Gugup dan Gagap AC Milan Berujung Kekalahan

Respons tak tepat saat bertahan dan menyerang lawan tim promo Cremonese berakibat awal buruk AC Milan. Di sisi lain, ini debut manis Emil Audero dan kawan-kawan.

24 Agt 2025 06:24 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

MILAN, MINGGU — AC Milan gugup dalam menyerang dan gagap ketika bertahan saat menghadapi Cremonese. Dominasi di lapangan pun seolah tak ada artinya jika tak mampu bermain klinis, hal yang ”Rossoneri” harus pelajari dari Cremonese.

Para pemain AC Milan hanya bisa tertunduk setelah wasit meniup peluit panjang. Mereka lesu dan tampak tak percaya selepas laga di hadapan publik sendiri di Stadion San Siro, Minggu (24/8/2025) dini hari WIB.

Kontras dengan AC Milan, pemain Cremonese meluapkan kebahagiaan di lapangan. Papan skor menampilkan AC Milan takluk dari Cremonese dengan skor 1-2 dalam pertandingan perdana di Liga Italia 2025-2026 itu. Satu gol Strahinja Pavlovic (45’+1) berbanding dua gol tim tamu lewat Federico Baschirotto (28’) dan Federico Bonazzoli (61’).

Kekalahan Rossoneri atau Si Merah Hitam, julukan AC Milan, ini tak sejalan dengan dominasi mereka sepanjang pertandingan. Milan yang melakoni era baru bersama Pelatih Massimiliano Allegri tersebut sebenarnya unggul dalam penguasaan bola dengan 64 persen.

Namun, dari statistik itu pula terbaca bagaimana dominasi tak ada artinya. Apalagi, jika tim seperti Milan tak bisa bermain secara klinis saat menyerang dan lebih banyak berbuat kesalahan saat bertahan.

Italy Soccer Serie A

Meski berhasil melepaskan 24 tendangan, Milan seperti gugup ketika berusaha membobol gawang lawan. Hanya empat tembakan yang bisa tepat sasaran, bahkan kurang dari separuh upaya yang dilakukan.

Salah satu tendangan tepat sasaran itu dilepaskan Luka Modric, yang debut bersama Milan di Serie A setelah didatangkan pada bursa transfer musim panas. Pada menit ke-53, Modric menendang dari luar kotak penalti, tetapi bola masih bisa ditepis kiper Cremonese, Emil Audero.

Seperti Modric, kiper timnas Indonesia ini menandai debut bersama klub barunya di Liga Italia. Namun, nasib mereka bertolak belakang. Emil melakukan empat penyelamatan krusial sepanjang pertandingan.

Penyelamatan itu, antara lain, ketika Milan mendapatkan kesempatan lewat umpan terobosan Ruben Loftus-Cheek kepada Fikayo Tomori di dalam kotak penalti pada menit ke-47. Tomori melepaskan tembakan, tetapi karena tendangannya agak lemah, bola dengan mudah ditepis.

Statistik pertandingan pada akhirnya hanya menegaskan, dominasi tak selalu berarti. Apalagi, jika tim seperti Milan tak bisa bermain secara klinis saat menyerang dan lebih banyak berbuat kesalahan saat bertahan. Hal ini juga diakui Allegri.

Ekspresi Pelatih AC Milan Massimiliano Allegri saat timnya berhadapan dengan Cremonese pada laga Serie A di San Siro, Milan, Minggu (24/8/2025) dini hari WIB.

”Jika Anda melihat penampilan kami, kami memiliki lebih banyak peluang. Namun, perbedaan dalam pertandingan-pertandingan ini adalah tekad kami dalam menyerang dan bertahan,” kata Allegri.

Apabila dibandingkan dengan Milan, Cremonese mengkreasi tendangan jauh lebih sedikit. ”Grigiorossi” atau ”Si Abu-abu Merah” melepaskan empat tendangan, tetapi tiga di antaranya menuju ke gawang.

Performa klinis mereka dipertegas dengan perhitungan matriks gol yang diharapkan atau expected goals (xG). Matriks tersebut mengukur kualitas peluang menjadi gol.

Menurut data Sofascore, Cremonese menghasilkan 0,30 xG. Artinya, dengan Cremonese mencetak dua gol dari situasi yang secara statistik memiliki probabilitas sangat rendah untuk berbuah gol.

APTOPIX Italy Soccer Serie A

Sementara itu, Milan menghasilkan angka xG 1,66 atau punya peluang untuk menghasilkan hampir dua gol. Namun, pada kenyataannya hanya satu gol yang mampu tercipta.

Pada sektor pertahanan pun, Milan gagap menghadapi agresivitas Cremonese. Pelatih baru, pemain baru, tetapi problem Milan masih sama seperti musim lalu ketika berakhir dengan banyak kegagalan.

”Kami kebobolan dua gol yang sebenarnya bisa dihindari karena bermain kurang hati-hati. Rasanya kami tidak menyadari bahaya,” tutur Allegri.

Gol pertama Cremonese tak lepas dari Baschirotto yang bisa menyundul bola tanpa pengawalan ketat di dalam kotak penalti. Baschirotto sukses menemukan ruang di antara Pavlovic dan Matteo Gabbia untuk menyambut umpan silang Zerbin dengan baik. Kiper Mike Maignan, yang sudah mati langkah, tak berdaya di bawah mistar gawang.

Italy Soccer Serie A

Dengan kondisi yang nyaris serupa, Bonazzoli menyambut umpan silang lain dengan tendangan akrobatik. Lagi-lagi, sang pencetak gol tanpa pengawalan pemain Milan.

Pelatih Cremonese Davide Nicola mengamini bahwa di atas kertas tak mudah bagi timnya menaklukkan tuan rumah. Namun, mereka akhirnya bisa meraih kemenangan karena bisa membaca alur permainan dengan baik dan membangun permainan sepanjang laga.

”Kemenangan malam ini menunjukkan bahwa kerja sama tim itu fundamental. Jika kami tidak berpikir dalam hal poin seperti ini, kami hanya akan mencetak sedikit gol,” ujar Nicola. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan