Barcelona meraih pencapaian yang mungkin sulit diulangi. Mereka mengunci gelar juara Liga Spanyol pada momentum paling megah, ”el clasico”, di hadapan Real Madrid.
11 Mei 2026 07:23 WIB · Olahraga
AP/Joan Monfort
BARCELONA, SENIN — Untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, Barcelona memastikan gelar juara Liga Spanyol melalui panggung el clasico seusai mengalahkan Real Madrid, 2-0, di Stadion Camp Nou, Senin (11/5/2026) dini hari WIB. Melihat Barca dinobatkan sebagai juara di depan mata bak penghinaan terbesar bagi Real. Oleh sebab itu, para pemain Real segera meninggalkan lapangan agar tidak menyaksikan rival abadi mereka mengangkat trofi.
Menjuarai liga adalah hal biasa bagi Barca. Namun, mengunci gelar juara tepat di hadapan Real barangkali merupakan momentum ideal yang belum tentu datang sewaktu-waktu. Kali terakhir el clasico menentukan gelar juara liga terjadi pada 1932 atau 94 tahun silam. Namun, kala itu, Real yang menjadi juara setelah memaksakan hasil imbang 2-2.
”Semua gelar juara itu selalu istimewa. Namun, gelar ini bahkan lebih istimewa lagi karena kami berhasil merebutnya saat melawan Real Madrid di kandang kami sendiri. Jadi, sekarang saatnya untuk merayakannya bersama para penggemar,” kata gelandang Barca, Frenkie de Jong, seusai laga dalam wawancara bersama Movistar.
Menyadari momen langka itu, para pemain Barca tampil dengan determinasi tinggi sejak awal laga. Mereka memperagakan taktik garis pertahanan tinggi yang telah jadi ciri khas tim di bawah arahan Pelatih Hansi Flick.
Hanya saja, kali ini dimensinya agak berbeda. Sejak awal, para pemain Barca seakan tidak pernah lelah berlari untuk mengejar bola atau menutup opsi operan Real. Akibatnya, Real tidak bisa leluasa membangun serangan dari belakang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/11/b22a15a493424f140ee4e99d3714eeb2-Spain_La_Liga_Soccer.jpeg)
Semangat tinggi untuk memastikan gelar juara sesegera mungkin berbuah gol cepat Barca yang dilesakkan Marcus Rashford saat laga baru berjalan sembilan menit. Berawal dari pelanggaran Antonio Ruediger terhadap Ferran Torres, Barca mendapat hadiah tendangan bebas.
Rashford yang lebih dominan menendang dengan kaki kanan mengeksekusi tendangan bebas itu secara sempurna meskipun posisi eksekusinya lebih ideal untuk pemain kidal.
Gol tendangan bebas Rashford pun termasuk langka pada momen el clasico. Cukup jarang bagi seorang pemain mencetak gol tendangan bebas pada momen sesakral itu. Pemain terakhir sebelumnya yang mampu melakukannya ialah Lionel Messi pada 2012.
Gelar ini bahkan lebih istimewa lagi karena kami berhasil merebutnya saat melawan Real Madrid di kandang kami sendiri.
Sepuluh menit kemudian, Barca menggandakan keunggulan lewat sepakan keras Ferran Torres dari dalam kotak penalti. Kombinasi apik antara Fermin Lopez, Dani Olmo, dan diakhiri penyelesaian akhir nan tajam dari Ferran kian memperlihatkan betapa rapuhnya pertahanan Real. Saat pemain Barca menguasai bola, tidak ada tekanan berarti dari Real sehingga lawan bisa leluasa merangsek ke area berbahaya.
Pelatih Real Alvaro Arbeloa menerapkan formasi 4-4-2 saat timnya sedang tidak menguasai bola. Namun, skema tersebut sangat mudah ditembus para pemain Barca. Dua pemain depan, Gonzalo Garcia dan Vinicius Junior, sangat mudah dilewati. Hal itu memungkinkan Pedri untuk secara konsisten mendapatkan bola di ruang kosong.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/11/f9bb78226d66efe1e03bec2f103c6c52-IMG_20260511_070822.jpg)
Adapun ruang di belakang lini tengah Real terus-menerus digempur pergerakan dari gelandang kreatif Barcelona yang membuat Jude Bellingham dan Aurelian Tchouameni terlalu banyak harus mengawasi pergerakan lawan.
Pada saat bersamaan, Raul Asencio dan Antonio Ruediger—yang mengisi posisi bek tengah—tidak tahu kapan harus maju untuk memberikan dukungan. Situasi itu menyebabkan upaya Real untuk menekan acap kali tidak konsisten sehingga membiarkan adanya ruang terbuka.
Real berusaha melawan dengan coba lebih berbahaya pada babak kedua. Kali ini, giliran ”Los Blancos” yang memperagakan garis pertahanan tinggi demi mengejar defisit gol. Hanya saja, Real mengulangi kelemahan yang nyaris mereka perlihatkan sepanjang musim ini, yaitu tingkat presisi dalam penempatan posisi atau operan.
Di samping itu, pemain kunci seperti Jude Bellingham—yang bisa menjadi pembeda di laga-laga besar—tampil kurang maksimal. Bellingham—yang ditugaskan sebagai gelandang serang—seolah terputus dari rekan-rekannya. Ia hanya mencatatkan 42 sentuhan sepanjang laga dan hanya satu operan ke area sepertiga akhir. Jumlah itu sangat rendah untuk Bellingham.
Hasilnya, Barca tidak mengalami kesulitan dalam mempertahankan keunggulan. Total hanya ada satu tembakan tepat sasaran yang berhasil dilepaskan para pemain Real.
Performa Real pada laga ini sungguh jauh di bawah ekspektasi, tidak seperti saat mereka menghancurkan Barca, 2-1, pada el clasico pertama musim ini di Stadion Bernabeu, Madrid.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/11/cbb01dbff4b329b3aa445874e047a40f-Spain_La_Liga_Soccer_1_.jpeg)
”Kami melawan tim yang hebat. Mereka tahu cara mengendalikan penguasaan bola dan transisi serangan. Ini bukanlah situasi yang mudah bagi kami,” kata Arbeloa dalam konferensi pers pascalaga itu.
Arbeloa tidak ingin mengelak atau menghindar dari tanggung jawab, tetapi ia menyebut cedera pemain menghalangi timnya memberikan perlawanan berarti kepada Barca. Real bermain tanpa penyerang utama Kylian Mbappe yang cedera. Selain itu, cedera juga memaksa Rodrygo, Arda Gueler, dan Eder Militao absen.
Bahkan, bek tengah Dean Huijsen yang harusnya turun sebagai pemain mula batal tampil karena mengalami masalah saat sesi pemanasan jelang sepak mula.
Saat Real merana akibat cedera serta nirtrofi selama dua musim beruntun, Barca justru berpesta. Capaian ini merupakan gelar liga ke-29 bagi Barca.
Untuk pertama kali sejak 2019, Barca akhirnya sukses memenangi liga itu untuk dua musim beruntun. Sejak ditangani Flick, Barca sudah memenangi lima trofi domestik. Keberadaan Flick benar-benar menjadikan Barca sebagai penguasa Spanyol.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar