Satu per satu, pencapaian baru dicapai Alexandra Eala. Dia menjadi petenis Filipina pertama yang mencapai babak ketiga Grand Slam.
03 Jul 2026 12:08 WIB · Olahraga
AP Photo/Kin Cheung
Seusai Alexandra Eala memenangi pertandingan melawan Maya Joint setelah kehilangan set pertama, Lapangan 3 All England Club, London, Inggris, Kamis (2/7/2026), riuh oleh teriakan penonton. Bendera-bendera Filipina yang dibawa penonton dibentangkan, mengiringi langkah petenis putri berusia 21 tahun itu.
Kemenangan dengan skor 3-6, 6-2, 6-0 atas Joint pada babak kedua Wimbledon menjadi sejarah bagi Eala dan negaranya, Filipina. Dia menjadi petenis Filipina pertama yang melangkah ke babak ketiga Grand Slam pada era Terbuka.
Catatan itu ditambahkan pada daftar sejarah yang dibuat sebelumnya. Eala menjadi tunggal putri pertama Filipina yang memasuki ranking 100 besar dunia dan bermain pada babak utama Grand Slam saat mencapainya di Perancis Terbuka 2025 meski kalah pada babak pertama.
Setelah itu, dia selalu bermain pada babak utama dan mencapai langkah terjauh, setidaknya hingga kini, yaitu saat lolos ke babak ketiga Wimbledon. Eala akan berhadapan dengan pemilik enam gelar Grand Slam yang juga juara bertahan Wimbledon, Iga Swiatek.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/03/4d36ea427133c9adcc00d40c15c0ad5b-wimbledon_eala_serve.jpeg)
”Hasil ini sangat luar biasa untuk negara dan saya. Rasanya sangat emosional ketika bisa mencapai hal baru. Ini adalah fase yang selalu saya perjuangkan dan saya bekerja keras untuk mencapainya,” tutur Eala saat acara konferensi pers.
Kemenangan di Wimbledon juga membalas kekalahan Eala atas Joint yang terjadi pada final WTA Eastbourne 2025. Saat itu, dia kalah tipis dengan skor 10-12 pada tie break di set ketiga.
Di Lapangan 3 All England Club, Eala kehilangan set pertama dari Joint yang mengalahkan Serena Williams pada babak pertama. Setelah itu, Eala bangkit dan memperbaiki pukulan pengembalian servis. Ditambah dengan teriakan pendukungnya di stadion, meski sedikit, Eala memenangi dua set berikutnya dengan hanya kehilangan dua gim.
”Atmosfernya luar biasa. Saya berusaha meluangkan waktu untuk mereka karena untuk mendapatkan tiket menonton di sini bukan hal yang mudah. Saya sangat senang dengan adanya dukungan dari mereka,” kata Eala yang berusaha meluangkan waktu selama mungkin di lapangan, setelah pertandingan, untuk memberikan tanda tangan pada penonton.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/03/2b98a8db46b4147ebafe4cae71804f75-wimbledon_eala_joint.jpg)
Momen tersebut disaksikan Dyan Castillejo, wartawan untuk ABSCBN Filipina yang mengikuti perjalanan Eala ke mana pun dia bermain. Castillejo adalah petenis pada era 1980-an yang pertama kali melihat potensi Eala pada usia enam tahun.
Dia mengatakan, Eala telah mengisi kekosongan dalam olahraga Filipina menyusul kesuksesan besar petinju juara dunia, Manny Pacquiao, dan pesenam juara Olimpiade, Carlos Yulo.
”Saya merasa diberkati untuk meliput beberapa momen terbesar dalam olahraga Filipina, tetapi Manny sudah berusia 40 tahun lebih dan saya berpikir, ’siapa yang akan menjadi penerusnya?’ Ketika Alex melesat, saya tidak bisa menjelaskan bagaimana hal itu memicu semangat dan cahaya yang begitu besar,” tutur Castillejo dalam laman resmi Wimbledon.
Castillejo juga bercerita bahwa saat ini publik di Filipina selalu mencari tahu di mana Eala akan bertanding setelah bermain di satu turnamen. ”Semua membicarakan dia. Dalam hal popularitas, dia menjadi atlet Filipina paling terkenal di negaranya dan secara internasional. Apa yang dilakukannya menginspirasi banyak orang,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/03/5eb293f8f5098ad5f1ff15d16d551e9a-wimbledon_eala_portrait.jpeg)
Kepopuleran Eala bahkan sudah terjadi sejak dia bersaing di era yunior. Setelah menjuarai tunggal putri yunior Amerika Serikat Terbuka 2022, fotonya muncul dalam sampul majalah Vogue Filipina. Pengikutnya di Instagram telah mencapai 1,1 juta pada saat ini.
Di antara pendukung Eala yang menonton di Lapangan 3 All England Club, terdapat tiga orang asal Indonesia. Mereka mengikuti perjalanan para petenis Asia Tenggara di Wimbledon, seperti Eala; Mananchaya Sawangkaew dan Lanlana Tararudee dari Thailand; serta petenis Indonesia, Janice Tjen.
Janice kalah dari Daria Kasatkina pada babak kedua, tetapi masih tampil di ganda putri bersama Aldilla Sutjiadi dan telah memenangi babak pertama.
”Banyak wakil dari Asia Tenggara di Wimbledon ini. Itu sebabnya kami membeli tiket untuk menonton langsung dan mendukung mereka, termasuk Eala pada pertandingan tadi,” kata Reza, penonton, pada tim media Wimbledon. Temannya, Ricky, memuji Eala sebagai seorang pejuang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/03/6d35dc22d31b6bce279fdd23a951f429-wimbledon_eala.jpg)
Sebelum bersaing di Wimbledon, Eala mendapat pengalaman berharga dari penampilan pada turnamen pemanasan, WTA Berlin. Dia mengalahkan dua petenis ranking sepuluh besar dunia, Elena Rybakina pada babak kedua, lalu Elina Svitolina di perempat final.
Kemenangan atas kedua petenis itu membuat Eala mencatatkan kemenangan keenam atas petenis peringkat sepuluh besar. Empat petenis lain yang pernah dia kalahkan adalah Cori Gauff dan Jasmine Paolini pada turnamen 2026, serta Madison Keys dan Iga Swiatek di WTA 1000 Miami pada 2025. Di Miami, Eala bisa mencapai semifinal.
Perjalanan yang dicapai Eala sejak yunior hingga saat ini terwakili oleh kutipan berbahasa Tagalog pada pakaian yang dikenakan di Wimbledon. Jika diterjemahkan, kalimat itu memiliki arti, ”setiap mimpi berawal dari sebuah benih. Saat tumbuh, itu tidak dapat dihentikan”. (AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan