Selama berjuang pada Kejuaraan ASEAN U-23, para pemain Indonesia masih bebas menggunakan media sosial. Keleluasaan itu semestinya mulai dibatasi seiring kasus Hokky.
25 Jul 2025 11:06 WIB · Olahraga
Langkah Hokky Caraka yang menyomasi lima akun yang melontarkan komentar tidak pantas kepadanya menjadi pengingat kembali pentingnya pembatasan aktivitas media sosial bagi pesepak bola ketika mengikuti turnamen. Sepanjang perhelatan Kejuaraan ASEAN U-23, para pesepak bola Indonesia masih leluasa menggunakan media sosial.
Larangan ini justru menjadi krusial untuk pesepak bola kelompok usia. Belum semua pesepak bola belia memiliki kematangan emosional yang memadai untuk menerima respons fans terhadap penampilan mereka.
Beda halnya dengan pesepak bola profesional yang cenderung sudah matang dari segi kecerdasan emosi. Inilah yang menyebabkan mengapa pesepak bola kelas dunia masih bisa tampil bagus kendati terus bermain medsos sepanjang turnamen.
Hokky naik pitam lantaran lima akun medsos menyerangnya dengan kata-kata tidak pantas dan menjurus pada pelecehan. Ini bermula dari kekecewaan suporter Indonesia terhadap performa Hokky yang tidak kunjung meningkat. Meski sudah mendapatkan 61 menit bermain pada tiga laga penyisihan grup, Hokky belum berkontribusi signifikan. Penyerang berusia 20 tahun itu masih paceklik gol dan asis.
Bukan kali ini saja Hokky menerima serangan personal. Pada era Pelatih Shin Tae-yong, dia juga sering menerima cacian karena dianggap tidak memiliki kualitas pemain timnas. Namun, Shin saat itu pasang badan dengan mengatakan bahwa para fans semestinya bersabar menunggu Hokky berkembang menjadi pesepak bola hebat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/21/81060d06274a9a79450afc552aa23ae2-FAK_7448.jpg)
”Hokky pemain muda dan masih (punya) banyak potensi. Jadi mohon, (beri dukungan) biar dia bisa berkembang, bukan untuk menjatuhkannya dan dia jadi kecil hati,” ujar Shin pada 2024.
Dalam konteks sepak bola Indonesia, segalanya adalah tentang hasil. Para fans cenderung menjadi pemburu kemenangan sehingga menanti pemain berproses, sebagaimana dikatakan Shin, adalah sebuah gagasan utopis. Kasus serangan personal kepada Hokky adalah bukti betapa fans memang sulit untuk diharapkan berubah.
Padahal, pesepak bola Indonesia semestinya tetap mendapat dukungan sepanjang turnamen masih berlangsung. Momentum untuk melayangkan kritik alangkah lebih baiknya dilakukan saat turnamen telah berakhir sehingga tidak mengganggu fokus serta menjatuhkan mental pemain muda. Bagaimanapun para pesepak bola itu adalah representasi Indonesia di kancah internasional. Mengkritik, apalagi sampai menyerang secara personal dengan kalimat tidak pantas di tengah turnamen, bukanlah cara yang elegan.
Mengacu pada filsafat stoikisme, kita diajarkan untuk hanya memfokuskan diri pada apa yang bisa kita kendalikan, bukan pada hal-hal di luar kuasa kita. Bila respons fans adalah di luar kendali diri kita, ada baiknya para pemain mulai membatasi akses media sosial demi menjaga konsentrasi sebelum pertandingan. Langkah ini juga meminimalisi banyaknya drama akibat serangan-serangan personal.
Hal ini pula yang disadari oleh Sumardji saat menjadi Manajer Tim Indonesia U-22 yang bertarung di SEA Games Kamboja 2023. Sumardji kala itu melarang para pemain bermain media sosial jelang menatap semifinal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/20/9e3d2a89-861b-4950-ba06-10183e9f3d57_jpg.jpg)
”Hari ini terakhir (bisa membuka medsos). Untuk jelang semifinal hingga final tidak boleh lagi. Ini sudah kesepakatan antara manajemen dan pemain,” ujar Sumardji kala itu kepada Kompas di Phnom Penh, Kamboja.
Larangan itu pada akhirnya berbuah manis. ”Garuda Muda” melaju mulus ke final tanpa diganggu drama di luar lapangan. Emas sepak bola SEA Games akhirnya kembali ke haribaan Ibu Pertiwi setelah terakhir kali pada SEA Games Manila 1991.
Berkaca dari pengalaman dua tahun silam, ada baiknya jajaran manajemen tim U-23 Indonesia mengaktifkan kembali larangan bermedsos tersebut. Selama ini, kebijakan larangan bermedsos tidak diterapkan secara baku dan berkesinambungan. Setiap berganti tim kepelatihan dan manajer, kebijakan yang diterapkan juga berbeda.
Hingga saat ini, para pemain tim U-23, seperti Jens Raven dan Frengky Missa, masih aktif mengunggah postingan di Instagram. Tanpa ada larangan bermedsos, upaya membentengi diri sekaligus menjaga fokus pun pada akhirnya kembali pada kesadaran setiap pemain.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan