Fleksibilitas Bek, Penopang Kedalaman Indonesia U-23

Kemampuan serba bisa para pemain belakang Indonesia patut diapresiasi. Berkat mereka, problem kedalaman skuad yang tak merata bisa teratasi dan membawa tim ke final.

26 Jul 2025 15:07 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Sekilas, tim Indonesia U-23 memiliki kedalaman skuad yang mumpuni setelah berhasil menyingkirkan Thailand, 7-6, dalam drama adu penalti dengan kondisi dua pemain kunci absen akibat cedera. Namun, jika dicermati, kedalaman skuad Indonesia tidak begitu merata. ”Garuda Muda” tertolong kemampuan para pemain belakang yang versatile atau fleksibel sehingga bisa ditempatkan pada posisi mana pun.

Tidak ada kabar yang lebih buruk daripada kehilangan dua pemain penting jelang laga sepenting semifinal melawan tim tangguh Thailand. Absennya Toni Firmansyah dan Arkhan Fikri yang menjadi roh lini tengah Indonesia sangat menggerus kedalaman tim.

Posisi Toni amat sentral sebagai gelandang bertahan. Kemampuan membaca serangan dan menjadi pelindung empat bek hingga saat ini belum tergantikan.

Dalam 23 pemain definitif, Pelatih Gerald Vanenburg hanya memiliki empat pemain yang berposisi sebagai gelandang. Cederanya Arkhan dan Toni membuat stok gelandang hanya menyisakan Rayhan Hannan (gelandang serang) dan Robi Darwis (gelandang bertahan). Ini berarti Vanenburg, yang gemar menerapkan formasi 4-3-3, masih kekurangan satu pemain untuk mengisi pos gelandang.

Pilihan akhirnya jatuh kepada Dominikus Dion. Bek asal klub PSS Sleman tersebut terpaksa menambal lubang yang ditinggalkan Toni. Dia bersama Robi saling membahu berduet dalam peran sebagai double pivot. Pengalaman menjadi gelandang bertahan tergolong baru untuk Dion yang sepanjang karier profesionalnya terbiasa beroperasi sebagai pemain sayap.

Keserbabisaan Dion hanyalah contoh kecil betapa kedalaman tim Indonesia U-23 sangat terbantu oleh sifat versatile para bek. Hal ini salah satunya turut dipengaruhi keputusan Vanenburg yang memanggil lebih banyak pemain belakang dibandingkan gelandang dan penyerang.

Vanenburg total memasukkan delapan bek ke dalam susunan tim definitif. Adapun pemain sayap ada empat dan pos penyerang berkekuatan dua pemain.

Pemain Indonesia U-23 Kadek Arel Priyatna (kanan) menyundul bola saat melawan Thailand U-23 dalam babak semifinal ASEAN Mandiri U-23 Championship Mandiri Cup 2025 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (25/7/2025). Indonesia U-23 melaju ke babak final usai mengalahkan Thailand U-23 lewat adu penalti. 



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

25-07-2025

Kehadiran para pemain belakang yang serba bisa memberi keuntungan banyak kepada Indonesia. Contoh paling tepat untuk menggambarkan kontribusi besar para bek ini adalah saat Indonesia tertinggal oleh gol Yotsakorn Burapha pada menit ke-60. Vanenburg merespons dengan mengganti tiga pemain sekaligus, yaitu Alfharezzi Buffon, Muhammad Ferarri, dan Brandon Scheunemann.

Buffon menggantikan Achmad Maulana yang staminanya banyak terkuras setelah sering naik turun membantu serangan. Keputusan tidak biasa dibuat Vanenburg dengan menempatkan Ferarri sebagai gelandang serang sekaligus penyerang, alih-alih bek tengah yang merupakan posisi aslinya.

”Skenario Ferarri menjadi striker itu tidak ada dalam sesi latihan kami sebelumnya. Namun, kami butuh gol. Jadi, kami memutuskan untuk memasukkan banyak pemain yang punya postur tinggi. Ternyata kami bisa mencetak gol dan kami sangat senang dengan keputusan itu,” kata Asisten Pelatih Indonesia U-23 Frank van Kempen yang menggantikan Vanenburg dalam sesi konferensi pers pascalaga di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (25/7/2025) malam.

Brandon pun mendapat tugas dadakan sebagai gelandang bertahan. Padahal, posisi aslinya adalah bek tengah.

Meski demikian, seluruh bek yang memainkan posisi darurat tersebut mampu tampil baik. Buktinya, serangan-serangan Indonesia menjadi lebih hidup. Puncaknya, Indonesia mampu menyamakan kedudukan melalui sundulan Jens Raven enam menit sebelum babak kedua berakhir.

Mengandalkan ”set piece”

Jens akhirnya bisa kembali mencetak gol setelah terakhir kali melakukannya saat menghancurkan Brunei Darussalam, 8-0, pada laga pertama penyisihan grup. Saat itu, penyerang baru Bali United tersebut mencetak hattrick ganda.

Performa Jens menurun setelahnya dengan tidak mampu mencetak gol menghadapi lawan yang lebih berkualitas seperti Filipina dan Malaysia. 

Pemain Indonesia U-23 Jens Raven berselebrasi usai mencetak gol ke gawang Thailand U-23 dalam babak semifinal ASEAN Mandiri U-23 Championship Mandiri Cup 2025 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (25/7/2025). Indonesia U-23 melaju ke babak final usai mengalahkan Thailand U-23 lewat adu penalti. 



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

25-07-2025

Golnya ke gawang Thailand seakan menjadi bukti bahwa ketajamannya belum habis. Meski, gol Jens lagi-lagi mempertegas bahwa Indonesia masih sangat mengandalkan set piece atau eksekusi bola mati dalam mencetak gol.

Melawan tim-tim dengan kualitas setara, belum ada gol Indonesia yang tercipta dari skema permainan terbuka. Hal inilah yang masih menjadi perhatian Vanenburg. Ia sebelumnya menyoroti lemahnya operan-operan kunci di area sepertiga akhir permainan.

Di final nanti, Indonesia akan bertemu Vietnam yang pada laga lainnya menyingkirkan Filipina, 2-1. Laga melawan Vietnam menjadi ulangan final Kejuaraan ASEAN U-23 edisi 2023. Tampil di kandang sendiri, Indonesia berhasrat membalas kekalahan dari Vietnam di final dua tahun silam.

”Kita tuan rumah di sini. Jangan mereka (Vietnam) injak-injak home base kita. Jadi, kalau di sana (final 2023 di Thailand) mereka main keras, di sini kita kasih keras. Bukan berarti mencederai. Kita tidak boleh mencederai sesama pemain. Tapi maksudnya kita harus berani main keras juga,” kata Ketua Umum PSSI Erick Thohir.

Pemain Indonesia U-23 Muhammad Alfharezzi Buffon berselebrasi usai memastikan Indonesia menang atas Thailand U-23 lewat adu penalti dalam babak semifinal ASEAN Mandiri U-23 Championship Mandiri Cup 2025 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (25/7/2025). Indonesia U-23 melaju ke babak final usai mengalahkan Thailand U-23 lewat adu penalti. 



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

25-07-2025

Indonesia kemungkinan besar masih tidak akan diperkuat Arkhan di final. Adapun kondisi Toni dan Jens masih terus dipantau. Jens mengalami masalah pada kakinya sehingga tertatih-tatih di pengujung laga. Kehilangan Jens yang jadi pencetak gol terbanyak akan sangat merugikan Indonesia.

Namun, mengingat Indonesia punya bek yang serba bisa, bukan tidak mungkin mereka akan kembali dapat diandalkan untuk merebut gelar kedua Indonesia setelah terakhir kali meraihnya pada edisi 2019.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan