Di tahun kedua kepemimpinan pelatih Lee Kyung-chul, tim panahan Indonesia membawa asa besar ke SEA Games Thailand 2025. Lee jadi pegangan di tengah gelombang Korea.
30 Nov 2025 05:30 WIB · Olahraga
”Bersama pelatih Korea Selatan, kami percaya”, kalimat itu mulai menjadi slogan paling jitu bagi negara-negara Asia Tenggara yang ingin mengembangkan prestasi di cabang olahraga panahan. Fenomena hallyu, istilah untuk gelombang Korea, yang lebih sering dipakai dalam konteks industri hiburan tersebut, terasa semakin nyata saat ini.
Terbaru adalah Filipina. Beberapa pekan menjelang SEA Games Thailand 2025, mereka merekrut mantan pelatih tim nasional Korsel Ryu Su-jeng. Namanya harum seusai mengantar pemanah Chang Hye-jin meraih dua emas Olimpiade. Wanita 58 tahun itu diharapkan bisa membangkitkan prestasi Filipina yang turun drastis belakangan ini.
Perekrutan itu terkesan tiba-tiba, sangat berdekatan dengan SEA Games. Namun, media-media di Filipina sepakat menyebut kehadiran Ryu sebagai anugerah terbesar bagi negara mereka. Seperti diketahui, Korsel merupakan kiblat panahan dunia. Mereka ibarat Brasil di sepak bola dan Amerika Serikat di bola basket.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/14/a62ed79e-63c6-4fd8-aacb-b6c2b6ec06b6_jpg.jpg)
Selama dua dekade terakhir, Malaysia membuktikan pengaruh besar kehadiran pelatih Korsel lewat Lee Jae-hyung. Bersama Malaysia, dia menciptakan olimpian panahan pertama di Athena 2004 dan mengantarkan tim putri tampil pertama kali di Paris 2024. Kisah sukses itu diteruskan suksesornya, Kim Jae-rack, sejak Maret lalu.
”Di Asia Tenggara saat ini, semua berlomba memakai jasa pelatih Korea. Vietnam dan Malaysia yang paling terlihat berkembang. Karena itu, persaingan di SEA Games nanti pasti sengit,” kata Lee Kyung-chul, Pelatih Kepala Tim Recurve Panahan Indonesia, di D’Khayangan Archery Center, Cikarang, Jabar, Jumat (7/11/2025).
Lee, mantan pemanah dan pelatih timnas Korsel, menukangi tim Indonesia sejak awal 2024. Di tahun yang sama, Vietnam menunjuk rekan senegara Lee, Park Chae-soon. Kedua pelatih ”negeri ginseng” itu turut mendampingi tim masing-masing saat bertarung di Olimpiade Paris.
Ancaman dari negara-negara tetangga sangat nyata di SEA Games nanti. Namun, Indonesia tidak perlu khawatir. Bersama Lee, semua terlihat akan baik-baik saja. Di tahun kedua bersama ”Merah Putih”, sang pelatih benar-benar mengaplikasikan semua ilmu yang dimilikinya sejak berkarier sebagai atlet pada 1990-an.
Tahun lalu, Lee kurang bisa maksimal menerapkan programnya. Dia ditunjuk hanya sekitar empat bulan sebelum Olimpiade. Tidak seperti sekarang, Lee memiliki setahun penuh untuk mempersiapkan Diananda Choirunisa dan rekan-rekan bertarung di Thailand. Dia menggunakan pendekatan berbeda yang sangat detail.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/07/38c2cde0a96573cbf171cbc4de34fe77-FAK_8144.jpg)
Lee menceritakan pendekatan terbarunya dalam sela-sela pemusatan latihan nasional di D’Khayangan. Saat jeda latihan, dia mengambil ponselnya untuk memperlihatkan sesuatu. Setelah lima menit mencari-cari, pria 53 tahun itu membuka berkas digital berisi kumpulan data analisis tentang performa para pemanah di latihan dan lomba.
Catatan itu begitu lengkap. Di data latihan, misalnya, terdapat semua nilai hasil panahan para atlet dalam sehari penuh berlatih, termasuk detail posisi anak panah di papan target. ”Saya memprogramkan ini sendiri, memasukkan data sendiri sejak awal tahun. Pusing, datanya banyak sekali, tetapi penting untuk dikerjakan,” ujar Lee.
Lewat data itu, sang pelatih bisa dengan mudah menganalisis kekurangan anak asuhnya. Misal, jika ada pemanah yang terus-menerus meleset ke sisi kiri selama beberapa hari, hal itu berarti terdapat kesalahan teknik yang harus segera diperbaiki. Lee akan langsung meminta anak asuhnya untuk melakukan penyesuaian.
Tidak hanya teknik, psikologis para pemanah juga diperhatikan serius. Lee turut mendata tipe kepribadian anak asuhnya dengan standar teori MBTI (Myers–Briggs Type Indicator). Dengan mengetahui karakter lebih detail, sang pelatih bisa menyesuaikan pendekatan terhadap setiap atlet.
Menariknya, semua pemanah di tim Indonesia tercatat berkepribadian introver. ”Kalau introvert, biasanya akan lebih sulit mengungkapkan ekspresi. Saya harus bisa membaca apa yang membuatnya tidak nyaman dan bagaimana memotivasi. Data itu membantu saya dalam menyesuaikan terhadap karakter atlet yang berbeda-beda,” ujar Lee.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/31/68a66ba8-5740-4482-aefb-e6b5b586ee8d_jpg.jpg)
Di antara perubahan pendekatan yang semakin memaksimalkan data, ada hal yang sama dari latihan ala Lee. Itu adalah latihan keras nan repetitif yang selalu jadi makanan para pemanah setiap hari. Mereka harus memanah minimal delapan jam sehari, dari pagi sampai sore, belum termasuk jika ada latihan malam.
Pola repetitif itu diharapkan membuat memori otot dan mentalitas para atlet terbentuk, lalu terbawa ke lomba. Tentu, tidak semua pemanah menyambut program latihan dengan bahagia. Pemanah olimpian Indonesia, Arif Dwi Pangestu, merasa kewalahan. ”Kadang saya kehilangan semangat karena terlalu lelah,” ujarnya.
Ada kelebihan dan kekurangan yang terlihat dari program latihan ala Lee. Meskipun begitu, terlalu dini untuk menilai sang pelatih saat ini. Tanda tanya keberhasilan programnya baru akan terjawab di Thailand nanti, saat dia beradu ilmu dengan banyak rekan senegaranya.
Pembaca yang budiman, harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Kelvin Hianusa, Rebiyyah Salasah, I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji