Blokade di Selat Hormuz menjadi mimpi buruk bagi puluhan ribu pelaut yang berlayar di sekitar Iran. Mimpi mereka untuk pulang pupus oleh perang berkepanjangan.
25 Apr 2026 16:00 WIB · Internasional
AP/Meysam Mirzadeh/Tasnim News Agency
Sudah lebih dari dua minggu Ankit Yadav bertahan hidup di kapal kecil yang terdampar di sebuah pelabuhan di Iran. Bersama tiga rekannya, pelaut asal India itu tak tahu kapan bisa pulang. Nasib mereka ditentukan perang di Iran yang tidak jelas kapan akan berakhir.
Stok makanan mereka semakin menipis. Ransum tomat dan kentang menjadi menu membosankan yang dilahap setiap hari. Ada ribuan pelaut dari sejumlah negara bernasib sama seperti Yadav dan tiga temannya.
Blokade di Selat Hormuz menjadi sumber petaka ini. Kapal yang ditumpangi Yadav tidak rusak. Kapal pengangkut baja itu bisa saja berlayar keluar dari Iran melalui selat tersebut. Namun, mereka terhalang blokade oleh Angkatan Laut AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/21/2b50153d3ebebbe01397d3f156cd3c5f-cropped_image.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/23/08e79f57-0a24-4b34-87fe-0268c7fd36c4.jpg)
Semestinya, kapal itu berlayar dari Iran menuju Oman. Dari Oman, Yadav dan rekan-rekan dapat melanjutkan perjalanan pulang ke India. Namun, impian untuk bertemu keluarga di rumah harus tertunda. Perusahaan pelayaran tempat mereka bekerja tak memberikan solusi memulangkan mereka.
”Perusahaan tidak mau membayar harga tiket pesawat yang lebih tinggi. Kami pun tidak mampu membelinya sendiri. Satu-satunya jalan keluar adalah bantuan dari pemerintah,” katanya kepada Reuters melalui telepon, Jumat (24/4/2026).
Di kapal lainnya, Salman Siddiqui, yang juga berasal dari India, meratapi nasibnya di sebuah pelabuhan di Khorramshahr, Iran. Ia tinggal di atas kapal kargo berbendera Komoro. Kapal itu berlayar dari Iran menuju Oman.
Gencatan senjata membuat hatinya sedikit lega. Telinganya tak lagi dibisingkan oleh suara ledakan. Namun, tak banyak yang bisa ia lakukan di tengah ketakutan terimbas oleh sasaran serangan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/164706d8a876d23341d33d64fdb01de0-20260422_ADI_Lalulintas_Selat_Hormuz_mumed.png)
”Satu-satunya yang kami lakukan di sini adalah merencanakan bagaimana menghabiskan malam dan berdoa kepada Tuhan agar kami tidak terkena serangan,” ucapnya.
Ketakutan itu tidak berlebihan. Situasi di Selat Hormuz masih panas meskipun Amerika Serikat dan Iran tetap mengupayakan perundingan lanjutan yang dimediasi Pakistan. Meski sedang gencatan senjata, kedua pihak tidak menyurutkan serangan.
Militer AS menyerang dan menyita kapal kargo berbendera Iran, Minggu (19/4/2026). Kapal itu berlayar dari China, pembeli utama minyak Iran. Tiga hari berselang, Iran membalasnya dengan menembak kapal kontainer yang melewati Selat Hormuz.
”Kami telah mendengar lebih dari 100 ledakan. Sangat menakutkan ketika Anda melihat peluru terbang dan meledak sangat dekat dengan kapal Anda,” kata Siddiqui.
Perang yang berlarut-larut menambah ketakutan para pelaut. Tidak hanya membuat mereka semakin lama terkatung-katung di laut, tetapi juga bahaya perang yang sangat berisiko mengancam keselamatan jiwa.
Perang di Iran dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari 2026. Iran meresponsya dengan menutup Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital energi global. Sekitar 20 persen minyak dunia dikirim melalui perairan sempit yang memisahkan daratan utama Iran dengan Jazirah Arab tersebut.
Perang yang berlarut-larut menambah ketakutan para pelaut. Tidak hanya membuat mereka semakin lama terkatung-katung di laut, tetapi juga bahaya perang yang sangat berisiko mengancam keselamatan jiwa.
Seorang pelaut yang menolak menyebutkan identitasnya karena alasan keamanan mengatakan kepada ABC News, dirinya telah menunggu berminggu-minggu untuk bisa melewati Selat Hormuz. Pemilik kapal tak ingin mengambil risiko untuk menerobos blokade. Apalagi, perusahaan asuransi telah berhenti mengasuransikan kapal-kapal di wilayah itu.
”Ketidakpastian adalah ketakutan terbesar kami. Tidak mengetahui apakah kami akan keluar dari situasi ini hidup-hidup adalah kekhawatiran utama kami. Di mana pun Anda berada di Teluk, tidak ada tempat aman di sini,” tuturnya.
Pelaut itu mengatakan, ada sejumlah bahaya di Selat Hormuz, mulai dari ranjau laut hingga serangan langsung menggunakan pesawat nirawak (drone) dan rudal. Mereka juga berisiko ditahan oleh militer Iran yang memblokade selat itu.
”Saya telah melihat rudal melintas di atas kepala kami. Saya juga melihat drone dan pesawat terbang melintas setiap hari. Kami tidak pernah tahu niat mereka. Saya telah menyaksikan kapal-kapal terkena serangan dengan mata kepala saya sendiri,” ujarnya.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyatakan, konflik di Timur Tengah menciptakan ketidakstabilan bagi pelayaran global. Lebih dari 20.000 pelaut terdampar di kawasan Teluk karena tidak bisa keluar dari Selat Hormuz.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/327101a87a4b45381fbd97d921b0ee9f-20260307_KID_AFP_Teluk_Hormuz_mumed.jpg)
”IMO berkomitmen untuk keselamatan pelayaran dan kesejahteraan pekerja maritim. Dewan IMO telah menyerukan penghentian serangan terhadap kapal dan mendesak negara anggota untuk memastikan penyediaan air, makanan, bahan bakar, dan kebutuhan pokok lainnya secara berkelanjutan kepada kapal yang terdampar,” tulis pernyataan IMO, dilansir dari laman Imo.org.
Para pelaut itu tak berkuasa menentukan nasibnya sendiri. Negosiasi perusahaan pelayaran dengan otoritas Iran sangat menentukan apakah mereka bisa pulang. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menerapkan jalur khusus bagi kapal-kapal yang diizinkan melintas.
Surindra Kumar Chaurasia menjadi salah satu pelaut yang beruntung. Bersama 20 awak lainnya, ia berada di kapal pengangkut urea yang bersandar di Pelabuhan Sharjah. Mereka terdampar selama empat hari di sana.
Chaurasia dapat dipulangkan ke India setelah perusahaan pelayaran tempatnya bekerja mencapai kesepakatan dengan Iran. ”Saat terdampar, kami melihat kapal-kapal diserang oleh drone,” ucapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/24/2a98af37b090d0cc6ca46f3ea4de5980-wires_photo_7_.jpg)
Sejak konflik berkecamuk delapan pekan lalu, Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF) telah menerima sekitar 1.900 pertanyaan dari para pelaut di ratusan kapal. Sekitar 20 persen terkait permintaan pemulangan. Sementara yang lainnya menyampaikan kekhawatiran tentang menipisnya persediaan bahan bakar, makanan, dan air.
Koordinator Operasi Maritim ITF John Canias mengatakan, banyak pelaut sipil yang kehilangan nyawa selama perang. Puluhan ribu pelaut dihantui ketakutan karena ancaman serangan dan mencemaskan nasibnya karena tidak tahu kapan bisa pulang.
”Meskipun banyak yang melihat situasi melalui lensa krisis energi atau ekonomi, jangan salah, ini juga krisis kemanusiaan. Para pelaut mengangkut 90 persen dari semua yang kita andalkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti makanan, obat-obatan, bahan bakar. Mereka pantas mendapatkan yang jauh lebih baik dari ini,” ujarnya. (REUTERS)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul