Hamas menyatakan siap memulangkan sandera. Trump menyambut baik kesanggupan Hamas. Namun, Israel masih mengebom Jalur Gaza.
04 Okt 2025 18:57 WIB · Internasional
GAZA CITY, SABTU — Di tengah harapan yang menguat di Gaza, situasi di kawasan itu masih sangat cair. Kabar gembira tersebar setelah Hamas bersedia memulangkan semua sandera sebagaimana disebut dalam proposal yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam tempo kurang lebih tiga hari, Hamas akan menyerahkan 48 sandera yang masih tersisa, sebanyak 20 di antaranya diyakini masih hidup. Selain itu, Hamas juga bersedia menyerahkan kekuasaan.
Di sisi lain, Israel mengatakan akan memulai persiapan untuk mengimplementasikan tahap pertama proposal damai Trump, termasuk pembebasan sandera dan tawanan. Kepada kantor berita Associated Press, seorang sumber dari kalangan militer Israel mengatakan, tentara telah diminta untuk beralih dari posisi ofensif ke posisi defensif.
Akan tetapi, situasi di lapangan tampak berbeda. Tentara Israel pada Sabtu (4/10/2025) siang kembali menyerang Gaza. Militer Israel (Tzahal) memerintahkan warga Gaza City untuk tidak kembali ke daerah hunian mereka yang sedang dibombardir Israel.
”Tzahal masih beroperasi di Gaza City. Jika Anda kembali ke sana, sangat berbahaya. Demi keselamatan nyawa Anda, jangan kembali ke arah utara ataupun berada di dekat daerah operasi militer Israel, termasuk di selatan Jalur Gaza,” kata jubir bahasa Arab Tzahal, Kolonel Avichay Adraee.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/04/f6849c1c870a7044f890813ca93a16cf-Israel_Palestinians_Gaza_133091052.jpg)
Sebelumnya, Trump mendesak Israel untuk menyudahi operasi militer. Desakan itu diserukan Trump setelah Hamas menyatakan siap membebaskan sandera. Pembebasan itu merupakan langkah awal perdamaian Israel-Hamas.
”Gerakan perjuangan mengumumkan kesepakatan membebaskan semua sandera hidup dan pengembalian jenazah yang meninggal untuk dilanjutkan dengan perundingan damai sesuai usulan Presiden Donald Trump,” kata Hamas dalam keterangan tertulis, Jumat petang.
Trump langsung menyambut Hamas dengan menyatakan di akun Truth Social, ”Berdasar pernyataan Hamas yang baru disampaikan, mereka siap untuk perdamaian abadi. Israel harus segera menghentikan serangan di Gaza agar sandera dapat dievakuasi segera dengan selamat.”
Pejabat senior Hamas, Sabtu pagi, mengatakan, pihaknya siap untuk segera duduk di meja perundingan untuk menyelesaikan segala hal yang harus dibahas. Pejabat Hamas lainnya mengatakan, Mesir sebagai juru runding akan menjadi tuan rumah pertemuan berbagai faksi Palestina untuk menentukan masa depan Gaza pascaperang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/28/b38678475364750179c2058676459816-wires_photo_13.jpg)
Laman CNN World menyebutkan, dalam keterangan tertulis, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan siap menjalankan tahap satu usulan damai Trump. Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas juga menyambut baik pengumuman gencatan senjata oleh Trump. Ia pun mengapresiasi langkah Hamas saat menyikapi fase kritis yang terjadi.
Abbas juga menyampaikan terima kasih atas upaya negara Arab dan Muslim mendorong perdamaian, yakni Arab Saudi, Mesir, Jordania, Qatar, Uni Emirat Arab, Turki, Indonesia, dan Pakistan.
Usulan perdamaian Trump menyerukan dihentikan serangan, diikuti pembebasan sandera dalam 72 jam, penarikan mundur Tzahal secara bertahap, dan pelucutan senjata Hamas.
Usulan tersebut juga menyatakan Hamas dan jejaringnya tidak akan terlibat dalam pemerintahan baru di Gaza. Badan pemerintahan khusus dibentuk dengan menghimpun para teknokrat yang mengawasi Badan Transisi yang dipimpin Donald Trump.
Keluarga dan teman-teman para sandera mendesak PM Netanyahu menghentikan serangan militer Israel di Gaza. ”Presiden Trump sudah mendesak dihentikannya perang segera mungkin demi menyelamatkan sandera,” demikian keterangan Forum Sandera dan Keluarga yang Hilang di Israel. ”Kami menuntut PM Netanyahu segera berunding untuk memulangkan para sandera,” kata forum tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/04/be3400775e441f80f561a09a1323304e-wires_photo_2025_10_04T180714.694.jpg)
Meski Hamas siap berunding dan Presiden Trump menyambut baik, sejak Jumat malam Israel membombardir Gaza City hingga pagi. Korban pun berjatuhan di sana.
”Malam yang mengerikan, tembakan meriam dan serangan udara Israel dilancarkan di Gaza City dan beberapa wilayah lain meski Presiden Trump sudah memerintahkan dihentikannya serangan,” kata Juru Bicara Pertahanan Sipil Palestina Mahmud Bassal kepada AFP.
Bassal, yang bekerja di bawah otoritas Hamas di Gaza, menerangkan, sekurangnya 20 rumah hancur lebur dibom Israel.
RS Kristen Baptis di Gaza City menerima empat korban tewas dan para korban luka akibat pengeboman Israel di wilayah Tuffah. Di wilayah selatan, RS Nasser di Khan Yunis melaporkan dua bocah cilik tewas dan delapan warga terluka akibat serangan drone Israel ke tenda pengungsi.
Jamila al-Sayyid (24), warga Al-Zeitoun di Gaza City, mengatakan, pengeboman terjadi sepanjang malam. ”Semula saya gembira ketika Trump mengumumkan gencatan senjata. Namun, yang terjadi, pesawat tempur Israel terus menyerang.”
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/04/5dc902097c3d8cc0ba8bd58caac9c139-wires_photo_2025_10_04T180758.124.jpg)
Wartawan AFP di pesisir Al-Mawasi dekat Kota Raffah, Gaza selatan, menyaksikan warga dengan gembira menyerukan takbir ”Allahu akbar” bersahut–sahutan dari tenda-tenda pengungsi ketika mendengar keterangan Hamas siap menghentikan perang dan berunding.
”Ini hari yang indah, penuh sukacita. Perang sudah berlangsung hampir dua tahun,” kata Sami Adas (50) yang hidup di tenda pengungsian bersama keluarga. ”Presiden Trump sendiri mengumumkan gencatan senjata. Netanyahu tidak bisa mengelak lagi. Hanya dia (Trump) yang bisa memaksa Israel untuk menghentikan perang,” kata Adas.
Para pemimpin dunia dari Inggris, Perancis, Jerman, dan Sekjen PBB Antonio Guterres menyambut baik sikap Hamas dan pengumuman Presiden Trump tentang gencatan senjata.
Perang Israel–Hamas dipicu serangan Hamas ke Israel tanggal 7 Oktober 2023 yang mengakibatkan 1.219 orang tewas (sebagian karena salah sasaran militer Israel). Selain itu, ada 251 orang yang diculik dan dibawa ke Gaza.
Serangan balasan Israel mengakibatkan 66.288 warga tewas yang didominasi perempuan, anak–anak, dan warga lanjut usia. Para pejuang Hamas adalah keturunan pengungsi Palestina yang sebagian besar diusir Israel dari rumah dan tanah mereka pada peristiwa Nakba, Mei 1948. Sejak itu 80 persen penduduk asli Palestina menjadi pengungsi turun-temurun di beberapa negara serta di daerah pendudukan, seperti Gaza, Tepi Barat, dan Jerusalem Timur. (AP/AFP)
Penulis:
Iwan Santosa, B Josie Susilo HEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar