WASHINGTON DC, SELASA — Gugatan pada tarif bea masuk impor Amerika Serikat akan bertambah. Para konglomerat menyebut tarif yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump itu bisa memicu ”musim dingin nuklir ekonomi” global.
Dilaporkan media AS,Fortune, pada Selasa (8/4/2025), Kamar Dagang dan Industri (Kadin) AS sedang mempertimbangkan gugatan terhadap keputusan Trump itu. Pertimbangan dilakukan selepas sejumlah perusahaan besar yang menjadi anggota Kadin AS berkeberatan dengan tarif baru bea masuk impor (BMI) AS.
Perusahaan-perusahaan itu tidak berani maju sendiri ke pengadilan. Sebab, mereka takut jadi sasaran kemarahan Trump dan para pendukung fanatiknya. Di sisi lain, mereka bisa sangat terpukul oleh tarif baru BMI. Biaya produksi meningkat sehingga potensi laba bisa terpangkas drastis.
BMI akan membuat harga semua produk impor ke AS melonjak. Sebagian bisa dua kali lipat dari harga sekarang.
Pada 2020, Kadin AS juga menggugat pemerintahan Trump. Kala itu, pokok gugatannya soal kebijakan imigran. Kadin menilai, kebijakan imigrasi Trump menghambat dunia usaha mendapatkan pekerja berbakat terbaik.
Untuk gugatan tarif, Kadin bukan yang pertama. New Civil Liberties Alliance (NCLA) telah duluan mendaftarkan gugatan soal kebijakan tarif Trump. Mereka mewakili para UMKM yang selama ini mengimpor dari China. Penggugat beralasan, Trump tak punya kewenangan memberlakukan BMI besar ke China.
Trump memakai Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat (IEEPA) sebagai dasar hukum BMI. Menurut NCLA, IEEPA tak memberi presiden kewenangan mengenakan BMI. Selain itu, IEEPA belum pernah dijadikan dasar hukum memberlakukan BMI.
Konglomerat menolak
Sejumlah konglomerat AS juga menolak tarif itu. Elon Musk, yang mengucurkan ratusan juta dollar AS untuk kampanye Trump, termasuk yang menolak. Ia secara personal menyerang penasihat perdagangan dan industri Trump, Peter Navarro.
Ia menyebut pelajaran ekonomi di Harvard University, tempat Navarro belajar, tidak baik. Navarro membalas dengan mengatakan, Musk sebaiknya jualan mobil saja.
Musk berharap setidaknya sebagian sekutu dan mitra AS tidak dikenai BMI. Sebaliknya, Navarro penyokong utama pemberlakuan tarif BMI pada semua mitra dagang AS.
Konglomerat lain yang juga donatur Trump serta Republikan, Bill Ackman, ikut memprotes kebijakan tarif Trump. Menurut dia, kebijakan itu bisa memicu ”musim dingin nuklir ekonomi” global. Tarif Trump, kata Ackman, memicu ”perang nuklir” ekonomi.
Ia berharap Trump menunda pemberlakuan BMI sampai setidaknya tiga bulan mendatang. Dalam periode itu, AS bisa berunding dengan berbagai negara untuk mencari solusi defisit neraca perdagangan barang AS.
Ackman memakai istilah yang kerap diajukan dalam kajian konflik. Musim dingin nuklir adalah kondisi Bumi tertutup asap pekat hasil ledakan banyak bom nuklir. Akibatnya, sinar matahari tidak bisa menembus sampai ke permukaan Bumi.
Kombinasi dampak ledakan dan ketiadaan sinar matahari membuat tidak ada tanaman bisa tumbuh. Suhu juga menurun drastis dan kehidupan menjadi sulit.
Tarif Trump bisa memicu perang dagang. Negara-negara saling menghambat ekspor. Dampaknya, perdagangan internasional terhenti. Padahal, perdagangan internasional menjadi salah satu penggerak utama perekonomian global.
Multilateral runtuh
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong termasuk yang mencemaskan dampak kebijakan Trump pada perdagangan internasional. Dalam pidato di parlemen Singapura pada Selasa, Wong menyebut tarif Trump meruntuhkan sistem multilateral penopang perdagangan global. ”Kebijakan itu membuka hubungan dagang terbatas antarnegara, berdasarkan unilateral,” katanya.
Ia mengingatkan, perang dagang yang dipicu BMI besar-besaran terbukti buruk bagi perekonomian global. Waktu AS melakukannya selepas Perang Dunia I, perekonomian dunia runtuh, lalu pecah Perang Dunia II.
Ia berharap ada solusi untuk mencegah hambatan dagang terjadi. Kalau sudah telanjur diterapkan, akan butuh waktu sangat lama dan upaya sangat banyak untuk menurunkan hambatan dagang.
Belajar dari pengalaman, butuh lebih dari 30 tahun untuk menghadirkan sistem perdagangan multilateral saat ini. Penghapusan hambatan tarif dan nontarif global melewati rangkaian putaran perundingan berpuluh tahun. (AFP/REUTERS)
WASHINGTON DC, SELASA — Gugatan pada tarif bea masuk impor Amerika Serikat akan bertambah. Para konglomerat menyebut tarif yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump itu bisa memicu ”musim dingin nuklir ekonomi” global.
Dilaporkan media AS,Fortune, pada Selasa (8/4/2025), Kamar Dagang dan Industri (Kadin) AS sedang mempertimbangkan gugatan terhadap keputusan Trump itu. Pertimbangan dilakukan selepas sejumlah perusahaan besar yang menjadi anggota Kadin AS berkeberatan dengan tarif baru bea masuk impor (BMI) AS.
Serial Artikel
Penyangkalan Para Ekonom yang Dikutip soal Tarif Trump
Sejumlah ekonom dicantumkan sebagai rujukan penetapan tarif bea masuk impor AS. Ternyata, karya mereka salah dipahami pemerintahan Trump.
Perusahaan-perusahaan itu tidak berani maju sendiri ke pengadilan. Sebab, mereka takut jadi sasaran kemarahan Trump dan para pendukung fanatiknya. Di sisi lain, mereka bisa sangat terpukul oleh tarif baru BMI. Biaya produksi meningkat sehingga potensi laba bisa terpangkas drastis.
BMI akan membuat harga semua produk impor ke AS melonjak. Sebagian bisa dua kali lipat dari harga sekarang.
Pada 2020, Kadin AS juga menggugat pemerintahan Trump. Kala itu, pokok gugatannya soal kebijakan imigran. Kadin menilai, kebijakan imigrasi Trump menghambat dunia usaha mendapatkan pekerja berbakat terbaik.
Untuk gugatan tarif, Kadin bukan yang pertama. New Civil Liberties Alliance (NCLA) telah duluan mendaftarkan gugatan soal kebijakan tarif Trump. Mereka mewakili para UMKM yang selama ini mengimpor dari China. Penggugat beralasan, Trump tak punya kewenangan memberlakukan BMI besar ke China.
Trump memakai Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat (IEEPA) sebagai dasar hukum BMI. Menurut NCLA, IEEPA tak memberi presiden kewenangan mengenakan BMI. Selain itu, IEEPA belum pernah dijadikan dasar hukum memberlakukan BMI.
Serial Artikel
Tarif Trump Picu ”Black Monday” Bursa Global
Musim dingin ekonomi akibat perang nuklir ekonomi yang dipicu tarif Trump mendekat. Masih ada waktu memperbaiki sebelum kesuraman melanda.
Sejumlah konglomerat AS juga menolak tarif itu. Elon Musk, yang mengucurkan ratusan juta dollar AS untuk kampanye Trump, termasuk yang menolak. Ia secara personal menyerang penasihat perdagangan dan industri Trump, Peter Navarro.
Ia menyebut pelajaran ekonomi di Harvard University, tempat Navarro belajar, tidak baik. Navarro membalas dengan mengatakan, Musk sebaiknya jualan mobil saja.
Musk berharap setidaknya sebagian sekutu dan mitra AS tidak dikenai BMI. Sebaliknya, Navarro penyokong utama pemberlakuan tarif BMI pada semua mitra dagang AS.
Konglomerat lain yang juga donatur Trump serta Republikan, Bill Ackman, ikut memprotes kebijakan tarif Trump. Menurut dia, kebijakan itu bisa memicu ”musim dingin nuklir ekonomi” global. Tarif Trump, kata Ackman, memicu ”perang nuklir” ekonomi.
Ia berharap Trump menunda pemberlakuan BMI sampai setidaknya tiga bulan mendatang. Dalam periode itu, AS bisa berunding dengan berbagai negara untuk mencari solusi defisit neraca perdagangan barang AS.
Ackman memakai istilah yang kerap diajukan dalam kajian konflik. Musim dingin nuklir adalah kondisi Bumi tertutup asap pekat hasil ledakan banyak bom nuklir. Akibatnya, sinar matahari tidak bisa menembus sampai ke permukaan Bumi.
Kombinasi dampak ledakan dan ketiadaan sinar matahari membuat tidak ada tanaman bisa tumbuh. Suhu juga menurun drastis dan kehidupan menjadi sulit.
Tarif Trump bisa memicu perang dagang. Negara-negara saling menghambat ekspor. Dampaknya, perdagangan internasional terhenti. Padahal, perdagangan internasional menjadi salah satu penggerak utama perekonomian global.
Serial Artikel
Prabowo Utus Airlangga, Sri Mulyani, dan Sugiono untuk Negosiasi Tarif Trump
Presiden Prabowo akan menjelaskan respons Pemerintah Indonesia terhadap tarif Trump, Selasa (8/4/2025).
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong termasuk yang mencemaskan dampak kebijakan Trump pada perdagangan internasional. Dalam pidato di parlemen Singapura pada Selasa, Wong menyebut tarif Trump meruntuhkan sistem multilateral penopang perdagangan global. ”Kebijakan itu membuka hubungan dagang terbatas antarnegara, berdasarkan unilateral,” katanya.
Ia mengingatkan, perang dagang yang dipicu BMI besar-besaran terbukti buruk bagi perekonomian global. Waktu AS melakukannya selepas Perang Dunia I, perekonomian dunia runtuh, lalu pecah Perang Dunia II.
Ia berharap ada solusi untuk mencegah hambatan dagang terjadi. Kalau sudah telanjur diterapkan, akan butuh waktu sangat lama dan upaya sangat banyak untuk menurunkan hambatan dagang.
Belajar dari pengalaman, butuh lebih dari 30 tahun untuk menghadirkan sistem perdagangan multilateral saat ini. Penghapusan hambatan tarif dan nontarif global melewati rangkaian putaran perundingan berpuluh tahun. (AFP/REUTERS)