Pergerakan harga yang liar itu justru menunjukkan ketidakpastian masih sangat tinggi.
11 Mar 2026 12:00 WIB · Internasional
AFP/Nhac NGUYEN
ABU DHABI, RABU — Harga minyak dunia turun tajam setelah sempat naik tinggi sehari sebelumnya. Namun, tekanan sektor energi global belum mereda. Perang Iran yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel masih berkecamuk. Ketidakpastian justru menguat.
Patokan harga minyak dunia Brent pada Selasa (10/3/2026) anjlok 11,3 persen ke 87,80 dolar AS per barel. Sehari sebelumnya, harga sempat melonjak 30 persen dan nyaris menyentuh 120 dolar AS per barel.
Pergerakan harga yang liar itu justru menunjukkan ketidakpastian masih sangat tinggi. Penurunan harga terjadi hanya karena komentar Presiden AS Donald Trump bahwa perang mungkin segera berakhir.
Namun, sejauh ini belum ada tanda-tanda perang akan berakhir. Hingga Rabu (11/3/2026) pagi, jalur pelayaran di Selat Hormuz masih nyaris terhenti. Sebelumnya, Iran mengancam akan menembaki kapal mana pun yang mencoba melintas di jalur itu.
Sementara itu, Angkatan Laut AS juga belum memberikan pengawalan karena risiko dinilai masih terlalu tinggi. Akibatnya, ratusan kapal masih tertahan di jalur yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/c3a65f5027e4d0226f9e9c7dc2e1d1a0-wires_photo_8_.jpg)
Ketidakpastian di jalur Selat Hormuz tampak dari pernyataan Washington yang saling bertolak belakang. Pada Selasa (10/3/2026), lewat video di X, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan bahwa Angkatan Laut AS telah mengawal sebuah kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz. Namun, dalam hitungan menit, unggahan itu dihapus.
Gedung Putih kemudian menyatakan tidak ada pengawalan tanker. Sebaliknya, Garda Revolusi Iran mengatakan tidak ada kapal Angkatan Laut AS yang berani mendekati selat itu. Trump memperingatkan Iran agar tidak menempatkan ranjau di perairan tersebut.
Selain penutupan Selat Hormuz, gangguan dan penutupan pada infrastruktur energi pun meluas. Kilang Ruwais di Uni Emirat Arab dihentikan pada Selasa sebagai pencegahan. Penghentian operasi dilakukan setelah serangan pesawat nirawak (drone) memicu kebakaran di Ruwais Industrial City, Abu Dhabi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/35809fe15eb7adadc20b194457176277-cropped_image.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/06/d758a6dd58c0674a94529194269fcaa8-20260306_GKT_AFP_Hormuz.jpg)
Sebelumnya, penghentian operasi telah dilakukan di Ras Tanura, salah satu kilang terbesar milik Saudi Aramco; dan QatarEnergy, salah satu produsen gas alam cair terbesar di dunia. Ladang-ladang minyak Arab Saudi juga ikut menjadi sasaran.
Kantor berita AFP melaporkan, seorang pengemudi yang bekerja di kompleks industri Ruwais mengatakan melihat dua semburan api di kompleks itu. ”Saat hendak pergi, kami melihat dua semburan api naik dari kompleks, dengan suara keras seperti ledakan,” ujarnya.
Perusahaan energi milik Pemerintah Abu Dhabi, ADNOC, menyebut, Ruwais merupakan lokasi kilang terbesar keempat di dunia. Otoritas setempat tidak menjelaskan apakah fasilitas kilang terkena serangan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/a2c1bca43bf3589920d1202dc36df52a-Saudi_Arabia_Iran_136598568.jpg)
Kepala eksekutif sekaligus Presiden Aramco Amin H Nasser mengatakan, perang telah memicu dampak berantai yang melampaui sektor energi. ”Gangguan ini telah menyebabkan reaksi berantai parah. Tidak hanya pada pengapalan dan asuransi, tetapi juga efek domino pada penerbangan, pertanian, otomotif, dan industri lainnya,” kata Nasser dalam paparan kinerja Aramco 2025.
Ia memperingatkan akan ada konsekuensi katastrofik bagi pasar minyak dunia jika gangguan ini berlangsung lebih lama. Menurut Nasser, krisis kali ini merupakan yang terbesar yang pernah dihadapi industri minyak dan gas di kawasan.
Serangan pada pekan lalu juga memaksa QatarEnergy menghentikan produksi dan menyatakan force majeure. QatarEnergy adalah salah satu produsen gas alam cair terbesar di dunia. Produsen energi di Kuwait juga mengambil langkah serupa.
Gangguan ini telah menyebabkan reaksi berantai parah. Tidak hanya pada pengapalan dan asuransi, tetapi juga efek domino pada penerbangan, pertanian, otomotif, dan industri lainnya.
Analis Arab Gulf States Institute, Robert Mogielnicki, menilai sektor energi Teluk kini tertekan dari banyak arah. ”Fasilitas energi menjadi sasaran, kemampuan ekspor melalui selat terhambat, dan kapasitas penyimpanan mulai penuh,” katanya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, memperingatkan, serangan terhadap fasilitas energi akan menimbulkan dampak di seluruh dunia.
Peringatan itu muncul saat ketegangan militer belum mereda. Kementerian Pertahanan Qatar mengatakan telah mencegat rentetan rudal di Doha. Ledakan juga terdengar di sekitar Manama, ibu kota Bahrain.
Bahrain mengatakan telah mencegat 106 rudal dan 176 drone. Adapun Kuwait melaporkan telah mencegat 237 rudal dan 445 drone sejak perang dimulai. Di Riyadh, Uni Emirat Arab menyatakan sedang merespons ancaman rudal dan drone yang masuk dari Iran.
Dampak perang juga mulai memukul kebijakan domestik sejumlah negara. Mesir menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga 30 persen. Kenaikan itu berlaku untuk bensin, solar, dan gas alam untuk kendaraan.
India juga memperketat pengendalian atas gas alam dan gas memasak. Restoran-restoran di negara itu memperingatkan perang dapat memicu penutupan restoran. India adalah pembeli gas alam cair terbesar keempat di dunia dan pembeli gas minyak cair terbesar kedua. Sebagian besar pasokannya berasal dari Timur Tengah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/09/4c6d3576ba60bd4cb2b01c3311a3bdc1-1000011340.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/10/6e9f64e41ad316ea0b65625e6c31a893-20260310_ANU_AFP_Harga_Minyak_Dunia_mumed.jpg)
Di Eropa, tekanan inflasi menjadi perhatian. Harga gas Eropa yang turun 15 persen sempat meredakan kekhawatiran atas inflasi global. Akan tetapi, Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde menegaskan, otoritas moneter harus tetap waspada.
”Kami akan melakukan segala yang diperlukan untuk menjaga inflasi tetap terkendali dan memastikan bahwa warga Perancis dan Eropa tidak mengalami inflasi seperti pada 2022 dan 2023,” katanya, merujuk pada lonjakan harga yang antara lain dipicu invasi Rusia ke Ukraina.
Sejumlah negara bersiap melepaskan cadangan minyak. Hongaria dan Slovakia telah melepaskan, sementara Jepang bersiap.
Di Paris, Badan Energi Internasional (IEA) telah menggelar pembicaraan krisis dengan para menteri energi G7. Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan, pembicaraan itu mencakup semua opsi, termasuk menyediakan stok minyak darurat IEA ke pasar.
Tekanan serupa menjalar ke industri penerbangan. Sejumlah maskapai penerbangan di Asia dan Eropa menaikkan tarif, menambah biaya tambahan bahan bakar, atau menyesuaikan jadwal penerbangan. Hal ini karena harga avtur melonjak dan ruang udara Timur Tengah makin terganggu.
Kenaikan harga diumumkan Qantas Airways di Australia, SAS di Skandinavia, dan Air New Zealand. Hong Kong Airlines akan menaikkan biaya tambahan bahan bakar hingga 35,2 persen mulai Kamis. Adapun Air India mulai menambah biaya secara bertahap.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/c4502ab40a17faae7d4a0d3d25ac6d9f-Iran_US_Stranded_Pilgrims.jpeg)
Air New Zealand mengatakan, harga avtur sebelum serangan AS-Israel ke Iran masih 85-90 dolar AS per barel. Kini, harganya 150-200 dolar AS per barel. Di Finlandia, Finnair memperingatkan bahwa krisis berkepanjangan dapat menekan ketersediaan. Hal ini karena Kuwait merupakan eksportir besar avtur ke Eropa barat laut.
Selain bahan bakar, rute penerbangan juga terganggu. Data Flightradar24 memperlihatkan pesawat-pesawat yang tiba di Dubai sempat ditahan di udara pada Selasa karena potensi serangan rudal. Pesawat akhirnya bisa mendarat, tetapi durasi terbang lebih panjang.
Maskapai penerbangan juga mulai menata ulang jaringan mereka. Qantas menyatakan sedang menjajaki pengalihan kapasitas ke Eropa. Adapun Cathay Pacific akan menambah penerbangan ke London dan Zurich pada Maret.
Perang di Timur Tengah semakin memberatkan penerbangan yang belum pulih sejak perang Rusia-Ukraina. Ruang udara sudah menyusut sebab penerbangan harus memutar untuk menghindari wilayah Rusia.
(Reuters/AFP/AP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra