Mengapa Trump Tiba-tiba Umumkan Penundaan Sebagian Tarif AS?

Imbal hasil SUN AS terus naik selepas pengumuman tarif Trump. Kenaikan itu memicu kekhawatiran pada keamanan investasi di AS dan kinerja perekonomian.

10 Apr 2025 10:30 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

WASHINGTON DC, KAMIS — Gejolak di pasar obligasi atau surat utang negara menjadi salah satu penyebab penundaan tarif bea masuk impor Amerika Serikat. Pasar global bergairah selepas pengumuman penundaan tarif.

Pada Rabu (9/4/2025) siang waktu Washington DC atau Kamis dini hari WIB, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan pemberlakuan sebagian tarif bea masuk impor (BMI). Nilai BMI, yang mencapai 32 persen untuk Indonesia, tidak akan diterapkan sampai tiga bulan mendatang. Semua impor ke AS hanya akan dikenai BMI 10 persen.

Berbagai media AS menyoroti gejolak di pasar surat utang negara (SUN) sebagai alasan penundaan itu. ”Pasar obligasi sangat mengecoh. Saya mengamati itu,” kata Trump pada Rabu sore.

Pada Rabu dini hari, imbal hasil SUN AS melonjak. Imbal hasil SUN tenor 10 tahun mencapai 4,51 persen. Pekan lalu, imbal hasilnya di bawah 3,9 persen.

Sementara di tenor 30 tahun, imbal hasilnya terbang ke 5,02 persen. Sebelumnya, 4,715 persen. ”Kenaikan imbal hasil SUN berarti biaya lebih tinggi bagi perusahaan meminjam, dan tentu saja pemerintah terimbas,” kata Kepala Analis pada lembaga investasi AJ Bell, Laith Khalaf, kepada BBC.

Imbal hasil SUN tenor 10 tahun salah satu acuan penentuan bunga kredit rumah, kendaraan, sampai kartu kredit. Kenaikan imbal hasil SUN 10 persen berarti beban biaya kredit konsumen akan melonjak juga.

Imbal hasil SUN AS terus naik selepas Trump mengumumkan kenaikan BMI. Kenaikan itu memicu kekhawatiran pada keamanan investasi di AS ataupun kinerja perekonomian. Dampaknya, investor ramai-ramai melepaskan SUN AS. Penjualan besar-besaran itu mendorong kenaikan imbal hasil.

SUN AS dianggap salah satu fondasi utama pasar keuangan dan investasi global. SUN AS sejak lama dianggap salah satu sarana investasi yang aman.

SUN AS, kata Khalaf, biasanya berkinerja baik saat bursa saham bergejolak. Walakin, perang dagang yang dipicu Trump melemahkan pasar SUN AS.

Peringatan

CNN melaporkan, Menteri Keuangan AS Scott Bessent membawa isu gejolak pasar SUN ke Trump pada Rabu pagi. Sejumlah pejabat pemerintahan Trump juga menyampaikan kegelisahan serupa.

Sebelum dari Bessent, Trump telah menerima peringatan dari berbagai pihak soal dampak buruk lonjakan BMI. Salah satunya CEO JPMorgan, Jamie Dimon. Menurut Dimon, peluang resesi AS membesar selepas penerapan BMI baru.

Sejumlah petinggi perusahaan dan konglomerat juga menelepon Trump dan para pejabat pemerintahannya. Inti pesan mereka sama: AS akan resesi kalau tarif baru BMI diberlakukan.

Infografik halaman 1 Kebijakan Tarif Donald Trump

Rangkaian telepon itu, antara lain, diterima Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles. Berdasarkan telepon-telepon itu, Wiles membujuk Trump menunda pemberlakuan BMI.

Wiles, antara lain, mengaitkan dampak kerusakan akibat BMI dengan peluang kekalahan Republikan dan Trump di gelanggang politik. Sejumlah politisi Republikan cemas, resesi akibat tarif Trump membuat mereka kalah di pemilu sela pada November 2026.

Sampai Selasa, Trump berkeras tidak akan mengubah kebijakan soal BMI. Walakin, pada Rabu siang, ia mengumumkan perubahan. ”Anda harus lentur. Saya memikirkan pasar keuangan karena mereka berubah,” kata Trump.

Bursa bergairah

Selepas pengumuman Trump, bursa AS bergairah. Berbagai indeks melonjak kembali ke area positif.

Gairah juga terpantau di bursa-bursa Asia. Indonesia, Jepang, Hong Kong, sampai Australia menghijau.

Indeks Nikkei 225 di Jepang terbang 8,32 persen. Sementara Hang Seng naik 3,83 persen. Lonjakan juga terpantau di ASX 200 Australia, menghijau dengan kenaikan 4,69 persen. IHSG di Bursa Efek Indonesia juga menghijau.

Sentimen positif diperkirakan akan merambat ke Eropa. Bursa-bursa Eropa akan buka pada Kamis siang WIB.

Penguatan juga terpantau pada mata uang sejumlah negara. Rupiah ikut menguat terhadap dollar AS bersama yen Jepang, euro, hingga dollar Australia. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .