PARIWISATA

Gara-gara Perang, Menu Restoran Pun Berkurang

Perang di Iran yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel membuat aneka bahan makanan sulit diperoleh di Dubai. Kalaupun ada, harganya sangat mahal.

01 Mei 2026 19:00 WIB · Internasional

AFP/FADEL SENNA

Oleh Irene Sarwindaningrum

Perang Iran yang sudah berlangsung dua bulan mulai terasa sampai ke meja makan Dubai, Uni Emirat Arab. Bahan baku impor makin sulit didapat dan ongkos naik. Untuk bertahan, Sejumlah koki pun memangkas menu restoran.

Koki Shaw Lash di restoran Meksiko Lila Molino di Dubai, biasa mendatangkan avokad dan tomatillo yang diterbangkan langsung dari negeri asalnya. Tomatillo adalah buah hijau kecil bercita rasa asam dari Amerika Tengah. Bahan itu penting untuk banyak hidangan Meksiko yang berwarna kuat dan pedas.

Gara-gara serangan AS dan Israel, di Dubai, bahan khusus itu kini ”raib”. Kalau pun ada, harganya sangat mahal.

Lash dan sejumlah koki lain di Dubai mengatakan, penutupan Selat Hormuz serta lonjakan harga bahan bakar pesawat mendorong kenaikan ongkos kargo udara. Di beberapa rute, tarif kargo udara naik hingga 70 persen.

”Kargo menjadi lebih mahal, harga bensin naik, Selat Hormuz masih diblokade. Ini benar-benar menciptakan masalah bagi kami dalam hal pasokan,” ujarnya dikutip dari Reuters, Jumat (1/5/2026).

Lash pun mengurangi produksi, memangkas beban gaji, dan membeli bahan dalam jumlah lebih kecil. Ia berharap langkah itu hanya sementara. Untuk saat ini, ia lebih fokus pada paket fajita siap masak di rumah dan lini produk bahan makanan restorannya.

In this photograph taken on November 12, 2025, Executive Chef Serhat Karanfil works in the kitchen of Woohoo, an AI-powered restaurant in Dubai. (Photo by FADEL SENNA / AFP)

Sejak perang mengimbas wilayah di sekitarnya, di Dubai, kota mewah yang ramai wisatawan itu, para koki mulai menyesuaikan menu. Sebagian beralih ke bahan lokal atau bahan yang lebih mudah diperoleh. Sebagian mengurangi porsi makanan.

Koki Kelvin Cheung dari restoran fusi Jun’s Dubai terpaksa menggunakan bahan lokal dan menyediakan menu baru. Ia mengatakan, bahan impor kini lebih sulit didatangkan. Contohnya kerang kampak Norwegia dan sejumlah produk laut Jepang.

”Satu-satunya pilihan Anda saat ini adalah mengirim lewat angkutan udara. Itu akan menaikkan biaya sekitar 30-35 persen. Pariwisata terpukul sangat besar,” kata Cheung.

Quote

Satu-satunya pilihan Anda saat itu adalah mengirim lewat angkutan udara. Itu akan menaikkan biaya kami sekitar 30-35 persen. Pariwisata terpukul sangat besar.

Untuk menyiasatinya, Cheung pun memperkenalkan menu enam hidangan berbahan lokal seharga 225 dirham (sekitar Rp 1 juta). Dengan strategi itu, restorannya tetap mampu mempertahankan seluruh staf. Sementara itu, restoran lain bersiap meluncurkan menu paket dengan harga diskon untuk Restaurant Week pada Mei 2026.

Penulis makanan Courtney Brandt, yang tinggal di Dubai sejak 2007, mengatakan perang membuat industri restoran Dubai makin berat. Sebelum perang, Dubai sudah menghadapi biaya tinggi, ketergantungan pada pariwisata, dan paparan rantai pasok. Pasar juga sudah jenuh.

Memukul

Tekanan bagi UEA kian berat lantaran Selat Hormuz ditutup. Jalur itu merupakan satu-satunya akses laut ke dan dari negara tersebut. Dan selama ini, untuk konsumsi, UEA mengimpor lebih dari 80 persen kebutuhan pangannya dari negeri lain melalui Hormuz.

Mordor Intelligence memperkirakan nilai pasar restoran layanan penuh UEA mencapai 9,5 miliar dollar AS pada 2025. Sebelum perang, pasar tersebut diprediksi tumbuh 20 persen menjadi 11,3 miliar dollar AS pada 2026. Namun, perang mengubah hitungan itu.

Dalam survei Juniper Strategy dan Global Restaurant Investment Forum, operator layanan makanan di UEA melaporkan penurunan permintaan rata-rata 27 persen dibandingkan setahun sebelumnya. Adapun kenaikan biaya pemasok rata-rata mencapai 13 persen.

Laporan itu disusun berdasarkan konsultasi dengan 30 pemimpin industri pada Rabu (1/4/2026) hingga Rabu (8/4/2026). Mereka mengoperasikan sekitar 400 restoran.

Kondisi itu tentu membuat UEA terpukul. Restoran yang menjadi salah satu pilar pariwisata Dubai yang dibangun di atas citra kemewahan dan keamanan mulai terseok-seok.

Orang-orang berjalan melewati restoran kosong di luar ruangan di Pelabuhan Sungai Dubai di Dubai, Uni Emirat Arab, Rabu (11/3/2026).

AP/Fatima Shbair
Infografik Runtuhnya Lalu Lintas Maritim di Selat Hormuz

Perang telah memangkas kedatangan wisatawan regional, menekan jumlah pengunjung di pusat belanja mewah. Lokasi yang bergantung pada wisatawan dan kawasan bisnis mendapat tekanan terbesar.

Beberapa restoran mewah, termasuk di hotel mewah Atlantis di pulau buatan berbentuk palem Dubai, tutup sementara untuk renovasi. Mereka memang tidak menyebut perang sebagai alasan.

Meski demikian, restoran lain tetap membuka usaha baru, termasuk Siena di Dubai pada awal April 2026 dan Isabel Mayfair di Abu Dhabi. Sebaliknya, restoran di kawasan permukiman, seperti warung tegal di Indonesia, lebih tahan. Sejumlah restoran di perumahan bahkan tumbuh.

Pemandangan gedung pencakar langit di Pelabuhan Dubai Creek di Dubai, Uni Emirat Arab, Rabu (11/3/2026).

AP/Fatima Shbair

Departemen Ekonomi dan Pariwisata Dubai mengatakan, sebagian restoran sedang kehilangan pengunjung. Mereka mencoba bertahan dengan cara baru.

”Di seluruh kota, restoran, koki, dan platform beradaptasi melalui format baru, tawaran terarah, dan inisiatif berbasis komunitas,” demikian pernyataan Departemen Ekonomi dan Pariwisata Dubai.

Menyikapi tantangan itu, otoritas Dubai mengupayakan dukungan seperti keringanan biaya dan kampanye agar warga kembali makan di restoran. Kementerian Ekonomi dan Pariwisata UEA tidak menanggapi permintaan komentar.

Suram di Iran

Seperti di Dubai, pengusaha di Teheran, Iran, Amen Khademi juga cemas bisnisnya tak bisa lagi bertahan. Jika di Dubai perang membuat impor bahan makanan tersendat, di Teheran ”arus” internet terhenti.

Saat bekerja di studionya, pikiran Khademi terus tertuju pada persoalan itu. Telah empat bulan ini internet di Iran padam. Padahal, sebagai perancang busana internet merupakan jalur utama ke pelanggannya.

Dengan 30.000 pengikut, akun Instagram itu adalah etalase tokonya. Namun, gara-gara internet dipadamkan otoritas Iran, akun studionya di Instagram kini tidak aktif. Dampaknya, Khademi tidak mendapat penjualan selama berbulan-bulan. ”Pemadaman internet dalam empat bulan terakhir telah menghancurkan bisnis saya, juga banyak bisnis daring,” kata Khademi.

Seorang wanita Iran berjalan melewati mural anti-AS dan anti-Israel, di Teheran pada Selasa (21/4/2026).

AFP/ATTA KENARE

Iran yang berpenduduk 90 juta orang itu terputus dari internet hampir sepanjang 2026. Pemadaman itu menjadi salah satu penutupan internet nasional terpanjang dan paling ketat di dunia. Dampaknya ekonomi daring di negeri itu hancur.

Pendapatan banyak pelaku usaha di bidang mode, kebugaran, periklanan, hingga ritel menguap. Kalaupun saat ini Khademi tetap melakukan pemotretan, hal itu hanya untuk menambah stok. Ia berharap kelak bisa menemukan jalur alternatif untuk kembali menjual produknya.

Meski gencatan senjata AS-Iran berlaku, Teheran enggan mencabut pemadaman internet. Padahal, tekanan publik terus meningkat. Pemadaman internet itu turut memicu tingginya angka PHK.

DigiKala, perusahaan ritel daring yang menjadi salah satu ikon ekonomi digital Iran, baru-baru ini menyatakan akan memberhentikan 200 orang. Jumlah itu sekitar 3 persen dari total karyawannya. Reza Amiri, mantan pegawai penyedia layanan internet berusia 32 tahun, kini menjual topi dan payung di dekat stasiun metro. Ia kehilangan pekerjaan setelah perang dimulai dan belum menerima gaji terakhirnya.

Monireh Pishgahi sekarang menjual ornamen dan aksesori di Jalan Vali Asr, salah satu jalan terkenal di Teheran. Ia mengatakan, usaha jahitnya dulu memasok tiga toko daring. Ketika bisnis mengering, ia menutup usaha itu dan memberhentikan lima karyawannya.

Anggota Kamar Dagang Iran, Afshin Kolahi, mengatakan, pemutusan internet merugikan ekonomi sekitar 30 juta-40 juta dolar AS per hari. Kerugian tidak langsung kemungkinan dua kali lebih besar. Sebelumnya, ekonomi daring mampu bertahan di tengah pembatasan pemerintah dan sanksi internasional.

TOPSHOT - An Iranian municipal worker sprays water on the walkway of a park near a structure adorned with the national flag and a portrait of the late Iranian supreme leader Ayatollah Ali Khamenei as a young man,  in northern Tehran on April 21, 2026, amid a ceasefire in the region. With the end of a two-week ceasefire approaching, the White House said US Vice President was ready to return to Pakistan for fresh negotiations to end a conflict that has sent crude soaring and revived inflation fears. (Photo by AFP) /

Sebagai catatan, Menteri Komunikasi Iran Sattar Hashemi mengatakan, sekitar 10 juta orang di Iran bekerja pada sektor yang bergantung pada internet. Hingga Januari 2026, warga Iran masih bisa mengakses internet meski otoritas memblokir banyak konten.

Kini, seluruh akses ke web global ditutup. Sejumlah cara untuk menembus pembatasan masih ada, tetapi biayanya menjadi sangat mahal dan tak terjangkau bagi sebagian besar warga.

Belum pernah terjadi

Mahsa Alimardani, pakar sensor internet, mengatakan, pemadaman internet di Iran belum pernah terjadi sebelumnya. Kashmir dan Myanmar pernah mengalami pemblokiran lebih lama, tetapi pemblokiran itu menyasar wilayah atau pelantar tertentu. Adapun China dengan kebijakan ”Great Firewall” dan Korea Utara memang menerapkan kebijakan membatasi akses internet sejak awal.

”Yang membuat pemadaman Iran lebih serius adalah kombinasi skala dan tingkat keparahannya, yaitu seluruh negara berpenduduk 90 juta orang dengan ekonomi digital yang berkembang secara sengaja dikembalikan ke intranet nasional yang dikendalikan,” kata Alimardani yang juga Direktur Asosiasi untuk Ancaman dan Peluang Teknologi di kelompok hak asasi Witness. (Reuters/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase