Kondisi ini dinilai bisa menjadi momentum memperbaiki tarif batas atas dan fuel surcharge dalam tiket pesawat. Harapannya, tiket bisa kembali dinamis.
02 Apr 2026 14:24 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/AGUS SUSANTO
JAKARTA, KOMPAS — Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat perang di Timur Tengah menerbangkan harga avtur sehingga naik lebih dari 70 persen. Dampaknya, harga tiket pesawat akan naik 30-35 persen. Masyarakat pun mengubah rencana perjalanan.
Kenaikan harga avtur yang turut mengerek naik harga tiket pesawat mendorong masyarakat untuk mempertimbangkan kembali rencana perjalanannya. Mereka memilih menahan pengeluaran di tengah ketidakpastian global.
Seorang karyawan asal Bandung, Jawa Barat, Anna (29), mengatakan, selama ini harga tiket pesawat domestik sudah cukup tinggi. Dengan demikian, kenaikan harga avtur bisa membuat harga tiket makin menjulang tinggi.
Anna sudah menyusun rencana berlibur ke Jepang pada 2026. Melihat perkembangan mutakhir, ia memutuskan untuk tidak terburu-buru membeli tiket dalam waktu dekat.
”Dengan harga yang naik seperti ini, saya memutuskan untuk enggak beli tiket pesawat dulu karena enggak tahu kondisi nanti seperti apa. Tentu dengan harga naik, memilih untuk menahan enggak pergi dulu,” ujar Anna saat dihubungi di Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Alternatif lainnya, Anna melanjutkan, liburan dapat tetap berlanjut, tetapi dengan tempat-tempat yang lebih mudah dijangkau dengan menggunakan kendaraan pribadi atau kereta api. Siasat ini bisa jadi pertimbangan, meski tetap ada keinginan untuk menjelajah ke tempat yang lebih jauh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/29/eed91479-7a10-49db-8ddb-5399b808b00e.jpg)
Perubahan rencana perjalanan juga dikemukakan seorang karyawan sekaligus pemilik paket wisata kelompok (open trip), Ranisa Sarah (29). Ia berencana melakukan perjalanan ke Kepulauan Bangka Belitung dan Nusa Tenggara Timur. Adanya kenaikan harga tiket pesawat akan mengubah rencana perjalanan tersebut.
Ia mengatakan, permintaan untuk melakukan perjalanan pun menurun. Sebab, pelanggan-pelanggannya masih mempertimbangkan antara mengeluarkan uang untuk berlibur atau menabung.
Sejak awal tahun, sebelum konflik di Timur Tengah bereskalasi, Ranisa sudah melakukan penyesuaian harga dengan mitra-mitranya di daerah. Aspek yang perlu banyak disesuaikan adalah transportasi dan dokumentasi.
”Rata-rata aspek transportasi yang butuh disesuaikan dengan kenaikan Rp 250.000 per orang. Jadi, secara enggak langsung, proyeksinya pas. Sudah jaga-jaga kalau ada gonjang-ganjing seperti ini,” kata Ranisa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/01/7761b5f9ba740405f00d8534d15d2e22-20260401_H01_ARS_Tiket_Pesawat_mumed.png)
Pertamina Patra Niaga telah mengumumkan kenaikan harga avtur mulai Rabu (1/4/2026) dibandingkan dengan periode Maret 2026. Untuk penerbangan internasional, harganya naik hingga 80,3 persen. Untuk harga domestik, naik 72,5 persen.
”Oleh karena itu, kami mendesak pemerintah untuk segera melakukan penyesuaian kenaikan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) avtur dan tarif batas atas (TBA) penerbangan domestik,” ujar Ketua Umum Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia Denon Prawiraatmadja secara tertulis.
Penyesuaian ini dinilai perlu segera dilakukan karena kenaikan harga avtur yang sangat tinggi. Harga avtur memengaruhi sekitar 40 persen biaya yang dikeluarkan maskapai penerbangan.
”Penyesuaian fuel surcharge dan TBA perlu segera diberlakukan agar maskapai penerbangan dapat tetap beroperasi dengan tetap menjaga keselamatan penerbangan serta menjaga finansial maskapai agar tetap bisa beroperasi dan menyediakan konektivitas transportasi udara nasional,” tutur Denon.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/01/f041124b-2d5a-4a05-842f-0ae2ac815762.jpg)
Pada Rabu (25/3/2026), INACA sempat meminta pemerintah untuk menaikkan fuel surcharge dan TBA, masing-masing sebesar 15 persen. Namun, dengan kenaikan harga minyak yang lebih tinggi dari perkiraan, INACA mendesak kenaikan fuel surcharge dan TBA disesuaikan lagi dengan tingkat kenaikan harga avtur mutakhir.
Kompas telah berupaya menghubungi pihak Pertamina Patra Niaga. Namun, hingga berita ini diterbitkan, pihaknya belum membalas pesan yang dikirimkan.
Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (Apjapi) Alvin Lie menyatakan, tekanan geopolitik yang mendongkrak harga avtur semestinya bisa menjadi momentum pemerintah untuk memperbaiki fuel surcharge dan TBA.
Untuk (tiket) domestik, ketika sepi tidak turun, saat ramai tidak bisa naik. Harga dipatok mati. Justru itu sangat buruk terhadap persepsi publik tentang harga tiket dalam negeri.
Selama ini, fuel surcharge berbasis TBA. Sementara TBA sudah tidak relevan karena nilai tukar rupiah sudah jauh berbeda dari asumsi 2019. Demikian pula dengan harga dasar minyak. TBA ini berkorelasi langsung dengan metode penghitungan harga tiket oleh maskapai penerbangan.
”Kalau ini tidak diperbaiki, maka (maskapai) akan selalu menggunakan harga TBA terus. Enggak akan muncul tarif di bawah batas atas. Ini jadi percuma ada tarif batas bawah (TBB) dan TBA. Pemerintah harus realistis, memang ada saatnya harus dinaikkan,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/20/06cefac4be30c6ae5cdf2303e3113f8f-20251020_174531.jpg)
Itulah, Alvin melanjutkan, penyebab harga tiket pesawat tidak fleksibel. Pada beberapa waktu terakhir, selalu pada kisaran batas atas, tidak naik-turun seperti dulu. Kondisi ini membuat publik memiliki persepsi bahwa harga tiket domestik lebih mahal dari internasional.
”Penerbangan internasional dapat dijual dengan harga yang lebih dinamis, naik-turun. Ketika sepi, harga turun, saat ramai maka naik. Untuk domestik, ketika sepi tidak turun, saat ramai tidak bisa naik. Harga dipatok mati. Justru itu sangat buruk terhadap persepsi publik tentang harga tiket dalam negeri,” ujar Alvin.
Konsumen juga akan memahami adanya kenaikan harga tiket karena kondisi ini terjadi di seluruh dunia, pada beragam moda transportasi. Imbasnya, biaya logistik meningkat sehingga harga barang juga akan lebih mahal.
”Kalau ini tidak dibenahi, saya khawatir yang terjadi airlines kita tidak akan bisa bertahan. Kalau pemerintah bersifat populis, industri (penerbangan) akan terbunuh. Airlines tidak akan bertahan,” kata Alvin.
Penulis:
Yosepha Debrina Ratih PusparisaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto