Harapan Perdamaian Lebanon di Pundak Paus Leo

Tiga kali Paus datang ke Lebanon. Ketiga kunjungan itu dilakukan saat Lebanon dilanda krisis.

25 Nov 2025 13:00 WIB · Internasional

AP

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

BEIRUT, SELASA - Rakyat Lebanon menggantungkan harapan pada kunjungan Paus Leo XIV agar bisa membawa perdamaian di tanah air mereka. Lebanon masih berkonflik dengan Israel hingga sekarang.

Pada Minggu (23/11/2025) malam waktu Beirut atau Senin (24/11/2025) dini hari waktu Indonesia, Israel menyerang wilayah selatan Beirut. Mereka membunuh Kepala Sayap Militer Hizbullah Haytham Ali Tabataba'i.

Harian Al Mayadeen melaporkan, total lima orang tewas dan 28 orang terluka akibat serangan ke Dahiyeh itu. Dahiyeh adalah distrik di Beirut selatan yang dikenal sebagai markas Hizbullah. Akan tetapi, markas Hizbullah ini berada di tengah-tengah permukiman warga sipil.

Municipal workers clear debris from a street beside a residential building damaged in Sunday's Israeli airstrike that killed Hezbollah's chief of staff, Haytham Tabtabai, in the southern suburb of Hareit Hreik, Lebanon, Monday, Nov. 24, 2025. (AP Photo/Hassan Ammar)

Peristiwa ini membuat takut masyarakat Lebanon. Apalagi, Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma Paus Leo XIV dijadwalkan akan  berkunjung ke Lebanon. Paus akan melawat pada 27 November hingga 2 Desember. 

Turki menjadi tujuan pertama lawatan ini, kemudian disusul oleh Lebanon. Rencananya, Paus Leo berada di Lebanon pada 30 November hingga 2 Desember. Ini merupakan lawatan internasional Paus Leo yang dilantik pada Mei 2025.

"Jangan khawatir. Serangan ini tidak mengubah jadwal penerbangan apapun dari dan ke luar negeri," kata Direktur Penerbangan Sipil Kementerian Perhubungan Lebanon Amin Jaber kepada harian L'Orient-Le Jour, Selasa (25/11/2025).

Serangan Israel ini terjadi setelah satu tahun berjalannya gencatan senjata antara Israel dengan Hizbullah. Masyarakat cemas serangan ini membuka pintu kepada konflik yang lebih besar. 

Pada 2023, rangkaian serangan Israel terjadi di Lebanon. Hizbullah berkonflik dengan Israel sebagai solidaritas mereka kepada masyarakat di Jalur Gaza, Palestina. Pada Oktober 2024, Israel menginvasi Lebanon bagian selatan. Konflik ini berhasil dihentikan pada November 2024 berkat gencatan senjata yang dimediasi oleh Perancis dan Amerika Serikat.

Kali ini, Israel menyerang Lebanon dengan dalih bahwa Tabataba'i sedang membangun dan mempersenjatai kembali sayap militer Hizbullah. Sebelum hal itu terjadi, Tel Aviv menghentikannya.

Hezbollah supporters carry the coffin of Hezbollah's Chief of Staff Haytham Tabtabai during his funeral procession after he was killed in Sunday's Israeli airstrike in the southern suburb of Beirut, Lebanon, Monday, Nov. 24, 2025. (AP Photo/Hussein Malla)

Sejauh ini, belum ada tanda-tanda Israel akan melakukan serangan lanjutan. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz memang mengatakan bahwa Israel akan terus mencegah ancaman kekerasan terhadap warga mereka. Akan tetapi, ia tetap meminta warga di Israel utara yang berbatasan dengan Lebanon selatan untuk berkegiatan seperti biasa.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Politik Hizbullah Mahmoud Qamati mengatakan, Hizbullah sedang merundingkan tanggapan yang pantas untuk Israel. Menurut dia, serangan di Dahiyeh ini bisa mengakibatkan konflik pecah kembali di seantero Lebanon.

Pelanggaran gencatan senjata

Pemerintah Lebanon mengecam serangan Israel. Beirut mendukung gencatan senjata yabg dimediasi oleh Washington DC dan Tel Aviv itu untuk melucuti Hizbullah. Akan tetapi, justru Tel Aviv sendiri yang melanggarnya. 

Beirut mencatat, sejak gencatan senjata dijalankan per 27 November 2024, tidak sekali pun Hizbullah melanggarnya. Sebaliknya, Israel setidaknya sudah 5.000 kali melanggar dengan beragam serangan kecil-kecil tetapi fatal.

"Kami meminta supaya komunitas internasional mengecam serangan ini dan melakukan intervensi guna mengembalikan keamanan," kata Presiden Lebanon Joseph Aoun.

Aoun menuturkan, serangan-serangan terhadap rakyat Lebanon ini harus dihentikan. Tidak boleh lagi ada pertumpahan darah. Apabila Lebanon tidak stabil, dampaknya akan terasa di kawasan, bahkan lebih.

An Israeli military tank patrols along the border fence separating northern Israel from southern Lebanon on November 24, 2025. Hezbollah held the funeral on November 24 for its top military chief and other members of the militant group a day after Israel killed them in a strike on Beirut's southern suburbs. (Photo by Jalaa MAREY / AFP)

Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengatakan, Lebanon menggencarkan diplomasi mereka. Keamanan dan kestabilan di dalam negeri tidak akan bisa tercapai tanpa kerja sama internasional yang baik.

Salam mengatakan, satu-satunya cara mencapai keamanan ini ialah penerapan Resolusi 1701 Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa sepenuhnya. Resolusi 1701 disahkan pada 2006. Isinya adalah gencatan senjata sepenuhnya antara Israel dengan Hizbullah. 

Selain itu, semua wilayah Lebanon harus di bawah otoritas Pemerintah Lebanon. Artinya, pasukan Israel harus angkat kaki dari wilayah selatan Lebanon. Menurut catatan lembaga kajian keamanan Israel, Alma, pasukan Israel masih ada di lima wilayah Lebanon.

Kelima wilayah itu ialah Pegunungan Hasullam untuk mengendalikan wilayah pesisir hingga ke kota Tyre; Pegunungan Hashakid dengan wilayah kendali antara lain kota Avivi, Mallaqi'a, dan Bint Jbeil; Pegunungan Hatzivoni; Pegunungan Jabal Blat; dan Hamamis.

Pemerintah Lebanon menginginkan pasukan Israel angkat kaki dari kelima wilayah itu. Sebagai gantinya, pasukan Lebanon bersama pasukan penjaga perdamaian PBB yang akan berada di sana.

Beirut mengumumkan, mereka siap berunding di bawah pengawasan internasional untuk gencatan senjata yang permanen. Lebanon mengajak negara-negara sahabat membantu merancang rencana gencatan senjata itu, lengkap dengan ketentuan waktu penerapan yang jelas.

Antusiasme warga

Di tengah ketegangan itu, warga Lebanon tetap antusias menyiapkan kedatangan Paus Leo XIV. Pemerintah mencanangkan libur nasional pada 1-2 Desember selama Paus berkunjung. Keputusan ini agar semua anggota masyarakat Lebanon bisa berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan Paus.

Jadwal Paus Leo di Lebanon ialah berkunjung ke Annaya, Harissa, Bkerke, dan ditutup misa umum di Alun-alun Pesisir Beirut pada 2 Desember. Paus juga akan bertemu dengan para tokoh lintas agama serta perwakilan generasi muda.

Pilgrims visit the tomb of St. Charbel inside the monastery in the northern village of Annaya, Lebanon, Saturday, Nov. 15, 2025. (AP Photo/Hassan Ammar)

"Kami sangat berharap kedatangan Paus Leo melantangkan pesan perdamaian di Lebanon," kata Wali Kota Rmeish Hanna Amil.

Rmeish adalah kota di Lebanon selatan yang berbatasan dengan Israel. Kota ini selama 300 tahun adalah temlat dengan populasi umat Katolik terbanyak di Timur Tengah. Rmeish adalah tempat penting bagi persebaran agama Kristen di kawasan.

Selama perang Israel-Hizbullah, Rmeish relatif aman. Hal ini karena Hizbullah tidak menyerang Israel dari Rmeish sehingga kota itu tidak disasar rudal-rudal Israel. 

Sejumlah warga Rmeish akan pergi ke Beirut untuk menghadiri misa Paus Leo. Amil berharap, suatu saat, Paus bisa berkunjung ke Rmeish yang memiliki sejarah rohani penting.

Bagi warga Lebanon secara umum, kedatangan Paus selalu simbolis dengan harapan datangnya perdamaian. Apabila Paus Leo datang, ia adalah Pemimpin Tertinggi Katolik Roma ketiga yang berkunjung.

Menurut media ACI MENA, Lebanon pernah menjamu Paus Yohannes Paulus II pada 1997 dan Paus Benediktus XVI pada 2012. Keduanya datang ketika Lebanon dilanda kesusahan.

Paus Yohannes Paulus datang ketika Lebanon masih dikuasai Suriah. Segala ekspresi publik sangat dibatasi. Otoritas Suriah mengkhawatirkan, kedatangan Paus akan menimbulkan keramaian yang berisiko berujung kepada protes.

Masyarakat Lebanon menyamakan penjajahan Suriah mirip dengan ketika Polandia–negara asal Paus Yohannes Paulus–ketika dikuasai Uni Soviet. Apalagi, Paus Yohannes Paulus merupakan salah satu tokoh penting yang menginspirasi gerakan kemerdekaan Polandia.

Ketika Paus datang, masyarakat ramai menyambutnya. Tidak ada kerusuhan seperti yang dikhawatirkan Otoritas Suriah.

"Semua warga Lebanon turun ke jalan, Kristen, Muslim, semua agama ada dan semua antusias," kata Robert El Haybe, warga Beirut yang berada di lokasi kejadian.

Ia menuturkan, emosi masyarakat sangat positif. Semua bersatu dan melihat kedatangan Paus Yohannes Paulus sebagai simbol harapan dan spiritualitas, terlepas label agama dan kepercayaan warganya.

A Muslim family poses for a photo next to a statue of St. Charbel at the Our Lady of Lebanon shrine in Harissa, east of Beirut, Lebanon, Sunday, Nov. 9, 2025. (AP Photo/Hassan Ammar)

Okupasi Suriah di Lebanon berakhir pada 2005. Akan tetapi, keadaan Lebanon tidak membaik. Krisis demi krisis menimpa negara itu. Pertumbuhan ekonomi mandek dan konflik masih pecah di sana-sini.

Ketika Paus Benediktus berkunjung pada 2012, kawasan Timur Tengah sedang dalam krisis. Perang saudara di Suriah menekan negara-negara tetangganya, termasuk Lebanon. Pada saat yang sama, ada kebangkitan Negara Islam Irak dan Suriah serta keterlibatan Hizbullah di konflik Suriah.

Bagi Elie Baroud, penganut Kristen Maronit, kedatangan Paus Benediktus membawa angin segar. "Kedatangannya membawa kedamaian bagi masyarakat Lebanon bahwa kami tidak dilupakan oleh dunia," ujarnya. (AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti