya sama sekali.
Salah seorang kontraktor yang diperiksa COA dan Senat, Mark Arevalo, mengakui data perusahaannya dipakai sindikat pegawai Kementerian Pekerjaan Umum. Sindikat itu menekan kontraktor menyerahkan data perusahaan yang dipakai untuk membuat dokumen palsu.
Dengan demikian, perusahaan itu tercatat sebagai pelaksana proyek. Padahal, proyeknya dikerjakan perusahaan lain atau bahkan tidak ada sama sekali, seperti kasus SYMS Construction.
Menteri Pekerjaan Umum Filipina Vince Dizon mengatakan, setidaknya 41 pegawai dan kontraktor kementerian itu terlibat jaringan korupsi proyek pengendali banjir. Seperti Marcos, Dizon juga menyebut 41 orang itu akan ditahan sebelum Natal.
Serial Artikel
Gen Z Guncang Filipina dengan Gerakan Satu Triliun Peso
Gen Z Filipina muak dengan korupsi para politisi. Dana negara habis, proyeknya tak jelas. Koruptornya sering pamer kemewahan.
Para calon tersangka itu hanya dari proyek di Bulacan dan Mindoro. ”Ada banyak lokasi lain akan menyusul, ini gelombang pertama,” katanya.
Tersangkanya, antara lain, Pacifico Discaya dan Sarah Discaya, pemilik sejumlah perusahaan kontraktor dalam proyek-proyek itu. Keluarga Discaya disorot karena pada akhir 2024 memamerkan rumah serta puluhan mobil mewah. Mereka tidak menyanggah mendapat kontrak proyek banjir.
Tersangka lain bekas Kepala Dinas PU Bulacan Henry Alcantara dan bekas Wakil Kadis PU Bulacan Brice Hernandez. Dengan gaji resmi rata-rata setara Rp 18 juta per bulan, Hernandez diketahui memiliki mobil Lamborghini Urus berharga hampir Rp 8 miliar.
Ia juga punya sedan Toyota Supra berharga hampir Rp 3 miliar dan GMC Yukon berharga hampir Rp 3,5 miliar. Ia juga punya sepeda motor berharga masing-masing hampir Rp 1 miliar. September lalu, sebagian mobil itu telah disita ICI. (AP/AFP