Gencatan Senjata Hamas-Israel Tercapai, AS Turunkan Pasukan Pengawas

Sandera akan dibebaskan dalam  72 jam ke depan, dilanjutkan pembebasan tahanan Palestina. Trump akan ke Timur Tengah.

10 Okt 2025 08:37 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

SHARM EL-SHEIKH, JUMAT — Hamas akhirnya mengatakan perang telah usai dengan kesepakatan antara mereka dan Israel. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan ke Timur Tengah, Minggu (12/10/2025). Laporan kantor berita Associated Press, Jumat (10/10/2025), menyebutkan, AS berencana mengirimkan pasukan berkekuatan 200 tentara untuk awasi proses perdamaian di Gaza.

Pemimpin delegasi Hamas, Khalil Al-Hayya, mengumumkan dalam pidatonya, Kamis (9/10/2025). Israel akan membebaskan 2.000 tawanan Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak. 

”Kami umumkan bahwa hari ini, kita telah meraih kesepakatan yang menghentikan perang dan agresi terhadap rakyat kita,” kata Hayya.

Menurut Hayya, Israel akan menarik pasukan dari Jalur Gaza. Namun, belum ada penjelasan apakah pasukan Israel akan pergi dari semua wilayah Gaza atau masih ada tempat-tempat tertentu yang mereka duduki.

Smoke rises following an Israeli army shelling in central Gaza Strip, Saturday, Oct. 4, 2025.(AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Dia menambahkan, kelima gerbang pelintasan Gaza akan dibuka. Ini termasuk Gerbang Rafah di perbatasan Gaza dengan Mesir. Gerbang Rafah dibuka demi melancarkan aliran bantuan sosial untuk warga Gaza.

Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Kemanusiaan Tom Fletcher menyambut baik kabar tersebut. Ia mengatakan, ada 170.000 ton bantuan berupa makanan, obat-obatan, alat kesehatan, tenda, dan selimut yang siap disalurkan ke Gaza.

Meskipun begitu, Hamas belum mengumumkan sikap mereka terhadap poin-poin lain dalam perjanjian gencatan senjata. Poin itu antara lain mengenai perlucutan senjata dan penyerahan pengelolaan sementara Jalur Gaza kepada dewan pengelola. Dewan itu dipimpin oleh Presiden AS Donald Trump dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair.

Pembebasan sandera

Dari Israel, Tel Aviv mengumumkan akan menarik pasukan dari Koridor Netzarim. Namun, pasukan Israel masih akan menduduki 53 persen wilayah Gaza sampai semua sandera dipulangkan.

Hamas harus mengembalikan 48 sandera yang mereka tawan dalam kurun 72 jam. Sebanyak 28 sandera di antaranya sudah tewas sehingga diperkirakan butuh waktu lebih banyak untuk mengumpulkan jasad mereka.

Menurut rencana, Hamas menyerahkan para sandera ke Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Mereka lalu menyerahkan sandera kepada militer Israel untuk dibawal pulang ke Israel, tepatnya ke pangkalan militer Re’im. Di sana, keluarga para sandera menunggu kepulangan kerabat mereka.

Demonstrators gather during an anti-government protest organised by the families of the Israeli hostages taken captive in the Gaza Strip since the October 2023, marking 722 days of the ongoing war between Israel and Palestinian militant movement Hamas, calling for a ceasefire and for action to secure the hostages' release, outside the Tel Aviv Museum of Art (known as the "Hostages' Square") in Tel Aviv on September 27, 2025. Of the 251 hostages seized during Hamas's October 2023 attack that sparked the war, Palestinian militants still hold 47 in Gaza, including 25 the Israeli military says are dead. (Photo by Jack GUEZ / AFP)

Setelah sandera-sandera dipulangkan, Israel baru membebaskan 2.000 warga Palestina yang ditahan. Meskipun begitu, ada protokol tambahan apabila ada jasad sandera yang tidak bisa dipulangkan.

Media Israel, Channel 12, mengklaim memegang naskah perjanjian pemulangan sandera. Mereka melaporkan, ada beberapa jasad sandera yang sudah tidak diketahui keberadaannya. Baik militer Israel maupun Hamas belum mengumumkan langkah yang akan mereka ambil jika hal itu terjadi.

Trump ke Timur Tengah

Di Washington DC, Trump mengatakan, ia gembira dengan perkembangan gencatan senjata. Apalagi, peristiwanya berdekatan dengan pengumuman anugerah Nobel Perdamaian, Jumat.

”Saya tidak mengharapkan apa pun. Yang penting konflik selesai,” katanya.

Trump dijadwalkan berkunjung ke Timur Tengah pada Minggu, tetapi belum jelas negara mana yang akan ia tuju. Kemungkinan besar adalah Mesir karena Presiden Abdel Fatah el-Sisi menyampaikan undangan agar Trump datang dan menyaksikan peristiwa bersejarah gencatan senjata itu.

”Banyak yang menganggap mustahil saya menyelesaikan konflik di Palestina. Ternyata bisa. Sekarang, perdamaian abadi datang ke Gaza,” kata Trump.

WASHINGTON, DC - SEPTEMBER 29: Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu (L) and U.S. President Donald Trump hold a joint news conference in the State Dining Room at the White House on September 29, 2025 in Washington, DC. President Trump welcomed Netanyahu for his fourth visit to the White House, where the two leaders met to discuss the latest U.S. backed plans to end the war in Gaza and secure the release of the remaining hostages held by Hamas.   Alex Wong/Getty Images/AFP (Photo by ALEX WONG / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

AS juga akan mengirim pasukan ke Timur Tengah. Namun, seorang pejabat militer yang dirahasiakan namanya mengatakan, sebanyak 200 tentara AS itu tidak akan menginjakkan kaki di Gaza. Belum diketahui di mana mereka akan ditempatkan.

Pasukan AS itu bagian dari pasukan gabungan yang terdiri dari Mesir, Qatar, Turki, dan negara-negara lain. Persoalannya, belum diketahui pula apakah mereka sudah menerima mandat dari Dewan Keamanan PBB. Aturan internasional mengamanatkan, pengiriman pasukan asing ke suatu negara hanya boleh melalui jalur pasukan penjaga perdamaian PBB.

Sejumlah pemimpin dunia mengirim ucapan terima kasih dan selamat atas tercapainya perjanjian gencatan senjata ini. ”Saya menyambut baik gencatan senjata dan pembebasan sandera yang diprakarsai oleh Trump,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Presiden Perancis Emmanuel Macron juga menyambut baik perjanjian itu. ”Harap semua pihak yang terlibat menjalankan tugas mereka sesuai kesepakatan,” tuturnya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memuji Trump. Ia mengucapkan terima kasih atas kemauan politik Trump sehingga bisa menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu supaya menyetujui proposal perdamaian.

Awalnya, Netanyahu berusaha menghindar dari proposal itu. Di Sidang Majelis Umum PBB, September lalu, Netanyahu mengatakan tidak mau mengakui kemerdekaan Palestina dan Solusi Dua Negara. Ia juga menyebut Trump sebagai kawan baik Israel.

Namun, Trump tampaknya mulai kehilangan kesabaran terhadap Netanyahu. Pemicunya ialah serangan pesawat nirawak Israel ke Doha, Qatar, pada awal September.

Serangan itu menewaskan lima anggota delegasi Hamas dan satu petugas keamanan Qatar. Doha marah karena kedaulatan mereka dilanggar, apalagi Qatar salah satu sekutu AS di Timur Tengah. 

Khaled Elgindy, pengamat isu Timur Tengah di Universitas Georgetown, menjelaskan kepada media Huff Post, perjanjian ini belum final. Ia melihat, perjanjian ini sangat berat kepada Hamas yang dituduh sebagai penyebab konflik akibat serangan Badai Aqsa 7 Oktober 2023.

Menurut Elgindy, ada keabaian mengakui bahwa konflik Palestina-Israel sudah terjadi jauh sebelum 2023. Hamas bukan penyebab tunggal konflik, melainkan dampak perlawanan dari penjajahan dan agresi Israel atas Palestina selama ini.

”Kita harus pantau perkembangannya. Jangan sampai Israel menciptakan dalih-dalih baru untuk mengokupasi Palestina,” katanya.

(AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan