Komisi V mengingatkan agar korban bencana Sumatera harus segera ditangani. Jangan sampai korban yang sehat menjadi sakit karena kondisi lapangan.
08 Des 2025 19:43 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH
JAKARTA, KOMPAS — Waktu emas atau golden time evakuasi bencana Sumatera telah terlewati. Pemerintah dituntut bekerja lebih cepat guna menjaga kondisi warga terdampak. Pencarian harus tetap berlanjut meski korban sulit diidentifikasi sembari memperbaiki jalan dan jembatan yang terdampak.
Memasuki hari ke-14 setelah bencana banjir dan tanah longsor menimpa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) akan fokus pada evakuasi medis untuk penyintas bencana. Sebab, waktu emas atau golden time yang merupakan periode waktu paling kritis setelah terjadinya bencana telah terlewati.
”Hari ini sudah memasuki hari ke-14. Tadi malam, kami sudah mengikuti rapat dengan Presiden by Zoom (meeting), untuk operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) akan terus dilaksanakan sampai ada keputusan operasi SAR dinyatakan tidak efektif,” ujar Kepala Basarnas Mohammad Syafii dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR bersama sejumlah mitra kerja lainnya di Jakarta, Senin (8/12/2025).
Rapat kerja ini dipimpin Ketua Komisi V DPR Lasarus yang dihadiri sejumlah pejabat publik lainnya. Beberapa di antaranya adalah Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi, Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti, dan Kabag Ops Korps Lalu Lintas Polri Kombes Aris Syahbudin. Ada pula Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani.
Saat ini, Syafii melanjutkan, kendala di lapangan dengan kurun waktu kejadian lebih dari 10 hari adalah struktur tubuh korban-korban yang ditemukan sudah berubah. Dalam kondisi berlumpur ketika evakuasi berlangsung, tidak semua korban dapat diidentifikasi. Alhasil, proses identifikasi menjadi tanggung jawab tim identifikasi korban bencana (DVI) Polri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/08/5ff547509e5ae79d86612aeb23f6bcfb-20251208_140627.jpg)
Tantangan lainnya terlihat dari luas wilayah terdampak dengan kondisi bencana, imbas banjir bandang bercampur lumpur dan material. Apalagi kondisi lumpur sudah mulai mengeras sehingga mempersulit evakuasi korban yang tertimbun di dalamnya. Proses pencarian turut menggunakan anjing pelacak (K9).
”Kemarin sempat beberapa hari cuaca cukup panas dan menimbulkan dehidrasi bagi satwa yang melaksanakan operasi (pencarian). Ada dua ekor K9 yang menjadi korban,” kata Syafii.
Ketika ditanya soal daerah terisolasi, Syafii mengemukakan, beberapa wilayah di Aceh memang masih terisolasi dari transportasi umum. Dari sejumlah titik yang sudah dapat dijangkau, beberapa di antaranya masih harus menggunakan sepeda motor. Mobil hingga angkutan umum belum dapat melintasi jalan tersebut.
Dalam aspek komunikasi, para personel SAR telah terhubung dengan Starlink atau sistem internet satelit yang dikembangkan SpaceX milik Elon Musk. Alat penunjang ini tersebar pada beberapa titik tertentu, tidak tersedia di seluruh tempat.
Syafii mengklaim, aliran listrik sudah 100 persen terakses pada kawasan-kawasan komunikasi. Walau begitu, ia mengakui bahwa beberapa titik masih terisolasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/06/58eec1bafa68272df67d32bfb0bb4f6a-20251206TOK22.jpg)
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi V DPR Lasarus mengingatkan bahwa evakuasi harus dipercepat. Sebab, golden time telah terlewati.
Menurut Lasarus, waktu emas untuk menyelamatkan masyarakat pada tiga hari pertama. Masa tersebut merupakan saat paling krusial.
”Kita pada tiga hari pertama itu seperti orang bingung melihat bencana begitu besar. Sampai hari ini saja ada enam kabupaten masih terisolasi, belum bicara kecamatan dan desa. Masih ada kecamatan dan desa belum bisa diakses sama sekali,” ujar Lasarus.
Ia mengatakan, bencana ekologis ini memberi pelajaran amat berharga bagi semua pihak. Kesigapan dibutuhkan ketika situasi darurat terjadi.
”Ini sudah hari ke-14. Orang sehat bisa sakit kalau masih terisolasi, belum lagi membicarakan pengobatan, pertolongan darurat, dan sebagainya. Jangan sampai karena terisolasi terlalu lama, (orang) yang sehat jadi sakit karena kondisi lapangan. Harapannya, Basarnas obyektif memberi info di lapangan,” tuturnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/08/f0f3ac8cf94674a352b961f316cd86e0-Kondisi_Jalan_Daerah_Bencana_Sumatera.jpg)
Lasarus juga mengingatkan agar Kementerian Pekerjaan Umum (PU) fokus untuk membuka daerah-daerah yang terisolasi. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) juga perlu memastikan simpul transportasi, seperti bandara perlu dioptimalkan untuk menerima bantuan kemanusiaan.
”Kalau bantuan kemanusiaan sifatnya 14 hari. Sekarang sudah proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Rehabilitasi ini fisik dan mental. Aksesibilitas merupakan hal utama,” kata Lasarus.
Menurut data Kementerian PU, hingga Sabtu (6/12/2025) pukul 22.00 WIB, banjir dan longsor Sumatera berdampak pada 72 ruas jalan nasional dan 31 jembatan nasional. Pemerintah akan fokus untuk memperbaiki dan membangun infrastruktur.
Wamen PU Diana Kusumastuti akan mulai memasang jembatan bailey. Jalan amblas akan ditangani dengan agregat dan aspal, diikuti dengan pemasangan bronjong. Ada pula upaya pembuatan dinding penahan tanah dan penanganan longsoran.
”Penanganan sudah dilakukan secara bertahap mulai 28 November 2025 atau sehari setelah kejadian, dan rencana diselesaikan secepatnya sebelum 16 Desember 2025,” kata Diana.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/29/9c8591bd-3226-421b-9beb-8c1432c62eb4.jpg)
Balai/Unit Pelaksana Teknis terus membantu melakukan pencarian korban, pembersihan lahan, dan memperbaiki konektivitas, serta memperbaiki alur sungai. Semua peralatan berat sedang bekerja di lapangan.
Untuk jalan tol di daerah terdampak bencana Sumatera, Kementerian PU mengidentifikasi 30 titik lokasi. Pemerintah berupaya memastikan layanan operasi tol dapat berfungsi kembali.
”Saat ini, semua ruas tol terdampak bencana sudah kembali beroperasi secara normal, kecuali pada ruas tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi di mana masih dilakukan rekayasa lalu lintas contraflow sejak 4 Desember 2025 dan ditargetkan beroperasi normal sebelum 16 Desember 2025,” tutur Diana.
Untuk jalan nasional, Kementerian PU menargetkan sudah tersambung hingga akhir Desember 2025. Target serupa juga dilakukan untuk jembatan, termasuk penghubung dengan kerusakan agak parah.
Penulis:
Yosepha Debrina Ratih PusparisaEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto