INDUSTRI PENERBANGAN

Harga Avtur Melejit hingga 80 Persen, Harga Tiket Pesawat Bakal Melambung

Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia memperkirakan kenaikan harga tiket bisa mencapai 30-35 persen. Penerbangan dengan okupansi rendah akan dikurangi.

01 Apr 2026 15:05 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS

Oleh Yosepha Debrina Ratih Pusparisa

JAKARTA, KOMPAS — Imbas eskalasi konflik di Timur Tengah, harga bahan bakar pesawat atau avtur melonjak per Rabu (1/4/2026) hingga lebih dari 70 persen, baik penerbangan internasional maupun domestik. Maskapai pun akan menyesuaikan biaya operasionalnya, termasuk harga tiket pesawat, yang diperkirakan bisa naik hingga 30-35 persen.

Per Maret 2026, harga terendah avtur penerbangan internasional berada pada level 74,2 sen AS per liter. Kini, harganya melejit 80,3 persen menjadi 133,8 sen AS per liter. Hal serupa terjadi pada harga terendah avtur penerbangan domestik dari Rp 13.656,51 per liter menjadi Rp 23.551,08 per liter. Itu artinya ada kenaikan hingga 72,5 persen.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) Bayu Sutanto mengatakan, kenaikan harga avtur yang drastis per 1 April 2026 mendesak adanya penyesuaian. Opsi pertama, harga tiket dijual pada tarif batas atas (TBA) dan penyesuaian biaya tambahan (fuel surcharge). Jumlah penerbangan dikurangi pada rute-rute dengan okupansi atau tingkat keterisian (load factor) rendah.

Opsi kedua, harga tiket dijual pada TBA dengan menaikkan fuel surcharge yang disesuaikan dengan persentase kenaikan harga avtur. Hal ini dilakukan untuk mencapai titik impas atau break-even point guna mencegah kerugian.

”Risikonya melanggar batasan fuel surcharge (yang belum direvisi) serta menurunnya demand dan load factor (muatan penumpang) sesuai hukum sensitivitas harga. Jadi, penyesuaiannya pada sisi keseimbangan biaya dan pendapatan serta efisiensi operasional. Belum ada solusi yang lebih baik untuk saat ini,” tutur Bayu saat dihubungi, di Jakarta, Rabu (1/4/2026).

An Emirates Airbus A380 aircraft prepares for landing as a smoke plume rises from an ongoing fire near Dubai International Airport in Dubai on March 16, 2026. Flights were gradually resuming at Dubai airport on March 16, previously the world's busiest for international flights, the airport operator said, after a "drone-related incident" sparked a fuel tank fire nearby, as Iran kept up its Gulf attacks. (Photo by AFP) / 

Sebuah pesawat Airbus A380 Emirates bersiap untuk mendarat di bandara Internasional Dubai di Dubai, 16 Maret 2026.

Harga tiket penumpang diperkirakan akan naik 30-35 persen dibandingkan sebelumnya. Sebab, ada porsi kenaikan biaya akibat pelemahan rupiah yang signifikan terhadap dolar AS. Apalagi, proporsi avtur berkisar 35-40 persen dari biaya produksi.

Ketika ditanya tentang adanya diskusi dengan para pemangku kepentingan lain, seperti pemerintah dan PT Pertamina (Persero), Bayu menyatakan belum ada pembahasan khusus. Sejauh ini, diskusi dilakukan antara INACA dan maskapai.

Quote

Dalam pesan yang beredar, Pertamina Patra Niaga disebut menyesuaikan harga avtur seiring dengan kenaikan signifikan harga energi global yang terjadi sejak awal hingga pertengahan Maret 2026.

”Merespons harga avtur per hari ini, kami juga mengirimkan surat ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk segera merevisi TBA yang sudah tujuh tahun tidak disesuaikan serta fuel surcharge, mengingat harga avtur dan kurs dolar AS terhadap rupiah yang jauh melampaui harga dan kurs tujuh tahun lalu,” ujar Bayu.

Secara terpisah, Head of Indonesia Affairs and Policy AirAsia Eddy Krismeidi mengatakan, kenaikan harga avtur menjadi perhatian bagi industri penerbangan. Saat ini, pihaknya masih terus memantau perkembangan situasi secara menyeluruh, termasuk berkoordinasi dengan AirAsia Group dan para pemangku kepentingan terkait.

Suasana kepadatan penumpang di area kedatangan Terminal I Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang Banten, Minggu (29/3/2026). Arus balik melalui bandara Soekarno-Hatta pada Minggu (29/3/2026) mencapai 203.074 orang baik dari penumpang kedatangan maupun keberangkatan. Kompas/Hendra A Setyawan

Ia menekankan bahwa AirAsia akan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam mengambil langkah ke depan. Fokus utama adalah menjaga keberlanjutan operasional sekaligus memastikan layanan kepada penumpang tetap optimal.

”Sejumlah opsi penyesuaian tengah kami kaji secara internal, termasuk dari sisi jaringan dan operasional, agar dapat beradaptasi dengan kondisi yang ada,” kata Eddy.

AirAsia juga terus mendukung upaya kolaboratif bersama regulator dan asosiasi industri. Upaya ini dilakukan untuk mencari solusi terbaik bagi keberlangsungan sektor penerbangan nasional.

Menanggapi kondisi ini, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman Laisa mengonfirmasi naiknya harga avtur. Ia mengatakan, pihaknya sedang membahas persoalan kenaikan harga bahan bakar pesawat ini. Lukman berjanji akan merespons lebih detail setelah pembahasan tuntas.

Kompas telah berupaya menghubungi pihak Pertamina Patra Niaga. Namun, hingga berita ini diterbitkan, Pertamina Patra Niaga belum merespons pesan yang dikirimkan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Lukman F Laisa (kanan) bersama Direktur Navigasi Penerbangan Kemenhub Syamsu Rizal saat berbincang bersama media di Jakarta, Kamis (26/6/2025).

Alasan kenaikan harga

Dalam pesan yang beredar, Pertamina Patra Niaga disebut menyesuaikan harga avtur seiring dengan kenaikan signifikan harga energi global yang terjadi sejak awal hingga pertengahan Maret 2026. Sesuai mekanisme yang berlaku, harga avtur ditetapkan secara bulanan mengacu pada formula regulasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berbasis pergerakan harga dalam satu periode penuh (average).

Dijelaskan, lonjakan harga yang terjadi pada pertengahan hingga akhir Maret 2026, khususnya berpatok pada regional Mean of Platts Singapore (MOPS) Kerosene/Jet, belum tecermin pada harga per Maret 2026. Alhasil, penyesuaian harga baru terealisasi pada periode April 2026.

Dari perspektif pasar, pergerakan harga menunjukkan eskalasi yang cukup tajam. Akhir Februari 2026, harga masih berada pada level yang relatif moderat. Pekan pertama Maret, harga mulai meningkat. Ini berlanjut pada harga di pekan kedua hingga akhir Maret yang melonjak signifikan hingga lebih dari 100 dolar AS per barel, seiring meningkatnya risiko global.

”Kondisi tersebut mencerminkan adanya lag effect dalam mekanisme pricing, di mana kenaikan biaya pengadaan (procurement cost) telah terjadi lebih awal, sementara penyesuaian harga jual mengikuti siklus yang ditetapkan,” demikian tertulis dalam laporan Pertamina.

Kenaikan harga avtur pada April 2026 ini dipengaruhi sejumlah kombinasi faktor fundamental. Pertama, adanya lonjakan harga energi global. Kedua, penguatan MOPS Kerosene/Jet yang mencerminkan ketatnya aspek permintaan dan penawaran regional, termasuk naiknya permintaan musiman, seperti persiapan haji dan puncak perjalanan; terbatasnya kapasitas kilang; serta kenaikan crack spread jet fuel atau selisih harga antara avtur dan minyak mentah (crude oil).

infografik
AFP
Perang Timur Tengah: Hanya Sedikit Kapal yang Masih Melintasi Selat Hormuz

Ketiga, faktor tekanan geopolitik global dengan memanasnya tensi di kawasan Timur Tengah. Keempat, struktur suplai avtur yang terintegrasi secara global. Kelima, tekanan nilai tukar dan biaya logistik akibat transaksi berbasis dolar AS dan kompleksitas distribusi antarwilayah berkontribusi menambah struktur biaya.

Pertamina Patra Niaga berkomitmen menjaga keamanan suplai di tengah kondisi pasar yang ketat serta memastikan operasionalisasi layanan pengisian bahan bakar pesawat tetap berjalan aman dan lancar. Pihaknya juga mengedepankan pendekatan komersial yang kompetitif dan adaptif terhadap perkembangan regional ataupun internasional.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yosepha Debrina Ratih Pusparisa
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati