Generasi Z menjadi motor aneka unjuk rasa besar mulai dari Indonesia, Nepal, hingga Filipina. Kegagalan rezim di negara demokrasi berkembang penjadi pemicu gerakan.
27 Sep 2025 17:27 WIB · Internasional
Sejak 25 Agustus 2025 hingga pertengahan September 2025, dunia menyaksikan unjuk rasa kaum muda Generasi Z Asia. Gelombang unjuk rasa yang mereka motori memantik perhatian dan menggerakkan perubahan, mulai dari Indonesia, kemudian ke Nepal, hingga Filipina.
Meskipun bergerak di negara yang berbeda, ada kesamaan dari aksi unjuk rasa anak muda itu. Mereka bergerak karena rasa marah, ketidakpuasan yang sama, juga rasa ketidakadilan yang dipicu dari unggahan-unggahan konten terkait gaya hidup pejabat, dan keluarga penguasa di media sosial.
Anak-anak muda Gen Z itu menyerukan perang melawan korupsi, dan gaya hidup mewah para pejabat negeri. Mereka gelisah dengan kesenjangan yang kian melebar dan menuntut perubahan.
Di Nepal gerakan itu membuat Perdana Menteri KP Sharma Oli mundur dan kabinetnya dibubarkan. Presiden Nepal Ram Chandra Paudel kemudian menunjuk Sushila Karki, seorang mantan Ketua Mahkamah Agung Nepal menjadi Perdana Menteri sementara.
Sebelum penunjukan itu, terjadi negosiasi alot antara Paudel, Panglima Angkatan Bersenjata Nepal, Jenderal Ashok Raj Sigdel dan perwakilan pemuda. Yang unik, generasi Z—motor unjuk rasa di Nepal—menggunakan aplikasi Discord untuk membahas pencalonan dan penunjukan Karki, serta membahas langkah selanjutnya (Kompas.id, 13 September 2025).
Sementara di Indonesia gerakan anak muda berhasil membuat pemerintah segera mengubah sejumlah keputusannya. Salah satunya adalah menghapus tunjangan perumahan untuk anggota DPR. Aksi anak muda di Filipina juga berhasil mendorong pemerintah setempat membentuk komite independen untuk menyelidiki dugaan korupsi anggaran proyek pengendalian banjir.
Muhammad Faisal, pendiri sekaligus senior reseacher advisor Youth Laboratory Indonesia atau YouthLab dalam wawancara, Rabu (24/9/2025), menjelaskan, berbicara tentang Gen Z ada sejumlah faktor yang berkontribusi pada kiprah Gen Z pada aksi-aksi demonstrasi akhir-akhir ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/27/a45db5b8-9808-4acc-a1e5-abd87a982f17_jpg.jpg)
Berdasarkan survei YouthLab di 10 kota di Indonesia tahun lalu ditemukan Gen Z memiliki perhatian tinggi pada dua isu. Gen Z secara sosial tertarik pada isu-isu keadilan sosial, di sisi lain, secara individual Gen Z memiliki ketertarikan pada isu kesehatan mental.
”Jadi secara pribadi anak muda ingin ada satu mindfulness terhadap dirinya. Tetapi, secara sosial dia ingin mewujudkan atau punya concern terhadap isu-isu social justice,” jelas Faisal yang juga pengajar di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta.
Selain itu ditemukan adanya pergeseran otoritas aktivisme. Bila sebelumnya anak muda beraktivitas melalui organisasi formal kampus atau organisasi, seperti HMI, sekarang bergeser ke aktivis-aktivis di sosial media.
Seiring itu, bermula dari isu kesehatan mental di mana anak muda mencari mindfulness, anak muda masa kini juga meminati filsafat. Menurut Faisal, mereka memulainya dari filsafat stoic atau aliran filsafat pengendali diri dan pencegah depresi. Saat mencecapi filsafat, mereka mendapat pencerahan. Senyampang itu, dalam hidup keseharian asupan dari media sosial tentang realitas saat ini menghujani secara bertubi-tubi.
Konteks sosial-budaya itu kemudian membentuk ”ideologi” yang kemudian mewujud dalam pergerakan akhir-akhir ini. Bila dulu gerakan mahasiswa itu berakar pada paham atau isme tertentu, saat ini anak muda disatukan oleh kultur populer. Refleksi dari hal itu disimbolkan lewat bendera hitam bergambar tengkorak atau dikenal sebagai One Piece.
”Pada akhirnya semangat social justice-nya terproyeksikan lewat kultur populer. Lebih mudah untuk menyatukan aspirasi lewat kultur populer ketimbang lewat isme,” jelas Faisal. Namun, Faisal juga mencatat bahwa Gen Z memiliki karakter berupa attention span atau kemampuan atentif yang rendah. Di satu sisi karakter itu bagus untuk gerakan, tetapi di sisi lain karena karakternya, Gen Z menjadi tidak sabar dan menuntut perubahan segera.
Di Indonesia hal itu ditunjukkan dengan tuntutan 17+8. ”Harus cepat dan diberi tenggat. Itu karakter Gen Z,” jelas Faisal. Namun, di sisi lain, kemampuan untuk mengawal agar gerakan itu mewujud menjadi satu perubahan sosial, masih menjadi tantangan bagi Gen Z.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/26/b38997ec-5a5b-470c-9ff5-9fbe676e3d6f_jpeg.jpg)
Di hubungi terpisah, sosiolog Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Oki Rahadianto Sutopo mengatakan, maraknya gerakan sosial Gen Z di banyak negara, termasuk di Indonesia, Nepal, Filipina, Perancis, sampai Peru memperlihatkan kesadaran anak muda sebagai generasi global. Batas negara, ideologi, dan latar belakang menjadi sangat relatif.
”Ini berarti generasi muda saling terkoneksi dan bersolidaritas antara satu sama lain. Media sosial sangat berperan dalam menghubungkan mereka melalui kesamaan pengalaman atau variasi-variasi pengalaman yang mereka alami. Dimensi antara online dan offline sudah melebur,” kata Oki saat dihubungi, Jumat (26/9/2025).
Sebagaimana diungkap Faisal, isu-isu sosial seperti melebarnya kesenjangan sosial dan ekonomi menyatukan Gen Z lintas negara. Di sisi lain, ada variasi-variasi pengalaman berdasarkan corak rezim di negara masing-masing, misalnya korupsi, represi pemerintah, flexing, atau nepo babies alias anak pejabat yang sukses karena koneksi orangtua.
Kondisi itu menjadi ruang hidup anak muda masa kini yang dalam perspektif Oki, tengah ”dibentuk” oleh tiga faktor, yaitu pendidikan, pekerjaan, dan keluarga. Umumnya anak muda mengalami sulitnya mengakses pendidikan berkualitas lantaran mahal.
Pada saat yang sama, dunia kerja mengalami transformasi digital, kecerdasan buatan makin banyak mengganti peran manusia. Kalaupun tersedia, pekerjaan yang ada tidak sesuai kualifikasi. Dalam kehidupan sosial, ada keinginan untuk menikah, tetapi tabungan tidak mencukupi, dan akses pada perumahan pun kian tak terjangkau.
Berbagai tekanan yang dialami Gen Z saat ini menurut Oki lebih berat dari Generasi Sandwich. ”Mereka ini bukan lagi kejepit tapi Generasi Geprek,” ujar Oki.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/27/ac7ce9e53bb8d02e96c887a254623de6-Inter_Kompas_27_Sept_2025_Arya_Budi_Poltracking.jpg)
Sayangnya, fenomena itu kurang ditanggapi serius oleh pemerintah. Direktur Riset Poltracking Arya Budi yang sedang menempuh pendidikan di Chicago, Amerika Serikat mengatakan, gerakan sosial Gen Z di Indonesia, Nepal, dan Filipina meledak karena dipicu kegagalan rezim demokrasi di negara berkembang menghadirkan keadilan dan kesejahteraan untuk rakyatnya.
Faktor lain adalah, rendahnya kepercayaan pada penegak hukum dan elite penguasa. Ketidakpercayaan itu, antara lain, dipicu oleh maraknya praktik korupsi, nirempati, dan ketidakbecusan mereka menangkap aspirasi warga.
Meskipun Gen Z tidak mengalami gejolak politik akhir era 90-an dan awal 2000 di Indonesia, faktor pembentuk gerakan tersedia. Gerakan anak muda di satu sisi, dan rezim yang dilawan.
”Mereka adalah generasi paling rentan, terancam dengan perkembangan AI yang merampas peluang kerja dan secara demografi jumlah mereka besar di Indonesia. Di sisi lain ada penguasa yang tidak memiliki empati serta penegakan hukum yang tidak berjalan,” kata Arya.
Memang, kemajuan teknologi informasi, diakui Arya memberi peluang bagi anak muda untuk berkarya, entah sebagai influencer, atau menjadi pembuat konten. Akan tetapi, pada saat yang sama, banyak generasi muda rentan terhadap berkembanganya AI. Akibatnya, kompetisi untuk bertahan hidup menguat. Sayang, rezim tidak mampu membaca perkembangan situasi tersebut.
Kondisi seperti itu terjadi di Indonesia, Nepal, dan Filipina. Hak Gen Z, terutama untuk memiliki pekerjaan dan merasakan kesejahteraan terancam. Sebaliknya, yang mereka peroleh adalah sikap elite yang tidak berempati, dan mengabaikan kesulitan hidup generasi muda.
Secara khusus, di Indonesia, Gen Z juga semakin kritis dengan korelasi antara pajak yang rakyat bayarkan dan imbal balik yang diperoleh dari pemerintah. Di negara demokrasi berkembang, kegelisahan anak-anak muda itu ”mendapat ruang” untuk terekspresikan, salah satunya melalui gerakan sosial dan unjuk rasa.
Kondisi ini sedikit berbeda bila dibandingkan dengan negara demokrasi mapan seperti Perancis. Aktor utama gerakan sosial di negara seperti Perancis adalah kelas pekerja. Sementara di negara-negara sosialis seperti China dan Vietnam, ekspresi itu terhambat karena ketatnya pemantauan ruang digital dan cepatnya respons penguasa terhadap masalah sosial.
Penulis:
Iwan Santosa, Elsa Emiria Leba, Helena Fransisca NababanEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase