Janice Tjen dan Alexandra Eala menjadi wakil Asia Tenggara di Grand Slam Amerika Serikat Terbuka. Eala melaju ke babak kedua, tetapi Janice tersingkir.
02 Sep 2026 14:45 WIB · Olahraga
AP Photo/Adam Hunger
Dua petenis kebanggaan Asia Tenggara, Janice Tjen dan Alex Eala, tampil pada hari yang sama dan di stadion yang sama saat mengawali perjalanan di arena Grand Slam Amerika Serikat Terbuka. Akan tetapi, hasil akhir keduanya berbeda.
Janice tampil lebih dulu. Pada pertandingan sesi pertama di Stadion Louis Armstrong, Flushing Meadows, Selasa (1/9/2026) siang waktu setempat atau Selasa tengah malam waktu Indonesia, dia menghadapi tantangan sulit saat melawan unggulan kelima, Mirra Andreeva. Petenis putri Indonesia itu kalah dari juara Grand Slam Perancis Terbuka tersebut dengan skor 2-6, 2-6.
Pada sesi malam (Rabu siang WIB), giliran Eala tampil. Petenis Filipina yang menjadi unggulan ke-17 ini menang atas petenis yang lolos dari kualifikasi, Mary Stoiana, 6-1, 6-2.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/02/821d4fb4fcd191e3e4704ef59310ff54-tenis_janice1.jpeg)
Dengan hasil tersebut, Janice tak bisa mengulang perjalanannya saat tampil di AS Terbuka 2025. Bersaing sejak babak kualifikasi, Janice tampil hingga babak kedua setelah mengalahkan unggulan ke-24, Veronika Kudermetova, pada babak pertama. Langkahnya dihentikan juara AS Terbuka 2021, Emma Raducanu.
Sementara itu, Eala menyamai langkahnya pada 2025 dan punya peluang mendapat hasil lebih baik jika bisa mengalahkan Oleksandra Oliynikova. Di panggung Grand Slam, Eala mendapat hasil terbaik saat mencapai babak keempat Wimbledon pada Juli.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/02/95a1fab70ffd3efc960668b199ba94ea-tenis_andreeva1.jpeg)
Eala dan Janice mencuri perhatian di panggung tenis profesional sejak dua tahun terakhir. Eala, yang bertanding di arena profesional sejak 2020, membuat kejutan ketika mencapai semifinal WTA 1000 Miami 2025 dengan mengalahkan petenis-petenis berpengalaman, seperti Jelena Ostapenko, Madison Keys, dan Iga Swiatek.
Janice sebenarnya bersaing di tenis profesional lebih dulu, sejak 2018, tetapi fokus dalam kompetisi tenis universitas karena kuliah di AS pada 2020-2024. Dia kembali ke persaingan profesional pada Juni 2024, dimulai dari turnamen ITF yang levelnya berada di bawah rangkaian turnamen WTA.
Sebanyak 13 gelar juara dari 16 final membawanya ke persaingan Grand Slam untuk pertama kali dengan tampil di kualifikasi AS Terbuka. Setelah momen itu, Janice bisa mengikuti persaingan WTA Tour.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/02/0d3c574ad58c6650ee885f59b31554c2-tenis_eala_shot3.jpeg)
Pada 2026, mereka bersaing dengan posisi dalam peringkat dunia yang berdekatan: Eala di posisi ke-53 dan Janice ke-54. Namun, saat AS Terbuka 2026 dimulai 30 Agustus, perbedaan kian kentara. Eala berada di posisi ke-18 dan menjadi unggulan ke-17, sementara Janice di peringkat ke-36.
Eala mencapai posisi tersebut, di antaranya, setelah mendapat dua gelar juara, dari WTA 125 Birmingham dan WTA 500 Washington DC. Pada turnamen tersebut, Janice tersingkir pada babak kedua. Hasil terbaik Janice pada 2026 didapat di WTA 1000 Dubai dan Cincinnati ketika lolos hingga babak ketiga.
Dari 12 turnamen yang sama yang diikuti keduanya, Eala mendapat hasil lebih baik pada 10 turnamen. Maka, meski peringkat Janice pada saat ini lebih baik ketimbang pada awal tahun, dia tertinggal dari Eala.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/02/90c328ee040cceff46a275ebe3649c0c-tenis_janice2.jpeg)
Tahun ini menjadi tantangan bagi Janice untuk mempertahankan poin peringkat yang didapatnya pada 2025. Dia juga menjalani debut pada tiga Grand Slam, yaitu Australia Terbuka, Perancis Terbuka, dan Wimbledon. Perancis Terbuka di lapangan tanah liat dan Wimbledon (lapangan rumput) menjadi pengalaman yang langka bagi Janice karena dia jarang bermain di jenis lapangan tersebut. Sebaliknya, Eala telah terbiasa bersaing di arena Grand Slam sejak 2024.
Dengan perjalanannya, Eala pun kian populer. Dalam setiap turnamen, banyak dukungan untuknya, terutama dari para ekspatriat Filipina. Saat tampil di Stadion Louis Armstrong, misalnya, pendukung Eala datang dari Roosevelt Avenue yang dikenal dengan Little Manila. Mereka bisa mencapai Pusat Tenis Nasional Billie Jean King, tempat diselenggarakannya AS Terbuka, hanya dalam waktu 10 menit dengan subway.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/02/4e0a3337eecc594ca88469f0e22d8346-tenis_eala_fans.jpeg)
Maka, setiap mendapat poin, stadion semarak oleh tepuk tangan dan teriakan pendukung Eala. Banyak di antara mereka membawa bendera Filipina atau tulisan-tulisan yang memberikan semangat bagi sang idola.
”Penonton sangat antusias saat Eala bermain. Panitia sebaiknya tidak menempatkan dia bermain di stadion kecil,” kata Patrick McEnroe, mantan petenis yang menjadi komentator untuk ESPN.
Mantan petenis putri AS, Mary Joe Fernandez, menyebut Eala sebagai bintang yang akan menarik perhatian publik untuk menonton AS Terbuka. Petenis Jepang, Naomi Osaka, juga memberikan komentar positif tentang Eala. Mereka berlatih bersama pada Sabtu pekan lalu dan latihan tersebut dipenuhi penonton.
”Dia menarik perhatian penonton, bahkan saat latihan. Saya sangat menyukainya. Permainannya solid. Dia adalah petenis bagus,” kata Osaka, juara AS Terbuka 2018 dan 2020.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/02/450d1f030fff22f48b9d1c2e82dd866c-tenis_eala_shot2.jpeg)
Eala menyambut gembira kehadiran penonton yang mendukungnya. Dalam wawancara di lapangan, beberapa kali dia menyampaikan pesan dalam bahasa Tagalog.
”Saya berterima kasih kepada komunitas Filipina yang ada di New York. Tidak hanya orang Filipina, tapi bagi semua yang membuat saya merasa dicintai. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan saya,” kata Eala dalam laman resmi turnamen.
Eala juga senang dengan penampilannya pada babak pertama meski dia juga mengatakan seharusnya bisa tampil lebih baik pada beberapa faktor. ”Pertandingan pertama tak pernah mudah, berlangsung sangat intens. Mengingat kembali pertandingan tadi, saya merasa banyak hal yang seharusnya saya bisa tampil lebih baik,” katanya.
(AP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Retma Wati