Respons pasar terhadap sikap politik Elon Musk tecermin pada anjloknya penjualan Tesla di Eropa. Sebaliknya, meski dikenai tarif tinggi, penjualan BYD melejit.
26 Mar 2025 12:44 WIB · Internasional
BRUSSELS, SELASA — Penjualan mobil listrik Tesla di Eropa anjlok hingga 49 persen dalam dua bulan pertama 2025. Sentimen negatif terhadap sikap politik CEO Tesla Elon Musk di Eropa dan afiliasinya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi penyebab merosotnya minat pasar Eropa itu.
Sementara itu, mobil listrik China, BYD, membukukan pendapatan 107 miliar dollar AS pada 2024, mengalahkan pendapatan Tesla yang tercatat 77,7 miliar dollar AS pada periode yang sama. Meski dikenai tarif tinggi di pasar Eropa dan AS, prospek penjualan BYD diyakini tetap melesat tahun ini.
Anjloknya penjualan Tesla ini terlihat dari data yang dilansir Asosiasi Produsen Mobil Eropa (ACEA), awal pekan ini. Dalam catatan ACEA, selama tiga bulan terakhir penjualan Tesla kurang dari 17.000 unit di wilayah Uni Eropa, Inggris, dan negara-negara Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni 28.000 unit Tesla.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/03/db964b022234a74ae59fbcd9b7bc07b4-cropped_image.png)
Penurunan ini juga terjadi ketika penjualan kendaraan listrik melonjak hingga 28,4 persen sepanjang dua bulan pertama tahun ini menjadi 255.489 unit. Dari angka tersebut, kenaikan terjadi di pasar Uni Eropa sebesar 15,2 persen.
Di dua negara Eropa, yakni Jerman dan Perancis, Tesla merasakan kemerosotan penjualan paling tinggi, yakni hampir separuhnya dibandingkan dengan tahun 2024 lalu.
Reaksi keras yang sangat kuat terjadi di Jerman setelah Musk menyuarakan dukungannya tehadap partai sayap kanan, AfD. Tak hanya karena dukungannya itu, gestur yang pernah dibuat Musk ketika menghadiri kampanye pemilihan Presiden Donald Trump menjadi hal yang sangat diingat oleh konsumen-konsumen di Jerman.
Akhir Januari, para aktivis memproyeksikan gambar besar gestur Musk dan kata ”Heil” di bagian luar pabrik Tesla di dekat Berlin.
”Jerman tetap sangat peka terhadap sejarahnya dan retorika politik Musk berpotensi beracun mengingat konsumen Tesla sebagian dimotivasi oleh masalah lingkungan,” kata analis otomotif Jerman, Matthias Schmidt.
”Tidak seorang pun ingin dikaitkan dengan perilaku Musk,” kata pakar industri otomotif Jerman, Ferdinand Dudenhoeffer.
Stiker bertuliskan pesan ”Saya membeli mobil ini sebelum Elon menjadi gila” mulai muncul di mobil Tesla Jerman, seperti di Amerika Serikat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/4433c876-3f9f-4f64-88b5-d76e060e9417_jpg.jpg)
Enrico Parano (60), seorang eksekutif perbankan di Frankfurt, menyatakan akan berpikir ulang dan sangat hati-hati sebelum membeli Tesla karena perilaku Musk. Dia juga mengaku tengah mempertimbangkan menjual saham Tesla miliknya.
Adrian, seorang dokter asal Perancis, menyatakan akan sangat menyedihkan memberi uang (dengan cara membeli mobil) kepada Musk. Akan tetapi, dia juga mengaku khawatir terjadi bencana lingkungan jika dunia menghentikan transisi ke kendaraan listrik.
Sementara penjualan Tesla anjlok, penjualan BYD melesat. Dilaporkan BYD menjual hampir 4,3 juta unit kendaraan tahun lalu, meningkat lebih dari 40 persen dibandingkan dengan penjualan tahun sebelumnya.
Pada Februari 2025 saja, secara bulanan penjualan BYD tercatat 318.000 unit, melonjak 161 persen, jauh meninggalkan Tesla yang tengah terpuruk.
Wakil Presiden BYD Stella Li mengatakan, pendaftaran untuk pembelian BYD di Eropa selama Maret dan April akan melejit. BYD juga telah meluncurkan kampanye besar-besaran, termasuk program sponsor dalam perhelatan kompetisi sepak bola Piala Eropa tahun lalu. BYD juga membuka banyak showroom di berbagai kawasan Eropa.
Tak dapat dimungkiri, BYD masih harus menavigasi langkah untuk mewujudkan ambisinya di pasar global, di tengah ketegangan geopolitik antara China dan negara-negara Barat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/09/9e779139-f547-4667-8d45-a44f42d9ab30_jpg.jpg)
Mobil listrik buatan Eropa berada di posisi yang lebih baik dibandingkan dengan Tesla. Sepanjang bulan Februari, penjualan Volkswagen (Jerman) dan Renault (Perancis) masing-masing naik empat dan 10,8 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya di pasar sejumlah negara, di antaranya kawasan UE, Inggris, dan Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa.
Sebaliknya, penjualan Stellantis (grup otomotif yang salah satunya menaungi merek-merek AS), turun hingga 16,2 persen. Hal yang sama dialami jenama asal Swedia, Volvo, yakni penurunan penjualan hingga 15 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/09/07/a1d1b6e9-c7ef-4f6f-bc01-dc6df17cf983.jpg)
Secara keseluruhan, penjualan BEV (mobil listrik berbasis baterai) naik 26,1 persen dibandingkan dengan Februari 2024. Penjualan mobil hibrida (HEV) juga mengalami peningkatan cukup besar, yakni sebesar 19 persen.
Hal ini dipandang sebagai sebuah pertanda yang bagus bagi perkembangan kendaraan listrik di masyarakat. ”Tahun 2025 dimulai dengan sangat cerah untuk pasar mobil listrik Eropa,” kata Sekretaris Jenderal E-Mobility Eropa Chris Heron.
Meningkatnya minat warga terhadap mobil listrik, menurut analisi Citi Group, disebabkan oleh target emisi UE yang baru dan peluncuran model listrik yang lebih murah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/17/13c736f9-2479-42f1-a7c5-9d02aaeaf83e_jpg.jpg)
Awal bulan Maret, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, mereka menyetujui usulan amendemen Peraturan Standar CO2 yang harus dipatuhi para produsen otomotif. Dari kepatuhan soal standar emisi tahunan menjadi tiga tahunan.
Von der Leyen menyebut tindakan tersebut adalah bagian dari upaya mereka mencapai keseimbangan, antara target menurunkan emisi, kemampuan perusahaan, dan juga target yang ditetapkan oleh perbankan.
”Kami perlu mendengarkan suara para pemangku kepentingan yang meminta lebih banyak pragmatisme di masa-masa sulit ini, dan untuk netralitas teknologi. Terutama terkait dengan target 2025 dan hukuman terkait jika terjadi ketidakpatuhan,” katanya. Fleksibilitas, menurut Von der Leyen, akan memberi ruang bernapas sedikit leluasa bagi kalangan industri.
Perubahan ini sejalan dengan kekhawatiran Direktur Jenderal ACEA Sigrid de Vrie yang menyebut permintaan pasar kendaran BEV masih di bawah tingkat yang dibutuhkan untuk transisi.
Dia menilai, Uni Eropa harus memikirkan tentang potensi pemberian insentif pajak dan pembelian bagi konsumen kendaraan listrik. Lebih jauh dia juga meminta agar UE memikirkan insentif bagi investasi stasiun pengisian listrik umum. (AFP/Reuters)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .