Ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi global 2025 tak terlalu tinggi. Angkanya bakal bergantung pada perbedaan pertumbuhan ekonomi setiap negara atau kawasan.
19 Jan 2025 12:36 WIB · Ekonomi
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi dunia tahun ini masih tumbuh lambat. Forum Ekonomi Dunia bahkan menyebut bakal ada tiga risiko global yang membayangi ”perjalanan” ekonomi. Ekonomi dunia berada dalam situasi harap-harap cemas.
IMF memperkirakan ekonomi dunia pada 2025 dan 2026 tumbuh masing-masing 3,3 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi global pada 2024 yang sebesar 3,2 persen.
Namun, tingkat pertumbuhan itu berada di bawah rerata pertumbuhan ekonomi dunia pada 2000-2019 yang sebesar 3,7 persen. Kendati begitu, proyeksi itu lebih positif dari perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia yang dirilis pada Oktober 2024 yang sebesar 3,2 persen.
Hal itu tertuang dalam World Economic Outlook Update Januari 2025 ”Global Growth: Divergent and Uncertain”. IMF merilis pemutakhiran tinjauan ekonomi tersebut di Washington, Jumat (17/1/2025) waktu setempat.
IMF memperkirakan ekonomi dunia pada 2025 dan 2026 tumbuh masing-masing 3,3 persen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/19/35b8a011-92b2-4e78-94bd-954884a3e2c1_png.png)
IMF juga memperkirakan ekonomi Indonesia bakal tumbuh 5,1 persen pada 2025 dan 2026. Angka itu tidak berubah dari proyeksi sebelumnya dan sedikit lebih rendah daripada target pertumbuhan ekonomi 2025 Pemerintah Indonesia yang sebesar 5,2 persen.
Tingkat inflasi gobal juga diperkirakan terus turun menjadi 4,2 persen pada 2025 dan 3,5 persen pada 2026. Pada 2024, tingkat inflasi global mencapai 5,7 persen.
”Ini berarti gangguan global yang sangat besar yang dimulai dengan pandemi Covid-19, kemudian perang di Ukraina yang memicu lonjakan inflasi global terbesar dalam 40 tahun terakhir, telah berlalu. Ini adalah akhir dari sebuah siklus dan awal dari siklus baru,” kata Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas melalui siaran pers.
Namun, lanjut Gourinchas, ketidakpastian ekonomi dunia masih cukup besar. Ketidakpastian itu bakal dipicu konflik geopolitik, ketegangan perdagangan, dan perubahan kepemimpinan di negara-negara ekonomi utama.
Ketidakpastian kebijakan perdagangan yang meningkat akan melemahkan permintaan di banyak negara, termasuk China. Tahun ini, ekonomi negara tersebut diperkirakan hanya tumbuh 4,6 persen.
”Untuk menghadapi sejumlah tantangan itu, penting bagi para pembuat kebijakan melakukan reformasi struktural dan mengejar kerja sama multilateral. Mengurangi utang dan membangun kembali penyangga fiskal juga diperlukan untuk mengantisipasi krisis di masa mendatang,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/10/17/0dd10a9d-710c-4c75-92be-da2b4ab61aad.jpg)
Forum Ekonomi Dunia (WEF) juga memotret kondisi global yang kurang lebih sama. Pada 15 dan 16 Januari 2025, WEF merilis dua laporan tentang risiko global dan pandangan para ekonom terhadap perekonomian global.
Dalam Global Risk Report 2025, WEF menyebutkan ada tiga risiko global yang tengah dan bakal dihadapi dalam dua hingga 10 tahun ke depan. Teratas adalah konflik bersenjata berbasis negara. Kemudian pada urutan kedua dan ketiga adalah cuaca ekstrem dan konflik geoekonomi.
Adapun dalam Chief Economists Outlook 2025, WEF menunjukkan, situasi harap-harap cemas sebagian besar dari 900 responden yang merupakan kepala ekonom lembaga dan perusahaan besar di dunia. Sebanyak 56 persen kepala ekonom memperkirakan ekonomi global masih tumbuh lambat pada 2025 dibandingkan dengan hanya 17 persen yang memperkirakan perbaikan.
Hal itu menunjukkan harapan untuk pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan tidak terlalu tinggi. Pertumbuhannya bakal bergantung pada perbedaan pertumbuhan ekonomi setiap negara atau kawasan.
Ekonomi Amerika Serikat diperkirakan akan tumbuh kuat tahun ini. Asia Selatan, khususnya India, juga diperkirakan akan mempertahankan pertumbuhan yang kuat. Prospek ekonomi Eropa diperkirakan masih suram, sedangkan China masih lemah.
Sebanyak 56 persen kepala ekonom memperkirakan ekonomi global masih tumbuh lambat pada 2025 dibandingkan dengan hanya 17 persen yang memperkirakan perbaikan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/19/8db8bae54a74dd473c297d650975e0fa-Screenshot_2025_01_19_104322.png)
Selain itu, 48 persen kepala ekonom optimistis volume perdagangan global akan meningkat tahun ini. Namun, mereka tetap khawatir terhadap meningkatnya siklus tindakan balasan perdagangan atas proteksionisme.
Mereka juga memperkirakan dinamika perang dagang akan meningkat, terutama antara AS dan China. Mereka bahkan mengamini bahwa perang dagang sebenarnya masih terus berlangsung, tidak hanya antara AS dan China.
Hal itu terindikasi dari laporan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). WTO mencatat, pada 2024, kebijakan baru yang mendistorsi perdagangan di antara negara-negara G20 sebanyak 2.402 kebijakan. Jumlah itu melebihi langkah-langkah liberalisasi perdagangan yang hanya 634 pada tahun yang sama.
Sementara sekitar 82 persen kepala ekonom memprediksi regionalisasi perdagangan bakal tumbuh semakin besar selama tiga tahun ke depan. Fragmentasi perdagangan pelan-pelan telah mengubah peta rantai pasok dunia.
Di tengah situasi harap-harap cemas itu, Indonesia tetap berupaya berada di posisi yang netral. Indonesia terus mengembangkan kemitraan secara bilateral, multilateral, bahkan masuk ke dalam organisasi yang mewadahi kesamaan pandangan politik dan ekonomi.
Indonesia telah resmi masuk dalam BRICS yang adalah singkatan dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Indonesia juga dalam proses bergabung dengan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Indonesia juga melamar ke Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP).
Dengan menampilkan wajah diplomasi luar negeri tersebut, Indonesia ingin menyasar sejumlah tujuan. Salah satunya adalah meningkatkan pertumbuhan perdagangan dan investasi guna menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/05/ae899a329a7496bea733d0066190a87e-HnfsFTAZmxGGDi4FzhCwp5nKGhaZEx3KEbTdTk43.jpg)
Di sektor perdagangan, misalnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah merancang target ekspor 2025-2029. Setidaknya ada tiga strategi yang akan digulirkan, yakni peningkatan ekspor usaha kecil menengah (UKM), menambah perjanjian dagang dan kemitraan ekonomi komprehensif, serta memperkuat penetrasi pasar di negara-negara yang ditempati perwakilan dagang RI.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengemukakan, pada 2025, ekspor nonmigas ditargetkan tumbuh 7,1 persen secara tahunan menjadi senilai 294,45 miliar dollar AS. Pada 2024, nilai ekspor nonmigas RI mencapai 264,7 miliar dollar AS.
Kemendag juga telah memetakan target ekspor sampai 2029. Nilai ekspor pada 2026 dan 2027 ditargetkan tumbuh masing-masing 7,09 persen (315,31 miliar dollar AS) dan 7,89 persen 340,2 miliar dollar AS. Kemudian pada 2028 dan 2029, ekspor ditargetkan tumbuh 8,77 persen (370,04 miliar dollar AS) dan 9,64 persen (405,69 miliar dollar AS).
“Angka target pertumbuhan ekspor tersebut masih sangat dinamis. Hal itu mengingat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kemendag masih dalam proses pembahasan. Selain itu, kami juga merujuk pada dinamika ekonomi global dan proyeksi pertumbuhan ekonomi IMF dan Bank Dunia," kata Budi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/19/889c980734dbcc4fd39030dd0feceae0-Screenshot_2025_01_19_105416.png)
Kemendag juga menggulirkan setidaknya tiga strategi menggenjot ekspor. Pertama, menaikkan ekspor UKM pada 2025 sebesar 9,63 persen atau senilai 19,33 miliar dollar AS. Kemudian pada 2029, ekspor UKM ditargetkan mencapai 35,29 miliar dollar AS atau tumbuh 21,57 persen.
Kedua, ekspor khusus di 33 negara akreditasi perwakilan perdagangan RI ditargetkan tumbuh 7,25 persen menjadi 225,69 miliar dollar AS pada 2025. Dari jumlah itu, ekspor UKM di 33 negara tersebut bisa mencapai 18,84 miliar dollar AS atau tumbuh 12,54 persen.
Keempat, Kemendag juga akan berupaya merampungkan sejumlah perundingan perdagangan internasional. Beberapa di antaranya adalah perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif RI-UE, RI-Peru, RI-Kanada, dan perjanjian perdagangan bebas RI- Uni Ekonomi Eurasia (EAEU).
Penulis:
Hendriyo WidiEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Nur Adji