Dalam beberapa bulan, Guardiola berhasil menemukan dua formula tim pemenang Manchester City. Formula pertama rusak di markas Madrid, formula kedua masih tanda tanya.
06 Apr 2026 06:05 WIB · Olahraga
AFP
Mungkin hanya Pep Guardiola, manajer yang berani bereksperimen sesuka hati saat musim klubnya sedang dipertaruhkan. Tentu, ada harga yang harus dibayar untuk eksperimen itu. Namun, sejauh ini, hasil yang didapatkan selalu sepadan, termasuk yang terjadi di Manchester City pada akhir musim ini.
Liga Champions, harga yang dibayar Guardiola demi eksperimen terakhirnya. Sang manajer sudah mempunyai formula tim pemenang di awal tahun dengan formasi 4-1-3-2, bersama bek sayap Nico O’Reilly yang dinaikkan ke gelandang, tetapi tidak digunakan dalam laga 16 besar versus Real Madrid.
O’Reilly dikembalikan ke bek sayap untuk memfasilitasi pemain sayap Jeremy Doku di lini tengah, tepatnya dalam posisi tiga gelandang di belakang striker. Guardiola berharap City tampil lebih ofensif. Namun, mereka justru kehilangan stabilitas dan ditaklukkan dengan mudah oleh Madrid.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/06/2fc0a9b5f8fe18ef903a22007bcbac87-Britain_FA_Cup_Soccer_10_.jpg)
Kejatuhan itu ternyata menjadi awal dari kebangkitan City. Di dua laga setelah tereliminasi dari Liga Champions, mereka meraih predikat juara Piala Liga Inggris dan lolos ke semifinal Piala FA. Lawan yang dikalahkan tidak tanggung-tanggung, Arsenal (2-0) di final Piala Liga dan Liverpool (4-0) di perempat final Piala FA.
City juga tampil begitu dominan dalam dua laga tersebut, terutama saat menumbangkan Liverpool di Stadion Etihad, Manchester, Sabtu (4/4/2026). Bukan kebetulan, mereka menggunakan formula dan pendekatan yang sama berturut-turut. City kembali memakai striker tunggal dengan formasi 4-2-3-1.
Jika dicermati lebih dalam, formula itu mengambil inspirasi dari laga versus Madrid. Doku mengisi sisi kiri dari tiga gelandang sejajar, sementara O’Reilly menjadi bek sayap. Pembedanya adalah kehadiran gelandang kreatif Rayan Cherki yang jarang diberi kesempatan sebagai starter sejak awal tahun.
Guardiola sering mencadangkan Cherki karena sang pemain cukup lambat, membuat tim tampak bercela dari sisi defensif. Tim menjadi kurang seimbang. Namun, Guardiola perlahan menyesali keputusan itu karena tidak ada pemain kreatif yang lebih baik dibandingkan Cherki di kubu City.
”Untuk peran itu (gelandang serang), jelas, tidak ada yang lebih baik darinya. Seleksi pemain yang buruk, Anda bisa mengkritik saya karena itu. Saya pantas untuk itu. Kami sempat mempelajari, ketika Erling (Haaland) bermain bersama dengan Jeremy dan Cherki, kami menjadi sangat tidak seimbang,” kata Guardiola.
Lalu, mengapa Haaland, Doku, dan Cherki bisa bermain bersama versus Arsenal dan Liverpool tanpa masalah? Jawabannya adalah perubahan pendekatan City. Mereka bermain dengan perlahan dan sangat mengandalkan penguasaan bola sehingga meminimalisasi ancaman transisi lawan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/06/67cba41888af768e502e104019c0f4e4-Britain_FA_Cup_Soccer_11_.jpg)
Bersama kehadiran Pepijn Lijnders, mantan asisten pelatih dari Juergen Klopp di Liverpool, City mengubah gaya bermain di awal musim. Skema Guardiola yang semula sangat berbasis penguasaan bola jadi lebih sering mengandalkan transisi serangan balik kilat. City kini kembali ke ciri khas mereka.
City bisa mengontrol permainan begitu baik karena memiliki trio gelandang cerdas nan berteknik tinggi, yaitu Rodri, Bernardo Silva, dan Cherki. Mereka dengan mudah mempermainkan sistem tekanan tim lawan. Itu yang terlihat jelas di laga versus Arsenal, saat City unggul mutlak dalam penguasaan bola (62 persen).
Belum lagi, O’Reilly selalu membantu naik ke lini tengah. Dia menjalani peran inverted full-back. O’Reilly memberikan opsi umpan sambil sesekali masuk ke kotak penalti. Jelas sudah alasan Guardiola selalu ingin memainkan Doku. Dengan Doku di sisi sayap, O’Reilly bisa mendapat keleluasan di area half-space kiri.
O’Reilly menjadi salah satu pemain terpenting City dalam dua laga terakhir. Dia mencetak dua gol saat bertemu Arsenal. Pemain 21 tahun itu pula yang memenangi hadiah penalti untuk gol pembuka City ke gawang Liverpool. Adapun O’Reilly juga menyumbang satu asis di laga versus Liverpool.
Selain peran para gelandang, dominasi penguasaan bola City sulit dihentikan tim lawan karena senjata mereka terlampau banyak. Mereka mengancam dari semua sisi, baik kiri, tengah, maupun kanan. Di sisi kiri, ada O’Reilly dengan tusukan ke kotak penalti. Di tengah, ada Haaland yang menanti di kotak penalti.
Di sisi kanan, Guardiola berhasil menemukan kombinasi terbaru yang belum bisa dijawab oleh tim lawan. City mengandalkan Cherki dan pemain sayap Antoine Semenyo untuk mengkreasikan peluang ke kotak penalti. Duet itu menginspirasi gol kedua Haaland pada akhir pekan lalu.
Cherki merupakan pemain kidal, sementara Semenyo dominan dengan kaki kanan. Bayangkan, kedua pemain itu berada di satu sisi serangan. Cherki bisa mengancam dengan tusukan ke arah dalam, layaknya peran inverted winger, saat Semenyo bisa berperan sebagai sayap murni. Mereka saling melengkapi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/04/df1dc8be99a5ac84d255cd2d42976be8-cropped_image.jpg)
”Dia (Cherki) adalah salah satu yang terbaik. Dia benar-benar bisa melakukan apa saja dengan bola. Jadi, dia membuat hidup saya lebih mudah. Saya tahu dia akan mundur dan mencoba mencari saya di belakang atau mengoper ke kaki saya. Itu membuat segalanya lebih mudah,” kata Semenyo.
Bersama formula kedua tim pemenang ala Guardiola, City menatap sisa musim dengan penuh kepercayaan diri. Itu pula yang membuat mereka kembali percaya untuk bisa mengejar Arsenal di Liga Inggris walaupun sudah tertinggal sembilan poin.
Jika konsisten seperti dua laga terakhir, nyaris mustahil menghentikan dominasi Haaland dan rekan-rekan. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti