Presiden Donald Trump berulang kali menyatakan berunding lalu balik mengancam Iran. Berbagai negara mencari solusi alternatif di tengah upaya perundingan AS-Iran.
06 Apr 2026 16:12 WIB · Internasional
AFP/SEBASTIEN BOZON
SINGAPURA, SENIN — Harga minyak dunia makin tak menentu karena perang berlarut-larut dan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berubah-ubah. Harga minyak mentah acuan Brent naik menjadi 109,76 dolar AS, sementara harga komoditas berjangka minyak Texas harganya turun menjadi 111,28 dolar AS per barel.
Di pasar Asia, dalam pembukaan perdagangan pada Senin (6/4/2026) harga minyak West Texas merangkak naik 11 persen menjadi 111,62 dolar AS per barel dibandingkan dengan penutupan sebelum libur Paskah, pekan lalu. Adapun harga Brent naik 8 persen menjadi 109,8 dolar AS per barel. Ini kenaikan harga tertinggi sejak 2020.
Harga minyak mengalami fluktuasi pada Senin pagi di Asia setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur penting di Iran, kecuali negara itu mengizinkan kapal-kapal untuk melintasi Selat Hormuz.
Dalam unggahan media sosial yang penuh kata-kata kasar, Minggu, Trump mengatakan, AS akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran. Ia memundurkan tenggat serangan menjadi Selasa (7/4/2026) pukul 20.00 waktu setempat. Sebelumnya, ia memberi ultimatum agar Selat Hormuz dibuka pada Senin ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/04/bafc9c9afe79f6664c49124bd51e3a7e-Diesel_Futures_Rise_11_Percent_After_President_Trump_s_Speech_On_War_With_Iran.jpeg)
Kekacauan akibat penutupan Selat Hormuz membuat krisis di berbagai negara, seperti di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Timur yang menjadi pusat manufaktur dan produksi berbagai produk kebutuhan dunia. Sri Lanka telah menaikkan harga elpiji hingga 23 persen.
Litro Gas, perusahaan milik negara dan pemasok utama elpiji untuk memasak, menaikkan harga isi ulang gas 12,5 kilogram menjadi 4.765 rupee dari 3.990 rupee. Sri Lanka mengimpor semua minyak dan gasnya untuk kebutuhan energi.
”Tanpa dibukanya Selat Hormuz, semua pembahasan perdamaian yang diajukan AS akan sia-sia,” kata Mukesh Sahdev, pendiri dan CEO lembaga konsultan XAnalysts.
Meski ditutup, Iran masih memberikan izin bagi sejumlah negara agar kapal-kapal tanker mereka bisa melintas seperti dari Perancis, Jepang, Filipina, Thailand, Malaysia, dan China. Sebuah perusahaan pelayaran Jepang, Senin, mengatakan, sebuah kapal tanker berbendera India milik anak perusahaannya telah melewati Selat Hormuz dan sedang dalam perjalanan menuju India. Ini kapal ketiga Jepang yang melintasi selat tersebut.
Lantaran gangguan pasokan dari Negara Teluk, para pengilang minyak mencari sumber ataupun jalur pengiriman alternatif di Amerika Serikat atau Laut Utara, Inggris.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/01/4d1bc46127e9b86ad81ed64ad4783dad-India_US_Israel_Iran_2.jpg)
Menyikapi ketidakpastian tersebut, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengatakan tengah mencari jalur pengiriman minyak alternatif. Korsel menghubungi Arab Saudi, Oman, dan Aljazair.
”Masih ada rute alternatif bagi kapal tanker yang harus segera diputuskan karena terkait risiko dan kepentingan rakyat Korea Selatan,” kata Lee.
Anggota parlemen Korsel dari Partai Demokratik, Ahn Do-geol, mengatakan, Seoul menyiapkan utusan khusus untuk membuat terobosan pengiriman migas dari Timur Tengah dan sumber lain.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/07/a8664c34-96a6-4210-aa02-3fc64923b732.jpg)
Kementerian Industri Korsel menyiapkan rencana konvoi lima tanker Korsel di Laut Merah. Pemerintah Korsel juga mendorong kilang minyak swasta untuk menjual kepada pemerintah lalu diganti dari pasokan yang akan datang.
Selain itu, Korsel menargetkan pengurangan produksi baja yang menggunakan bahan bakar gas atau batubara. Korsel akan menggunakan hidrogen dalam proses produksi baja dalam program konversi tahun 2028-2037.
Peperangan diperkirakan masih berlanjut antara AS-Israel dan Iran. The Wall Street Journal melaporkan, Iran menyatakan belum akan bertemu delegasi AS di Islamabad, Pakistan, pada pekan ini.
Sementara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Minggu melaporkan, sejumlah negara produsen dan Rusia sepakat menambah lifting (produksi) minyak sebanyak 206.000 barel per hari mulai awal Mei 2026.
Meski demikian, kesepakatan tersebut dianggap hanya berlaku di atas kertas. Sebab, sejumlah negara produsen besar di kawasan Teluk tidak mampu meningkatkan lifting karena dampak perang.
Pasokan minyak Rusia juga terganggu karena serangan drone Ukraina di terminal pengiriman Laut Baltik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/26/b547d987-5421-4cec-a2c8-9881bac8ab10.jpg)
The New York Times dalam laporan Minggu (5/4/2026) menjelaskan, pelaku pasar semakin tidak percaya ketika Trump mengatakan perang segera berakhir. Dampaknya, ucapan Trump tidak bisa jadi patokan untuk mendorong turunnya harga minyak karena ada harapan perdamaian.
New York Times merujuk laporan dua pekan lalu pada 23 Maret 2026 ketika Trump mengumumkan jeda lima hari dan berunding dengan Iran. Harga minyak sempat langsung turun dari 110 dolar AS per barel menjadi kisaran 90 dolar AS per barel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/06/9e6df2f4-928b-488a-b610-a23cb0322c9b.jpg)
Adam Kobeissi, Pemimpin Redaksi Kobeissi Letter, sebuah media ekonomi, mengatakan, Iran menyadari nilai tawar mereka menentukan harga minyak. Itu membuat Trump maju-mundur dalam menentukan langkah serangan militer yang akan semakin membuat harga minyak melonjak liar tak terkendali.
Terlebih Trump juga semakin tidak dipercaya pelaku pasar. Pada 26 Maret 2026, Trump mengumumkan rencana jeda perang 10 hari, harga minyak sempat turun sesaat dari 108 dolar AS per barel menjadi 103 dolar AS per barel. Turunnya harga minyak tidak berlangsung lama, dalam hitungan menit, harga minyak sudah kembali mendekati 108 dolar AS per barel.
Pada Kamis pekan lalu, saat penutupan pasar, harga minyak berada di kisaran 109 dolar AS per barel atau naik 50 persen sejak AS-Israel mulai menyerang Iran. (REUTERS)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra