Roket Dadakan Saham Emiten Konglomerat dan Pergerakan IHSG

Manuver konglomerat pada perusahaan yang terdaftar di bursa menggiurkan bagi investor saham jangka pendek. Sementara, kondisi fundamental belum mendukung.

04 Agt 2025 09:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Erika Kurnia

Aksi korporasi milik konglomerat belakangan, dari pencatatan saham perdana hingga akuisisi perusahaan, menggairahkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan. Geliat ini mengaburkan penilaian atas kondisi fundamental perusahaan untuk jangka panjang. Sampai kapan pola perdagangan saham ini dapat bertahan?

Beberapa perusahaan terbuka yang terafiliasi konglomerat Prajogo Pangestu kembali menjadi pembicaraan di kalangan pelaku pasar saham. Ini dipicu sejumlah faktor.

Di antaranya adalah kabar rencana evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang bisa memasukkan saham terafiliasi Prajogo karena isu lonjakan nilai dan harga transaksi. Ada pula faktor pencatatan saham baru mereka di bidang investasi, yakni PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), pada awal Juli 2025.

Setidaknya dalam tiga bulan terakhir, harga saham perusahaan terafiliasi dengan Prajogo meroket. Sebut saja PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) naik 27 persen, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) naik 98 persen, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 256 persen, dan CDIA yang sempat naik hingga lebih dari 500 persen.

Presiden Prabowo Subianto mengenalkan para pengusaha nasional Prajogo Pangestu (kanan) saat menerima kunjungan pendiri Microsoft dan Gates Foundation Bill Gates di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (7/5/2025). Pertemuan itu membahas sejumlah inisiatif pembangunan berkelanjutan, khususnya pada isu kesehatan global, nutrisi, inklusi keuangan, dan infrastruktur digital publik. Kompas/Hendra A Setyawan

Sejalan dengan hal itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik hingga 9 persen sepanjang Juli 2025 dan sekitar 6 persen sejak awal 2025 hingga menyentuh level tertinggi sepanjang tahun di rentang 7.500-7.600.

Rata-rata volume transaksi harian sampai hari perdagangan Jumat (1/8/2025) mencapai Rp 13,7 triliun, melampaui target yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2025 senilai Rp 13,5 triliun. Nilai kapitalisasinya mencapai Rp 13.599 triliun dibanding kisaran Rp 12.400 triliun kendati investor asing masih banyak menjual saham di bursa RI dengan nilai jual bersih Rp 61,98 triliun.

Tumbuhnya kapitalisasi pasar meneguhkan nilai kapitalisasi saham-saham Prajogo di pasar saham RI, yang berhasil masuk dalam 20 besar saham berkapitalisasi terbesar lebih dari Rp 110 triliun per 1 Agustus 2025. Posisi mereka menggeser saham-saham yang dulu menjadi favorit investor karena fundamental yang kuat, seperti saham perbankan milik badan usaha milik negara dan saham produk konsumer yang dipakai banyak orang di Indonesia.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, contohnya, dari yang menjadi saham dengan kapitalisasi pasar terbesar keempat senilai Rp 633 triliun hingga akhir Januari 2025. Per akhir Juli, posisinya terjerembab di urutan ke-8 dengan kapitalisasi saham Rp 565 triliun.

Daftar belasan saham berkapitalisasi terbesar di Bursa Efek Indonesia per 1 Agustus 2025.

Aksi korporasi

Di tengah melejitnya kapitalisasi saham milik Prajogo, aksi korporasi konglomerat lainnya melalui kegiatan akuisisi perusahaan terbuka juga menjadi sorotan pelaku pasar. PT Dwimuria Investama Andalan (Grup Djarum) baru-baru ini menambah kepemilikannya di saham perusahaan pengembang kawasan industri dan real estate, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA).

Djarum, perusahaan milik Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, orang terkaya nomor 3 dan 4 se-Indonsia itu, memiliki saham di SSIA melampaui kepemilikan PT Chandra Asri Pacific (TPIA), perusahaan petrokimia yang juga terafiliasi konglomerat Prajogo Pangestu.

Analis Pasar Modal Stocknow.id, Hendra Wardana, kepada Kompas, Minggu (3/8/2025), menyebut, selain saham Prajogo, banyak saham konglomerat, seperti perusahaan tambang PT Amman Mineral Tbk dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), menunjukkan lonjakan transaksi dan aktif diperdagangkan karena sentimen pasar atau aksi korporasi tertentu.

Quote

Kenaikan IHSG dalam beberapa waktu terakhir memang tidak bisa dilepaskan dari animo investor terhadap saham-saham emiten yang berada di bawah kendali konglomerat besar di Indonesia.

”Kenaikan IHSG dalam beberapa waktu terakhir memang tidak bisa dilepaskan dari animo investor terhadap saham-saham emiten yang berada di bawah kendali konglomerat besar di Indonesia. Ini mencerminkan bahwa dominasi emiten-emiten konglomerat dalam struktur kapitalisasi pasar IHSG memang signifikan dan menjadi katalis penting bagi pergerakan indeks,” ujarnya.

Faktor yang membuat investor tertarik dengan saham komglomerat tersebut, menurut Hendra, adalah sentimen strategis seperti potensi aksi korporasi lanjutan serta persepsi bahwa para konglomerat ini sedang menggelar karpet merah untuk masuknya dana asing atau institusi besar. Efek viral di media sosial dan komunitas saham juga ikut mendorong animo investor ritel ikut memburu saham-saham tersebut.

Direktur Utama PT Djarum Victor Hartono berbagi cerita model bisnis dari perusahaan keluarga yang ia pimpin dalam acara Meet The Leader 5, ÒDjarum: a Story of Strategic SuccessionÓ di Universitas Paramadina di Jakarta, Sabtu ( 26/7/2025). Sebagai perusahaan keluarga, Djarum menganut model bisnis bersatu untuk maju bersama.

Di tengah euforia terhadap aksi korporasi perusahaan konglomerat yang menyedot perhatian pasar, secara fundamental, Hendra menilai tidak semua saham tersebut mencerminkan kinerja operasional yang optimal dalam jangka pendek.

”Misalnya, BRPT dan PANI masih dalam tahap ekspansi dan akumulasi aset, sedangkan AMMN memang mencetak kinerja keuangan kuat karena harga emas dan volume produksi yang tinggi. Namun, investor tampaknya tidak hanya melihat dari sisi kinerja semata, tetapi juga dari kekuatan manuver para konglomeratnya,” tuturnya.

Ia mencontohkan, Prajogo Pangestu dan keluarga Hartono dikenal piawai dalam melakukan ekspansi dan akuisisi strategis. Jejak pengalaman mereka membuat investor percaya bahwa saham-saham milik konglomerat berpotensi tumbuh jauh lebih tinggi di masa depan meskipun valuasi saat ini tampak mahal.

Ini didasarkan atas persepsi bahwa konglomerat memiliki kekuatan jaringan, akses pendanaan, dan dukungan politik atau bisnis yang kuat,

”Selama tidak terjadi guncangan besar dari sisi global, seperti tekanan dollar AS, tarif AS, atau krisis sektor tertentu, saham-saham mereka dapat terus tumbuh. Tetapi, jika tidak didukung perbaikan kinerja riil dan hanya ditopang sentimen semata, saham-saham tersebut juga rawan koreksi tajam,” ujar Hendra.

PT Barito Renewables Energy Tbk resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan nama BREN, Senin (9/10/2023). 

Bersifat sementara

Pengamat Pasar Modal Panin Sekuritas, Reydi Octa, saat dihubungi terpisah juga mengakui kontribusi transaksi pada saham emiten konglomerat berkapitalisasi besar terhadap pertumbuhan IHSG. Ini terjadi di tengah-tengah derasnya arus jual asing pada emiten dengan fundamental baik yang disebut blue chip.

”Namun, IHSG bergantung pada segelintir saham yang minim fundamental. Saya katakan minim karena reli harga yang sangat tinggi tidak didukung oleh aksi korporasi atau fundamental kuat, seperti pertumbuhan laba, merger akuisisi, atau ekspansi besar,” kata Reydi.

Fenomena maraknya transaksi saham di emiten konglomerat dinilai para analis hanya dapat bersifat sementara waktu. Kondisi ini mungkin membuat nasabah jangka pendek dapat mengambil keuntungan di tengah volatilitas harga saham.

Namun, Reydi menilai fenomena ini hanya akan berlangsung dalam jangka pendek hingga menengah. Alasannya, reli IHSG tidak menyebar ke banyak saham.

”Pemilik dana besar dari lokal ataupun asing masih wait and see untuk masuk agresif ke IHSG karena saham favorit mereka sedang menuju valuasi yang semakin murah walaupun IHSG terus menguat. Keadaan nanti diharapkan akan berbalik,” ujarnya.

Pialang Mirae Asset Sekuritas memantau pergerakan harga saham melalui layar monitor di Jakarta, Kamis (17/7/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 95 poin menjadi 7.287,02 atau menguat 1,32 persen jika dibandingkan dengan harga pada penutupan kemarin.

Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, pada Sabtu (2/8/2025) memperkirakan, level IHSG yang sesuai rata-rata kondisi fundamental seluruh saham hanya di level 6.900 atau lebih rendah beberapa ratus poin dari kondisi saat ini.

”Memang kalau kita lihat kembali lagi fundamentalnya (IHSG), tidak mendukung ke arah situ (di atas 7.000). Makanya kita masih memperkirakan IHSG itu masih tetap di level 6.900 sampai akhir tahun. Jadi, menurut kita ya bakal turun lagi (pergerakan dari yang sekarang),” tuturnya.

Sejumlah faktor menjadi pertimbangannya. Pertama, kondisi makroekonomi di semester I-2025 membingungkan pasar. Contohnya, kebijakan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat beberapa kali direvisi dan ditunda implementasinya. Kedua, proyeksi pertumbuhan ekonomi global, termasuk Indonesia, yang berubah dari pesimistis menjadi lebih optimistis.

”Misalnya, kemarin IMF menaikkan proyeksi ekonomi global dari 2,8 persen ke 3,1 persen. Jadi, karena dampak Trump memberi suspensi penerapan resiprokal membuat aktivitas perdagangan dunia meningkat. Ini juga kelihatan dari data perdagangan Indonesia yang masih surplus Rp 4,1 miliar di Juni,” katanya.

Presiden Prabowo Subianto saat bernegosiasi untuk menurunkan tarif resiprokal dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di sela-sela lawatan kenegaraannya di Eropa, Selasa (15/7/2025) malam waktu Eropa.

Hal positif yang terjadi di paruh pertama 2025 diperkirakan tidak berlanjut. Ini diperkirakan terjadi jika Trump benar-benar menerapkan tarif pada mitra dagangnya di banyak negara. Aktivitas perdagangan global dipastikan akan turun signifikan hingga akhir 2025.

Adapun kebijakan ekonomi dalam negeri, seperti penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia, dapat memberikan stimulus bagi konsumsi dan dunia usaha. Konsensus umum memperkirakan BI masih berpeluang satu kali lagi memangkas suku bunga acuan hingga 25 basis poin

Selain menimbang kondisi ekonomi secara makro, Rully mengingatkan investor tetap menganalisis fundamental emiten yang ingin dipilih. Penilaian fundamental yang dimaksud bisa dilihat dari sejumlah aspek.

Di antaranya adalah return to equity (ROE) atau pembagian laba bersih setelah pajak dengan ekuitas pemegang saham, price to earning ratio (PER) yang membandingkan harga saham dengan laba perusahaan, hingga rasio enterprise value dibagi EBITDA (EV/EBITDA Ratio).

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna, dalam keterangan tertulis beberapa minggu lalu, mengakui BEI sebagai regulator tidak memiliki kebijakan yang membedakan emiten berdasarkan kepemilikan atau afiliasi pemegang saham pengendalinya.

Namun, seluruh saham emiten wajib ditransaksikan berdasarkan prinsip keterbukaan, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulasi. ”Kami mengimbau seluruh investor agar selalu melakukan analisis yang cermat, memperhatikan aspek fundamental dan risiko investasi, serta memanfaatkan informasi yang tersedia secara publik dalam membuat keputusan investasinya,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari