Investor bermai-ramai membeli emas. Ketegangan geopolitik membuat kepercayaan terhadap valuta asing menurun dan harga emas naik.
08 Des 2025 18:44 WIB · Internasional
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Sejumlah faktor membuat investor diperkirakan masih akan berbondong-bondong membeli emas. Salah satu pemicunya, pelemahan dollar AS gara-gara bank sentral AS, The Fed, menurunkan suku bunga.
Pada 2026, harga emas per troy ounce diprediksi bisa tembus 5.000 dollar AS. Pekan lalu, harga emas memang turun 0,2 persen menjadi 4.236 dollar AS per troy ounce. Akan tetapi, secara umum, sepanjang tahun 2025, harga emas relatif tinggi. Harian Gulf News, Senin (8/12/2025), melaporkan, investasi emas memberi hasil di atas 60 persen tahun ini.
”Harga emas bisa stabil naik berkat aneka faktor yang terjadi bersamaan,” demikian keterangan Dewan Emas Dunia (WGC). Pada 2026, WGC menaksir harga emas bisa naik 15 hingga 30 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/08/c3c28ee17028c384256069076eff8680-SYRIA_CONFLICT_DARAYA_134494843.jpg)
Persoalannya, kondisi geopolitik belum sepenuhnya stabil. Ada kekhawatiran dari para pengamat ekonomi bahwa gelembung emas ini bisa pecah sewaktu-waktu. Akan tetapi, masih ada kesempatan bagi harga emas untuk terus naik apabila situasi bisa dikelola. Emas tetap bisa memberi hasil walaupun marginnya pada tahun mendatang mungkin tidak terlalu besar.
Soni Kumari, analis dari ANZ, mengatakan, Komite Pasar Terbuka Federal AS (FOMC) akan melakukan rapat dalam waktu dekat. Perkiraannya, The Fed akan memotong suku bunga hingga 25 poin. Apabila ini terjadi, harga emas akan naik.
Ramai-ramai menumpuk emas ini bisa dipandang sebagai tanda-tanda kekhawatiran global. Mata uang paling stabil dunia, yaitu dollar AS, pound sterling Inggris, franc Swiss, dan euro, tidak lagi dilihat sebagai jaring keamanan yang memadai.
Anggota Uni Eropa, Polandia, menjadi negara yang membeli paling banyak emas pada Oktober 2025. Polandia membeli 16 ton emas. Jumlah cadangan emas negara di Eropa Tengah itu 531 ton atau 26 persen dari dana cadangan totalnya.
Indonesia tercatat menambah cadangan emas sebanyak 4 ton. Jumlah ini masih sedikit jika dibandingkan dengan Brasil yang membeli emas sebanyak 16 ton dan Uzbekistan 9 ton. Bank-bank sentral umumnya memperkirakan jumlah cadangan emas mereka berlipat ganda dalam satu tahun ke depan.
Terlepas dari antusiasme bank sentral menumpuk cadangan emas, tetap ada pandangan kritis mengenai menabung emas. Salah seorang pakar yang mengimbau semua pihak waspada ialah Cathie Wood, pendiri firma Ark Invest.
Terlepas dari kenaikan harga emas, ia mengingatkan investor agar jangan terlena. Wood adalah investor di sektor teknologi dan aset kripto. Ia termasuk orang pertama yang berinvestasi di bitcoin, Tesla, dan teknologi akal imitasi (AI).
”Ketika ketakutan akan inflasi turun, harga emas juga turun dan harga mata uang dollar naik lagi,” kata Wood, dikutip oleh The Street.
Ia menjelaskan, hal yang bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi adalah produktivitas. Menurut Wood, bukan pengaturan suku bunga oleh bank sentral yang akan menurunkan inflasi. Kuncinya ialah semua pihak memastikan produktivitas terus terjadi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/08/e65e9ce8de86ffe1aa7b9fcc63c3b254-BRITAIN_MARKET_PRICES_BITCOIN_134242837.jpg)
Wood mencontohkan fenomena pada tahun 1980. Ketika itu, harga emas mencapai puncak, tetapi lima tahun kemudian malah jeblok hingga 67 persen. ”Kebijakan ekonomi (Presiden AS Ronald) Reagan berjalan. Akhirnya, investor mengalihkan fokus ke ekuitas dan surat berharga. Walhasil, dollar menguat dan harganya melebihi emas,” paparnya.
Ia melihat Pemerintah AS sekarang banyak memberi insentif, termasuk pemotongan pajak. Hal ini akan memicu pergerakan ekonomi karena industri akan meningkatkan kinerja. Wood memperkirakan harga dollar AS akan menguat dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Bahkan, Wood mengatakan, bitcoin akan mengejar dan mengalahkan emas.
Hal ini sesuai dengan laporan media Thailand, The Nation. Mereka menyoroti tindakan Pemerintah AS menetapkan Cadangan Bitcoin Strategis. Isinya adalah 200.000 bitcoin yang disita pemerintah dari berbagai kasus. Lembaga ini dibentuk atas perintah Presiden AS Donald Trump.
Negara Bagian Texas menjadi pemerintah yang pertama membeli bitcoin untuk cadangan dana. Di tempat lain, Otoritas Taiwan juga melakukan tindakan serupa dengan mengembangkan dana cadangan berupa aset kripto.
Perkiraannya, pada tahun 2030, bank-bank sentral di dunia akan menjadikan bitcoin sebagai dana cadangan. Dana ini dipakai apabila terjadi inflasi atau risiko ketidakstabilan geopolitik. Secara umum, belanja emas bank-bank sentral di dunia naik 36 persen pada Oktober 2025 atau setara dengan 53 ton emas. (REUTERS)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti