Harga beras telah melampaui harga eceran tertinggi. Di Kota Bandung, misalnya, harga beras tertinggi mencapai Rp 18.000 per kilogram.
05 Agt 2025 16:59 WIB · Ekonomi & Bisnis
BANDUNG, KOMPAS — Harga jual beras medium dan premium di pasaran, seperti di Kota Bandung, Jawa Barat, melampaui harga eceran tertinggi. Pemerintah pusat ataupun kepala daerah masih berupaya menangani kondisi tersebut.
Kenaikan harga beras terjadi di Pasar Kosambi, Kota Bandung. Pasar Kosambi adalah salah satu pasar tradisional besar di Kota Bandung.
Harga barang kebutuhan pokok di pasar ini menjadi acuan Pemerintah Kota Bandung memantau inflasi yang dipengaruhi harga barang pokok.
Andri Muhammad Thahir (36), salah satu penjual beras, mengatakan, harga termurah beras medium Rp 14.000 per kilogram (kg), sedangkan beras premium mencapai Rp 18.000 per kg. Terjadi kenaikan Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per kg dalam beberapa minggu terakhir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/07/1b79e2a3-f7e0-4808-8a3d-870b9e7c9184_jpg.jpg)
Harga jual ini tidak sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) untuk beras medium dan beras premium. Penetapan HET oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) dalam Surat Keputusan Kepala Bapanas Nomor 2 Tahun 2025.
Dalam HET beras medium di zona I, II, dan III masing-masing ditetapkan Rp 12.500 per kg, Rp 13.100 per kg, dan Rp 13.500 per kg. Adapun HET beras premium di zona I, II, dan III masing-masing dipatok Rp 14.900 per kg, Rp 15.400 per kg, dan Rp 15.800 per kg.
Zona I meliputi Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi. Zona II mencakup Sumatera selain Lampung dan Sumatera Selatan, dan Nusa Tenggara Timur, serta Kalimantan. Zona III meliputi Maluku dan Papua.
”Saat ini stok beras milik saya hanya tersisa satu ton. Apabila stok berkurang drastis, harga beras akan terus meningkat,” kata Andri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/26/2fbb1dbd0b03c92c6f4ae4c951e0145c-IMG_20250726_123902.jpg)
Rahmat Kurnia (52), penjual beras, mengatakan, dengan harga saat ini, tak ada lagi kategori beras medium yang biasanya dijual Rp 12.000-Rp 13.000 per kg. Padahal, mayoritas masyarakat kelas menengah ke bawah mengonsumsi beras itu.
”Kemungkinan harga beras terus meningkat jika pasokan di pedagang terus menipis. Pemerintah harus memikirkan solusi untuk mencegah kenaikan harga beras,” ucapnya.
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan akan menangani masalah tersebut. Hal itu ia katakan saat hadir dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia di Kota Bandung pada Selasa pagi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/05/ad03a45e5ee25ec8d78015e97c0cef43-IMG_20250805_112742.jpg)
”Untuk stabilisasi harga beras di pasaran saat ini masih ditangani,” jawab Airlangga singkat.
Airlangga juga mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 mencapai 5,12 persen. Hasil ini tertinggi dalam beberapa kuartal terakhir
Saat ini stok beras milik saya hanya tersisa satu ton. Apabila stok berkurang drastis, harga beras akan terus meningkat.
Ia juga menyoroti perkembangan sektor pertanian, industri, dan konsumsi masyarakat yang kini semakin bergeser ke platform e-commerce. Sektor kosmetik serta makanan dan minuman mengalami lonjakan permintaan secara digital.
”Hal ini menunjukkan adanya pemulihan ekonomi yang nyata seiring dengan perbaikan kinerja sejumlah perusahaan publik, terutama di sektor ritel,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/05/1b049d132fc18e6bc1c7c314cc302828-IMG_20250805_113446.jpg)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi kenaikan harga beras yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Menurut dia, kondisi tersebut akan segera membaik seiring dengan dimulainya musim panen di sejumlah wilayah Jawa Barat.
”Kita sedang mempelajari lonjakan harga beras yang terjadi belakangan ini. Salah satu upaya stabilisasi harga adalah mempercepat masa panen, dan saat ini sudah mulai panen di berbagai tempat,” ujar Dedi.
Dedi juga menyebutkan bahwa musim kemarau tahun ini cenderung lebih pendek sehingga petani dapat segera melakukan penanaman kembali. Ia memperkirakan ketahanan produksi pangan Jawa Barat akan tetap terjaga hingga akhir tahun.
”Percepatan tanam kembali sudah dilakukan karena kemarau tahun ini tidak terlalu panjang. Dengan begitu, produksi pangan aman sampai Desember,” pungkasnya.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari