Gregoria Mariska Tunjung tersingkir pada babak pertama turnamen bulu tangkis Denmark Terbuka. Hasil ini menjadi bagian dari perjalanan beratnya pada 2025.
14 Okt 2025 22:08 WIB · Olahraga
ODENSE, SELASA — Banyak absen dan tersingkir pada fase awal turnamen mewarnai sebagian besar perjalanan Gregoria Mariska Tunjung pada 2025. Meski demikian, pebulu tangkis tunggal putri Indonesia itu masih memiliki tekad untuk meningkatkan performa pada sisa turnamen yang akan diikuti.
Salah satu hasil buruk diperolehnya pada turnamen Denmark Terbuka BWF World Tour Super 750 di JYSKE Bank Arena, Odense, Denmark. Setelah mencapai semifinal pada 2024, kali ini Gregoria tersingkir pada babak pertama karena kalah dari Kirsty Gilmour dengan skor 7-21, 14-21 pada Selasa (14/10/2025).
Dalam kekalahan pertama dari lima pertemuan dengan atlet Skotlandia itu, tak sekali pun Gregoria unggul dalam perolehan skor. Selisih terdekat terjadi pada gim kedua saat Gregoria mendekat dari posisi 10-16 menjadi 14-16.
Saya tidak bisa mengubah strategi sehingga kehilangan banyak poin dengan cara yang sama.
Banyak kesalahan yang dilakukan tunggal putri Indonesia peringkat kedelapan dunia tersebut. Apa yang diperlihatkan Gregoria pada pertandingan selama 30 menit itu bahkan cenderung serba salah. Bahasa tubuhnya, beberapa kali, memperlihatkan kebingungannya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/14/9d5509563d0d29cd71900a76657b7e43-Gregoria2_R32_DenmarkOpen2025_PBSI_20251014.jpg)
Selain melakukan banyak kesalahan, Gregoria menilai penampilannya monoton. ”Saya tidak bisa mengubah strategi sehingga kehilangan banyak poin dengan cara yang sama. Sudah berusaha mengubahnya, tetapi tidak konsisten. Kirsty juga terlihat sangat siap,” komentar Gregoria.
Kekalahan tersebut, dikatakan Gregoria, tidak ada kaitan dengan vertigo yang membuatnya absen pada banyak turnamen, termasuk di China Masters dan Korea Terbuka, pada September. ”Tidak ada takut atau trauma dari vertigo yang saya alami beberapa waktu ini, saya tidak terlalu memikirkannya. Kondisinya membaik. Tadi, penampilan di lapangan memang kurang baik,” tuturnya.
China Masters dan Korea Terbuka seharusnya diikuti Gregoria setelah dia tampil dalam Kejuaraan Dunia di Perancis pada Agustus. Namun, atlet berusia 26 tahun itu batal bertanding meski telah berada di Shenzhen, tempat penyelenggaraan China Masters. Vertigonya kambuh sehingga Gregoria kembali ke Indonesia.
Sebelum China Masters dan Korea Terbuka, kondisi yang membuat Gregoria pusing, kehilangan keseimbangan, hingga muntah itu mengharuskan dia absen dari turnamen pada pertengahan April sampai pertengahan Juli. Peraih medali perunggu Olimpiade Paris 2024 ini menjalani pemeriksaan dan terapi hingga dia absen di Piala Sudirman dan Indonesia Terbuka.
Gregoria kembali bertanding dalam Tur Asia, Juli, dengan hasil kalah pada babak pertama Jepang Terbuka dan perempat final China Terbuka. Setelah itu, dia bermain dalam Kejuaraan Dunia, lalu batal bermain di China Masters dan Korea Terbuka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/14/bcbb2e80c00f39bb91fe8520ee7c867f-Gregoria6_R32_DenmarkOpen2025_PBSI_20251014.jpg)
Seperti yang beberapa kali dikatakan saat latihan di pelatnas bulu tangkis, Cipayung, Jakarta, Gregoria akhirnya harus memprioritaskan kesehatannya. Maka, ketika mendapat kesempatan bertanding, dia tidak menetapkan target tinggi.
Targetnya adalah bisa bermain dengan sebaik mungkin seperti yang diinginkannya dalam sisa turnamen yang akan diikuti pada 2025. Setelah Denmark Terbuka, Gregoria direncanakan mengikuti Perancis Terbuka, 21-26 Oktober, serta Kumamoto Masters dan Australia Terbuka pada November.
”Saya bersyukur bisa kembali berkompetisi setelah terakhir di Kejuaraan Dunia. Jadi, saya mau menjaga kondisi saya agar tetap fit dan sehat. Saya mau meningkatkan performa lebih baik lagi, mau dapat hasil lebih baik di turnamen berikutnya,” kata Gregoria.
Di Denmark Terbuka, Gregoria tampil bersama ”adiknya” di pelatnas tunggal putri, Putri Kusuma Wardani, yang melangkah ke babak kedua. Putri menang atas pemain India berusia 18 tahun, Anmol Kharb, 21-9, 21-14.
Dalam turnamen Arctic Terbuka di Finlandia, sepekan sebelum Denmark Terbuka, Kharb mencapai semifinal sehingga Putri pun tak menganggap remeh pemain yunior tersebut. ”Sejak awal, saya mencoba mengontrol permainan sesuai pola yang saya mau,” kata Putri.
Pada babak kedua, atlet unggulan ketujuh itu akan ditantang pemain muda lainnya, yaitu Tomoka Miyazaki. Pemain Jepang berusia 19 tahun ini adalah juara dunia yunior 2022 yang sekali mengalahkan Putri dari empat pertemuan. Momen tersebut terjadi pada perempat final Makau Terbuka 2024 yang kemudian dibalas Putri pada babak kedua Jepang Terbuka dan babak ketiga Kejuaraan Dunia 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/14/362f8f6edf31015e39057fea40530e48-Putri2_R32_DenmarkOpen2025_PBSI_20251014.jpg)
Laga melawan Miyazaki akan menjadi salah satu tantangan besar bagi Putri untuk (setidaknya) menyamai hasil pada Denmark Terbuka 2024 saat mencapai semifinal. Itu menjadi salah satu hasil terbaik Putri pada turnamen level Super 500 ke atas selain final Hong Kong Terbuka Super 500 pada 2024, serta perempat final Indonesia Terbuka Super 1000 dan semifinal Kejuaraan Dunia pada tahun ini.
Jika bisa mengalahkan Miyazaki, Putri berpeluang bertemu pemain nomor satu dunia, An Se-young, pada perempat final. Itu akan menjadi kesempatan keenam untuk mengalahkan, atau setidaknya bermain lebih baik, setelah Putri selalu kalah pada lima pertemuan lain.
Pada tunggal putra, debut Alwi Farhan di Denmark Terbuka tak berjalan baik. Bukan hanya kalah, Alwi tak bisa mengeluarkan kemampuan maksimal saat melawan Ng Ka Long Angus. Dari pemain senior asal Hong Kong itu, Alwi kalah 10-21, 16-21.
Hasil tersebut menghentikan kemenangan Alwi atas Ng dalam dua pertemuan pada tahun ini, yaitu pada babak kedua Thailand Masters dan babak pertama Kejuaraan Asia di China.
Sejak awal hingga akhir pertandingan selama 45 menit di Denmark, Alwi tak bisa keluar dari tekanan lawan. Pemain Indonesia berusia 20 tahun itu hanya unggul dua kali dalam perolehan skor, yaitu pada posisi 1-0 gim pertama dan 3-2 gim kedua.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/14/0424835143eba24162b158ed2e10e862-Alwi4_R32_DenmarkOpen2025_PBSI_20251014.jpg)
”Saya rasa permainan saya sangat mengecewakan hari ini, terlambat saat start dan tidak bisa membalikkan keadaan sampai akhir laga. Bukan alasan, tetapi memang saya merasa ada rasa kurang nyaman di bagian hamstring,” kata Alwi.
Dengan kondisi tersebut, Alwi akan fokus memulihkan sakit pada hamstring untuk menjalani turnamen berikutnya, Perancis Terbuka, pada 21-26 Oktober. Denmark dan Perancis Terbuka, yang sama-sama berlevel Super 750, baru kali ini diikuti Alwi.
Juara dunia yunior 2023 itu baru memiliki pengalaman mengikuti tur Eropa saat tampil di Jerman Terbuka dan Orleans Masters pada Maret serta Swiss dan Spanyol Terbuka, setahun lalu. Hasil terbaiknya pada empat turnamen itu adalah babak kedua.
Selain Alwi, Jonatan dan Anthony Sinisuka Ginting juga tampil di Denmark Terbuka. Mereka akan memulai penampilan pada Rabu, yaitu Jonatan melawan Kenta Nishimoto dan Anthony dengan andalan tuan rumah, Anders Antonsen.
Dari Kejuaraan Dunia Yunior di Guwahati, India, hasil berbeda didapat andalan Indonesia pada nomor tunggal. Mohammad Zaki Ubaidillah, yang menjadi unggulan teratas tunggal putra, memulai penampilan pada babak kedua setelah mendapat bye di babak pertama. Zaki menang atas Philip Kryger Boe, 15-13, 15-4, pada Selasa.
Kejuaraan untuk atlet berusia 19 tahun ke bawah ini menggunakan sistem skor yang berbeda dengan kejuaraan BWF lainnya, yaitu best of three games dengan 15 poin (bukan 3 x 21).
Sepekan sebelumnya, pada kategori kejuaraan dunia beregu campuran Piala Suhandinata, BWF juga menggunakan sistem skor yang belum pernah digunakan pada ajang lain, yaitu estafet tiga putaran (tiga set) dengan skor maksimal 45 poin pada setiap set. China menjuarai Piala Suhandinata dengan sistem skor tersebut setelah mengalahkan Indonesia di final.
Dengan perburuan poin yang lebih kecil dibandingkan sistem skor 21 poin, setiap pemain harus beradaptasi dengan cepat pada semua kondisi di lapangan dan cara bermain lawan. Hal inilah yang dilakukan Zaki saat menjalani laga pertamanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/14/f71ec69196cc3b6bf899c1d5cca90022-WhatsApp_Image_2025_10_14_at_18.01.27.jpeg)
”Sistem poin kali ini agak cepat dan harus sudah siap duluan karena kalau telat ’panas’ pasti kecolongan banyak poin. Untuk saya, poin 15 ini mungkin kalau dibilang cocok, ya cocok-cocok aja,” kata Zaki.
Zaki, tunggal putra yunior nomor satu dunia, memiliki bekal yang baik dari ajang yang sama di Nanchang, China, pada 2024. Saat itu, setelah mengantarkan Indonesia menjuarai ajang beregu campuran, Zaki menjadi semifinalis kategori perorangan tunggal putra.
Pada persaingan perorangan, Zaki ditemani tiga rekannya, salah satunya Richie Duta Ricardo yang menjadi unggulan kedua. Pada 2024, Richie menjadi perempat finalis.
Hasil yang didapat Zaki berbeda dengan andalan tunggal putri, Thalita Ramadhani Wiryawan. Thalita tak dapat mempertahankan performa baiknya pada beregu campuran ketika bersaing di kategori perorangan. Thalita, yang menjadi unggulan ketujuh, kalah dari Shu Yu Wen (Taiwan), 15-12, 7-15, 8-15.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar