Haiti mengawali Piala Dunia 2026 dengan harapan besar melangkah lebih jauh dari fase grup. Namun, mereka mendapati realitas pahit, tersingkir paling awal dari Piala Dunia 2026 setelah dua kali kalah dari Skotlandia dan Brasil.
Namun, skuad ”Grenadiers” belum putus asa untuk menghadirkan secuil kegembiraan bagi rakyat Haiti yang hidup dalam teror kekerasan geng bersenjata sejak pembunuhan Presiden Jovenel Moise pada 7 Juli 2021. Haiti pun mengejar mukjizat dalam laga terakhir mereka di Grup C, yaitu melawan Maroko di Stadion Atlanta, Kamis (25/6/2026) mulai pukul 05.00 WIB.
Striker andalan Haiti, Frantzdy Pierrot, dan kawan-kawannya akan berjuang hingga titik darah penghabisan untuk meraih kemenangan atau minimal mencetak gol pertama di Piala Dunia 2026 .
Haiti sudah terbiasa dipandang sebelah mata, tetapi mereka tidak pernah patah semangat, seperti dalam Piala Dunia 1974 saat melawan Italia. Menjelang laga melawan ”Gli Azzurri”—tim yang waktu itu adalah peraih dua gelar juara Piala Dunia—Haiti dinilai akan mudah dikalahkan. Namun, mereka tampil solid menahan serangan Italia di sepanjang babak pertama.
Keajaiban pun terjadi di awal babak kedua. Emmanuel ”Manno” Sanon menceploskan gol di menit ke-46. Ia menundukkan kiper tangguh Italia, Dino Zoff. Manno mengakhiri rekor Zoff yang tidak pernah kemasukan gol dalam 12 laga beruntun.
Haiti, tim debutan saat itu, sempat unggul 1-0 sebelum Italia bangkit dan berbalik menang 3-1. Namun, momen Manno mencetak gol tetap menjadi momen terbaik dalam kenangan rakyat Haiti. ”Itu adalah kegembiraan terbesar,” kata Joseph-Marion Leandre (81), mantan gelandang yang 52 tahun lalu masuk skuad timnas Haiti.
Sering diragukan
Leandre mengingat bahwa seorang pelatih Jerman sebelumnya sempat menyuarakan keraguannya Haiti dapat mencetak gol melawan Italia. ”Jika Haiti bisa mencetak gol, saya bisa mengambil senapan, menembak bulan, dan mengenainya’. Itu adalah cara dia mengatakan bahwa itu mustahil,” ungkap Leandre mengenang peristiwa itu seperti dikutip Rolling Stone, Senin (22/6/2026).
Momen magis seperti 52 tahun lalu itu kini menjadi target utama akuad Haiti untuk memberikan secuil kegembiraan bagi seluruh rakyat Haiti yang lebih banyak menderita, alih-alih bahagia. Harapan itu akan mereka perjuangkan dalam laga melawan Maroko.
”Kita adalah bangsa yang penuh harapan. Kita telah melakukan hal-hal yang tak terbayangkan sepanjang sejarah sehingga kita selalu percaya pada mukjizat,” kata Himmler Rebu, mantan perwira militer Haiti yang menjalankan program sepak bola untuk kaum muda yang bermasalah.
Rebu mencontohkan, pada akhir abad ke-18, warga Haiti dengan senjata seadanya melancarkan revolusi yang mengakhiri 300 tahun perbudakan di bawah penjajahan Perancis. ”Kami berharap akan keajaiban lain karena apa yang kami lakukan adalah hal yang indah, tidak rasional,” ujar Rebu.
Bagi rakyat Haiti, lolosnya timnas mereka ke Piala Dunia sudah menjadi oase kegembiraan. Sepak bola membuat mereka jeda sejenak dari kekalutan hidup di bawah bayang-bayang kekerasan bersenjata.
”Kami bukanlah orang-orang yang hidup sejahtera. Tetapi, melalui sepak bola, saya percaya bahwa segala sesuatu mungkin terjadi,” ujar Safran Desir (15), remaja lokal, seusai bermain sepak bola di Parc Sainte-Therese di pinggiran Port-au-Prince, Haiti.
Rakyat Haiti berharap bisa merasakan manisnya hidup melalui sepak bola. Gol dari kaki para pemain kebanggaan mereka saat melawan Maroko akan cukup untuk meredakan dahaga bahagia. Mereka akan mendukung skuad Grenadiers di kantong-kantong ”nonton bareng” di Port-au-Prince, sebelum esok hari kembali menjalani kenyataan hidup yang pahit, yaitu setiap hari selalu diwarnai kekerasan.
Berdasarkan data terakhir Perserikatan Bangsa-Bangsa, 2.300 orang tewas pada 2026 hingga sejauh ini di Haiti. Hampir 1,5 juga orang lainnya mengungsi akibat kekerasan.
Para pemain Haiti pun selalu memberikan yang terbaik di lapangan, berjuang gigih melawan Skotlandia dan Brasil meskipun semua berujung kekalahan. Kini, mereka memiliki kans terakhir untuk meninggalkan kenangan manis.
”Saya merasa bangga terhadap rakyat Haiti. Kami tahu orang-orang mungkin memiliki citra buruk tentang negara kami, bahwa negara ini memiliki banyak masalah. Tetapi, ini akan sangat bermanfaat bagi negara, rakyat, dan keluarga saya,” kata gelandang Haiti, Jean-Ricner Bellegarde.
Diaspora
Gelandang klub Liga Inggris, Wolverhampton Wanderers, itu merupakan salah satu dari 16 anggota skuad Haiti yang lahir dan hidup di luar negeri. Sedangkan pemain yang lahir di Haiti hanya 10 orang. Lalu, hanya satu pemain dari klub Liga Haiti, Violette, yaitu bek Woodensky Pierre.
Tim asuhan Pelatih Sebastien Migne ini juga tidak pernah menjalani laga kualifikasi Piala Dunia di dalam negeri karena masalah keamanan. Para pendukung dari Haiti juga tidak bisa masuk Amerika Serikat karena larangan perjalanan. Namun, ikatan batin mereka kuat dan sama-sama berharap ada titik terang dari sepak bola yang menginspirasi kehidupan.
”Mungkin para pemain saya kurang dikenal, tetapi saya katakan bahwa yang penting adalah jejak yang Anda tinggalkan. Kami berharap pada akhir turnamen ini, kami dapat meninggalkan jejak kami di kompetisi ini,” ujar Migne.
Mereka kini berjuang meraih kebangkitan besar setelah dihajar oleh Brasil 0-3 dalam laga kedua Grup C. Mereka bermain cukup bagus, menciptakan dua tendangan ke gawang, tetapi mampu ditepis oleh kiper Alisson Becker. Penyelesaian akhir yang lebih efisien menjadi pekerjaan rumah untuk diselesaikan Haiti sebelum melawan Maroko.
”Kami akan kembali lebih kuat dalam lima hari lagi, melawan tim besar lainnya, semifinalis di Piala Dunia terakhir. Kami harus mampu mengatasi tantangan ini dan membuat penggemar kami bangga,” ucap Migne.
Haiti akan menjalani laga terakhirnya di Piala Dunia 2026 dengan merasa bangga karena sudah mampu lolos ke panggung terbesar sepak bola, meskipun di tengah situasi negara yang tak kondusif. Tampil di Piala Dunia setelah 52 tahun memang sudah menjadi kegembiraan tersendiri, tetapi kini ada kesempatan terakhir untuk meninggalkan kenangan indah dengan tampil penuh keberanian.
”Saya memiliki kelompok pemain muda dalam hal pengalaman internasional. Saya berharap turnamen ini membantu mereka untuk berkembang, lalu mencoba lolos ke Piala Dunia berikutnya,” ungkap pelatih asal Perancis itu kemudian.
Bermain dengan Hati
Tantangan terakhir Haiti memang tidak mudah karena Maroko memiliki pemain top dengan pengalaman penting mencapai semifinal Piala Dunia 2022. Permainan skuad ”Singa Atlas” terbukti solid dengan menahan Brasil 1-1 dan menundukan Skotlandia 1-0. Semua gol Maroko dicetak oleh striker Ismael Saibari yang akan meneror pertahanan Haiti.
Pemain PSV Eindhoven itu menjadi mesin gol yang efektif setelah Maroko dipimpin oleh Mohamed Ouahbi. Saibari digeser ke posisi penyerang tengah dari tugas sebelumnya sebagai penyerang sayap maupun gelandang serang di era pelatih sebelumnya, Walid Regragui. Perubahan posisi itu membuahkan dua gol beruntun yang sangat krusial membawa Maroko selangkah lagi ke babak 32 besar.
Saibari pun mengembalikan statusnya sebagai Pemain Terbaik Liga Eredivisie Belanda 2026 dengan kontribusi dalam 23 gol dari 27 laga. Ia mencetak 15 gol dan delapan asis. Pencapaian itu menjadikan Saibari sebagai gelandang dengan produktivitas gol tertinggi, yaitu rata-rata satu gol pada setiap 94 menit laga.
Pemain yang lahir di Terassa, Spanyol, itu memiliki peluang membela skuad La Furia Roja, tetapi panggilan hatinya mengantar dia berlabuh di skuad Singa Atlas. ”Saat memilih tim nasional, itu harus berasal dari hati. Itu seharusnya bukan keputusan strategis tentang di mana Anda akan memiliki lebih banyak peluang. Anda mewakili seluruh negara. Jadi, harus bermain dengan sepenuh hati,” tegas pemain berusia 25 tahun itu.
”Bermain di Piala Dunia untuk negara saya adalah impian saya sejak kecil. Saya telah mewujudkan itu dan mencetak dua gol. Jadi, saya sangat senang. Akan tetapi, yang terpenting adalah lolos dari fase grup dan melaju sejauh mungkin,” ucap Saibari yang musim depan diyakini akan membela Bayern Muenchen.
Kini, Saibari membawa misi besar membawa Maroko melangkah lebih jauh dari Piala Dunia 2022. ”Kami semua memiliki tujuan yang sama, mimpi yang sama. Kami seperti keluarga,” ujar Saibari.
Selain Saibari, Maroko memiliki banyak pemain top, seperti Achraf Hakimi, Brahim Diaz, dan pemain muda Ayyoub Bouaddi. Hakimi dan Diaz akan menjadi motor serangan dari sisi sayap untuk menciptakan peluang gol bagi Saibari. Bouaddi dengan kejeniusan bermainnya bisa menjadi pengontrol keseimbangan antarlini sekaligus mengawali serangan dari tengah.
Kasus Hakimi
Maroko juga tidak terpengaruh oleh situasi yang dihadapi oleh Hakimi, pemain yang harus menjalani persidangan di Perancis atas tuduhan pemerkosaan. Bek kanan Paris Saint-Germain itu dituduh memerkosa perempuan berusia 24 tahun di wilayah Paris pada 2023. Tuduhan itu dia bantah.
”Dia baik-baik saja. Dia bangun pagi ini, makan seperti orang lain, bersiap untuk pertandingan dan memotivasi semua orang,” ujar Ouahbi.
”Dia ada di ruang ganti, fokus dan bertekad untuk memberikan penampilan yang bagus. Dia berhasil melakukan itu. Jadi, tidak ada yang perlu dikatakan. Kami mendukungnya dan dia sangat tenang. Sama sekali tidak terpengaruh,” ucap Ouahbi.
Sejak kepastian harus menjalani persidangan itu, Hakimi menjadi sasaran cemoohan penonton yang ada di stadion saat melawan Skotlandia. Namun, dia tetap fokus bermain dan menjadi pemain dengan umpan terbanyak, 89 kali.
Dia juga melepaskan enam umpan silang dan melepaskan dua tendangan ke gawang. Kini, dia akan kembali menjadi tumpuan Maroko saat melawan Haiti.
”Dia akan memainkan lebih banyak pertandingan hebat. Dia adalah bek kanan terbaik di dunia dan dia akan menunjukkan itu di Piala Dunia ini. Dia adalah sosok yang sangat penting bagi saya, staf, para pemain, dan tim Maroko,” ungkap Ouahbi kemudian. (AFP/REUTERS)
Permutasi Maroko untuk lolos ke babak gugur:
Maroko akan lolos ke babak 32 besar sebagai juara Grup C dan bertemu dengan runner-up Grup F jika:
- Mengalahkan Haiti dan Brasil gagal mengalahkan Skotlandia.
- Mengalahkan Haiti, sementara Brasil mengalahkan Skotlandia dan Maroko berada di atas Brasil dalam selisih gol keseluruhan. Atau, jika sama, jumlah gol keseluruhan yang dicetak, atau, jika masih sama dengan peringkat Fair Play.
Maroko akan lolos sebagai runner-up (dan bertemu dengan juara Grup F jika:
- Mengalahkan Haiti, sementara Brasil mengalahkan Skotlandia dan Brasil berada di atas Maroko dalam selisih gol keseluruhan, atau, jika sama, jumlah gol keseluruhan yang dicetak, atau, jika sama, peringkat Fair Play. Jika sama, Brasil berada di atas Maroko dalam Peringkat Dunia FIFA.
- Bermain imbang dengan Haiti.
- Kalah dari Haiti, adapun Skotlandia gagal mengalahkan Brasil.
- Kalah dari Haiti, sementara Skotlandia mengalahkan Brasil. Maroko finis di atas Brasil berdasarkan selisih gol keseluruhan, atau, jika sama, jumlah gol yang dicetak secara keseluruhan, atau, jika sama, peringkat Fair Play.
Haiti mengawali Piala Dunia 2026 dengan harapan besar melangkah lebih jauh dari fase grup. Namun, mereka mendapati realitas pahit, tersingkir paling awal dari Piala Dunia 2026 setelah dua kali kalah dari Skotlandia dan Brasil.
Namun, skuad ”Grenadiers” belum putus asa untuk menghadirkan secuil kegembiraan bagi rakyat Haiti yang hidup dalam teror kekerasan geng bersenjata sejak pembunuhan Presiden Jovenel Moise pada 7 Juli 2021. Haiti pun mengejar mukjizat dalam laga terakhir mereka di Grup C, yaitu melawan Maroko di Stadion Atlanta, Kamis (25/6/2026) mulai pukul 05.00 WIB.
Striker andalan Haiti, Frantzdy Pierrot, dan kawan-kawannya akan berjuang hingga titik darah penghabisan untuk meraih kemenangan atau minimal mencetak gol pertama di Piala Dunia 2026 .
Haiti sudah terbiasa dipandang sebelah mata, tetapi mereka tidak pernah patah semangat, seperti dalam Piala Dunia 1974 saat melawan Italia. Menjelang laga melawan ”Gli Azzurri”—tim yang waktu itu adalah peraih dua gelar juara Piala Dunia—Haiti dinilai akan mudah dikalahkan. Namun, mereka tampil solid menahan serangan Italia di sepanjang babak pertama.
Keajaiban pun terjadi di awal babak kedua. Emmanuel ”Manno” Sanon menceploskan gol di menit ke-46. Ia menundukkan kiper tangguh Italia, Dino Zoff. Manno mengakhiri rekor Zoff yang tidak pernah kemasukan gol dalam 12 laga beruntun.
Haiti, tim debutan saat itu, sempat unggul 1-0 sebelum Italia bangkit dan berbalik menang 3-1. Namun, momen Manno mencetak gol tetap menjadi momen terbaik dalam kenangan rakyat Haiti. ”Itu adalah kegembiraan terbesar,” kata Joseph-Marion Leandre (81), mantan gelandang yang 52 tahun lalu masuk skuad timnas Haiti.
Sering diragukan
Leandre mengingat bahwa seorang pelatih Jerman sebelumnya sempat menyuarakan keraguannya Haiti dapat mencetak gol melawan Italia. ”Jika Haiti bisa mencetak gol, saya bisa mengambil senapan, menembak bulan, dan mengenainya’. Itu adalah cara dia mengatakan bahwa itu mustahil,” ungkap Leandre mengenang peristiwa itu seperti dikutip Rolling Stone, Senin (22/6/2026).
Momen magis seperti 52 tahun lalu itu kini menjadi target utama akuad Haiti untuk memberikan secuil kegembiraan bagi seluruh rakyat Haiti yang lebih banyak menderita, alih-alih bahagia. Harapan itu akan mereka perjuangkan dalam laga melawan Maroko.
”Kita adalah bangsa yang penuh harapan. Kita telah melakukan hal-hal yang tak terbayangkan sepanjang sejarah sehingga kita selalu percaya pada mukjizat,” kata Himmler Rebu, mantan perwira militer Haiti yang menjalankan program sepak bola untuk kaum muda yang bermasalah.
Rebu mencontohkan, pada akhir abad ke-18, warga Haiti dengan senjata seadanya melancarkan revolusi yang mengakhiri 300 tahun perbudakan di bawah penjajahan Perancis. ”Kami berharap akan keajaiban lain karena apa yang kami lakukan adalah hal yang indah, tidak rasional,” ujar Rebu.
Bagi rakyat Haiti, lolosnya timnas mereka ke Piala Dunia sudah menjadi oase kegembiraan. Sepak bola membuat mereka jeda sejenak dari kekalutan hidup di bawah bayang-bayang kekerasan bersenjata.
”Kami bukanlah orang-orang yang hidup sejahtera. Tetapi, melalui sepak bola, saya percaya bahwa segala sesuatu mungkin terjadi,” ujar Safran Desir (15), remaja lokal, seusai bermain sepak bola di Parc Sainte-Therese di pinggiran Port-au-Prince, Haiti.
Rakyat Haiti berharap bisa merasakan manisnya hidup melalui sepak bola. Gol dari kaki para pemain kebanggaan mereka saat melawan Maroko akan cukup untuk meredakan dahaga bahagia. Mereka akan mendukung skuad Grenadiers di kantong-kantong ”nonton bareng” di Port-au-Prince, sebelum esok hari kembali menjalani kenyataan hidup yang pahit, yaitu setiap hari selalu diwarnai kekerasan.
Berdasarkan data terakhir Perserikatan Bangsa-Bangsa, 2.300 orang tewas pada 2026 hingga sejauh ini di Haiti. Hampir 1,5 juga orang lainnya mengungsi akibat kekerasan.
Para pemain Haiti pun selalu memberikan yang terbaik di lapangan, berjuang gigih melawan Skotlandia dan Brasil meskipun semua berujung kekalahan. Kini, mereka memiliki kans terakhir untuk meninggalkan kenangan manis.
”Saya merasa bangga terhadap rakyat Haiti. Kami tahu orang-orang mungkin memiliki citra buruk tentang negara kami, bahwa negara ini memiliki banyak masalah. Tetapi, ini akan sangat bermanfaat bagi negara, rakyat, dan keluarga saya,” kata gelandang Haiti, Jean-Ricner Bellegarde.
Diaspora
Gelandang klub Liga Inggris, Wolverhampton Wanderers, itu merupakan salah satu dari 16 anggota skuad Haiti yang lahir dan hidup di luar negeri. Sedangkan pemain yang lahir di Haiti hanya 10 orang. Lalu, hanya satu pemain dari klub Liga Haiti, Violette, yaitu bek Woodensky Pierre.
Tim asuhan Pelatih Sebastien Migne ini juga tidak pernah menjalani laga kualifikasi Piala Dunia di dalam negeri karena masalah keamanan. Para pendukung dari Haiti juga tidak bisa masuk Amerika Serikat karena larangan perjalanan. Namun, ikatan batin mereka kuat dan sama-sama berharap ada titik terang dari sepak bola yang menginspirasi kehidupan.
”Mungkin para pemain saya kurang dikenal, tetapi saya katakan bahwa yang penting adalah jejak yang Anda tinggalkan. Kami berharap pada akhir turnamen ini, kami dapat meninggalkan jejak kami di kompetisi ini,” ujar Migne.
Mereka kini berjuang meraih kebangkitan besar setelah dihajar oleh Brasil 0-3 dalam laga kedua Grup C. Mereka bermain cukup bagus, menciptakan dua tendangan ke gawang, tetapi mampu ditepis oleh kiper Alisson Becker. Penyelesaian akhir yang lebih efisien menjadi pekerjaan rumah untuk diselesaikan Haiti sebelum melawan Maroko.
”Kami akan kembali lebih kuat dalam lima hari lagi, melawan tim besar lainnya, semifinalis di Piala Dunia terakhir. Kami harus mampu mengatasi tantangan ini dan membuat penggemar kami bangga,” ucap Migne.
Haiti akan menjalani laga terakhirnya di Piala Dunia 2026 dengan merasa bangga karena sudah mampu lolos ke panggung terbesar sepak bola, meskipun di tengah situasi negara yang tak kondusif. Tampil di Piala Dunia setelah 52 tahun memang sudah menjadi kegembiraan tersendiri, tetapi kini ada kesempatan terakhir untuk meninggalkan kenangan indah dengan tampil penuh keberanian.
”Saya memiliki kelompok pemain muda dalam hal pengalaman internasional. Saya berharap turnamen ini membantu mereka untuk berkembang, lalu mencoba lolos ke Piala Dunia berikutnya,” ungkap pelatih asal Perancis itu kemudian.
Bermain dengan Hati
Tantangan terakhir Haiti memang tidak mudah karena Maroko memiliki pemain top dengan pengalaman penting mencapai semifinal Piala Dunia 2022. Permainan skuad ”Singa Atlas” terbukti solid dengan menahan Brasil 1-1 dan menundukan Skotlandia 1-0. Semua gol Maroko dicetak oleh striker Ismael Saibari yang akan meneror pertahanan Haiti.
Pemain PSV Eindhoven itu menjadi mesin gol yang efektif setelah Maroko dipimpin oleh Mohamed Ouahbi. Saibari digeser ke posisi penyerang tengah dari tugas sebelumnya sebagai penyerang sayap maupun gelandang serang di era pelatih sebelumnya, Walid Regragui. Perubahan posisi itu membuahkan dua gol beruntun yang sangat krusial membawa Maroko selangkah lagi ke babak 32 besar.
Saibari pun mengembalikan statusnya sebagai Pemain Terbaik Liga Eredivisie Belanda 2026 dengan kontribusi dalam 23 gol dari 27 laga. Ia mencetak 15 gol dan delapan asis. Pencapaian itu menjadikan Saibari sebagai gelandang dengan produktivitas gol tertinggi, yaitu rata-rata satu gol pada setiap 94 menit laga.
Pemain yang lahir di Terassa, Spanyol, itu memiliki peluang membela skuad La Furia Roja, tetapi panggilan hatinya mengantar dia berlabuh di skuad Singa Atlas. ”Saat memilih tim nasional, itu harus berasal dari hati. Itu seharusnya bukan keputusan strategis tentang di mana Anda akan memiliki lebih banyak peluang. Anda mewakili seluruh negara. Jadi, harus bermain dengan sepenuh hati,” tegas pemain berusia 25 tahun itu.
”Bermain di Piala Dunia untuk negara saya adalah impian saya sejak kecil. Saya telah mewujudkan itu dan mencetak dua gol. Jadi, saya sangat senang. Akan tetapi, yang terpenting adalah lolos dari fase grup dan melaju sejauh mungkin,” ucap Saibari yang musim depan diyakini akan membela Bayern Muenchen.
Kini, Saibari membawa misi besar membawa Maroko melangkah lebih jauh dari Piala Dunia 2022. ”Kami semua memiliki tujuan yang sama, mimpi yang sama. Kami seperti keluarga,” ujar Saibari.
Selain Saibari, Maroko memiliki banyak pemain top, seperti Achraf Hakimi, Brahim Diaz, dan pemain muda Ayyoub Bouaddi. Hakimi dan Diaz akan menjadi motor serangan dari sisi sayap untuk menciptakan peluang gol bagi Saibari. Bouaddi dengan kejeniusan bermainnya bisa menjadi pengontrol keseimbangan antarlini sekaligus mengawali serangan dari tengah.
Kasus Hakimi
Maroko juga tidak terpengaruh oleh situasi yang dihadapi oleh Hakimi, pemain yang harus menjalani persidangan di Perancis atas tuduhan pemerkosaan. Bek kanan Paris Saint-Germain itu dituduh memerkosa perempuan berusia 24 tahun di wilayah Paris pada 2023. Tuduhan itu dia bantah.
”Dia baik-baik saja. Dia bangun pagi ini, makan seperti orang lain, bersiap untuk pertandingan dan memotivasi semua orang,” ujar Ouahbi.
”Dia ada di ruang ganti, fokus dan bertekad untuk memberikan penampilan yang bagus. Dia berhasil melakukan itu. Jadi, tidak ada yang perlu dikatakan. Kami mendukungnya dan dia sangat tenang. Sama sekali tidak terpengaruh,” ucap Ouahbi.
Sejak kepastian harus menjalani persidangan itu, Hakimi menjadi sasaran cemoohan penonton yang ada di stadion saat melawan Skotlandia. Namun, dia tetap fokus bermain dan menjadi pemain dengan umpan terbanyak, 89 kali.
Dia juga melepaskan enam umpan silang dan melepaskan dua tendangan ke gawang. Kini, dia akan kembali menjadi tumpuan Maroko saat melawan Haiti.
”Dia akan memainkan lebih banyak pertandingan hebat. Dia adalah bek kanan terbaik di dunia dan dia akan menunjukkan itu di Piala Dunia ini. Dia adalah sosok yang sangat penting bagi saya, staf, para pemain, dan tim Maroko,” ungkap Ouahbi kemudian. (AFP/REUTERS)
Permutasi Maroko untuk lolos ke babak gugur:
Maroko akan lolos ke babak 32 besar sebagai juara Grup C dan bertemu dengan runner-up Grup F jika:
- Mengalahkan Haiti dan Brasil gagal mengalahkan Skotlandia.
- Mengalahkan Haiti, sementara Brasil mengalahkan Skotlandia dan Maroko berada di atas Brasil dalam selisih gol keseluruhan. Atau, jika sama, jumlah gol keseluruhan yang dicetak, atau, jika masih sama dengan peringkat Fair Play.
Maroko akan lolos sebagai runner-up (dan bertemu dengan juara Grup F jika:
- Mengalahkan Haiti, sementara Brasil mengalahkan Skotlandia dan Brasil berada di atas Maroko dalam selisih gol keseluruhan, atau, jika sama, jumlah gol keseluruhan yang dicetak, atau, jika sama, peringkat Fair Play. Jika sama, Brasil berada di atas Maroko dalam Peringkat Dunia FIFA.
- Bermain imbang dengan Haiti.
- Kalah dari Haiti, adapun Skotlandia gagal mengalahkan Brasil.
- Kalah dari Haiti, sementara Skotlandia mengalahkan Brasil. Maroko finis di atas Brasil berdasarkan selisih gol keseluruhan, atau, jika sama, jumlah gol yang dicetak secara keseluruhan, atau, jika sama, peringkat Fair Play.