Saat audiensi dengan sekitar 6.000 wartawan, Paus minta wartawan menyerukan perdamaian dan menyuarakan yang lemah.
13 Mei 2025 12:15 WIB · Foto
Tepuk tangan meriah menggema saat Paus Leo XIV memasuki auditorium Vatikan untuk pertemuan pertamanya dengan sekitar 6.000 wartawan yang datang ke Vatikan untuk meliput pemilihannya sebagai paus. Leo XIV membuka pertemuan dengan beberapa patah kata dalam bahasa Inggris, bercanda bahwa jika kerumunan masih terjaga dan bertepuk tangan di akhir, itu lebih penting daripada tepuk tangan meriah yang menyambutnya.
Misionaris Agustinian berusia 69 tahun yang terpilih dalam konklaf 24 jam minggu lalu itu menyerukan agar wartawan menggunakan kata-kata untuk perdamaian, menolak perang, dan menyuarakan mereka yang tidak bersuara.
”Perdamaian dimulai dari kita masing-masing, dalam cara kita memandang orang lain, mendengarkan orang lain, dan berbicara tentang orang lain,” katanya kepada wartawan yang berkumpul di aula audiensi besar Paus Paulus VI di Vatikan.
”Oleh karena itu, izinkan saya menegaskan kembali hari ini solidaritas Gereja dengan wartawan yang dipenjara karena mencari dan melaporkan kebenaran, sambil juga meminta pembebasan mereka.”
”Gereja mengakui dalam kesaksian-kesaksian ini, saya memikirkan mereka yang melaporkan perang, bahkan dengan mengorbankan nyawa mereka, keberanian mereka yang membela martabat, keadilan, dan hak orang untuk mendapatkan informasi, karena hanya individu yang terinformasi yang dapat membuat pilihan bebas,” Seru Leo XIV, yang disambut tepuk tangan.
”Penderitaan para jurnalis yang dipenjara ini menantang hati nurani bangsa-bangsa dan komunitas internasional, menyerukan kita semua untuk menjaga anugerah kebebasan berbicara dan pers yang berharga,” lanjutnya, seperti dikutip AFP.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/13/4de12f4c-2ae3-4d58-8935-3e3455670182_jpg.jpg)
Menurut Reporters without Borders, 550 jurnalis ditahan pada tahun 2024, hingga 1 Desember.
Paus Leo XIV, yang aktif di media sosial sebelum menjadi paus, juga mengingatkan para jurnalis tentang tanggung jawab mereka.
”Mari kita melucuti komunikasi dari semua prasangka dan kebencian, fanatisme dan bahkan kebencian, mari kita bebaskan dari agresi,” katanya.
”Kita tidak membutuhkan komunikasi yang keras dan kuat, tetapi komunikasi yang mampu mendengarkan dan mengumpulkan suara-suara yang lemah yang tidak memiliki suara.” Paus Leo XIV juga memperingatkan wartawan agar tidak menggunakan kata-kata mereka untuk mengobarkan kebencian.
Setelah pidato singkatnya, ketika ia merenungkan kekuatan kata-kata untuk berbuat baik, Leo XIV menyapa beberapa wartawan di barisan depan dan kemudian berjabat tangan dengan kerumunan sembari keluar dari aula audiensi di lorong tengah. Ia juga menandatangani beberapa suvenir yang disodorkan wartawan dan berpose untuk beberapa permintaan swafoto.
Para wartawan kemudian terlibat obrolan dengannya, termasuk rencana Vatikan agar Leo pergi ke Turki untuk memperingati peristiwa penting dalam hubungan Katolik-Ortodoks, yakni peringatan 1.700 tahun Konsili Nicea, konsili ekumenis pertama Kristen.
Apa yang dikatakan Paus Leo XIV kepada media ini mirip dengan yang pernah disampaikan Paus Fransiskus pada Januari lalu, saat ia mengimbau pembebasan para jurnalis yang dipenjara dalam acara Tahun Suci bersama media.
”Hanya individu terinformasi yang dapat membuat pilihan bebas.”
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti