Hamas-Israel Sepakati Fase Pertama Rencana Akhiri Perang Gaza

Fase pertama mencakup pembebasan semua sandera dan tahanan, penarikan pasukan, serta pembukaan akses bantuan untuk warga Palestina di Jalur Gaza.

09 Okt 2025 08:30 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

KAIRO, KAMIS — Setelah berunding di Mesir, Hamas dan Israel mencapai kesepakatan rencana fase pertama untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza. Optimisme perang segera berakhir mulai terbit.

Hamas dan Israel mengadakan negosiasi tidak langsung sejak 6 Oktober 2025 di Sharm el-Sheikh, Mesir. Tim dari negara mediator juga hadir, yakni Amerika Serikat, Qatar, Mesir, dan Turki.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan hasil perundingan tersebut dengan bangga, Rabu (8/10/2025) waktu setempat atau Kamis (9/10/2025) WIB. Dia juga berterima kasih kepada semua mediator yang bekerja sama untuk mewujudkan perdamaian.

”Israel dan Hamas telah menandatangani tahap pertama rencana perdamaian kami. Hal ini berarti semua sandera akan segera dibebaskan dan Israel akan menarik pasukan mereka ke garis yang disepakati sebagai langkah pertama menuju perdamaian yang kuat, awet, dan abadi. Semua pihak akan diperlakukan secara adil!” kata Trump di Truth Social.

Kesepakatan awal tersebut dikonfirmasi oleh pejabat Israel dan Hamas serta mediator Qatar. Belum jelas apakah kedua pihak telah mencapai kemajuan dalam isu yang lebih pelik terkait proposal Trump berisi 20 poin itu, termasuk mengenai demiliterisasi Hamas, reformasi Otoritas Palestina, dan pemerintahan transisi.

Seorang perempuan Mesir menonton berita di saluran lokal yang menampilkan gambar negosiator utama kelompok Hamas, Khalil al-Hayya (tengah) tiba di Kota Sharm El-Sheikh untuk berunding tentang mengakhiri perang Gaza, di Kairo, Mesir, Rabu (8/10/2025). Hamas dan Israel memulai perundingan tidak langsung pada 6 Oktober 2025 di kota resor Sharm El-Sheikh, Mesir, mengenai proposal perdamaian usulan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang.

Dalam sebuah unggahan di Telegram, Hamas mengumumkan telah menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri perang di Gaza. Kesepakatan mencakup penarikan pasukan Israel, pembukaan akses bantuan kemanusiaan, dan pertukaran tahanan.

”Pemimpin AS, mediator Arab, dan pihak-pihak internasional memaksa Israel untuk sepenuhnya melaksanakan persyaratan perjanjian serta tidak membiarkannya menghindari atau menunda pelaksanaan dari apa yang telah disepakati,” bunyi pernyataan Hamas, menurut Al Jazeera.

Hamas juga menegaskan akan tetap ”setia pada janji kami dan tidak akan mengabaikan hak-hak nasional rakyat kami, termasuk kebebasan, kemerdekaan, dan penentuan nasib sendiri”.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di pelantar X menyebutkan, hari ini adalah hari besar bagi Israel. Dia akan mengumpulkan kabinet untuk menyetujui kesepakatan dan memulangkan semua sandera. ”Bersama-sama kita akan terus mencapai semua tujuan kita dan memperluas perdamaian dengan tetangga kita,” tulisnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, menyampaikan, rincian kesepakatan akan diumumkan nanti.

Trump melawat

Selama perundingan di Mesir, para pemimpin tertinggi Hamas terlibat dalam negosiasi, yakni Taher al-Nunu dan Khalil Al-Hayya. Tim Israel yang mengikuti, termasuk Menteri Urusan Strategis dan kepala negosiator, Ron Dermer; Penasihat Kebijakan Luar Negeri Netanyahu, Ophir Falk; koordinator sandera, Gal Hirsch; serta pejabat Mossad dan Shin Bet.

Di Gedung Putih, Trump menyampaikan, ia sedang mempertimbangkan untuk melawat ke Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan. Langkah itu dapat menjadi wujud optimisme yang besar.

”Saya mungkin akan ke sana menjelang akhir pekan ini, mungkin hari Minggu. Negosiasi berjalan sangat baik,” ujar Trump seraya mempertimbangkan kemungkinan kunjungan ke Mesir dan Gaza.

Beberapa pejabat tinggi AS, Qatar, dan Turki telah berada di Mesir, termasuk Utusan Khusus Presiden AS untuk Urusan Timur Tengah Steve Witkoff dan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani. Kedatangan pejabat tingkat tinggi menjadi pertanda bahwa para mediator berkomitmen untuk mendalami isu-isu tersulit dari proposal perdamaian.

Seorang perempuan Mesir menonton berita di saluran lokal yang menampilkan gambar Utusan Timur Tengah Presiden Amerika Serikat, Steve Witkoff (kanan) dan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner (tengah) tiba di Kota Sharm El-Sheikh untuk berunding dengan Hamas-Israel serta mediator lain tentang proposal damai di Gaza, di di Kairo, Mesir, Rabu (8/10/2025). Perundingan tidak langsung berlangsung sejak pada 6 Oktober di kota resor Sharm El-Sheikh, Mesir. Proposal itu merupakan usulan AS.

Selain itu, perwakilan dari faksi-faksi pembela Palestina yang lebih kecil hadir di Mesir, yakni Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) dan Jihad Islam. Partisipasi mereka menegaskan komitmen perundingan untuk mencakup semua kelompok Palestina.

Pada Januari 2025, Hamas dan Israel sebetulnya sudah mencapai kesepakatan gencatan senjata. Kedua pihak sempat bertukar sandera dan tahanan. Namun, Tel Aviv melanggar kesepakatan pada Maret 2025 dengan melanjutkan serangan.

Perundingan-perundingan untuk kembali mewujudkan gencatan senjata selanjutnya selalu gagal karena menghadapi kendala yang sama. Hamas menuntut jaminan berakhirnya perang. Adapun Israel ingin Hamas hancur.

Harapan warga

Al Jazeera melaporkan, militer Israel masih meledakkan bom mobil di lingkungan Sabra, Kota Gaza, Kamis. Di Tepi Barat, Israel juga masih melancarkan beberapa serangan.

Di Jalur Gaza, warga Palestina terus berharap agar segera ada terobosan perdamaian. Sebelum pengumuman Trump terkait kesepakatan, suasana di Al-Mawasi, Gaza bagian selatan, terasa penuh harap. Terdengar seruan ”Allahu Akbar” yang penuh sukacita dan beberapa tembakan ke udara sebagai bentuk perayaan.

”Kami mengikuti dengan saksama setiap berita tentang negosiasi dan gencatan senjata,” kata Mohammed Zamlot (50), yang mengungsi dari Gaza utara.

Sara Rihan, perempuan pengungsi dari Jabaliya, berdoa agar perang segera berakhir. ”Saya harap kami kembali ke tempat dan rumah kami meskipun tidak ada rumah. Keberadaan kami di tanah kami adalah kebahagiaan terbesar bagi kami,” tutur Rihan.

Warga Palestina memeriksa puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan Israel di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah, Minggu (28/9/2025). Selama hampir dua tahun, operasi militer Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 65.549 warga Palestina, sebagian besar warga sipil, menurut kementerian kesehatan di Gaza.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 67.000 warga Palestina tewas dan 170.000 lainnya terluka akibat serangan Israel di Gaza. Jumlah korban tewas sudah mencakup 18.430 anak-anak, 9.735 perempuan, dan 4.429 warga lansia, tetapi belum termasuk ribuan orang mati karena terkubur reruntuhan dan malanutrisi.

Para ahli PBB serta kelompok-kelompok hak asasi manusia telah menyebut aksi Israel merupakan genosida. Namun, Israel terus membantah tekanan global agar menghentikan serangan. Dukungan untuk rakyat Palestina terus meningkat, terlihat dari gelombang pengakuan negara Palestina dan unjuk rasa di seluruh dunia.

Berbagai aktivis global juga mencoba untuk mengirim bantuan lewat jalur laut ke Gaza yang dilanda kelaparan, tetapi gagal. Pada Rabu, Israel mencegat armada kapal dari Koalisi Armada Kebebasan (FFC) yang berusaha mengirim bantuan ke Gaza setelah mencegat armada Global Sumud Flotilla (GSF).

(AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto