Sejak menangani Barcelona musim lalu, filosofi Hansi Flick tidak pernah berubah. Ia layaknya pesulap dengan trik sama, tetapi tiada yang bisa membongkarnya.
11 Mei 2026 10:08 WIB · Olahraga
AP/Miguel Oses
Kesuksesan Pelatih Hansi Flick membawa Barcelona juara Liga Spanyol dua musim beruntun turut mewakili kemenangan filosofi gegenpressing di ”Negeri Matador”. Flick memang belum bisa membawa Barca menaklukkan Eropa dengan metodenya, tetapi dengan itu ia tergolong sangat sukses di kancah domestik.
Maka, Flick bak pesulap berbekal trik menekan dengan garis pertahanan tinggi yang terus diulangi, tetapi selalu gagal dibongkar lawan.
Dalam dunia sulap, ada semacam larangan klasik yang lebih dikenal dengan Prinsip Thurston. Prinsip itu dinamai sesuai nama pencetusnya, pesulap Howard Thurston, yang terkenal pada awal abad ke-20. Prinsip Thurston berisi tiga hal tabu yang tidak boleh dilakukan oleh seorang pesulap.
Ketiga hal yang dimaksud adalah pesulap tidak boleh mengungkapkan triknya, jangan memberi petunjuk terkait apa yang akan dipentaskan, dan pantang mengulangi trik yang sama. Prinsip ketiga atau terakhir senantiasa mendapat penekanan lebih karena merancang trik perlu kreativitas serta waktu yang tidak sebentar.
Dalam situasi tertentu, adakalanya pesulap memperagakan trik yang sama untuk dipentaskan di tempat berbeda. Risikonya, trik yang ia siapkan berpotensi besar terbongkar jika terlalu sering diulang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/11/e72d9472e54a7f6ec76d834eb085829c-APTOPIX_Spain_La_Liga_Soccer.jpeg)
Prinsip ketiga itu tidak berlaku bagi Flick. Tidak sedikit yang menyandingkan pelatih sepak bola layaknya pesulap di atas panggung. Kedua profesi itu punya simpul yang nyaris serupa, yaitu menyuguhkan tontonan yang menghibur khalayak. Saking identiknya kedua profesi tersebut, pelatih veteran Inggris, Harry Redknapp, bahkan punya julukan sebagai ”Harry Houdini”.
Julukan tersebut merujuk pada performa gemilang Redknapp ketika sukses menghindarkan Tottenham Hotspur dari jurang degradasi dalam waktu singkat bak seorang pesulap. Houdini merupakan pesulap legendaris yang dikenal dengan trik-trik meloloskan diri.
Sejak tiba di Spanyol pada 2024, Flick sudah membuat publik sepak bola di sana terperangah berbekal cara bermain menekan dengan garis pertahanan tinggi. Cara bermain ini merupakan dasar atau bagian dari filosofi gegenpressing yang dipopulerkan mantan manajer Liverpool asal Jerman, Juergen Klopp. Ide dasar dari cara bermain ini adalah menyergap lawan sejak mereka berupaya membangun serangan.
Tidak seperti Xavi Hernandez yang mengutamakan kontrol, permainan posisi, serta kombinasi lini tengah yang kompak, Barca arahan Flick berani bermain lebih ”direct”.
Garis pertahanan tinggi bertindak sebagai jebakan yang mempersempit ruang bagi lawan. Cara bermain ini tidak memberikan lawan kesempatan berpikir atau berlama-lama mengontrol bola. Dengan begitu, otomatis lawan akan tergerak untuk melakukan umpan secara terburu-buru atau melepaskan bola panjang. Singkatnya, gegenpressing dan garis pertahanan tinggi Flick berupaya mengambil keuntungan dari kepanikan lawan.
Di sisi lain, sistem ini menciptakan lubang besar di area pertahanan. Pada awal era Flick, belum banyak lawan yang menyadari kelemahan ini. Seiring berjalannya waktu, para lawan mulai mencoba mengeksploitasi lebarnya ruang di antara kiper dan bek Barca dengan mengandalkan kombinasi umpan vertikal serta kecepatan penyerang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/11/b22a15a493424f140ee4e99d3714eeb2-Spain_La_Liga_Soccer.jpeg)
Skema jebakan offside yang dirancang Flick untuk menangkalnya terkadang tidak berhasil. Agar bek Barca padu dalam menerapkan jebakan offside, mereka dituntut sangat presisi di dalam ataupun di luar lapangan.
Sejak Flick datang, aturan yang tegas diterapkan adalah tidak boleh ada pemain yang terlambat datang saat rapat atau latihan. Hukuman bagi pelanggar ialah tidak akan mendapatkan menit bermain.
”Kami melatihnya (cara bermain itu) setiap hari. Itu juga membutuhkan sedikit waktu. Pramusim memberi Anda kesempatan untuk mempelajarinya. Mungkin, di pertandingan pertama, kami tidak melakukannya seperti sekarang. Waktu yang akhirnya menjawab. Jika itu memberikan hasil, kita harus terus bertaruh pada hal itu,” kata bek tengah Barca, Ronald Araujo, dikutip dari Football Espana, Senin (11/5/2026).
Filosofi ini sukses menjadikan Barca sebagai tim yang ditakuti. Publik terngiang kembali saat Barca memiliki trisula penyerang tajam, yaitu Lionel Messi, Luis Suarez, dan Neymar.
Pada musim 2024-2025 yang merupakan musim perdana Flick, Barca menjelma menjadi tim yang sangat produktif. Di Liga Champions Eropa, produktivitas gol Barca melejit menjadi 43 gol. Koleksi gol itu bahkan melampaui Paris Saint-Germain yang keluar sebagai juara setelah melesakkan 38 gol.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/11/f9bb78226d66efe1e03bec2f103c6c52-IMG_20260511_070822.jpg)
Tidak seperti Xavi Hernandez yang mengutamakan kontrol, permainan posisi, serta kombinasi lini tengah yang kompak, Barca arahan Flick berani bermain lebih direct. Para pemain Barca cenderung lebih senang melepaskan bola-bola vertikal yang merepotkan lawan dan meningkatkan intensitas adu fisik.
”Orang selalu bilang garis pertahanan tinggi. Namun, bukan itu intinya. Tidak masalah seberapa tinggi kami bermain atau siapa yang ada di lini belakang. Hal yang penting adalah bagaimana kami melakukan pressing. Jika kami melakukan pressing dengan baik, garis pertahanan tinggi akan berhasil. Jika tidak, kita bisa dengan mudah terjebak di belakang,” kata Flick, dikutip dari Mundo Deportivo.
Merunut pada Prinsip Thurston, dua musim menangani Barca dengan pendekatan sama seharusnya sudah membuat trik Flick terbongkar. Nyatanya, Flick tetap bisa meraih kejayaan di kancah domestik. Paling tidak, mereka mengangkangi rival abadi, Real Madrid.
Akan tetapi, Flick tidak bisa menyangkal triknya mulai bisa dibongkar lawan. Meski tetap produktif, lawan sudah mulai bisa membaca arah permainan Barca. Buktinya, koleksi gol Barca di liga berpotensi menurun dari 102 gol menjadi 89 gol dengan empat laga tersisa.
Selain itu, musim lalu Barca mampu merengkuh tiga gelar domestik, yaitu Liga Spanyol, Piala Raja Spanyol, dan Piala Super Spanyol. Musim ini, raihan Barca menurun dengan hanya memenangi Liga Spanyol. Kondisi ini saja sudah menjadi pertanda lawan mulai bisa mengatasi taktik Flick.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/09/ed1d3cd5e8cdcff3deb6fc492399490c-Spain_La_Liga_Soccer_137446563.jpg)
Dengan begitu, musim depan menjadi semacam jalan persimpangan bagi Flick, apakah akan tetap keras kepala mempertahankan cara bermain garis pertahanan tinggi atau justru menciptakan pendekatan baru untuk mempertahankan dominasi di ajang domestik sekaligus menaklukkan Eropa.
Terlalu lama menggunakan pendekatan yang sama tentu semakin berisiko. Flick hendaknya tidak memberikan kesempatan bagi para rival Barca untuk melangkah kian jauh dalam membongkar triknya.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar