Spiritualitas takwa membuat seseorang tak akan korupsi, tak semena-mena dalam kekuasaan, tidak antikritik, tidak tamak, dan tidak merusak alam.
26 Mei 2026 18:50 WIB · Politik & Hukum
KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO
JAKARTA, KOMPAS — Momentum perayaan Idul Adha diharapkan tidak dimaknai sebatas ritual formal berupa shalat Id dan penyembelihan hewan kurban, tetapi menjadi sarana untuk menghidupkan spiritualitas takwa dan kekuatan transformasi moral. Hal itu penting untuk mencegah perilaku koruptif, penyalahgunaan kekuasaan, hingga perusakan alam.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir melalui keterangan tertulis, Selasa (26/5/2026).
Ia mengatakan, keteladanan pengorbanan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail patut menjadi contoh lahirnya jiwa pengorbanan serta pribadi yang menghadirkan kesalehan sosial di masyarakat. Ketiganya menunjukkan kepasrahan total pada kehendak Allah SWT melalui pengorbanan yang luar biasa besar.
”Nabi Ibrahim rela mengorbankan putra tercintanya atas perintah Allah. Siti Hajar menunjukkan keteguhan iman, sementara Nabi Ismail memperlihatkan kepatuhan yang sangat tinggi. Ketiganya menjadi uswah hasanah tentang bagaimana ketakwaan melahirkan jiwa pengorbanan dan kebajikan,” tuturnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/31/25f40c6eb86c8ca3a04ae144db767de0-IMG_3968.png)
Lebih lanjut, menurut dia, spiritualitas takwa akan melahirkan insan yang mampu membebaskan diri dari belenggu hawa nafsu, kerakusan duniawi, dan egoisme pribadi. Dari situlah muncul sikap ihsan atau kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
Haedar menilai, jika nilai-nilai Idul Adha benar-benar hidup dalam diri umat Islam, akan lahir pribadi-pribadi yang menghadirkan kesalehan sosial di tengah masyarakat. Baik sebagai rakyat biasa maupun pemimpin, insan yang bertakwa akan senantiasa takut kepada Allah sehingga menjauhi berbagai bentuk kemungkaran dan penyimpangan.
”Insan yang memiliki spiritualitas takwa akan hidup dengan kejujuran, kesederhanaan, ketulusan, kesabaran, kerendahan hati, serta kepedulian terhadap sesama. Mereka juga memiliki etos ilmu, berpikir positif, bekerja keras, dan menjadikan kehidupan dunia sebagai ladang amal menuju akhirat,” ungkapnya.
Sebaliknya, Haedar mengingatkan bahwa manusia yang kehilangan nilai takwa akan mudah terjerumus pada perilaku koruptif, penyalahgunaan kekuasaan, kerakusan ekonomi, manipulasi sistem, serta tindakan yang merusak lingkungan dan kehidupan sosial.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/14/d9430817818b3f014addbc0d3de1c567-20260314ron09.jpg)
”Spiritualitas takwa membuat seseorang tidak akan korupsi, tidak semena-mena dalam kekuasaan, tidak antikritik, tidak tamak, dan tidak merusak alam demi keuntungan sesaat,” ujar Haedar.
Ia juga menyoroti pentingnya menghadirkan akhlak mulia di ruang publik dan media sosial. Ia menambahkan, insan bertakwa akan menjaga tutur kata serta menghindari ujaran kebencian, fitnah, hoaks, dan berbagai perilaku digital yang merusak persatuan dan peradaban.
”Ketakwaan harus tecermin dalam cara bermedia sosial, dalam menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan membangun ukhuwah dengan nyata,” katanya.
Selain itu, ia menyinggung berbagai persoalan kebangsaan, seperti kesenjangan sosial, korupsi, konflik sosial, dan perilaku aji mumpung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/06/114d0b5f4ac55b1acbe66e4b3b94158b-20260206ron13.jpg)
Menurut dia, sederet persoalan itu berakar pada kerakusan manusia yang kehilangan orientasi moral. Ketika kekayaan dikuasai segelintir kelompok, sedangkan rakyat hidup dalam kesulitan, maka nilai keadilan dan ketakwaan sedang mengalami krisis.
”Hasrat untuk menguasai segala sesuatu tanpa batas membuat manusia rela merugikan sesama dan merusak lingkungan. Karena itu, bangsa ini membutuhkan kebangkitan spiritualitas takwa yang melahirkan kebajikan nyata,” katanya.
Maka, Haedar pun berharap Idul Adha tidak berhenti pada seremoni tahunan, tetapi benar-benar menjadi kekuatan transformasi moral bagi umat dan bangsa. Spiritualitas takwa harus menghadirkan sistem kehidupan yang lebih adil, berkeadaban, dan penuh kemaslahatan.
”Ketakwaan bukan sekadar indah dalam kata-kata dan retorika, tetapi harus tampak nyata dalam tindakan, kebijakan, dan kehidupan sehari-hari. Jika spiritualitas takwa tumbuh dalam kehidupan nyata, maka akan lahir budaya kesalehan yang menebarkan kebajikan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan semesta,” tambahnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/19/e88d5c2f-d811-4249-a4cf-56f019d7fd5f.jpg)
Selain itu, Haedar menyampaikan pesan khusus bagi generasi milenial, generasi Z, dan generasi Alfa. Haedar mengingatkan generasi muda untuk tidak terjebak dalam budaya instan, gaya hidup hedonistik, dan gemar memamerkan kemewahan.
Generasi muda jangan terjebak budaya instan dan malas. Spiritualitas takwa harus melahirkan generasi yang cerdas, berintegritas, mandiri, serta memberi manfaat bagi kehidupan.
”Spiritualitas takwa harus melahirkan generasi yang cerdas, berintegritas, mandiri, serta memberi manfaat bagi kehidupan,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/20/13ec04507fa1cac94e07773701e1375a-photo_6082343143853461908_y.jpg)
Secara terpisah, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan, perayaan Idul Adha 1447 H mengusung tema ”Spirit Kurban Merawat Alam dan Kemanusiaan”. Tema itu sejalan dengan kegiatan Kementerian Agama mengenai ekoteologi dan teologi cinta.
Tema tersebut, lanjut Nasaruddin, diharapkan menjadi inspirasi bagi para khatib dan masyarakat Muslim untuk memperkuat kepedulian terhadap lingkungan dan nilai-nilai kemanusiaan melalui ibadah kurban.
Sebagai bentuk penerapan tema tersebut, pelaksanaan kurban di Masjid Istiqlal, Jakarta, dirancang ramah lingkungan. Penyembelihan dilakukan dengan sistem yang higienis agar tidak mencemari sungai ataupun lingkungan sekitarnya.
”Tidak ada satu tetes pun darah atau limbah yang masuk ke sungai. Semua sudah disiapkan dengan sistem pengelolaan yang baik,” kata Nasaruddin.
Penulis:
Willy Medi Christian NababanEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti