Guardiola, Sasaran Selanjutnya ”Si Antagonis” Iraola

Pep Guardiola akan bertemu lagi dengan Andoni Iraola di perempat final Piala FA saat Manchester City versus Bournemouth. Sosok Iraola sebagai "antagonis" akan diuji.

29 Mar 2025 20:17 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Pelatih Kepala Bournemouth Andoni Iraola sering dimirip-miripkan dengan karakter fiksi Doctor Octopus di film Spider-Man 2. Selain wajah yang mirip, karakter keduanya tidak jauh berbeda. ”Doc Ock” memerankan sosok penjahat bagi tokoh utama, saat Andoni dicap sebagai tokoh antagonis untuk para manajer klub besar.

Musim masih jauh dari berakhir, tetapi nama Iraola sudah masuk bursa perpindahan pelatih pada musim panas mendatang. Beberapa klub, salah satunya Tottenham Hotspur, dikabarkan tertarik. Pria asal Spanyol itu mendapat banyak pujian karena mampu mengangkat level tim medioker seperti Bournemouth.

Bournemouth begitu ditakuti klub-klub besar pada musim ini. Persentase kemenangan mereka atas tim ”Enam Besar Klasik” mencapai 44,4 persen. ”Si Ceri” hanya kalah tiga kali dari 11 laga. Bayangkan, prestasi itu dicapai oleh tim dengan total gaji pemain peringkat ke-17 atau terendah keempat di liga.

Salah satu nama besar yang ditaklukkan Iraola adalah Manajer Manchester City Josep Guardiola, tepatnya pada November lalu. Bournemouth sekaligus memberikan kekalahan pertama di liga untuk City. Hasil itu menjadi titik awal kejatuhan bagi City yang masih terus terpuruk hingga saat ini.

Iraola dan Guardiola akan bertemu lagi dalam perempat final Piala FA di Stadion Vitality, Minggu (30/3/2025) pukul 22.30 WIB. ”Kami harus belajar dari kekalahan itu untuk bisa mencapai semifinal. Terakhir kali bertemu, kami tidak kompetitif dan tampil di bawah standar. Kami kalah dalam duel (perebutan bola),” kata Guardiola.

Pemain Arsenal Mikel Merino (kiri) dan pemain Bournemouth Marcus Tavernier berebut bola pada laga Liga Inggris di Stadion Vitality, Bournemouth, Sabtu (19/10/2024).
Quote

Itu DNA kami. Jika tidak bermain seperti itu, kami akan kesulitan.

Guardiola berkata dalam wawancara bersama TNT Sports pada awal tahun, definisi sepak bola modern telah bergeser. Permainan dengan basis penguasaan bola yang merupakan ciri khasnya sudah kurang relevan. Skema Bournemouth dengan kombinasi serangan langsung dan pertahanan agresif nan tinggi menjadi tren baru.

Permainan intens itu pula yang membuat Bournemouth bisa bersaing dengan klub-klub besar. Iraola tidak takut tampil dengan skema berisiko tersebut, siapa pun lawannya. Sebab, serangan mereka baru bisa dimulai dari bertahan agresif saat tanpa bola.

”Itu DNA kami. Jika tidak bermain seperti itu, kami akan kesulitan,” ucap Iraola.

Bournemouth, menurut Opta, merupakan tim dengan pertahanan tinggi paling efektif di liga. Mereka menghasilkan 57 tembakan setelah merebut bola di 40 meter pertama lapangan lawan. Catatan itu merupakan yang tertinggi di liga. Setelah bola direbut, Si Ceri langsung menyerang secepat kilat.

Berbicara soal serangan balik cepat, Nottingham Forest sulit ditandingi. Akan tetapi, mengapa Guardiola tidak memasukkan Forest ke dalam kategori permainan modern terbaru? Itu karena mereka bertahan sangat rendah sebelum melakukan transisi. Berbeda dengan Bournemouth yang menjemput bola di pertahanan lawan.

”Ombak” Bournemouth

Iraola, mantan pemain Athletic Bilbao, pernah dilatih oleh Marcelo Bielsa. Diketahui, Bielsa terkenal dengan pendekatan permainan terbuka. Bielsa pernah menerapkan gaya main ofensif bersama Leeds United di Liga Inggris, tetapi gagal total. Permainan Leeds dikritik karena terlalu terbuka sehingga rentan saat diserang.

Iraola mengatakan banyak belajar dari Bielsa. Akan tetapi, dia lebih konvensional. Dia tidak terobsesi dengan penguasaan bola. Terlihat dari Bournemouth yang menempati peringkat ke-15 (rerata 47 persen) dalam penguasaan. Alih-alih permainan indah yang dominan dengan bola, Iraola lebih mengutamakan efisiensi dan produk akhir.

TOPSHOT - Bournemouth's Dutch striker #19 Justin Kluivert (R) vies with Nottingham Forest's Portuguese striker #20 Jota Silva (L) during the English Premier League football match between Bournemouth and Nottingham Forest at the Vitality Stadium in Bournemouth, southern England on January 25, 2025. (Photo by Glyn KIRK / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Dengan ciri khas permainan tempo tinggi, Bournemouth sangat nyaman berada dalam situasi ”kacau”. Mereka datang seperti badai di laut. Ombak besar pertama melalui tekanan agresif, lalu ombak penghancur selanjutnya lewat serangan kilat. Skema bisa efektif dengan penyerang yang mampu berperan bebas seperti Justin Kluivert.

Itu yang membuat banyak klub-klub besar kurang nyaman berhadapan dengan Bournemouth. Saat klub seperti Arsenal dan City sangat mengutamakan struktur rapi dengan berbasis penguasaan bola, Si Ceri berusaha menciptakan kekacauan. Mereka seperti berupaya mengajak ikan berlomba lari di darat.

Dua dari tiga kekalahan Bournemouth versus ”Enam Besar Klasik” dipersembahkan oleh Liverpool. Hasil tersebut cukup masuk akal. Liverpool, bersama Mohamed Salah, merupakan tim terbaik dalam situasi transisi. Mereka juga menyukaui kekacauan. Saat adu transisi terjadi, tim dengan kualitas pemain lebih baik pasti diuntungkan.

Iraola menukangi Bournemouth sejak musim panas 2023, tetapi baru bisa menunjukkan potensi terbaik pada musim kedua. Selain persoalan chemistry dan adaptasi, mereka juga terbantu dengan kehadiran bek 19 tahun, Dean Huijsen. Bersama bek tim nasional Spanyol yang sedang naik daun itu, lubang besar dari pertahanan tinggi Bournemouth bisa ditutupi.

Bournemouth's Spanish manager Andoni Iraola applauds fans on the pitch after the English Premier League football match between Bournemouth and Nottingham Forest at the Vitality Stadium in Bournemouth, southern England on January 25, 2025. Bournemouth won the game 5-0. (Photo by Glyn KIRK / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Meskipun demikian, laga versus City nanti tidak akan mudah bagi Bournemouth. Mereka sedang dalam tren kurang baik, hanya sekali menang dari lima laga terakhir. ”Undian tidak bisa diubah. Kami harus menyelesaikan apa yang telah dimulai. Kami berharap bisa ada di level yang lama seperti pada November lalu (saat mengalahkan City),” pungkas Iraola.

Hasil pada akhir pekan bisa semakin memperdalam sisi antagonis dari Iraola. Jika Bournemouth menang, City akan dipastikan kehilangan satu-satunya gelar yang bisa diraih sebelum musim panas. Setelah mengawali kejatuhan tim asuhan Guardiola pada awal musim, Iraola berpotensi menambah dalam keterpurukan tim raksasa tersebut.

(AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata