Gedung DRPD dan Kantor Ditlantas Polda Sumsel Dibakar, Kapolda Sumsel: Itu Kerusuhan

Puluhan pengendara motor merusak dan membakar fasilitas di DPRD Sumsel, Ditlantas Polda Sumsel, dan pos polisi di Palembang. Polisi tangkap 50 orang terkait itu.

31 Agt 2025 18:41 WIB · Politik & Hukum

Oleh Adrian Fajriansyah

PALEMBANG, KOMPAS - Puluhan pengendara sepeda motor merusak dan membakar fasilitas umum di Gedung DPRD Sumatera Selatan, kantor Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Sumsel, dan sejumlah pos polisi di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (31/8/2025) dini hari. Polda Sumsel menilai peristiwa itu tidak terkait unjuk rasa yang sedang terjadi di banyak daerah di Indonesia, melainkan kerusuhan.

"Kalau kita lihat peristiwa dini hari tadi, itu bukan aksi damai (unjuk rasa) tetapi bertujuan untuk merusuh. Peristiwa itu sangat disayangkan sehingga kami mengamankan sekitar 50 orang yang diduga merusuh," ujar Kepala Polda Sumsel Inspektur Jenderal Andi Rian Ryacudu Djajadi usai rapat bersama Gubernur Sumsel Herman Deru dan Panglima Kodam II/Sriwijaya Mayor Jenderal Ujang Darwis di Markas Polda Sumsel, Palembang, Minggu sekitar pukul 11.00 WIB.

Dalam siaran pers kronologis peristiwa yang diterima Kompas, kurang lebih 200 pengendara sepeda motor menuju Gedung DPRD Sumsel pada Minggu pukul 02.30 WIB. Sesampai di lokasi pukul 03.00 WIB, massa merusak fasilitas umum dan melakukan pembakaran di depan Gedung DPRD Sumsel.

Namun, massa dipukul mundur ke jalanan Simpang Lima, Palembang, dekat DPRD Sumsel, oleh personel Polda Sumsel dan Kodam II/Sriwijaya pada pukul 03.12 WIB. Tak lama, massa justru melakukan pengerusakan dan pembakaran pos polisi di kawasan Simpang Lima.

Kemudian, pada pukul 03.18 WIB, massa kembali menuju Gedung DPRD Sumsel dan merusak kamera pemantau (CCTV) di depan gedung. Selain itu, mereka merusak gerbang Gedung DPRD Sumsel dan memasuki halaman gedung. Selanjutnya, mereka merusak CCTV di halaman Gedung DPRD Sumsel.

Setelah itu, massa menuju markas Polda Sumsel pukul 03.36 WIB. Mereka merusak dan membakar pos polisi di bawah jembatan layang dekat Markas Polda Sumsel pukul 03.42 WIB. Tak lama, mereka melempar batu ke markas Polda Sumsel yang menyebabkan salah satu personel kepolisian mengalami luka di bagian pelipis.

Dua kendaraan roda empat milik kepolisian dan pos jaga rusak parah usai dibakar massa pengendara sepeda motor di Kantor Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Sumatera Selatan di Palembang, Minggu (31/8/2025) dini hari.

Kemudian, pada pukul 04.00 WIB, massa berpencar. Ada yang kembali menuju Gedung DPRD Sumsel dan ada yang merusak pos polisi di kawasan Simpang Patal, Palembang. Pada pukul 04.17 WIB, personel Direktorat Kriminal Umum (Ditkrimum) Polda Sumsel berhasil mengamankan 8 orang yang diduga bagian dari massa tersebut.

Akan tetapi, aksi belum berhenti. Sebagian massa melakukan pengerusakan di Kantor Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sumsel, membakar pos depan Ditlantas Polda Sumsel, dan membakar dua unit kendaraan roda empat pukul 04.20 WIB. Selanjutnya, pada pukul 04.45 WIB, massa merusak pos polisi di kawasan Simpang Rumah Susun, Palembang dekat Sungai Sekanak dan membakar satu unit kendaraan roda empat.

Atas rentetan peristiwa itu, personel Ditkrimum Polda Sumsel kembali mengamankan 34 orang lain yang diduga bagian dari massa tersebut pada pukul 04.47 WIB. Dengan demikian, hingga pukul 04.50 WIB, secara total ada 42 orang yang diduga pelaku yang diamankan kepolisian.

Berdasarkan pantauan Kompas dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB, sejumlah fasilitas yang dirusak atau dibakar oleh massa mulai dibersihkan serta diperbaiki oleh petugas. Bangkai dua kendaraan roda empat yang dibakar di kantor Ditlantas Polda Sumsel telah diangkut, tetapi bangkai satu kendaraan roda empat yang dibakar di pos polisi Simpang Rumah Susun masih tergeletak di tepi jalan.

Sejumlah warga silih berganti berdatangan untuk melihat dan mendokumentasikan lokasi yang terdampak. Secara umum, meski berita mengenai peristiwa itu cukup heboh di media sosial, masyarakat masih tetap beraktivitas seperti biasanya. Bahkan, para pelari pagi masih ramai berolahraga di jalanan sekitar Gedung DPRD Sumsel dan Kantor Ditlantas Polda Sumsel.

Dampak kerusakan di pos polisi Simpang Lima Palembang, Sumatera Selatan usai dirusak massa pengendara sepeda motor di Palembang, Minggu (31/8/2025) dini hari.

Terduga pelaku diperiksa

Andi membenarkan laporan tersebut. Akan tetapi, jumlah terduga pelaku yang diamankan bertambah jadi sekitar 50-an orang hingga kurang lebih pukul 11.00 WIB. Para terduga pelaku sebagian besar masih berusia remaja.

Sejauh ini, kepolisian masih memeriksa para terduga, antara lain mengenai motif dan adanya dugaan provokator yang menggerakkan mereka. Yang pasti, kebakaran itu kemungkinan dipicu oleh lemparan molotov.

Apalagi di sejumlah lokasi kejadian, masih ditemukan sisa bagian molotov tersebut. "Kami masih mendalami apa keterlibatan para terduga pelaku dalam peristiwa dini hari tadi, apa motifnya, dan apakah ada provokatornya," ujar Andi.

Terkait terduga pelaku yang mayoritas masih belia, Andi mengimbau kepada semua orangtua untuk menjaga anak-anak mereka agar tidak terhasut ajakan turun ke jalan. Mereka meminta pihak sekolah berkoordinasi dengan orangtua untuk membina anak-anak dengan baik.

"Ayo kita sama-sama menjaga Palembang maupun Sumsel tetap kondusif. Lagi pula, selama ini, Sumsel dikenal sebagai daerah zero conflict. Terbukti, aksi solidaritas yang dilakukan oleh pengemudi ojek daring di Palembang kemarin (Sabtu, 30/8/2025), bisa berlangsung aman dan damai," kata Andi.

Sesaat sebelumnya, Gubernur Sumsel Herman Deru berharap masyarakat tidak terprovokasi dengan peristiwa yang tidak bertanggung jawab tersebut. Dia menyerukan agar semua lapisan masyarakat memperkuat kekompakan, rasa kekeluargaan, dan toleransi.

Himbauan oleh Kepolisian Daerah Sumatera Selatan kepada warga agar tetap menjaga kondusivitas dan keamanan di Palembang usai terjadi aksi pengerusakan dan pembakaran sejumlah fasilitas umum massa pengendara sepeda motor di Palembang, Minggu (31/8/2025) dini hari.

Herman mengajak semua tokoh agama, masyarakat, adat, dan politik bisa menjadi peneduh bagi masyarakat di tengah situasi yang terjadi saat ini. "Selama ini, kita terkenal sebagai daerah zero conflict. Predikat itu tidak bisa hanya dipertahankan oleh pemerintah, tetapi butuh pula dukungan dari semua elemen masyarakat," ujarnya.

Bagi Herman, peristiwa seperti yang terjadi dini hari itu bisa merugikan masyarakat sendiri. Sebab, peristiwa itu bisa jadi citra buruk yang membuat iklim investasi dan pembangunan kendor. Kalau sudah begitu, geliat perekonomian akan lesu. "Kasihan dengan generasi penerus kita kalau kondisi itu terjadi," ujarnya.

Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sriwijaya Muhammad Husni Thamrin menuturkan, peristiwa dini hari itu boleh jadi tidak berdiri sendiri. Kemungkinan, itu dipicu oleh resonansi dari isu-isu nasional, terutama persepsi mengenai ketidakpekaan elite dan tekanan ekonomi yang sedang dialami masyarakat. Potensi resonansi itu berjumpa dengan faktor lokal, seperti jam rawan dan kerentanan pengamanan di lokasi-lokasi simbolik.

Quote

Kehati-hatian tetap diperlukan dalam menyikapi peristiwa dini hari tadi. Jangan sampai mengabaikan apalagi meremehkan berbagai kemungkinan penyebab yang ada.

Oleh karena itu, walau insiden yang terjadi tampaknya dilakukan oleh kelompok kecil yang oportunistik, semua pihak terkait harus tetap serius untuk mengantisipasi atau waspada terhadap kemungkinan efek domino yang bisa timbul. Efek seperti itu bisa muncul saat emosi publik tersulut dan mobilisasi di ruang digital kian menguat.

Dengan kata lain, aspirasi yang sah dan frustasi sosial bisa berkelindan dan bergeser menjadi tindakan destruktif. "Kehati-hatian tetap diperlukan dalam menyikapi peristiwa dini hari tadi. Jangan sampai mengabaikan apalagi meremehkan berbagai kemungkinan penyebab yang ada. Di sisi lain, kondusivitas daerah menjadi tanggung jawab bersama. Jadi, sepatutnya, pemangku kebijakan pun mengetengahkan dialog untuk menjaga dan memelihara keamanan," ujar Husni Thamrin.


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase