Kompas.id Brief

Sanggupkah Indonesia Lakukan Revans atas Vietnam pada Final Kejuaraan ASEAN U-23?

Indonesia memiliki kesempatan melakukan revans atas Vietnam pada final Kejuaraan ASEAN U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

27 Jul 2025 17:00 WIB · Olahraga

Oleh Redaksi

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel berikut ini?

  1. Bagaimana perjalanan Indonesia menuju final Kejuaraan ASEAN U-23?
  2. Apa kunci keberhasilan Indonesia melaju ke final?
  3. Apakah filosofi Gerald Vanenburg cocok untuk Garuda?
  4. Apa makna final Kejuaraan ASEAN U-23 di Gelora Bung Karno?

Kekalahan dari Vietnam pada final Kejuaraan ASEAN U-23 sangat menyakitkan bagi publik sepak bola Indonesia. Kesempatan untuk membalaskan dendam atas kekalahan itu terbuka saat Garuda Muda kembali lolos ke final pada edisi kali ini seusai mengalahkan Thailand lewat adu penalti, 7-6.

Tim asuhan Gerald Vanenburg akan menantang Vietnam yang lolos ke final setelah mengalahkan Filipina, 2-1. Selain kesempatan revans, Indonesia juga memiliki peluang untuk mengakhiri penantian 38 tahun paceklik gelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Bagaimana perjalanan Indonesia menuju final Kejuaraan ASEAN U-23?

copy title

Indonesia melaju ke final Kejuaraan ASEAN U-23 2025 setelah menyingkirkan Thailand lewat drama adu penalti, 7-6, di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (25/7/2025) malam. Kedua tim bermain imbang 1-1 hingga waktu normal usai. Kecerdikan pergantian pemain dari Pelatih Gerald Vanenburg, yang memberi kesempatan Indonesia untuk memaksa laga berlanjut hingga adu penalti, patut diapresiasi.

Mendominasi laga dengan penguasaan bola serta penciptaan peluang tidak serta-merta membuat Indonesia bisa unggul dengan cepat. Sebaliknya, kelengahan mengantisipasi pergerakan pemain Thailand di ruang antarlini justru membawa petaka. Thailand bisa unggul lebih dulu berkat gol Yotsakorn Burapha di babak kedua.

Penyerang Jens Raven kemudian menyelamatkan Indonesia berkat gol penyeimbang, enam menit sebelum waktu normal usai. Jens akhirnya membuktikan ketajamannya belum hilang setelah gagal mencetak gol saat menghadapi Filipina dan Malaysia pada fase penyisihan grup.

Upaya Indonesia mencetak gol tambahan pada babak pertama tambahan waktu gagal meski berkali-kali berhasil mengacaukan pertahanan Thailand. Pengambilan keputusan yang buruk ditambah lemahnya penyelesaian akhir membuat gawang Thailand tetap aman.

Apa kunci keberhasilan Indonesia melaju ke final?

copy title

Sekilas, tim Indonesia U-23 memiliki kedalaman skuad yang mumpuni setelah berhasil menyingkirkan Thailand, 7-6, dalam drama adu penalti dengan kondisi dua pemain kunci absen akibat cedera. Namun, jika dicermati, kedalaman skuad Indonesia tidak begitu merata. ”Garuda Muda” tertolong kemampuan para pemain belakang yang versatile atau fleksibel sehingga bisa ditempatkan pada posisi mana pun.

Tidak ada kabar yang lebih buruk daripada kehilangan dua pemain penting jelang laga sepenting semifinal melawan tim tangguh Thailand. Absennya Toni Firmansyah dan Arkhan Fikri yang menjadi roh lini tengah Indonesia sangat menggerus kedalaman tim.

Posisi Toni amat sentral sebagai gelandang bertahan. Kemampuan membaca serangan dan menjadi pelindung empat bek hingga saat ini belum tergantikan.

Dalam 23 pemain definitif, Gerald Vanenburg hanya memiliki empat pemain yang berposisi sebagai gelandang. Cederanya Arkhan dan Toni membuat stok gelandang hanya menyisakan Rayhan Hannan (gelandang serang) dan Robi Darwis (gelandang bertahan). Ini berarti Vanenburg, yang gemar menerapkan formasi 4-3-3, masih kekurangan satu pemain untuk mengisi pos gelandang.

Pilihan akhirnya jatuh kepada Dominikus Dion. Bek asal klub PSS Sleman tersebut terpaksa menambal lubang yang ditinggalkan Toni. Dia bersama Robi saling membahu berduet dalam peran sebagai double pivot. Pengalaman menjadi gelandang bertahan tergolong baru untuk Dion yang sepanjang karier profesionalnya terbiasa beroperasi sebagai pemain sayap.

Apakah filosofi Gerald Vanenburg cocok untuk Garuda?

copy title

Dalam tiap sesi wawancara, Gerald Vanenburg nyaris selalu menyebut kemenangan sebagai targetnya pada tiap laga Kejuaraan ASEAN U-23. Ini membuat Vanenburg terkesan pragmatis.

Namun, Pelatih Indonesia U-23 tersebut bukanlah sosok demikian layaknya Massimiliano Allegri yang menjadikan kemenangan, dengan skor tipis sekalipun, sebagai satu-satunya tujuan. Kemenangan memang perlu diraih demi bisa memenuhi target menjuarai Kejuaraan ASEAN U-23 di markas sendiri.

Target untuk menang tidak serta-merta mengaburkan niat untuk menyuguhkan permainan sepak bola yang menghibur dan mengembangkan pemain agar lebih matang melalui kompetisi. Vanenburg memegang prinsip itu. Ia mendidik para pemain muda Indonesia untuk lebih berani menguasai bola dan bermain atraktif.

Buktinya terletak pada statistik ”Garuda Muda” setelah menjalani dua laga di fase penyisihan grup. Dari 10 tim kontestan Kejuaraan ASEAN U-23, Indonesia termasuk tim dengan jumlah tembakan tepat sasaran, operan, dan rerata penguasaan bola tertinggi.

Dari segi jumlah tembakan tepat sasaran, Indonesia memimpin dengan 21 kali percobaan tendangan. Unggul dua tendangan atas Malaysia di peringkat kedua dengan 19 kali. Mayoritas percobaan tembakan yang dicatatkan Indonesia dan Malaysia berasal dari laga menghadapi Brunei Darussalam sebagai tim terlemah di Grup A.

Apa makna final Kejuaraan ASEAN U-23 di Gelora Bung Karno?

copy title

Laga final Kejuaraan ASEAN U-23 kontra Vietnam berarti sangat besar bagi publik sepak bola Indonesia. Indonesia terakhir kali menikmati perayaan juara di rumah sendiri pada final sepak bola SEA Games 1987, 38 tahun silam. Dengan demikian, final melawan Vietnam tiada ubahnya kesempatan bagi tim Indonesia U-23 untuk mengakhiri penantian panjang terhadap perayaan juara di markas sendiri.

Kendati sudah lama tidak menikmati perayaan juara di markas sendiri, bukan berarti ”Garuda Muda” kering prestasi. Dua tahun lalu, pada final SEA Games 2023, tim Indonesia U-22 yang diarsiteki Indra Sjafri berhasil memupus dahaga prestasi dengan mempersembahkan emas setelah mengalahkan Thailand di final.

Namun, pencapaian itu diraih di Phnom Penh, Kamboja. Sementara final Kejuaraan ASEAN U-23 melawan Vietnam berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Selasa (29/7/2025).

GBK sudah seperti kuil sepak bola Indonesia, sebagaimana Maracana di Brasil. Oleh sebab itu, kuil tanpa perayaan akan selalu terasa kurang lengkap. Penantian panjang setelah melalui 38 tahun tanpa perayaan ini yang berusaha untuk diakhiri Gerald Vanenburg yang sekarang menjadi juru taktik Indonesia U-23.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto