Fluminense berhasil menumbangkan Inter yang terlihat kebingungan dalam kepemimpinan Chivu. Chivu terlihat mirip dengan Inzaghi hanya dari sampul saja.
01 Jul 2025 07:41 WIB · Olahraga
CHARLOTTE, SENIN — Inter Milan, di era pelatih kepala baru Christian Chivu, menggunakan materi pemain dan formasi sama. Namun, pendekatan taktiknya sangat berbeda dari pelatih sebelumnya, Simone Inzaghi. Fluminense berhasil memanfaatkan kegagapan skuad Inter terhadap perubahan itu.
Klub Brasil, Fluminense, menciptakan keajaiban di babak 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025. Walaupun kalah jauh dalam kualitas skuad, mereka berhasil menumbangkan Inter lewat kemenangan 2-0 di Stadion Bank of America, Charlotte, Selasa (1/7/2025) dini hari WIB.
Saking istimewa kemenangan itu, bek legendaris Thiago Silva sampai berlutut dan menadahkan dua tangan ke arah langit setelah peluit panjang. Silva telah memenangkan banyak trofi bergengsi sepanjang kariernya, tetapi tetap emosional karena hasil itu mematahkan perkiraan di atas kertas.
”Sangat bangga dengan tim saya. Laga ini sangat sulit karena lawan kami adalah Inter yang baru bermain di final Liga Champions pada bulan lalu. Namun, kami adalah Fluminense yang datang untuk mengalahkan tim besar,” kata Silva, yang tampil dengan menahan cedera paha sepanjang laga.
Skuad Fluminense berselebrasi seakan sudah menjuarai turnamen. Mereka membentuk lingkaran di tengah lapangan, mengelilingi bendera klub. Silva dan rekan-rekan berdoa bersama untuk hasil indah itu, lalu saling merangkul dan melompat-lompat penuh sukacita.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/01/b3da1f266823a5993760cf9b6dd7bcec-wires_photo_2025_07_01T050130.652.jpg)
Fluminense sukses mengejutkan Inter di awal dan pengujung laga. Tim asuhan Pelatih Renato Gaucho itu sudah unggul pada menit ke-3 lewat gol penyerang German Cano. Pemain pengganti, Hercules, menyudahi perlawanan Inter dengan sumbangan gol pada injury time (90+2).
Fluminense sekaligus melanjutkan tren positif klub-klub Brasil sejak awal turnamen. Terdapat dua wakil dari Brasil di perempat final nanti, yaitu Fluminense dan Palmeiras. Adapun Fluminense akan menantang pemenang dari laga Manchester City versus Al Hilal.
Silva benar, Inter merupakan finalis Liga Champions. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak menunjukkan performa hebat seperti pada musim lalu ketika di bawah kepemimpinan Inzaghi. Permainan Inter di Charlotte terasa lambat, monoton, dan minim kreativitas.
Chivu mengandalkan materi pemain yang sama, seperti penyerang Lautaro Martinez dan Marcus Thuram. Hanya tiga pemain starter yang berbeda dari laga tadi dibandingkan saat final Liga Champions. Mereka juga masih menggunakan formasi 3-5-2 yang selalu diandalkan Inzaghi.
Bedanya, Chivu mengubah pendekatan taktik di lapangan. Pendekatan itu agaknya belum bisa diperagakan dengan baik oleh Martinez dan rekan-rekan. Wajar saja, Chivu belum genap sebulan sejak ditunjuk sebagai pelatih baru ”Si Ular Besar”. Inter terlihat seperti tim yang masih beradaptasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/01/691f66ce-28cc-42c8-9bba-f3b71fbb599d_jpeg.jpg)
Di laga itu, Inter lebih mengandalkan permainan posisional. Jarak antarpemain cukup jauh. Tujuannya membuka ruang lebih besar di pertahanan lawan agar bisa lebih dominan dalam penguasaan bola. Taktik serupa sering digunakan Manajer Josep Guardiola di Manchester City.
Karakteristik Inter di era Inzaghi pun hilang. Tidak banyak kombinasi umpan pendek cepat antarpemain, pergerakan tanpa bola dari segala sisi, dan serangan balik kilat. Martinez yang biasa sering menjemput bola sampai ke lini tengah sekarang lebih banyak menunggu di garis terakhir.
Kegagapan skuad Inter terlihat pada 70 menit awal laga. Mereka berhasil mendominasi penguasaan sampai 65 persen, tetapi hanya mampu membuat tujuh tembakan. Fluminense mencatatkan sembilan tembakan dengan penguasaan lebih sedikit. Inter minim variasi serangan.
Permainan Inter baru sedikit berkembang pada 20 menit akhir. Fluminense bertahan lebih dalam dengan blok ekstrarendah. Chivu juga mengubah formasi jadi 4-4-2. Sang pelatih menginstruksikan para pemain untuk lebih banyak mengumpan silang ke kotak penalti.
Perubahan itu menghadirkan beberapa peluang untuk Inter. Hanya saja, mereka sedang kurang beruntung. Martinez mendapatkan dua peluang emas dalam rentang satu menit pada pengujung laga. Tembakan pertama digagalkan kiper lawan, Fabio, dan yang kedua membentur tiang gawang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/01/fe6190b2-3950-475d-a6fd-aaff4534f9c8_jpeg.jpg)
”Kami tidak menyerah sampai akhir. Kami mengubah formasi dan mencoba segalanya. Hanya saja, hari ini memang seperti bukan untuk kami. Tentu kami tidak menyangka Fluminense tampil sangat baik dengan blok rendah yang terogranisasi. Sulit mencari solusi untuk itu,” kata Chivu.
Tugas Chivu akan semakin berat untuk menjalani musim baru. Alih-alih bisa mengobati luka kekalahan di final Liga Champions, Inter justru semakin terpuruk dengan kejutan dari Fluminense. Terlebih lagi, permainan Inter terlihat jauh dari meyakinkan di bawah rezim sang pelatih baru. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto