Iran tidak meminta perpanjangan gencatan senjata. Iran mengisyaratkan bersedia melanjutkan negosiasi asalkan AS tidak lagi memblokade kapal dan pelabuhan Iran.
22 Apr 2026 17:30 WIB · Internasional
AFP/ATTA KENARE
TEHERAN, RABU — Meskipun gencatan senjata telah diperpanjang, negosiasi putaran kedua antara Amerika Serikat dan Iran masih belum pasti. Ketegangan di Selat Hormuz terus berlanjut setelah Iran menyerang kapal kontainer yang melewati Selat Hormuz, Rabu (22/4/2026).
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyatakan, kapal perang Iran menembak kapal kontainer itu tanpa memberi peringatan. Namun, kantor berita Nour News Iran melaporkan, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melepaskan tembakan setelah kapal mengabaikan peringatan yang diberikan. Tidak ada korban luka dalam serangan itu.
Insiden ini semakin menyulitkan perundingan lanjutan AS-Iran yang dimediasi Pakistan. Apalagi, sebelumnya, AS menyerang dan menyita kapal kargo berbendera Iran yang berlayar menuju pelabuhan Bandar Abbas di Iran, Minggu. Iran menganggap serangan itu sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/20/5bbe876de00618695e0978332006f64f-APTOPIX_Iran_War_137636246.jpg)
Salah satu ganjalan terbesar negosiasi putaran kedua adalah langkah AS untuk tetap memblokade kapal dan pelabuhan Iran. Hal ini memicu Iran tidak mengirim delegasinya ke Islamabad untuk negosiasi lanjutan.
Gencatan senjata semestinya berakhir, Rabu. Namun, Presiden AS Donald Trump memperpanjangnya sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Padahal, sejak jauh-jauh hari Trump telah mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran ke Iran jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan.
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan, Iran tidak meminta perpanjangan waktu gencatan senjata. Iran mempersoalkan blokade yang dilakukan oleh Angkatan Laut AS terhadap kapal dan pelabuhan Iran.
”Blokade laut yang berkelanjutan berarti melanjutkan permusuhan. Iran tidak akan membuka Selat Hormuz setidaknya selama blokade laut tetap berlaku dan akan menerobos blokade dengan paksa jika perlu,” tulis laporan itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/24/6e6e01b5e780fa95415865454f1caecd-24022026_ANU_AFP_Selat_Hormuz_mumed.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/49e37a0ac7c985c1671fd2376daf423b-20260311_GKT_AFP_Hormuz_Oil.png)
IRGC memperingatkan akan memberikan respons yang menghancurkan terhadap setiap serangan ke negara itu. IRGC tetap mewaspadai serangan musuh meskipun dalam periode gencatan senjata.
AS melakukan blokade laut setelah negosiasi putaran pertama, Sabtu (11/4/2026), gagal mencapai kesepakatan. Sebelumnya, Iran memblokade Selat Hormuz sebagai respons atas serangan gabungan AS dan Israel ke negara itu pada 28 Februari 2026.
Selat Hormuz merupakan jalur vital energi global. Sekitar 20 persen minyak mentah dunia dikirim melalui perairan sempit yang memisahkan daratan utama Iran dengan Jazirah Arab tersebut. Blokade menyumbat pasokan minyak dari negara Teluk sehingga memicu lonjakan harga minyak.
Salah satu ganjalan terbesar negosiasi putaran kedua adalah langkah AS untuk tetap memblokade kapal dan pelabuhan Iran. Hal ini memicu Iran tidak mengirimkan delegasinya dalam negosiasi lanjutan meskipun AS menyatakan telah siap mengirimkan perwakilannya ke Islamabad, Pakistan.
Utusan Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menyebutkan, pihaknya telah ”menerima beberapa tanda” bahwa AS siap untuk menghentikan blokade pelabuhan Iran. ”Segera setelah mereka melakukannya, saya pikir babak negosiasi berikutnya akan berlangsung di Islamabad,” katanya.
Di tengah perundingan putaran kedua yang masih diupayakan oleh Pakistan, AS dan Iran mengisyaratkan siap melanjutkan perang. Menurut Iravani, peningkatan eskalasi dalam perang itu bergantung pada tindakan AS berikutnya.
”Mereka yang memulai perang melawan kami dan kami siap (untuk setiap eskalasi). Jika mereka ingin duduk di meja perundingan, berdiskusi, dan mencari solusi politik, mereka akan mendapati kami siap melakukannya,” tuturnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/20/9ec4422dee9ab74f0621610e6397ce16-wires_photo_2026_04_20T090301.325.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/12/ad4fd791c49f2184a72050af67900cf9-wires_photo_2026_04_12T080149.727.jpg)
Perang di Iran telah berlangsung lebih dari tujuh pekan. Perang menewaskan sedikitnya 3.300 orang di Iran. Selain menyasar aset militer, serangan AS dan Israel juga menghantam infrastruktur sipil, seperti sekolah, rumah sakit, tempat ibadah, jembatan, dan pembangkit listrik.
Setelah mengumumkan perpanjangan gencatan senjata lewat media sosial Truth Social, Trump menyebarkan narasi tentang kerugian yang dialami Iran akibat penutupan Selat Hormuz. Ia menyebutkan, beberapa hari lalu ia didatangi beberapa orang yang memberi tahu tentang keinginan Iran membuka selat tersebut.
”Iran tidak ingin Selat Hormuz ditutup. Mereka ingin selat itu dibuka agar mereka bisa menghasilkan 500 juta dolar AS per hari (itu adalah kerugian mereka jika selat itu ditutup). Mereka hanya mengatakan ingin selat itu ditutup karena saya telah sepenuhnya memblokade. Jadi, mereka hanya ingin menyelamatkan muka,” tulis Trump.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menekankan, konflik berkelanjutan tidak menguntungkan pihak mana pun. Namun, ia menyatakan, diperlukan ketegasan dalam melawan ketidakadilan yang disebabkan oleh agresi AS dan Israel.
Pezeshkian menambahkan, setelah berakhirnya perang, negara juga akan menghadapi tantangan dalam rekonstruksi, mengalokasikan sumber daya keuangan, dan menjaga stabilitas pasar. Ia mengapresiasi dukungan rakyat Iran terhadap pemerintah di tengah perang yang berkecamuk.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyampaikan, pihaknya masih berupaya agar penyelesaian konflik AS-Iran dapat diselesaikan melalui negosiasi. Ia berharap kedua belah pihak mematuhi gencatan senjata dan mencapai kesepakatan perdamaian yang komprehensif selama perundingan putaran kedua. (AP/REUTERS/AFP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra