GOLAZO PIALA DUNIA

Gol Charlton Membuka Jalan Juara Skuad ”Tiga Singa”

Gol spektakuler Bobby Charlton ke gawang Meksiko di laga kedua Grup 1 Piala Dunia 1966 menjadi pembuka jalan juara skuad ”Tiga Singa”, satu-satunya gelar Inggris.

12 Jun 2026 07:10 WIB · Olahraga

AFP/File

Oleh Agung Setyahadi

Inggris mengawali persaingan Piala Dunia 1966 dengan hujan kritik menyusul hasil 0-0 melawan Uruguay pada laga pertama Grup 1 di Stadion Wembley, London, Inggris.

Pelatih Alf Ramsey jadi sasaran kritik pedas atas tatktiknya yang gagal mengoyak pertahanan gerendel ”La Celeste” dengan menempatkan delapan pemain di depan gawang. Gempuran Roger Hunt, Jimmy Greaves, John Connelly, dan Bobby Charlton semuanya terpental membentur tembok pertahanan Uruguay.

Laga imbang di Wembley yang dipadati oleh suporter Inggris itu menjadi alarm nyaring bagi Ramsey karena dua laga berikutnya tidak mudah, melawan Meksiko dan Perancis. Posisi Inggris bisa terjepit jika kalah atau kembali imbang melawan Meksiko di laga kedua. Adapun Uruguay mengalahkan Perancis, 2-1, di laga kedua mereka, sehari sebelum laga Inggris vs Meksiko.

”El Tri”, julukan Meksiko, bukanlah lawan yang mudah. Mereka mampu unggul lebih dulu saat melawan Perancis di laga pertama, sebelum ”Les Blues” menyamakan kedudukan 1-1. Namun, Inggris bermain dengan pola yang sama. Hanya ada perubahan kecil dengan mengganti John Connelly dengan Terry Paine.

Laga pada 16 Juli 1966 di Wembley itu menjadi tonggak krusial kebangkitan Inggris dalam perburuan gelar juara. Laga ini pun abadi karena Bobby Charlton mencetak gol spektakuler dari jarak 23 meter yang membuat Wembley bergemuruh.

Gol ini diawali intersep umpan Arturo Chairez oleh Martin Peters dengan sentuhan ujung kaki kanannya. Bola mendarat di kaki Roger Hunt yang segera diteruskan ke Charlton sebelum melewati tengah lapangan.

Peristiwa paling penting dalam sejarah sepak bola Inggris ketika kapten tim, Bobby Charlton (tengah), mengangkat Piala Jules Rimet setelah mengalahkan Jerman Barat 4-2 di Stadion Wembley, London, Inggris, Juli 1966.

Gelandang serang Inggris dan Manchester United itu pun menggiring bola melewati adangan para pemain Meksiko. Charlton dengan tenang bergerak ke kanan menghindari bek tengah El Tri, Gustavo Pena, dan tanpa disangka melepaskan tendangan kaki kanan dari jarak 23 meter. Bola meluncur deras ke gawang Meksiko tanpa mampu dihentikan oleh kiper Ignacio Calderon.

”Gol Bobby Charlton merupakan gol terbaik Inggris yang pernah saya saksikan,” ujar Terry Paine yang bermain di sisi luar kanan saat melawan Meksiko.

Menguapkan tekanan

Gol di menit ke-37 itu menguapkan seluruh tekanan pada skuad tim ”Tiga Singa” sehingga mereka bermain dengan lebih tenang dan sangat percaya diri. Laga itu diakhiri dengan kemenangan Inggris, 2-0, setelah striker Roger Hunt mencetak gol kedua pada menit ke-75.

Kemenangan ini mulai menghapus atmosfer ketidakpastian yang mengiringi skuad Tiga Singa di awal Piala Dunia 1966. Dalam laga ketiga grup melawan Perancis, mereka bermain kolektif. Lini pertahanan mereka pun tampil solid di bawah komando kapten Bobby Moore.

Quote

Jalan hidup saya benar-benar merupakan keajaiban yang diberikan kepada saya. Mengapa, saya tidak bisa menjelaskan itu.

Hunt mencetak dua gol tanpa balas ke gawang Perancis. Kemenangan ini menempatkan Inggris di puncak Grup 1 dan bertemu dengan Argentina di perempat final.

Laga babak delapan besar itulah yang melahirkan rivalitas panas Inggris dan Argentina karena kontroversi keputusan wasit atas pengusiran Antonio Rattin dan gol Geoff Hurst. Seluruh penggemar Argentina akan sepakat bahwa gol pada menit ke-78 itu dicetak dalam posisi off-side.

Infografik Gol Bobby Charlton pada Penyisihan Grup Piala Dunia 1966

Dalam ulasan The Guardian terkait laga itu, disebutkan bahwa surat kabar Italia Il Messaggero menulis sebuah artikel dengan judul ”Skandal di London – terlalu banyak favoritisme untuk tim Inggris”. Tulisan itu menggambarkan pengusiran Rattín sebagai ”ketidakadilan kolosal yang menyinggung esensi olahraga itu sendiri” dan ”berhasil membuat tim Inggris dibenci secara tulus dan pasti oleh semua orang yang tidak dibutakan oleh fanatisme”.

Namun, selalu ada dua sisi dalam setiap peristiwa. Wasit Rudolf Kreitlein—yang dikawal oleh polisi saat meninggalkan lapangan—menilai Rattin melakukan pelanggaran etik sehingga diusir pada babak pertama.

”Saya hanya ingin melupakan seluruh pengalaman mengerikan itu. Pertandingan itu adalah pertandingan terkasar yang pernah saya pimpin. Itu mengerikan, memalukan. Saya mengusir Rattin karena dia mengikuti saya dan berteriak kepada saya. Saya tidak punya pilihan. Dia mencoba menjadi wasit,” ujar Kreitlein.

Kapten Inggris, Bobby Moore, juga mengaku bahwa para pemain Argentina bermain kotor. ”Mereka menarik rambutmu, meludahimu, mencolok matamu, dan menendangmu ketika bola berada jauh dan tidak ada yang melihat. Saya hanya mengatakan, satu-satunya cara untuk menghadapi mereka adalah dengan mengalahkan para pecundang itu. Itulah yang akan menyakiti mereka,” ucap Moore.

Di tengah kontroversi itu, skuad Tiga Singa tetap fokus pada misi mereka meraih gelar juara. Lawan mereka di semifinal sangat kuat, Portugal yang memiliki ”Black Panther” Eusebio. Dalam laga ini, Charlton menjadi pemain bintang dengan mencetak dua gol kemenangan 2-1 untuk Inggris. Eusebio menceploskan satu gol, tetapi itu tidak cukup untuk menghentikan laju Tiga Singa.

Inggris bertemu dengan Jerman Barat di final. Pada laga itu, Charlton menunjukkan kematangan dirinya dengan mengikuti instruksi Alf Ramsey untuk mengawal Franz Beckenbauer. Demikian sebaliknya, ”Der Kaizer” pun ditugaskan meredam Charlton. Mereka mengorbankan diri untuk kepentingan tim.

Kapten  tim nasional Inggris, Bobby Moore (1941-1993), didampingi kiper Gordon Banks, memamerkan trofi Jules Rimet setelah Inggris mengalahkan Jerman Barat di final Piala Dunia 1966 pada  30 Juli 1966 di Stadion Wembley, London, Inggris.

Laga final ini membuat suporter Inggris senam jantung. Saat gelar juara sudah di depan mata, Jerman menyamakan kedudukan 2-2 melalui Wolfgang Weber pada menit ke-89. Laga pun berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Babak inilah yang menciptakan kontroversi lain yang melibatkan Inggris, yaitu ”Gol Hantu” yang dicetak Geoff Hurst pada menit ke-101.

Kontroversi

Hurst menerima umpan silang Alan Ball, mengontrol bola dan melepaskan tendangan keras. Bola membentur mistar gawang dan memantul ke dekat garis gawang. Wasit asal Swiss, Gottfried Dienst, menilainya sebagai sebuah gol. Ia diprotes keras oleh para pemain Jerman karena meyakini bola belum sepenuhnya melewati garis gawang.

Dienst lantas berkosultasi dengan wasit asal Soviet, Tofiq Bahramov.  Dienst kemudian menunjuk titik tengah lapangan, gol Inggris tercipta, dan Wembley pun bergemuruh. Hurst kembali mencetak gol pada menit ke-120 yang menjadikan dirinya satu-satunya pemain yang mencetak hat-trick di final Piala Dunia.

Beckenbauer, dalam wawancara dengan Daily Sport, mengenang momen itu dan mengakui bahwa dia sangat dekat dengan gawang. Ia melihat bola belum melewati garis gawang.

”Saya sangat dekat. Bola menyentuh garis gawang, tetapi tidak sepenuhnya melewati itu. Maka, itu bukan gol. Kami tak bisa menyalahkan wasit atau hakim garis karena itu terjadi sangat cepat,” ujar Der Kaizer pada 2016.

Namun, bagi Beckenbauer, momen paling melegakan bagi dirinya dalam laga itu adalah saat mendengar peluit akhir laga. ”Momen terindah laga itu bagi saya adalah peluit akhir. Itu karena tugas saya adalah menjaga Bobby Charlton yang berlangsung selama 120 menit. Untuk memenangi pertarungan individu itu, saya harus menaikkan performa saya hingga limit, bahkan lebih,” ucap Beckenbauer.

Pelatih tim Jerman Barat Franz Beckenbauer bersama para pemain menjelang penyerahan tropi Piala Dunia 1990 Italia. Kompas/Kartono Ryadi (KR)

Kemenangan 4-2 Inggris pada 30 Juli 1966 di Wembley itu disebut oleh Charlton sebagai ”permata hari-hariku”. Dalam laga itu dia berkorban untuk memenangi Piala Dunia yang hingga kini belum mampu diulang oleh Inggris.

Momen itu juga menjadi pencapaian besar Charlton karena mampu bangkit dari tragedi kecelakaan pesawat di Muenchen pada 1958 yang menewaskan 20 penumpang, delapan di antaranya rekan setimnya di Manchester United. Dia mengatasi traumanya dengan bermain sebaik mungkin untuk rekan-rekannya yang meninggal.

Charlton bersinar bersama Manchester United dan membawa Inggris meraih gelar juara Dunia. ”Jalan hidup saya benar-benar merupakan keajaiban yang diberikan kepada saya. Mengapa, saya tidak bisa menjelaskan itu. Tetapi, di Muenchen pada 1958 saya belajar bahwa bahkan keajaiban pun datang dengan harga yang harus dibayar,” tulis Sir Bobby Charlton dalam pengantar otobiografinya, My Manchester United Years (2007).


Kerabat Kerja

Penulis:

Agung Setyahadi
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra