Saat angin kencang dan ombak tinggi, kapal feri akan sulit bersandar dan berisiko membentur dinding dermaga.
16 Des 2024 20:00 WIB · Lingkungan
BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Gelombang tinggi di perairan Selat Sunda masih menjadi ancaman bagi penyeberangan kapal lintas Merak-Bakauheni atau sebaliknya selama masa Libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025. Keselamatan pelayaran tetap menjadi prioritas utama untuk memastikan perlindungan bagi penumpang.
General Manajer ASDP Cabang Pelabuhan Bakauheni Syamsudin menuturkan, gelombang tinggi memang menjadi faktor alam yang dapat mengganggu penyeberangan di lintas Bakauheni-Merak. Kendati begitu, ia menyebut pelayanan di Pelabuhan Bakauheni tetap berjalan normal. Pada Senin (16/12/2024), ada 28 kapal yang dijadwalkan menyeberang dari Pelabuhan Bakauheni menuju Pelabuhan Merak.
Ia mengatakan, ASDP sebagai operator akan mematuhi kebijakan yang dikeluarkan oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan sebagai pihak yang berwenang mengatur izin pelayaran kapal. ASDP juga terus memperkuat koordinasi dengan sejumlah pihak terkait, termasuk BMKG, kepolisian, dan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD).
Saat terjadi cuaca buruk, ASDP menyiapkan skema untuk melakukan penundaan sementara pelayaran kapal. ”Langkah ini dilakukan untuk memastikan operasional kapal tetap berjalan sesuai standar keselamatan,” kata Syamsudin saat dihubungi dari Bandar Lampung, Senin (16/12/2024).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/06/42e9ddc4-4e9e-4be7-8bed-24372b79cf6c_jpg.jpg)
Ia menjelaskan, gelombang tinggi memang dapat menyulitkan bongkar muat barang dan berisiko membahayakan pengguna kendaraan yang akan masuk ke dalam kapal. Saat angin kencang dan ombak tinggi, kapal feri juga akan sulit bersandar dan berisiko membentur dinding dermaga. Karena itulah, proses bongkar muat dan sandar kapal harus dilakukan dalam kondisi cuaca benar-benar baik.
Pihaknya juga telah meminta kru kapal untuk selalu menginformasikan kepada penumpang untuk berada di dalam ruangan selama kapal berlayar. Penumpang tidak diizinkan berdiri di pagar dek kapal untuk mencegah terjadinya kecelakaan laut.
Para Senin sore, ASDP menggelar rapat koordinasi lintas sektoral untuk memastikan kesiapan menyambut masa libur Natal dan Tahun Baru. Selain kesiapan sarana dan prasarana, aparat Polres Lampung Selatan dan petugas dari Dinas Perhubungan Lampung Selatan akan membantu pengaturan arus lalu lintas menuju pelabuhan.
Sebelumnya, cuaca buruk yang melanda perairan Lampung membuat Kapal Jagantara yang mengangkut 370 penumpang kandas di perairan sekitar Bakauheni, Sabtu (7/12/2024) pukul 21.20. Kapal tersebut kandas saat sedang berlayar dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, menuju Pelabuhan Merak, Banten.
Kapal tersebut sempat terombang-ambing di Perairan Selat Sunda dan akhirnya kandas di sekitar Pulau Kandang Lunik. Tim gabungan dari aparat kepolisian, TNI, dan Basarnas Lampung pun langsung bergerak ke lokasi untuk mengevakuasi seluruh penumpang dengan selamat.
Koordinator Pelayanan Data dan Informasi Stasiun Maritim Merak Tatang Rusmana memaparkan, kondisi gelombang di Perairan Selat Sunda bagian Barat saat ini berkisar 1,25 meter hingga 2,5 meter. Gelombang tinggi tersebut diprediksi masih akan terjadi hingga 3-4 hari ke depan.
Berdasarkan analisis BMKG, kemunculan bibit siklon 93S di wilayah Samudra Hindia selatan Jawa yang bergerak ke arah Barat Daya juga memicu peningkatan kecepatan angin dan tinggi gelombang di wilayah Banten. Saat ini, pola angin di wilayah Banten pada umumnya bergerak dengan kecepatan 8-30 knot.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/09/01/13725435-8e48-47e0-973a-cbe4fafdb66e.jpg)
Kondisi serupa juga terjadi di wilayah perairan Lampung. Ketinggian gelombang di perairan Selat Sunda bagian selatan berkisar 2,5 meter-4 meter. Adapun kecepatan angin mencapai 25 knot. BMKG juga mengeluarkan peringatan agar perahu nelayan, tongkang, dan feri yang melintas di wilayah perairan Selat Sunda dan sekitarnya memperhatikan kondisi ketinggian gelombang dan angin kencang.
”Saran keselamatan yang berisiko terhadap keselamatan pelayaran feri apabila kecepatan angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter,” kata Tatang.
Menjelang masa libur Natal dan Tahun Baru, BMKG terus memantau kondisi cuaca, angin, dan gelombang tinggi yang berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran. Masyarakat diminta untuk terus memantau kondisi cuaca terkini sebelum merencanakan perjalanan jauh untuk mengantisipasi gangguan selama di perjalanan.
Penulis:
Vina OktaviaEditor:
Irma Tambunan