IHSG Turun, Imbal Hasil Dividen Naik

Jatuhnya pasar saham dalam negeri saat ini jadi peluang investor untuk mengoleksi saham dengan dividen terbaik.

14 Jan 2025 17:28 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Penurunan harga saham mayoritas perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia hingga awal 2025 tidak selalu menjadi kabar buruk. Investor masih dapat menemukan peluang keuntungan melalui dividen saham dari berbagai sektor industri dengan kinerja fundamental yang solid.

Head of Proprietary Investment Mirae Asset Sekuritas Indonesia Handiman Soetoyo dalam acara Media Day di Jakarta mengungkapkan, saat ini banyak saham di bawah harga wajar (undervalued) karena nilai fundamentalnya yang lebih baik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menurun setelah mencetak rekor di level 7.900 pada September 2024. Hari ini, Selasa (14/1/2024), IHSG bahkan kembali terjerumus ke bawah level 7.000, tepatnya 6.981 pada penutupan perdagangan sesi pertama. Situasi ini disebabkan oleh keluarnya dana investor asing karena sentimen global, terutama dari Amerika Serikat.

Penurunan harga saham, menurut data yang dipaparkan Handiman, bahkan telah terjadi dalam lima tahun terakhir. Tren ini terbaca dari indikator price earning ratio (PER) dari rata-rata harga saham di IHSG yang sudah berada di angka 11, lebih rendah dari rasio wajar di angka 16. Semakin rendah angka PER berarti harga saham semakin turun.

Head of Proprietary Investment Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Handika Soetoyo, mempresentasikan grafik tren nilai imbal hasil dividen dari seluruh saham (garis putih) di bursa RI dengan price earning ratio (garis biru) dalam sepuluh tahun terakhir hingga 2024. Hal ini disampaikan dalam acara Medi Day, di Jakarta, Selasa (14/1/2025).

Sebaliknya, indikator imbal hasil dividen (dividend yield) terus meningkat ke level 4 persen atau dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. Dividend yield mengukur keuntungan yang diterima investor melalui pembagian laba perusahaan. Indikator ini membagi nilai dividen per lembar saham dengan harga suatu saham.

”Kalau harga sahamnya naik, otomatis dividend yield-nya mengecil. Kalau harga sahamnya turun, otomatis dividend yield-nya besar,” kata Handiman.

Pada musim pembagian dividen 2024, perusahaan energi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencetak dividend yield sebesar 49,9 persen. Selain ADRO, besaran dividend yield saham di jajaran sepuluh besar beragam, dari rentang 12,2 persen hingga 20,5 persen. Sektor energi menjadi mayoritas emiten yang memiliki dividend yield tertinggi.

Head of Proprietary Investment Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Handika Soetoyo, ditemui di Jakarta, Selasa (14/1/2025).

Dengan memperhatikan besaran dividend yield suatu saham, investor bisa mendapatkan keuntungan dari pembagian dividen, selain dari kenaikan harga suatu saham atau capital gain.

Investor akan mendapat dividen jika membeli saham maksimal saat cum dividend date (cum date) atau tanggal ketika seorang investor masih berhak mendapatkan dividen dari perusahaan. Cum date suatu saham biasanya akan diumumkan jelang masa rapat umum pemegang saham (RUPS).

Pembagian dividen bisa dilakukan dua kali, yaitu dividen interim dan dividen tahunan. Tahun 2025 ini, musim pembagian dividen tahunan dari tahun buku 2024 akan dilakukan mulai sekitar bulan Maret. Kemudian, pembagian dividen interim tahun buku 2025 akan menyusul jelang akhir tahun.

Nilai dividen

Besaran dividend yield juga dipengaruhi nilai dividen suatu perusahaan. Sepanjang 2024, nilai dividen yang dibagikan semua perusahaan tercatat dari tahun buku 2023 hingga 2024 pada tahun lalu mencapai Rp 364,2 triliun. Nilai ini meningkat dari hanya Rp 357,2 triliun pada 2023, Rp 226 triliun pada tahun 2022, dan Rp 143,1 triliun pada 2021.

Akumulasi nilai dividen terus bertambah seiring peningkatan jumlah perusahaan tercatat yang membagikan dividen. Pada 2024, sebanyak 342 perusahaan membagikan dividen atau meningkat dari 323 perusahaan pada 2023.

Meskipun naik secara jumlah, rasio perusahaan pembagi dividen dengan total perusahaan yang listing di bursa turun, yaitu 38,3 persen pada 2024 dari 39,4 persen pada 2023, seiring dengan lebih sedikitnya perusahaan tercatat baru yang membagikan dividen. 

Keuangan dan energi masih menjadi dua sektor dengan kontribusi dividen terbesar. ”Hal ini mengonfirmasi kedua sektor tersebut masih menjadi sektor yang paling menarik bagi investor yang mengincar dividen,” kata Handiman.

Sesi foto dengan layar pergerakan saham usai peresmian Initial Public Offering (IPO) PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (5/12/2024).

Saham ADRO dan PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BBRI) menyandang predikat sebagai emiten pembagi dividen terbesar dari sisi nilai, masing-masing Rp 54,4 triliun dan Rp 48,1 triliun pada 2024. Dividen ADRO terbesar karena membagikan dividen spesial Rp 41,53 triliun untuk mendukung aksi divestasi usaha.

Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia Samsul Hidayat pada konferensi penutupan bursa di 2024 juga melaporkan bahwa sektor energi menjadi penyumbang dividen terbesar dengan nilai Rp 75,60 triliun per 24 Desember 2024. Nilai tersebut mengalami kenaikan dari realisasi sebesar Rp 56,20 triliun pada 2023.

Di posisi kedua ada sektor keuangan, khususnya perbankan, dengan total Rp 60,53 triliun, yang juga naik dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya Rp 50,57 triliun. Dividen saham sektor industri menyusul di posisi ketiga dengan nilai Rp 9,41 triliun, turun dari dividen pada 2023 sebesar Rp 11,79 triliun.

Selanjutnya adalah sektor infrastruktur dan layanan telekomunikasi terintegrasi serta sektor infrastruktur layanan telekomunikasi nirkabel, masing-masing Rp 7,36 triliun dan Rp 4,27 triliun.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta