Puluhan tahun keliling dunia, ia banyak mendokumentasikan konflik dan kehidupan penuh drama kemanusiaan. Di masa senjanya ia mengajak dunia lebih berpihak pada alam.
27 Mei 2025 06:00 WIB · Klinik Foto
Walaupun telah terkenal sebagai fotografer dengan karya yang hebat, Sabastiao Salgado membuat dunia tercengang dengan foto petambang emas ilegal di Serra Pelada, Brasil, pada tahun 1986. Dalam pameran ”Gold-Serra Pelada Gold Mine” Salgado menampilkan rekaman visual perjalanannya ke Distrik Serra Pelada, di mana selama satu bulan ia tinggal dan menyaksikan secara langsung kehidupan sehari-hari penggalian emas dan seluruh lanskap sosial yang terbentuk di sekitar ekstraksi logam mulia tersebut.
Serra Pelada mulai dibuka pada tahun 1979, saat seorang anak yang berenang di sungai, secara tidak sengaja menemukan bongkahan emas sebesar 6 gram. Lokasi ini segera berkembang menjadi pertambangan terbuka terbesar dan terganas di dunia. Melihat karya dokumentasi Salgado di tempat ini, sangat bisa merekontruksi situasi pada masa itu. Puluhan ribu kaki terjebak di lumpur dan mimpi. Hening dan tanpa suara mesin, hanya gesekan sekop yang digerakkan tangan terasa dari foto-foto karya Salgado.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/fb9cc12b700eb5d44604a3aa5bca59d8-20250526KLIK04.jpg)
Kehadiran manusia dalam jumlah besar, dalam barisan panjang, berlumuran lumpur, dan berdesakan di sekitar lubang yang digali di tanah menunjukkan kesulitan dan ketidakpastian. Dalam perspekstif yang lain, mirip seperti sarang semut di hutan Amazon. Foto hitam putih Sebastio Salgado ini berkontribusi untuk mendokumentasikan dan meningkatkan kesadaran tentang kondisi penambangan liar di Brasil dan di seluruh dunia.
Pada tahun 1991, seusai Perang Teluk pertama berakhir, Salgado mencoba masuk Kuwait yang masih diwarnai kebakaran tambang minyak mereka. Untuk masuk ke negara itu, ia memulai dari ke Arab Saudi dan menyewa mobil berpenggerak empat roda sewarna pasir agar mirip warna kendaraan tentara Amerika Serikat.
Salgado menggambarkan suasana saat itu ibarat berada di teater besar seukuran Bumi dengan sumur minyak yang terbakar di sekelilingnya. Pekatnya asap kebakaran membuat selama berhari-hari sinar matahari tidak dapat menembusnya.
Kebakaran yang melibatkan sekitar 700 sumur yang dipenuhi minyak, merupakan salah satu bencana lingkungan terburuk yang pernah ada. Situasinya juga berbahaya, ia bahkan menyaksikan seorang jurnalis dan seorang fotografer tewas terkena tumpahan minyak dan terbakar saat mereka menyeberanginya.
Sebuah foto berhasil ia dokumentasikan saat bersama sekelompok petugas pemadam kebakaran spesialis dari Kanada, yang mencoba menangani sumur minyak yang terbakar. Ia merekam perjuangan para petugas pemadam mengatasi situasi kacau yang banyak terjadi di tambang minyak di Kuwait.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/bf9c202163d20c9f53ba48304cf143f0-20250526KLIK03.jpg)
Kuwait berada di titik terendah dari ladang minyak Timur Tengah yang luas, sehingga tekanannya sangat besar dan mendorong minyak keluar dengan kuat. Ia menggambarkan situasinya gelap gulita, bahkan tidak dapat mendengar siapa pun berbicara.
Panasnya suhu akibat minyak yang terbakar membuat salah satu lensanya melengkung dan rusak. Dua lensa yang tersisa berukuran 35 mm dan 60 mm memaksanya untuk selalu dekat dengan subyek fotonya. Sebuah foto seorang pemadam yang ”terdiam” melihat gumpalan api keluar dari pipa yang baru saja terbakar menyiratkan usaha dan perjuangan serta risiko para pemadam ini.
Namun bagi Salgado, ada satu foto yang menurut dia istimewa, foto upaya luar biasa dari dua orang yang mencoba menutup sumur. Tubuh mereka tertutup minyak dan salah satu dari mereka berdiri seperti patung yang menghitam.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/24/a641c2f22ccf08b2504fa314b32c6cb4-000_47XX7XN.jpg)
Melihat karya Salgado, kita akan dihadapkan pada gambar nyata kehidupan dalam format hita putih. Semua karyanya dibuat dalam hitam putih. Pilihan pada warna monokrom ini menyiratkan dari dua kualitas lain yang dimiliki Salgado, kesabaran dan rasa ingin tahu.
Kesabaran dan konsentrasi yang dibutuhkan untuk tetap berada di satu tempat, mencoba melihat lebih jauh dari kesan pertama, serta memaksa diri untuk melihat subyek dengan cara yang berbeda. Mengamati dalam alam cahaya yang berbeda, lalu kembali dan melihat lagi, adalah kualitas penting dalam diri seniman hebat mana pun.
Kesabarannya merupakan suatu sikap yang jarang terjadi, dan mungkin bahkan lebih jarang terjadi dalam masyarakat modern kita yang kini terus-menerus menuntut kepuasan instan. Berminggu-minggu, bukan hitungan jam yang dihabiskan di Serra Pelada, yang memungkinkan Salgado untuk menyelami lebih dalam, melampaui hal-hal yang dangkal, dan menghubungkan kita dengan gagasan tentang kerja, martabatnya, dan degradasinya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/ca4081221c7494a77783b7c064ae4155-20250526KLIK05.jpg)
Salgado memiliki ketertarikan yang mendalam dengan subyeknya, dengan manusia dan cara mereka berusaha untuk bertahan hidup. Dalam pikirannya adalah untuk melihat dan tidak berpaling, untuk terus melihat dan mengatur subyek di depan kameranya menjadi pola yang menekankan dan memperjelas makna yang telah diramalkannya, cerita yang ingin disampaikannya.
Penggambaran Salgado tentang skala lanskap adalah sesuatu yang mungkin pernah kita alami dalam foto-foto hitam putih format besar Taman Nasional Yosemite karya Ansel Adams. Namun di sini, hal yang monumental itu disampaikan melalui kamera genggam 35 mm milik seorang jurnalis.
Kesabaran, rasa ingin tahu, komitmen, dan penguasaan teknik dipadukan dengan kemampuan untuk memadukannya menjadi narasi yang mengharukan. Keinginan untuk mengeksplorasi tesis yang dipegang teguh tentang dunia yang berubah dan kemudian mengomunikasikannya, membuatnya relevan dengan pemahaman kita tentang perubahan geopolitik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/24/6061a84ec9e130bd0e8b8e6ef13daa48-000_47XJ6EC.jpg)
Dalam perjalanan kariernya, segudang karya telah dihasilnya seorang Salgado, tetapi tercatat setidaknya ada tiga proyek jangka panjang yang menonjol. Buku berjudul Worker yang diterbitkan pada tahun 1993, berisi perjalanan Salgado mendokumentasikan cara hidup pekerja manual yang mulai menghilang di seluruh dunia. Buku ini merekam aktivitas pekerja di 23 negara, termasuk Indonesia. Foto dua petambang belerang di dasar kawah Gunung Ijen yang penuh asap belerang membuka seri dokumentasinya tentang Indonesia.
Delapan foto yang dipilih berusaha menggambarkan perjuangan pekerja mengambil belerang dari dasar kawah, yang diangkut dengan cara dipikul, menyusuri jalan berbatu ke puncak gunung sampai di pengepul. Dalam buku ini, seri dokumentasi tentang petambang Ijen dilanjutkan dengan seri dokumentasi penambangan emas ilegal di Serra Palada.
Karya monumental lain dari Salgado adalah Exodus yang juga dikenal sebagai Migrations atau Sahel, yang mendokumentasikan orang-orang yang sedang transit, termasuk pengungsi dan penduduk daerah kumuh. Banyak kisah pergerakan manusia yang menegangkan di seluruh dunia dalam buku ini. Negara Rwanda menjadi salah satu seri di buku ini, yang menggambarkan orang-orang yang meninggalkan rumah mereka dan menceritakan kisah yang sama: kekurangan, kesulitan, dan secercah harapan, yang wakili foto perjalanan yang keras dan fisik yang hebat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/915bda63327963c69505db1475dceea1-20250526KLIK02.jpg)
Salgado menghabiskan 6 tahun bersama orang-orang migran, mengunjungi lebih dari 35 negara untuk mendokumentasikan perpindahan di jalan, di kamp pengungsian, dan di daerah kumuh kota yang penuh sesak tempat para pendatang baru. Proyeknya meliputi orang-orang Amerika Latin yang memasuki Amerika Serikat, orang-orang Yahudi yang meninggalkan bekas Uni Soviet, orang-orang Kosovo yang melarikan diri ke Albania, para pengungsi Hutu dari Rwanda, serta ”manusia perahu” pertama dari orang-orang Arab dan Afrika sub-Sahara yang mencoba mencapai Eropa melalui Laut Tengah.
Karya terbesar terakhir dari Salgado adalah proyek Genesis. Seri ini banyak menggugah dan mempertanyakan hubungan kita (manusia) dengan Bumi dan sumber dayanya. Ini berbeda dari seri-seri sebelumnya yang menunjukkan dunia tentang konflik dan perjuangan keras manusia untuk bertahan hidup.
Melalui Genesis ia mengarahkan perhatian dan keberpihakan dunia kepada alam, kepada keindahan alam. Ini juga dibarengi dengan usaha Salgado mengupayakan penanaman pohon di lahan pertanian milik keluarganya di Brasil dalam rangka menghidupkan kembali daerah yang telah mengalami penggundulan hutan. Salgado dan istrinya, Leila Wanick, mendirikan Instituto Terra, yang mempromosikan reboisasi dan pendidikan lingkungan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/fbc56497ead49384ddaba2d8a5c508fa-20250526SETA.jpg)
Sejauh ini, Instituto Terra telah menanam lebih dari 3 juta pohon di kota Aimores, yang terletak di daerah yang dulunya agak sepi di perdesaan Negara Bagian Minas Gerais, Brasil, tanah kelahiran Salgado. Upaya Instituto Terra untuk menghidupkan kembali hutan yang menghilang di Minas Gerais, sukses dan diikuti oleh lebih dari 3.000 pemilik tanah.
Genesis ini dikerjakan selama delapan tahun (2004-2012) bersama istrinya. Proyek ini merupakan perjalanan visual ke bagian-bagian dunia yang masih alami, dengan tujuan utama untuk menunjukkan keindahan dan keragaman planet ini sebelum dampak besar dari peradaban modern. Dibantu Terra Instituto, pasangan itu melakukan lebih dari 30 perjalanan dengan berjalan kaki, pesawat ringan, kapal laut, kano, dan bahkan balon udara, untuk menciptakan koleksi foto yang menunjukkan keindahan alam, hewan dan masyarakat adat yang menakjubkan. Mereka juga mengajak dunia membalikkan kerusakan yang ada dan melestarikannya untuk masa depan.
Papua yang diwakili kehidupan suku Korowai yang didatangi Salgado pada tahun 2010 dan suku Mentawai di Sumatera yang juga didatangi Salgado pada tahun 2008 mewakili Indonesia dalam proyek ”Genenis”.
Kehidupan unik suku Korowai di tengah hutan Papua digambarkan detail dalam buku ini lewat seri dokumentasi foto. Suku Korowai yang awalnya mempunyai ciri khas rumah di atas pohon ini diabadikan sebanyak 36 foto yang menggambarkan flora, fauna, serta kebiasaan sehari-hari suku dalam bertahan hidup. Foto seorang anggota suku yang memanggul babi hutan hasil buruan, memanggul biawak, ataupun saat membuat sagu dan bagaimana suku ini membangun rumah mereka yang berada di ketinggian digambarkan lewat foto hitam putih.
Adapun suku Mentawai digambarkan dalam buku Genesis dalam 13 foto. Keindahan alam, serta budaya mencari ikan dengan cara menjaring ataupun dengan akar-akar pohon menjadi cerita utama suku di pedalaman pesisir Sumatera Barat ini. Keterampilan berburu serta ciri khas tato di badan suku Mentawai tergambar dari pilihan foto yang ditampilkan.
Pada tahun 2015, Salgado menerbitkan buku berjudul The Scent of A Dream, Travels in The World of Coffee. Berbeda dengan buku-bukunya terdahulu, buku bertema kopi ini lebih ringan isinya. Menampilkan industrialisasi kopi dari berbagai sisi, terutama kehidupan petani dan perkebunan kopi di berbagai belahan dunia. Buku ini dibuat di saat Salgado memasuki masa pensiun dari kegiatan memotret keliling dunia.
Indonesia yang menjadi salah satu produsen kopi dunia juga turut mewarnai isi buku ini. Tercatat Salgado mendokumentasikan kehidupan petani di perkebunan kopi di beberapa wilayah, seperti Dataran Tinggi Gayo, Toraja, dan sejumlah wilayah lain di Pulau Sumatera.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/1f083a444bcd374b9119cefaa34b3afc-20250526SETB.jpg)
Saat kedatangannya di Indonesia pada tahun 2010, Salgado menderita malaria yang didapatnya saat berada di pedalaman hutan Papua. Komplikasi yang parah karena malaria telah menyebabkan penyakit leukimia yang mengakhiri bakti Sebastian Salgado terhadap alam.
Salgado meninggal di usia 81 tahun. Berita duka ini diumumkan oleh Akademi Seni Rupa Perancis dan Instituto Terra pada Jumat (23/5/2025). Kepergiannya bukan hanya kehilangan besar bagi dunia foto jurnalistik dan dokumenter, melainkan juga bagi alam yang menjadi perhatian di akhir hayatnya. Dan buku Genesis seolah menjadi surat cinta Salgado untuk berpamitan pada planet Bumi.
Penulis:
Danu Kusworo, Iwan SetiyawanEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul